
Pak Beno kembali memberikan kesempatan untuk aku bicara
"Silahkan Dhira kalau kamu mau bicara. Bicaralah sesuai isi hati kamu" ucapnya tanpa mempertanyakan kemana saja aku sebelum berada bersama mereka.
Aku gak bisa menyembunyikan wajahku yang muram dihadapan mereka, air mata yang aku tahan sangat jelas terlihat dimataku yang sembab. Dengan suara gemetar dan serak aku mulai bicara
"Aku gak mencurinya !" ucapku pelan yang akhirnya isakan tangisku meluap kembali
Huhuhuhu
Aku menangis sejadi-jadinya
Tapi mereka hanya diam memandangku. Entah apa yang ada dipikiran mereka
Hanya Bibi Ros yang masih berbicara
"Dhira sudah jujur, sekarang saya minta kalian untuk jujur" tunjuk Bibi Ros kepada Nasya, Ai, Siska dan Didi
Tapi Ai, Siska dan Didi hanya diam saja. Mereka saling menoleh satu sama lain.
Tapi Ibu Nasya gak percaya begitu saja karena dia yakin akulah penjahatnya
"Saya gak yakin kamu gak mencurinya. Saya tahu kamu pasti berbohong !" tuduhnya
Mendengarnya Bibi Ros murka kembali "Jangan asal tuduh kamu ya. Bagaimana mungkin kamu bisa gak percaya dengan pengakuan anak saya sementara kamu percaya dengan tiga orang anak ini. Apa bedanya ?"
Ibunya Nasya tersentak dengan ujaran Bibi Ros.
Ibunya Siska membalas ucapan Bibi Ros dengan tegas pula "Anak saya jujur, dia bukan pencuri !" ucapnya
Bibi Ros menangkis ucapan Ibunya Siska "Loh, yang menuduh anak kamu pencuri. Siapa ?"
Ibunya Nasya justru memotong perdebatan Bibi Ros dengan Ibunya Siska.
"Sudah lah, lebih baik Dhira mengaku saja" tegasnya
Tapi Bibi Ros justru lebih mendominasi perdebatan "Sekarang begini saja, Dhira sudah jujur dan gak mungkin dia berbohong. Kalau kalian gak jujur lebih baik perkara ini kita panjangkan ke polisi !" ancam Bibi Ros
Semua diam mendengarnya kecuali Ibunya Nasya "Oke, saya setuju sekali karena anak saya dipukul sampai kepalanya bocor begini !" setuju Bibi Ros
Mendengar Ibunyq Nasya berkata begitu lantas saja aku mengelaknya "Aku gak memukul kepalanya, kepala dia tersungkur kena paku" jelasku
Tapi Ibunya Nasya gak mau terima dengan penjelasanku, dia menggebrak meja sembari membentakku
"Diam kamu !" ucapnya dengan keras
Sontak saja hal itu semakin memancing amarah Bibi Ros kemudian ikut menggebrak meja dan membentak Ibunya Nasya
"Kamu yang diam ! Lebih baik didik anakmu supaya jangan egois dan sombong !" kesal Bibi Ros
__ADS_1
Akhirnya ruangan guru semakin keos dan sulit dikendalikan oleh Pak Beno yang terus menerus berusaha menengahi pertikaian
"Sabar Bu. Ibu-ibu sabar, sabar !" relainya.
Tapi Bibi Ros dan Ibunya Nasya masih terus bersitegang sampai akhirnya berhenti oleh pengakuan satu anak diantara Didi, Ai dan Siska. Akhirnya dia mengakui juga dengan suara yang terbata-bata dia bicara sembari menahan rasa malu. Entah malaikat mana yang sanggup menyadarkannya untuk berkata jujur
"Aku yang mengambilnya" ucap Ai pelan sembari tertunduk malu
Nasya tercengang mendengarnya
"Hah !"
Dia gak habis pikir kalau rupanya sahabatnya lah yang mencuri hape miliknya, padahal selama ini Ai sudah dianggap saudara olehnya tapi kenapa bisa-bisanya Ai justru menghianatinya.
Begitupun Ibunya Nasya yang menahan malu karena sudah merasa yakin menuduhku.
Sementara Ibunya Ai hanya diam dan gak tahu harus berbuat apa.
Pak Beno lantas mengajak Ai bicara dengan baik tanpa mengintimidasi Ai sama sekali
"Kamu yakin kalau kamu lah yang mencurinya ?" tanyanya
Ai mengangguk sekali "Iya Pak, saya" jawabnya
"Kapan kamu mengambilnya ?" tanya Pak Beno lagi
"Kenapa ?" tanya Pak Beno
Ai masih diam tertunduk menahan malu, seolah dia gak sanggup melanjutkan penjelasannya. Lirikan matanya yang ke arah Nasya pun seolah mengisyaratkan kalau dia merasa sangat bersalah kepada sahabatnya itu.
Tapi Pak Beno tetap membujuk Ai untuk melanjutkan penjelasannya
"Ceritakan saja, Ai. Justru dengan kejujuran kamu yang begini yang jadi penghapusan dosa-dosa kamu" ucapnya
Ai masih menunduk tapi air matanya jatuh dipangkuannya. Kemudian dia terisak untuk beberapa waktu.
Ibunya yang sejak tadi diam kini memeluknya dan memintanya untuk berkata jujur
"Sudah jangan nangis, sekarang ceritakan kenapa kamu mencuri hape Nasya padahal Ibu gak pernah mengajari kamu mencuri" ucapnya Ibunya Ai
Dengan suara serak dan gemetar Ai kembali bicara "Karena aku dendam sama Nasya, dia sombong dan sok cantik. Dia sering mencibir kalau wajahku lebih jelek dari wajahnya. Dia juga selalu menganggap dirinya paling kaya raya" jelasnya lepas
Mendengar penjelasan Ai, Nasya langsung gak terima "Aku gak pernah bilang begitu, kamu aja yang berpikiran begitu. Malahan aku anggap kamu sahabat baik aku !" ucapnya
"Lebih tepatnya pesuruh !" balas Ai
Nasya langsung mengelak "Enggak !"
Karena perdebatan mereka sudah masuk keranah pertemanan mereka akhirnya Pak Beno mengakhiri pertemuan ditengah-tengah keributan antara Ai dan Nasya
__ADS_1
"Sudah lah kalau urusan ini biar kalian selesaikan setelah ini ya. Sekarang sudah jelas siapa pencurinya" potong Pak Beno
Ibunya Nasya masih mau bicara "Kamu kemanain hapenya Nasya ?" tanyanya
"Aku jual !" jawab Ai dengan enteng
Ibunya Nasya makin naik pitam "Kurang ajar kamu ya, kamu pikir saya beli hape itu dengan harga murah !" kesalnya
Pak Beno berusaha menenangkan Ibunya Nasya "Sabar Bu, sabar. Tenang Bu!" ucapnya
Tapi Ibunya Nasya masih gak mau terima dan terus membentak-bentak Ai
Sementara Bibi Ros justru tersenyum lega "Oke kalau gitu, urusan saya sudah selesai kan !" ucapnya sambil berdiri beranjak pulang
Meski suasana makin keos tapi Pak Beno masih menggubris Bibi Ros "Iya Bu, maaf kalau ada ketersinggungan" ucapnya
"Oh iya Pak, santai saja. Karena saya yakin anak saya bukan penjahat" ucapnya
Pak Beno tersenyum "Saya juga yakin Bu. Sekarang Ibu sudah bisa pulang" ucapnya dengan ramah
Bibi Ros mengangguk "Ya, saya memang mau pulang. Saya masih banyak kerjaan. Waktu saya terbuang untuk hal yang membuat saya seperti orang bodoh begini" ucapnya sembari pergi tanpa pamit ke siapa pun.
Akhirnya Pak Beno lebih serius mengakhiri pertemuan Yang masih saja penuh dengan amarah
"Ibu, Ibu. Sekarang kalian boleh pulang ya. Masalahnya sekarang kan siapa yang mencuri hapenya Nasya. Jadi bisa diselesaikan diluar sekolah. Karena ruangan ini akan diisi oleh Guru lainnya" ucap Pak Beno dengan lembut
Tapi Ibunya Ai dan Ibunya Nasya masih saya bertengkar gak mau saling mengalah
"Kamu yang gila !"
"Kamu gila !"
"Dasar binatang !"
"Kamu binatang !"
"kamu kurang ajar ya, didik anak kamu !"
"Anak kamu yang perlu didikan !"
Sampai-sampai Pak Beno nyaris depresi menghadapinya. Untung saja para Guru datang dan ikut memisahkan pertengkaran mereka
"Sabar Bu, sabar Bu !"
"Sudah Bu, sudah Bu!"
Tapi mereka masih saja bertengkar saling adu mulut dengan perkataan kasar yang begitu menyakitkan
Karena mereka masih saja bertengkar akhirnya Pak Beno lebih memilih untuk menyuruh kami kembali ke dalam kelas
__ADS_1