GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
36. KESIANGAN


__ADS_3

Senin pagi hari ini kepala aku sakit sekali, rasanya remuk gak tertahankan. Aku yakin ini adalah efek ketika aku melakukan percobaan menghilangkan nyawaku saat itu.


Rupanya jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Padahal setiap harinya aku selalu bangun paling siang jam lima pagi. Liana juga sudah selesai mandi setelah Pak Yanto yang bersiap berangkat kerja.


Setelah aku mandi dan berseragam lengkap dengan cepat aku makan pagi bersama seperti biasanya. Kami sarapannya langsung makan berat. Itu adalah kebiasan di keluarga ini.


Setelah selesai makan pagi kemudian Pak Yanto pamit pada kami


"Saya pergi dulu ya " ucapnya sembari bergegas diri an melambaikan tangannya pada kami


"Iya" sahut Ibu.


Setelah Pak Yanto sudah benar-benar pergi barulah Ibu menyuruhku memberi makan bebek. Suatu pekerjaan rutin yang selama ini Pak Yanto gak pernah menyadarinya.


"Jangan lupa sebelum berangkat kasih makan bebek dulu" ucap Ibu sambil mengumpulkan piring kotor untuk aku cuci stelah pulang sekolah


Aku mengangguk "Iya Bu" ucapku sambil melangkah ke kandang bebek dan memberikan mereka makan.


Tapi karena pagi ini kepalaku sangat sakit akhirnya aku mengerjakannya sangat lamban sampai-sampai aku gak menyadari kalau waktu sudah hampir siang


Sampai-sampai Liana menghampiriku, dia protes kepadaku


" Kamu lama banget sih. Buruan kasihnya" ketusnya


"Iya sebentar lagi selesai" ucapku sambil menaruh makanan diwadah makan bebek


"Sebentarnya kapan, ini udah jam berapa ?" kesalnya


"Ya sudah kalau gitu kamu jalan duluan aja " usulku


"Kenapa gak dari tadi aja kamu bilang begitu !" kesalnya


Suara Liana rupanya mengundang naluri Ibu untuk datang menghadap kami, dia juga heran melihatku yang gak biasanya kerja lambat


"Kamu kenapa lama sekali, kamu sudah mulai melawan saya ya ?" kesalnya


Aku menoleh Ibu "Gak Bu, kepala ku sakit banget" jawabku pelan


"Sakit ?" ucap Ibu gak percaya


"Iya Bu"


"Jangan banyak alasan kamu, kalau kamu sakit mana bisa kamu bergerak sampai detik ini !" ketus Ibu


Liana masih bersungut-sungut ditengah perdebatan aku dan Ibu


"Aku berangkat duluan aja !" kesalnya, kemudian berlari cepat-cepat meninggalkan aku dan Ibu


"Hati-hati Liana !" ucap Ibu pada Liana yang sudah pergi


Kemudian Ibu kembali memarahiku


"Kamu itu jangan banyak alasan ya. Kamu itu di sini hidup enak, makan gratis, tidur gratis dan disekolahin gratis. Tapi kamu gak tahu diri kalau kamu cuma numpang di sini. Setidaknya kamu harus memberikan rasa terimakasih kamu dengan cara seperti ini. Tapi payahnya kamu gak pernah melakukannya dengan baik !" ujarnya


"Bukan begitu Bu, tapi aku memang lagi sakit kepala sekali" ucapku


"Diam !" Ibu membentakku


"Beraninya kamu melawan saya. Cepat selesaikan itu dan cepat pergi ke sekolah !" kesalnya kemudian pergi meninggalkan aku.


Beberapa saat kemudian akhirnya aku bisa menyelesaikannya meski sejak tadi aku meringis kesakitan.

__ADS_1


Dengan langkah cepat-cepat aku berangkat ke sekolah tanpa Liana.


Sampai akhirnya aku sudah berada di depan gerbang sekolah meski waktu sudah menunjukkan jam delapan aku berusaha memaksakan diri untuk bisa masuk


Padahal gerbang sudah ditutup oleh satpam


Tapi aku terus memelas kepadanya untuk bisa masuk


"Pak, minta tolong supaya saya bisa masuk" pintaku


"Gak bisa masuk !" tegasnya


Karena saking ketakutan gak masuk sekolah, batinku begejolak gak menentu yang akhirnya membuat aku menangis begitu pilu


"Tadi saya disuru Ibu saya kasih makan bebek dulu pak " ucapku dengan polos


Pak Satpam yang semula gak peduli akhirnya hatinya melunak terlihat dari raut wajahnya mulai melembut


"Kenapa bisa begitu ?" tanyanya


"Karena setiap pagi saya dikasih tugas begitu, Pak" jawabku sambil masih terisak tangis


"Loh, tapi kan kamu bisa bangun pagi lebih awal" ucapnya


"Iya Pak, tapi hari ini kepala saya juga sakit banget makanya saya kerjanya lambat" ucapku


"Kenapa kamu gak bilang Ibumu saja kalau kepala kamu sakit ?" tanyanya heran


Aku menggelengkan kepala "Ibu saya gak percaya kalau saya sakit kepala" ucapku


Pak Satpam terdiam mendengarnya, dia cukup heran dengan jawabanku yang pastinya sulit dipercaya oleh akal sehatnya


"Baik lah, untuk kali ini kamu saya loloskan masuk. Tapi kalau besok jangan harap !" ancamnya ambil membuka gerbangnya


"Makasih ya Pak" ucapku berterimakasih


Pak Satpam mengangguk "Iya iya sama-sama" ucapnya


Langsung saja aku berlari dilorong kelas secepatnya gak peduli dengan suara derap sepatuku yang mengganggu kelas lain. Sampai akhirnya aku sampai juga di depan pintu kelas yang tertutup rapat


Aku mulai mengetuknya dengan pelan dan sedikit takut


Tok..tok..tok..tok


Tapi memang gak ada yang membukanya, aku dengar dari balik pintu ada suara wanita dewasa sedang menjelaskan materi mata pelajaran


Kemudian aku coba ketuk agak sedikit keras


Tok...tok...tok..tok


Tanpa menunggu lama pintu terbuka oleh Bu Rie


Akhirnya kami saling bertatapan diambang pintu


Ibu Rie menghela napasnya kemudian melihat jam tangannya. Dia juga menggeleng-gelengkan kepalanya


"Kamu sudah terlambat banyak sekali. Bagaimana caranya kamu bisa masuk ke area sekolah !" ucapnya


"Maaf Bu saya terlambat" ucapku hanya bisa menjawab begitu


"Iya saya tahu, yang saya tanyakan bagaimana bisa kamu melewati gerbang ?" tanyanya

__ADS_1


"Tadi saya minta ijin masuk sama satpam yang jaga" jawabku


"Jadi kamu berhasil mengelabui satpam ?" tanyanya


Aku menggelengkan kepala "Enggak Bu, saya berkata jujur kepadanya" jawabku


"Oh baik, lalu apa alasanmu ?" tanyanya


"Tadi saya kasih makan bebek dulu" jawabku


Ibu Rie menyerengitkan dahinya "Apa ?"


Aku mengangguk " Iya Bu itu tugas saya setiap pagi tapi kali ini karena kepala saya sangat sakit jadinya saya mengerjakannya lambat" jelasku


Ibu Rie yang mendengarkan alasanku berusaha meyakini apa yang terucap dari mulutku


"Apa Ibumu tahu kalau kamu sakit kepala ?" tanyanya


"Tahu" jawabku cepat


"Kenapa Ibumu gak peduli. Jujur saja saya belum bisa percaya ceritamu. Apakah kamu bisa mencari alasan yang lebih masuk akal ?" tanyanya


Aku menggelengkan kepala "Gak ada Bu karena memang itu yang terjadi kalau Ibu gak percaya, Ibu bisa tanya saudara tiri saya. Liana" ucapku


Ibu Rie terpaku dengan jawabanku seolah mengingat sosok Liana "Owh, oke" angguknya


"Baik lah kalau begitu, kamu boleh masuk dan tolong jangan diulangi lagi" ucapnya sambil membuka jalan dengan menggeser tubuhnya ke samping


"Baik Bu makasih" ucapku sembari melangkah ke arah kursiku.


Saat aku duduk Gea nyeletuk pelan dibelakang telingaku "Oh pantesan nih anak tiap pagi badannya bau kotoran bebek" ucapnya kemudian disambut tawa kecil teman sebangkunya "Hihi"


Tapi Septi yang juga mendengar ucapan Gea hanya diam saja sambil melirik segan kepadaku.


Meski begitu aku tetap gak mau ambil pusing dengan perkataannya.


Setelah pelajaran Bu Rie selesai kepala aku makin terasa hancur, aku pikir akan sembuh dengan sendirinya tapi rupanya semakin menjadi-jadi.


Tubuhku lemah dan hanya bisa menempelkan wajahku diatas meja karena saking sakitnya aku berusaha miringkan kepala ke kiri dan ke kana diatas meja berbantalkan tangan


Septi yang memperhatikan ku sejak tadi jadi iba kepadaku


"Emangnya sakit banget ya Dhir ?" tanyanya


Aku hanya mengangguk


"Kenapa bisa begitu ?" tanyanya


Aku diam gak mau menjawab


"Aku anterin ke UKS aja yuk. Kita minta obat sakit kepala" ajaknya


"Aku gak tahu minum obat sakit kepala yang merknya apa" ucapku


"Kamu gak usah khawatir karena semua obat sakit kepala di mana mana sama aja. kecuali obat migrain, vertigo dan obat cedera kepala lainnya" jelasnya


"Dari mana kamu bisa tahu ?" tanyaku


Septi menyeringai "Aku hanya menebak aja. bayangan aku begitu" ucapnya


Aku tersenyum "Bisa aja kamu" ucapku

__ADS_1


Dalam bersamaan Guru pelajaran kedua masuk. Seorang Bapak-bapak paruh baya tubuhnya tinggi kurus dengan wajah yang berhiaskan kumis tipis. Dia membawa tas berisi leptop dan buku tugas kami.


__ADS_2