
Sudah seminggu berlalu tapi Ibu dan Liana masih saja dingin kepadaku, sampai-sampai aku gak habis pikir kalau Ibu lebih sayang kepada Liana yang bukan darah dagingnya.
Pendaftaran masuk ke sekolah menengah pertama sudah mulai ada tanda-tanda di rumah ini dalam pembicaraan hangat antara Ibu dan Liana untuk mempersiapkan semua dengan matang.
Liana dan Ibu sudah sering membahasa tentang sekolah tapi gak dengan aku.
Bahkan sampai sekarang ini pun Ibu belum juga membelikan pakaian sekolah dan perlengkapan lainnya untukku. Berbicara memgingatkan hal itu pun Ibu gak pernah melakukannya
Pukul dua siang aku tengah duduk ditanah kering dibelakang rumah , dua tanganku menopang dagu memandangi sekumpulan bebek yang tetap didalam kandangnya.
Saking terpaku pada pandanganku akhirnya tanpa sadar aku melamun.
Seseorang menepuk pundakku dengan cukup keras berkali-kali sampai pecahkan lamunan yang entah apa yang aku pikirkan.
Sontak aja aku Kaget dan cepat menolehnya yang rupanya Liana sudah ada di belakangku, wajahnya masih tetap gak ramah padaku
"Dari tadi aku panggil gak denger !" kesalnya
"Oh maaf tadi aku melamun" ucapku
Tanpa menjawab lagi, Liana membalikkan badannya "Dipanggil Ibu tuh" ucapnya lalu pergi masuk ke dalam rumah lebih dulu
Mendengarnya aku langsung bergegas masuk kedalam menemui Ibu, aku yakin pasti Ibu akan mengajakku ke pasar untuk membelikan aku perlengkapan sekolah.
Aku berhenti dihadapan Ibu yang duduk melantai beralaskan tikar dikelilingi pakaian.
Ibu tengah melipat pakaian tanpa memperhatikanku ada dihadapannya
Aku memanggilnya pelan "Bu"
Tapi pikiranku rupanya salah dan pastinya Ibu hanya akan menyuruhku membantunya melipat pakaian.
Tapi Ibu gak menolehku juga padahal jelas sudah dia pasti sadar ada aku didepan kepalanya tapi dia masih sibuk melipat
Beberapa detik Ibu meraih satu kemeja putih berlogo OSIS berwarna kuning beserta rok biru kepadaku
"Ini ambil" ucapnya
Aku menerimanya gak bergeming, aku merasa kalau pakaian yang Ibu berikan bukanlah pakaian baru.
Tapi aku gak berani bertanya banyak kepadanya
"Pakai itu aja, tadi ada tetangga yang kasih itu. lumayan daripada beli lagi" ucapnya
Tapi aku mengangguk saja
Sebenarnya pakaian baru atau bekas bagiku gak masalah tapi yang ku pertanyakan perlengkapan sekolah lainnya, tapi sayangnya pertanyaan itu hanya berbunyi didalam batinku saja.
Aku gak berani berkata banyak padanya
Ibu hanya berkata begitu, gak banyak yang dia ucapkan untuk supaya melapangkan hatiku "Oke kalau gitu kamu lanjutin lipatan bajunya ya, Ibu mau tidur siang dulu. Ibu capek banget" ucapnya sambil meletakkan baju yang baru saja dia lipat.
__ADS_1
Kemudian dia bangkit berdiri dan pergi ke kamarnya tanpa ada omongan lain
Melihatnya pergi masuk ke dalam kamarnya, akhirnya aku lanjutkan pekerjaan Ibu. Sementara Liana duduk manis sambil ngemil makanan ringan yang baru saja dia beli dari warung sebelah.
Suara renyahan jajanan yang dia kunyah melejit kriuk ditelingaku. Rasa ingin meminta tapi itu gak akan mungkin terjadi.
Liana terus asik makan kerupuk pedas sambil menonton telivisi
"Kerupuknya pedas banget. Huh..hah..huh..hah" ucapnya seorang diri lalu berlari ke dapur kemudian kembali lagi membawa segelas air putih untuknya.
Kerupuknya masih sisa setengah tapi rupanya dia gak sanggup menghabiskannya
"Buang ah, gak enak" ucapnya lalu membuangnya begitu saja ditempat sampah dapur
Setelah dia menikmati jajanannya dia masuk ke dalam kamar untuk tidur siang tanpa ada omongan sepatah kata pun kepadaku
Sementara aku tetap melipat pakaian yang cukup banyak tanpa menolehnya sekalipun
Senja telah usai rupanya tanpa sadar aku sudah melewatinya dengan sia-sia. Ibu membangunkanku yang tengah ketiduran saat melipat pakaian.
"Dhira !" panggilnya
Pelan-pelan aku membuka mataku lalu melihat sosok Ibu yang masih berbayang.
Ibu sudah bertolak pinggang dan mulai meluapkan semua rasa kesalnya padaku
"Kamu saya suruh lipat pakaian tapi kenapa kamu malah tidur ?" bentaknya
Aku hanya diam saja
"Kalau kamu tidur siapa yang rapikan rumah ini, saya tidur karena saya kelelahan !" ucapnya
Aku hanya diam saja karena merasa bersalah hanya sanggup mendengar suara Ibu yang bergema dalam ruangan diiringi juga oleg alunan jangkrik yang terdengar samar
Suara motor Pak Yanto yang tiba-tiba saja terdengar berhenti di depan rumah seolah memotong emosi Ibu yang makin naik.
Aku menoleh sumber suara meski Pak Yanto masih terhalang pintu yang tertutup rapat.
Saat itu pun Ibu gak bersuara lagi, dia langsung menghampiri pintu lalu membukanya dengan raut wajah yang seperti gak terjadi apa-apa
"Kok, pulangnya malam sekali ?" tanya Ibu
Pelan-pelan Pak Yanto masuk ke dalam "Iya tadi ketemu temen di jalan jadi ngobrol sebentar dulu" jawabnya
"Tapi aku belum masak apa-apa, hari ini aku kelelahan sekali. Jadinya ketiduran dan baru bangun barusan" ucap Ibu
"Oh gak apa-apa, kebetulan tadi aku habis makan gorengan sama temenku jadi gak begitu laper" ucapnya sambil menghampiriku
"Kamu lagi lipat pakaian ya ?" ucapnya padaku
Aku menjawabnya dengan anggukan kepala
__ADS_1
"Kamu sudah makan ?" tanyanya
Aku menggelengkan kepala
Kemudian Pak Yanto menoleh wajah Ibu "Kenapa kamu belum bersiap masak untuk anak-anak, Bu ?" tanyanya
Ibu terdiam dan sedikit salah tingkah
"Harusnya jam segini anak-anak sudah kenyang" tegur Pak Yanto
Tanpa menjawab Pak Yanto, Ibu langsung bergegas ke dapur untuk memasak. Langkahnya buru-buru mengambil tindakan
Langkah Pak Yanto pun bergeser ke kamar Liana, lalu dia dapati Liana sedang tidur tapi dia gak membangunkannya sebelum bertanya kepada Ibu
"Kenapa Liana Tidur jam tujuh begini, apa dia lagi sakit ?" tanyanya
"Oh, dia tadi tidur siang tapi rupanya belum bangun sampai jam segini" jawab Ibu
Pak Yanto menghela napasnya lalu kembali ke dalam kamar Liana untuk membangunkannya
"Liana !" panggilnya
Tapi rupanya Liana belum ada respon
Pak Yanto membangunkannya lagi kali ini dengan nada keras "Lian !" panggilnya
Akhirnya Liana terbangun "Ayah ?" panggilnya pelan
"Bisa-bisanya kamu masih tidur sementara ada saudara kamu yang masih bekerja !" ucapnya dengan keras
Langsung saja Liana gak terima atas pernyataan Ayahnya "Aku kan lagi tidur, lagi pula itu tugasnya" ucapnya
Mendengarnya justru Pak Yanto makin naik pitam
"Itu bukan hanya tugasnya tapi itu tugas kalian bersama. Sekarang kamu bangun, kalau kamu belum membantunya sampai selesai itu artinya kamu gak boleh makan malam !" tegas Pak Yanto.
Liana yang mendengarnya langsung mengamuk "Aku gak mau, aku capek !" ketusnya
Melihat sikap Liana yang semakin arogan kepada Ayahnya sendiri, hampir saja Pak Yanto hilang kesabaran, karena dengan cepat Ibu melerai pertikaian mereka dengan nada yang lembut
"Sudah, Ayah jangan begitu sama Liana. Dari tadi siang Liana sudah merapikan rumah, sekarang kan gantian Andhira yang melipat pakaian. Malahan Andhira tugasnya hanya melipat. Jadi Ayah jangan salah paham" Belanya
Pak Yanto terdiam mendengarnya walau tersirat wajah yang gak sebegitu percaya pada omongan Ibu.
Tapi sepertinya Ibu belum berhasil meyakinkan Pak Yanto
"Kamu yakin Liana merapikan seisi rumah ?" tanyanya pada Ibu
Mendengarnya Ibu berubah gugup "Iya benar" jawabnya
"Bukankah sepanjang hari barusan kamu bilang kalau kamu tidur, dari mana kamu tahu ?" tanyanya
__ADS_1
"Iya sebelum aku tidur, aku melihat Liana mencuci piring" jawabnya