
Dengan gugup Pak Yosan akhirnya menjawab seadanya "P-ak Yan..to... Ngg...ngg...tenggelam ditengah laut tadi sore Bu" terangnya
Mendengarnya begitu kedua mata Ibu terbelalak "Apa ?"
Tubuhnya seketika gemetar, wajahnya pucat, napasnya terengah engah
Pak Yosan yang menyaksikan respon Ibu yang panik, dia gak bisa berbuat banyak, dia hanya terus menunduk sembari mengangguk pelan gak sanggup menatap kedua mata Ibu
Tanpa perkataan lainnya langsung saja Ibu menangis histeris "Hu..hu..hu..hu..hu..hu. Kamu pasti berbohong kan ?" tuduhnya cepat
Suara Ibu makin mengeras seketika emosi Ibu meluap gak terbendung lagi.
Ibu berteriak histeris dengan keras sampai-sampai mengundang banyak tetangga untuk datang menemui kami
Sementara Ibu sudah semakin diluar kendali, dia semakin mengamuk bahkan sembari menunjuk-nunjuk wajah Pak Yosan "Aaarkkkk...arrrghhhhh..!!! kamu berbohong !!! kamu sembunyikan di mana suami saya !!" teriaknya
Tetangga yang keluar dari persembunyiannya akhirnya lambat laun menepi dihalaman rumah, dengan wajah yang kebingungan mereka kompak saling bertanya satu sama lain bahkan beberapa dari Ibu-ibu ada yang mendekati Ibu untuk sekedar menenangkan sikap Ibu yang semakin seperti orang kerasukan setan
"Sabar Bu, sabar. Ini ada apa Bu. Ibu kenapa ?" ucap Ibu Siwi sambil mengelus punggung Ibu yang sejak tadi menangis sambil teriak terus menerus
Tapi Pak Yosan hanya memilih menunduk saja seolah gak sanggup menatap keadaan.
Saat bersamaan juga seketika saja Ibu terjatuh dihadapan Pak Yosan dan semua mata yang menyaksikan.
Brukh !
Ibu jatuh gak bergeming
Semua panik, termasuk aku dan Liana
Langsung saja tanpa ada yang memerintah, Pak Yosan dan beserta Bapak-bapak lainnya menggotong Ibu masuk ke dalam ruang tamu.
Kemudian dengan hati-hati Ibu digeletakkan diatas tikar yang Liana berikan dikelilingi oleh banyak orang yang bersimpatik padanya.
Ibu Siwi dan Ibu-ibu yang lainnya berusaha menyadarkan Ibu untuk kembali siuman tapi hal itu gak semudah harapan. Ibu masih tetap saja menutup matanya dan diam membisu.
Karena suasana makin keos akhirnya warga mendesak Pak Yosan untuk berkata jujur perihal apa yang terjadi.
Akhirnya Pak Yosan berbicara walaupun suaranya berat dan gemetar
"Tadi siang saya ajak dia mancing, semula semua normal seperti biasanya. Air laut dalam kondisi tenang, gak ada yang menyulitkan kami. Ketika kami dayung perahu ke tengah laut kail Pak Yanto dimakan ikan akhirnya Pak Yanto berdiri tapi tahu-tahunya tubuh Pak Yanto malah oleng sendirian lalu dia tersungkur begitu saja. Saya panik, sebenarnya saya bisa berenang tapi saya gak berani menolongnya...hik..hik..hik..hik" ucap Pak Yosan diakhiri jatuhnya air mata yang sejak tadi dia tahan
__ADS_1
Sontak saja warga makin kasihan melihat keadaan Ibu
"Ya ampunn"
Pak Yosan yang sudah menceritakannya akhirnya hanya bisa meluapkan tangisan penyesalan yang mendalam baginya
Sementara aku dan Liana hanya diam saja, belum bisa menangis histeris atau panik seperti yang Ibu curahkan. Terlebih aku, sebab aku merasa kalau Pak Yanto masih hidup meskipun setengah pikiranku terbelah seperti mengatakan dan menyutujui kalau Pak Yanto sudah gak bernyawa.
Sementara Pak Yosan hanya terus saja menangis tanpa henti
Sampai-sampai Pak Naim mencoba menenangkannya "Sudah lah Pak, semua ini sudah takdir. Kita berdoa saja semoga Pak Yanto masih selamat" ucapnya, disambut anggukan warga lain.
Tapi Pak Yosan masih saja menangis pilu sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya seolah bayangan kepergian Pak Yanto akan membuatnya menyesal seumur hidupnya.
Suara tangis Pak Yosan semakin riuh terdengar dikala malam semakin larut dan sunyi.
Akhirnya setelah lama menunggu, Ibu mulai memicingkan kedua matanya tapi gak sampai membuka lebar seolah takut melihat kenyataan.
Aku tahu hati Ibu pasti sudah samgat hancur dan sangat trauma berat menerima kabar duka ini.
Stelah Ibu sudah terlihat membaik akhirnya para warga berangsur-angsur pergi meninggalkan kami.
Sekarang tersisa aku, Liana, Ibu dan Pak Yosan
Pak Yosan masih belum sanggup beranjak pergi, dia semakin takut pergi karena sebuah penyesalan yang dia buat sendiri.
Dia hanya bisa terus menerus meminta maaf kepada Ibu yang sudah gak berdaya "Bu, saya minta maaf" ucapnya lagi setelah sudah kesekian kalinya
Tapi Ibu tetap gak bergeming sedikitpun
Suasana malam semakin buruk saja, dingin mencekam dan melelahkan. Tapi Pak Yosan masih saja bertahan dihadapan Ibu
Akhirnya Ibu berbicara setelah lama diam, tapi Ibu enggan melihat wajah Pak Yosan. Ibu berbicara pelan seoalah mengikhlaskan semua kenyataan pahit yang begitu membelit hidupnya
"Sudah lah Pak, sekarang Bapak pergi saja dan jangan pernah kembali karena hanya akan membuat luka hati kepada saya" ucapnya disambut dengan isak tangisnya
Pak Yanto jadi ikut menangis, dia semakin menyesal "Maaf kan saya Bu, saya gak ada maksud gak menolongnya. Tolong jangan laporkan ke Polisi Bu, saya gak membunuhnya. Sumpah. Pak Yanto tersungkur sendiri. Hik..hik..hik" mohonnya begitu lirih
Ibu menghela napasnya pelan "Untuk apa saya melapor ke Polisi, toh suami saya pasti gak akan pernah hidup lagi" pasrah Ibu
Mendengarnya Pak Yosan makin terisak pedih "Ampun Bu, saya minta maaf. Sungguh" ucapnya sambil sujud dihadapan Ibu.
__ADS_1
"Pergi sana!" usir Ibu dengan nada yang masih pelan
Tapi Pak Yosan belum mau beranjak
Nada bicara Ibu kembali makin tinggi "Pergi sana!" ujar Ibu
Tapi Pak yanto masih menangis saja
Karena Pak Yosan gak pergegas pergi akhirnya Ibu terlihat muak dan mengusirnya dengan marah "Pergi sanaa ! pergi ! saya bilang pergi !!!" usirnya
Melihat sikap Ibu yang sudah mulai emosional kembali akhirnya Pak Yosan pergi tanpa perkataan sepatah kata.
Akhirnya Pak Yosan beranjak cepat dengan membawa penyesalan sampai seumur hidupnya.
Sudah dua minggu kami berkumpul disatu atap tanpa Pak Yanto. Rumah ini terasa sepi dan sunyi seperti ada nyawa yang benar-benar hilanh
Biasanya Pak Yanto lah yang mengisi keceriaan dirumah ini tapi sekarang dia sudah jauh disana, di alam yang gak pernah kami tahu tempatnya
Hari ini pukul lima sore dibawah langit gelap karena hujan deras sepanjang hari, Nenek dan Kakek Liana datang bertamu. Sebelumnya mereka juga sudah membantu melaporkan ke Polisi atas peristiwa tenggelamnya Pak Yanto.
Tapi sampai detik ini Pak Yanto belum juga ditemukan.
Nenek Liana datang hanya untuk mengabari hal penting kepada Ibu karena menurutnya sudah saatnya Nenek akan mengambil sikap baik
Dengan tangan yang masih kuat Nenek mengambil secangkir teh hangat untuk dia sruput, setelahnya dia berbicara kepada Ibu
"Teh nya enak, buatan siapa ?" ucapnya
Ibu tersenyum "Dhira yang membuatnya" jawab Ibu
Nenek tersenyum kepadaku yang sudah duduk dekat Ibu bersama Liana juga
Tapi Nenek gak melanjutkan pembicaraannya, justru disambung oleh Kakek Liana dengan suara yang berat dan serak. Terlihat jelas matanya berkaca-kaca karena menahan tangis pilu.
"Anak saya sampai detik ini belum ditemukan, mau gak mau kita harus mengikhlaskan semuanya" ucapnya
Mendengar begitu sontak Ibu menangis histeris
Hik..hik..hik..hik
Tangisnya pecah bersama suara hujan yang semakin deras
__ADS_1
Karena suasana semakin terasa pilu akhirnya kami menangis bersama lalu berdoa bersama untuk kepergian Pak Yanto yang sekarang entah dimana keberadaannya