GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
62. RASA YANG HILANG


__ADS_3

Seperti biasa kaki melangkah menuju rumah Bibi Ros , kali ini aku merasa lega. Karena perasaan berat sejak kemarin sudah gak menjadi beban lagi dipikiranku.


Aku gak menyangka kalau rupanya Bibi Ros datang ke sekolah untuk membelaku dengan sebegitunya dan yang gak pernah aku sangka juga rupanya Ai lah yang mencuri hape milik Nasya. Semudah itulah Tuhan membuka kebenaran untukku.


Dibawah langit biru yang cerah aku masih melangkahkan kaki dengan perlahan menuju rumah. Sorotan terik matahari yang sudah mulai redup mengiringi gerak kaki yang gemetar semakin melamban seolah memberi isyarat kalau perutku sudah terlampau lapar


Belum begitu jauh dari sekolah tiba-tiba saja dari balik punggungku ada suara seorang perempuan yang aku kenal memanggilku. Terdengar langkah sepatunya berderap kencang berlari tergesa-gesa menghampiriku


"Dhira !" panggilnya yang kini berlari kecil saat aku sudah membalikkan badan untuknya


Sampai akhirnya Mira berhenti dihadapanku. Napasnya terengah-engah saat bicara kepadaku


"Aku panggil dari tadi eh kamu malah gak dengar" ucapnya masih terengah-engah


Melihat keadaannya begitu aku jadi merasa bersalah mendengar ucapannya


"Hah, masa iya ?" ucapku bingung. Karena menurutku sejak tadi aku merasa gak ada siapa-siapa yang membuntutiku


"Iya, aku panggil kamu dari depan sekolah tapi kamu gak denger" ucapnya yang mulai mengatur napasnya pelan-pelan


Mendengarnya aku semakin menyesal "Ooh, maaf ya Mira. Aku gak dengar" ucapku


Sesaat kemudian napas Mira sudah gak terengah-engah lagi kini dia sudah bisa bicara dengan lancar


"Tadinya aku mau ajak kamu main. Ibu mau lihat kamu" ucapnya


"Ibu kamu ?" tanyaku. Entah kenapa aku baru ingat ada sosok yang baik hati yang nyaris aku lupakan


"Iya, dia bilang ajak Dhira main ke rumah. Ibu juga rindu sama kamu" ucapnya


Aku diam sejenak, bimbang. Aku takut nanti Bibi Ros mengkhawatirkanku kalau sore ini juga aku paksakan pergi ke rumah Mira, karena dibenaknya pasti akan bertanya-tanya kenapa aku belum pulang dijam yang seharus aku sudah sampai di rumah.


Akhirnya aku putuskan untuk menolaknya. Langsung saja aku menggelengkan kepala "Gak dulu ya Mira. Aku takut dimarahi Bibi Ros" ucapku pelan


Mira meraut wajahnya begitu kecewa "Padahal hari ini Ibu mau lihat kamu, Dhira" ucapnya

__ADS_1


Tapi aku berusaha menyenangkan hatinya "Besok saja ya, supaya sore ini aku akan ijin kepada Bibi Ros biar besok sepulang sekolah aku bisa ke rumah kamu. Gimana ?" usulku


"Ngg, ya sudah kalau begitu besok saja" setuju Mira "Loh, tapi kan besok hari minggu" tambah Mira lagi


Aku tersentak kalau lupa hari "Oh, iya" ucapku sembari menepuk keningku


"Kalau begitu kamu main ke rumahku sepulang kamu dari Gereja saja. Dhira" usul Mira


Aku mengangguk setuju "Iya" anggukku


"Kalau begitu besok kita ketemuan di sini saja. Sekitar jam satu siang ya. Kalau nanti kamu yang sampai lebih dulu tungguin aku sampai aku datang, ya." ucap Mira


Aku mengangguk "Iya, Mira" ucapku


"Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu ya" pungkasnya sembari melambaikan tangannya lalu pergi


Aku juga membalasnya dengan melambaikan tangan "Daagh, sampe besok ya" ucapku.


Kemudian kami pulang dengan arah yang berbeda. Besok siang kami akan bertemu tepat di sini diatas kaki kami berdiri. Kami hanya bisa mengikat janji lisan karena kami gak punya handphone.


Sesampainya di rumah Bibi Ros nampak sunyi di ruang tamu. Sepi gak ada seorang pun terlihat. Jika Om Dudu memang sedang bekerja dan akan pulang jam lima nanti tapi Bibi Ros justru gak terlihat.


Pagi sudah kembali lagi tapi pagi ini agak berbeda bagiku minggu pagi yang istimewa bagiku. Setelah aku mandi dan memakai pakaian untuk pergi ke Gereja bersama Bibi Ros dan Om Dudu aku lekas pergi ke ruang makan yang biasanya kami sering makan bersama. Saat Bibi Ros menyadari kedatanganku Bibi Ros dan Om Dudu menyambutku dengan wajah mereka yang ceria seperti awal-awal aku mengenalnya.


Meja makan pun sudah penuh dengan bermacam makanan yang tertata rapih padahal biasanya hanya beberapa makanan saja yang dihidangkan untuk kami sarapan.


Bibi Ros menyuruhku untuk duduk, dia tersenyum begitupun Om Dudu "Ayok, Dhira kamu duduk" ucapnya. Sembari tangannya mengisyaratkan untuk aku duduk dikursi tepat berhadapan dengannya.


Tapi entah kenapa aku malah jadi gugup atas sikap mereka yang begitu manis.


Om Dudu mulai mengambil makanan dan dia letakkan dipiringnya sambil juga dia mengajakku "Ayok, Dhira kamu ambil. Makan yang banyak" ucapnya


Bibi Ros menyambar "Iya Dhira makan ya. Makan yang banyak" ucapnya sambil ikut menyendokkan nasi dipiringnya.


Aku masih gugup melihat sikap mereka perasaan yang seharusnya gak perlu aku rasakan. Tapi dibenakku terus bertanya-tanya.

__ADS_1


Akhirnya Bibi Ros mulai bicara serius kepadaku. Suaranya yang lembut keibuan menggetarkan haru dalam hati kecilku "Dhira, apakah kamu masih mau bertemu dengan Ayah kandungmu ?" tanyanya dengan menatap mataku sangat dalam


Tatapan matanya terasa sampai menembus dadaku.


Aku bingung mau jawab apa tapi dibenakku aku ingin sekali bertemu dengannya.


Tapi akhirnya aku putuskan untuk menggelengkan kepala "Enggak, Bi" ucapku


Senyuman Om Dudu dan Bibi Ros yang semula sumringah kini seolah membeku


Bibi Ros sampai gak menyangka dengan jawabanku "Loh, bukannya kamu sempat mau mencari Ayahmu ?" tanyanya


Ruangan yang sejak tadi sudah mulai cair dan hangat kini justru kembali dingin dan sunyi


"Iya Bi, tapi sebaiknya mungkin gak perlu lagi" ucapku pelan


Aku menundukkan kepala tanda kalau sebenarnya aku menginginkan bertemu dengan Ayah tapi pikiranku seolah menolaknya. Entahlah, aku pun gak tahu kemana arah perasaanku


BIbi Ros masih bingung dengan sikapku, sembari mengunyah makanannya dia masih bicara kepadaku


"Bibi pikir kamu masih mau bertemu. Jika kamu mau. Bibi akan bantu cari keberadaan Ayahmu" ucapnya


Mendengar begitu Om Dudu mengangguk setuju "Iya"


Aku menoleh wajah Om Dudu dan menatap wajah Bibi Ros


"Bibi bisa bantu aku ?" tanyaku


Bibi Ros mengangguk "Iya. Tapi ada perjanjiannya. Apa kamu siap ?" ucapnya


"Apa ?"tanyaku cepat


"Bibi gak mau kamu tinggal bersama dengan Ayahmu apa pun kondisinya nanti" jelasnya


Seketika ruangan sunyi

__ADS_1


Aku diam "Nggg" sejenak berpikir tapi gak tahu apa yang aku pikirkan.


Bibi Ros masih meyakinkanku "Kamu paham kan, Dhira ?" tanyanya


__ADS_2