
Setelah kami makan bersama akhirnya Pak Yanto mengajakku berkeliling sebentar dengan motor kesayangannya masih di area pasar malam.
Meski malam sudah mulai larut dan dingin tapi gak membuat aku merasa bosan.
Setelah beberapa menit mengemudi motornya sambil terus melaju pelan-pelan karena saking banyaknya pengunjung, akhirnya Pak Yanto menepikan motornya di parkiran persis depan mobil penjual es krim yang antrian pembelinya cukup panjang.
Kemudian Pak Yanto mengajakku duduk sebentar di bangku untuk sekedar duduk-duduk saja.
Karena saking ramainya mataku sampai terpaku memandang liar ke segala arah sampai aku juga melihat ada istana balon di belakang punggung kami.
Besar dan banyak anak-anak seusiaku bermain wahan balon didalamnya. Ingin rasanya aku juga ada di sana tapi mulutku terkunci untuk mengatakannya
Beberapa menit mengantri di depan penjual es krim , akhirnya Pak Yanto membelikan aku satu rasa coklat
"Nih es krimnya, habisin ya" ucapnya sambil menyodorkannya kepadaku
Aku meraihnya lalu cepat memakannya sampai habis.
Pak Yanto yang melihatku jadi tertawa.
Mungkin baginya lucu melihat orang pertama kali makan es krim
"Hahaha, kamu makannya cepat sekali"
Aku jadi tersipu malu
"Iya Pak, enak. Hehehe" jawabnku
Tapi Pak Yanto gak marah justru dia menawarkan lagi "Kamu mau lagi ?" tanyanya
Aku menggelengkan kepala tapi dengan malu-malu mataku melesat tertuju pada istana balon.
Sebenarnya sikap itu bukan yang aku sengaja tapi aku hanya mengharapkan kalau bisa aku ada di dalam istana balon dan ikut merasakan permainan seperti yang lainnya
Tapi rupanya Pak Yanto memahami isi kepalaku
"Kamu mau masuk ke situ ?" tunjuk Pak Yanto
Aku diam aja mentapnya, tapi hatiku berkata kalau aku mau sekali.
Meski aku gak menjawab tapi rupaya Pak Yanto mengerti arti dari sorotan mataku, Kemudian dia menarik tanganku dengan lembut lalu mengajakku pergi ke istana balon.
Akhirnya aku bisa merasakan masuk dan bermain bersama dengan anak-anak lainnya, meski kami gak saling mengenal tapi seolah aku banyak teman di dalam wahana balon.
Sudah hampir dua jam lebih aku dan Pak Yanto berkeliling di pasar malam.
Akhirnya Pak Yanto menyadari kalau aku seharusnya saatnya
"Kita pulang yuk, sepertinya Ibu dan Liana juga sudah sampai rumah" ajaknya padaku setelah aku sudah selesai bermain
Aku mengangguk saja padanya sambil kami melangkah pelan-pelan menuju parkiran
"Gimana tadi mainnya, seru gak ?" tanya Pak Yanto
"Iya seru Pak" jawabku
"Besok kalau ada kesempatan kita main lagi ke sini" janjinya
__ADS_1
"Iya Pak" anggukku
Setelah sampai di halaman rumah, saat Pak Yanto memarkirkan motornya, pintu rumah dibuka oleh Liana yang sudah memasang raut wajah yang cemberut
"Ayah dari mana aja ?" tanyanya
Setelah Pak Yanto sudah turun dari motornya dan mulai masuk akhirnya Pak Yanto menjawabnya
"Habis dari pasar malam, jalan-jalan" jawabnya
"Kenapa aku gak diajak ?" tanyanya kesal sambil melirik kepadaku
"Loh, bukannya tadi itu kalian belum pulang ?" ucap Pak Yanto seolah gak mau disalahkan begitu saja.
Tapi Ibu yang menjawab "Iya memang belum sampai, tapi harusnya kamu tunggu kami pulang dulu dong" jawabnya
"Ya sudah kapan-kapan lagi aja ke sananya. lagi pula kalau kita berangkat berempat, motor mana muat" ucapnya
Tapi Ibu malah menjawab dengan nada tinggi "Gak bisa begitu dong" balas Ibu
Meski nada bicara Ibu memmbentak begitu tapi rupanya Pak Yanto gak mau memperpanjang perdebatan, dia berusaha gak memperkeruh suasana semakin pecah
Pak Yanto malah tanya balik pada Ibu dengan nada bicara yang lembut "Tadi kamu sama Lian ke pasar beli apa aja ?" tanyanya sambil duduk di sofa.
Sementara aku sudah berada di dalam kamar sedang merapikan beberapa pakaian yang berantakan dikamar
Mendengar Pak Yanto mengalihkan pembicaraan, Ibu juga gak keberatan. Dia tetap bisa menjawab baik-baik
"Tadi beli seragam sekolah dan perlengkapan buat Lian sekolah" jawab Ibu
"Uangnya kan gak cukup" jawab Ibu
"Ya tapi setidaknya kamu kan bisa membagi uangnya jadi dua orang"
"Gak bisa, karena kebutuhan Lian kan banyak" sangkal Ibu lagi.
"Oh ya sudah kalau gitu besok aku sama Dhira pergi ke pasar" jawabnya
Tapi Ibu justru menghalanginya "Jangan, uangnya aja kasih ke aku. Biar aku yang belikan untuk dia. Kalau kamu yang beli belum tentu dapat yang murah. Kalau aku kan masih bisa nawar harga" ucapnya
Pak Yanto berfikir sebentar lalu mengeluarkan dompetnya "Ya sudah kalau gitu ini duitnya" setujunya sambil memberikan beberapa lembar uang pada Ibu.
Gak terasa rupanya sudah hampir seminggu aku tinggal bersama mereka meski aku masih bagian dari mereka tapi aku tetap diperlakukan sama seperti awal aku datang ke rumah ini tapi itu gak membuatku masalah besar sama sekali karena aku melakukannya dengan senang hati, justru sampai hari ini aku bahagia tinggal bersama mereka.
Tapi sebenarnya ada yang kurang dalam ingatanku kalau Ibu akan membelikan aku seragam sekolah dan perlengkapannya juga tapi rupanya sampai saat ini Ibu belum juga mengajak aku pergi ke pasar.
Sebenarnya aku bisa saja menagih janjinya tapi masalahnya nanti bisa-bisa dia memarahiku. Tapi meski begitu aku hanya terus berpikir kalau Ibu belum sempat mengajakku mungkin karena sibuk di rumah.
Hari ini adalah minggu pagi yang cerah ditambahkan lagi ada sukacita untukku. Karena hari ini Pak Yanto mengajak aku ke gereja untuk yang pertama kalinya
"Ayok semuanya siap-siap kita ke Gereja" ucapnya yang juga mengajak Ibu dan Liana
Tapi sepertinya Ibu keberatan dengan ajakan Pak Yanto "Tapi kan motornya gak muat untuk empat orang" protesnya
Liana menyambar omongan Ibu "Iya, bertiga aja sempit apalagi berempat" sindirnya sambil melirik aku dengan sinis
Tapi aku hanya diam saja
__ADS_1
Pak Yanto diam agak lama berfikir lalu kembali mengajak "Oke kalau begitu saya akan antar Liana dan Dhira Sekolah Minggu, setelah itu saya kembali lagi menjemput kamu, Bu" jawabnya
Mendengar jawaban suaminya, Ibu diam saja. Tapi raut wajahnya seperti gak setuju
Sementara Liana masih saja memandangku bagai musuhnya.
Akhirnya setelah beberapa menit dalam perjalanan, ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di halaman Gereja yang sederhana yang gak begitu luas tapi wujud bangunannya masih klasik.
"Kalian masuk saja, sepertinya sudah mau mulai" usul Pak Yanto sambil kembali menyalakan mesin motornya
Aku mengangguk "Iya Pak"
Tapi Liana diam saja sampai akhirnya Pak Yanto meninggalkan kami.
Liana gak mengajakku masuk dia bahkan diam saja tanpa ucapan apa pun padaku, dia hanya berjalan mendahuluiku begitu saja
Sementara aku melangkah tepat dibalik punggungnya sampai akhirnya kami masuk ke dalam satu ruangan yang sudah banyak anak sebaya kami. Mereka duduk melingkar di kursi plastik dengan rapih dan tenang dalam pangkuan mereka masing-masing ada Injil.
Semua pandangan tertuju kepadaku kemudian seorang perempuan dewasa yang mereka sebut Pembina Sekolah Minggu menyapaku dengan gembira
"Hai, nama kamu siapa ?" tanyanya
Tapi aku masih diam saja sementara Liana sudah duduk dikursinya.
"Sepertinya kakak perhatikan kamu baru pertama kali ini datang ke sini ya ?" tanyanya
Tapi jawaban aku hanya mengangguk saja.
Jujur saja, aku sangat gugup
Karena ini kesekian kalinya aku harus memaksakan batinku untuk kembali beradaptasi dalam lingkungan baru dan orang baru yang belum tentu menyukaiku
"Ayok, perkenalkan diri kamu kepada teman-teman. Supaya semua teman yang ada di sini bisa mengenalmu" ucapnya sambil tersenyum manis kepadaku
Tapi aku hanya bisa diam gak berucap apa-apa sampai gak sadar juga kalau tubuhku bergerak terus menerus padahal gak aku perintah, menandakan kalau aku sudah gak nyaman dihadapan mereka.
Tapi akhirnya Kakak Pembina itu memperkenalkan dirinya lebih dulu
"Kalau begitu biar Kakak yang lebih dulu memperkenalkan diri ya" ucapnya sambil menatapku ramah
Aku hanya balas tersenyum
"Halo, nama aku Kak Gracia. Kalau nama kamu siapa ?" ucapnya
Langsung aja aku jawab "Andhira" jawabku cepat
Kak Gracia langsung saja memujiku dihadapan lainnya
"Wah, teman-teman. Namanya bagus ya. Sesuai dengannya juga cantik" pujinya
Aku jadi tersipu malu ketika teman lainnya juga mengangguk dengan tersenyum padaku
Tapi gak dengan Liana.
Dia hanya diam saja menatapku dengan raut wajah yang datar
"Oke, Andhira. Kamu bisa duduk. kebetulan kursinya masih ada yang kosong. Kita akan mulai Sekolah Minggunya ya" ucap Kak Gracia
__ADS_1