
Sepulang dari Gereja Pak Yanto kembali mengajak Aku beserta Ibu dan Liana untuk pergi mancing seperti yang sudah dia katakan dihari sebelumnya.
Pak Yanto bahkan sudah bersiap membawa alat pancingnya tinggal menunggu kami bersiap saja
"Ayok kita berangkat, hari kebetulan cerah" ajaknya penuh semangat
Tapi rupanya Ibu dan Liana gak berminat wajahnya lesu dan lebih memilih duduk bersantai di depan televisi
Ibu menolaknya "Ayah aja lah yang pergi, aku malas ke sana" ucapnya
Liana pun menyambut ucapan Ibu "Iya, aku juga malas ke sana. Apa lagi melewati rumput-rumput yang bikin kaki dan seluruh badan aku gatal" tambahnya
Mendengar jawaban mereka akhirnya pandangan mata Pak Yanto berpindah kewajahku
Tanpa Pak Yanto menanyakan kedua kalinya, dengan cepat aku mengangguk mau
Pak Yanto tersenyum, dia merasa lega kalau ada yang mau menemaninya pergi
"Baik lah kalau begitu kita berangkat sekarang" ajaknya padaku
Tapi sebelum keluar dari pintu langkah Pak Yanto terhenti sebentar
"Oh, sebentar. Bapak mau ke belakang dulu" ucapnya
Kemudian dia kebelakang mencari sesuatu yang akan dibawanya ke sungai yang akan kami tuju.
Beberapa saat kemudian dia kembali lagi kepadaku yang masih menunggunya di ruang tamu tapi Ibu yang salah fokus melihat tangan Pak Yanto membawa tali tambang yang cukup panjang
"Loh, tali tambang buat apa ?" tanyanya
"Oh, enggak. Ini buat nanti" jawabnya
"Iya, buat apa ?" tanya Ibu lagi kepingin tahu
"Nanti aja kalau kalian datang ke sana. Kalian akan tahu" ucapnya masih menyembunyikan.
"Ayok Dhira kita berangkat" ajaknya padaku
Akhirnya kami berjalan ke belakang rumah melewati beberapa rumah warga yang nampak kosong dan reyot yang sepertinya sudah lama ditinggal penghuninya.
Hari ini aku keluar gak pakai jaket, aku hanya memakai celana kaos berlengan pendek dan celana pendek. Pak Yanto yang mengajarkan aku supaya aku mencintai diriku sendiri. Meski akau masih merasa agak tabu dengan penampilanku tapi aku berusaha untuk percaya diri menerima diriku sepenuhnya.
Rupanya benar perkataan Liana sebelumnya, karena perjalanan kami diawali melewati jalan setapak yang ditumbuhi padang rumput yang cukup tinggi sedadaku dan daun rumput yang runcing dan panjang itu tepinya tajam jika mengenai kulit jadi terasa gatal.
Tapi setelah melewatinya aku dihadapkan dengan pemandangan alam yang hijau begitu luas. Di depan, kanan kiri pandangan mata terbentang luas tanaman padi yang mulai berbulir banyak apa lagi angin yang kencang seakan membuatku lupa pada sorot matahari yang hangat.
Aku terus melangkah mengikuti Pak Yanto tanpa kami berbicara sepanjang jalan
Sampai akhirnya kami melewati beberapa petakan tanah yang luas yang sudah ditumbuhi rumput liar yang gak terurus sama sekali.
Kemduian sampai lah kami ditempat yang dimaksud Pak Yanto.
Sungai yang cukup lebar dengan air yang keruh mengalir tenang entah akan sampai di mana berhentinya. Dipinggirnya ada tumbuh pohon berbatang besar yang terlihat tua berdaun rindang beranting kuat dan banyak.
Sementara disebrang sungai terpampang juga petakan sawah dengan hamparan rumput liar yang cukup tinggi seperti gak pernah lagi diurus pemiliknya
__ADS_1
"Kita sudah sampai" ucap Pak Yanto sambil meletakkan alat pancingnya dekat pohon peneduh bagi kami, apa lagi ditambah oleh tiupan angin yang kencang seolah menggiringku ke dalam tidur yang lelap
Sebelum Pak Yanto memulai acaranya, dia mengaitkan tali tambang di antara dahan pohon
"Untuk apa itu Pak ?" tanyaku
"Nanti juga kamu tahu" jawabnya
Kemudian dia bergeser melangkah mencari patahan batang pohon disekitarnya.
Ada banyak patahan batang pohon disitu karena terlihat juga beberapa batang pohon mati yang karena sengaja ditebang sebelumnya. Gak banyak tapi ada beberapa saja. Dan yang disisakan hidup hanya pohon ini saja
Pak Yanto mengambil dan memilih patahan batang yang lebih kuat kemudian diikatkan pada tali tambang yang sudah tersangkut didahan.
Hasilnya
Sebuah ayunan sederhana untukku
"Nah, sudah jadi. Sekarang kamu bisa menunggu Bapak sambil main ayunan" ucapnya
Melihatnya aku bahagia dan langsung duduk disitu.
Setelah melihat aku nyaman dengan ayunan yang dia buat akhirmya dia memulai tujuannya.
Sementara aku hanya duduk menunggu hasil pancingannya diatas ayunan yang didorong lembut oleh angin.
Pak Yanto duduk mengahadap sungai tanpa bicara tanpa bergerak banyak, punggung bidangnya seolah mengisyaratkan kalau dia berharap akan hasil kailnya
Tapi lama kelamaan aku menunggunya mulai bosan tanpa sadar juga aku mengajaknya bicara
"Pak Yanto, kenapa kita gak jaring saja ikannya kan pasti akan dapat banyak" tanyaku
"Memangnya Pak Yanto gak punya jala nya ?" tanyaku lagi
"Oh, bukan. Gimana ya bilangnya. Mmmmm" ucap Pak Yanto nampak bingung menjawabku
"Memangnya di dalam sungai ada ikannya ya ?" tanyaku lagi
Tapi Pak Yanto juga malah bingung menjawabnya "Mmm, ada sih. Tapi memang agak lama sih. Mmm" ucapnya sepatah patah
"Kenapa kita gak tangkap tangan aja, misalnya pakai perangkap jaring atau serokan ikan" usulku lagi
"Mmmm, iya juga sih" ucapnya
Seketika dalam bersamaan pancingan Pak Yanto bergerak. Aku dan Pak Yanto yang menyadarinya langsung sigap
Pak Yanto langsung menarik kailnya dan terlihat seekor ikan cukup besar bergerak kesakitan tersangkut kail Pak Yanto
Pak Yanto sampai sumringah kegirangan "Horee kita dapat ikannya !" ucapnya sambil berusaha melepaskan gigitan ikannya
Tapi entah kenapa gak dengan aku
"Pak Yanto gak kasihan sama ikannya, kalau dia sebenarnya lagi kelaparan tapi Pak Yanto membohonginya ?" tanyaku
Pak Yanto menolehku setelah berhasil melepaskan ikan dari jeratannya.
__ADS_1
"Tapi ikan ini boleh kita pancing dan kita makan. Kita gak akan berdosa" ucapnya
"Tapi aku kasihan lihatnya" ucapku lagi
Pak Yanto tertawa "Hahaha. Suatu saat nanti kamu akan paham. Dan kamu juga akan mempelajari namanya rantai makanan" jelasnya
Mendengarnya aku jadi keingatan pada pelajaran yang pernah guru SD jelaskan. Aku baru menyadari kalau inilah bukti nyata dari jaring-jaring makanan.
"Bagaimana Dhira, kamu masih kasihan ?" tanyanya lagi sambil menaruhnya diwadah tertutup yang sudah dia isi air.
Aku menggelengkan kepala "Bukan gak kasihan Pak tapi aku cuma mau berusaha paham tentang kenyataan hidup yang memang seperti ini" ucapku
Tapi Pak Yanto malah terdiam, dia malah terpaku dengan kalimatku yang agak mendalam baginya
"Kenapa kamu bilang begitu ?" tanyanya heran
Aku yang gak sadar sudah berbicara begitu gak bisa memberikan alasan lain, aku hanya diam dan kembali mengoreksi kalimatku barusan
"Ya udah kalau begitu, kalau nanti kita dapat ikan yang kecil Bapak akan pancing lagi, kalau dapat yang besar kita sudahi tapi sebelum pulang kita bakar satu ikan dan kita makan bersama di sini. Setuju ya " ucapnya
Aku mengangguk setuju " Iya pak"
Dan benar saja Pak Yanto mendapatkan Ikan bahkan lebih besar dari pancingan pertamanya.
Sesuai janjinya akhirnya Pak Yanto menyiapkan bakaran untuk Ikan yang akan kami santap bersama.
Aku duduk disamping pak Yanto yang sekarang sudah membakar satu ikan degan telaten.
Meski apinya terus bergoyang karena diterpa angin yang cukup kencang tapi akhirnya Ikan matang dengan baik.
Pak Yanto membelah ikannya memisahkan daginh dari durinya kemudian diberikan kepadaku dengan alas daun talas sebagai pengganti piring
"Ini buat kamu" sodornya
Aku menerimanya dengan baik kemudian langsung mencobanya.
"Wuih, enak ya. Manis" ucapku
"Hehe. Iya. Karena langsung dari sumbernya" ucapnya
"Pak, kira-kira kalau nanti aku besar. Bapak mau aku jadi apa ?" tanyaku tiba-tiba
"Loh, kenapa kamu bertanya begitu ?" tanyanya
"Karena aku bingung ketika nanti aku besar akan jadi apa" ucapku
Pak Yanto tersenyum kemudian menghela napasnya
"Dhira anak manis, kamu gak perlu risau ketika besar nanti kamu akan jadi apa dan jadi siapa. Bapak memang membiayaimu sekolah bukan karena Bapak menginginkan sesuatu dari kamu. Tapi ketika Bapak melihatmu bahagia, santun kepada orang yang lebih tua, sayang kepada yang lebih muda saling menghargai sesama manusia, gak sombong dan tulus membantu siapa pun, adalah kemenangan bagi Bapak sudah berhasil membesarkanmu. Didalam daging Bapak memang gak ada darahmu tapi hati dan jiwamu serasa bersemayam dijiwa Bapak. Kamu jangan pernah bermuram hati karena Bapak sayang sama Dhira" ucapnya
Mendengarnya aku terharu dan hanya menunduk saja karena batinku gemetar setelah diyakinkan dengan harapan besar kepadanya selama ini.
Kemudian Pak Yanto membelai kepalaku dengan lembut
"Sudah lah Dhira, kamu anak yang baik. Kelak nanti kamu besar kamu akan mengerti betapa berharganya dan betapa kuatnya kamu bisa melewati kehidupan di dunia ini. Ingatlah satu hal di dalam kehidupan ini. Bahwa manusia yang benar-benar hidup adalah ketika dia merasakan kemalangan dan kebahagiaan adalah keuntungan. Jadi, jangan pernah menyerah ya. Semua manusia sama saja pernah merasakan penderitaan dalam hidupnya, kasusnya memang berbeda disetiap orang tapi rasa sakitnya sama" ucapnya
__ADS_1
Aku mengangguk paham " Iya Pak"
Pak Yanto tersenyum padaku