
Sesaat setelah air mengenai gumpalan asap tersebut, tubuh Yumna jatuh ke bawah dan dengan sigap Abas menangkapnya sebelum tubuh itu menyentuh lantai.
Yumna dibaringkan di atas kasur dan ibu Abas memberikannya segelas air untuk menenangkan diri. Napas Yumna yang tadi tersengal sudah mulai beraturan.
“Kamu tidak apa-apa, Nduk?” tanya Ibu Abas khawatir.
Yumna menggelengkan kepalanya, “Ndak, Bu, Yumna ndak papa.” meski demikian, wajah Yumna terlihat pucat pasi dan tangannya terasa dingin seperti menyentuh es.
Atas saran dari Abas dan Ibunya, akhirnya Yumna di bawa ke rumah mereka untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Meski awalnya Yumna menolak, tapi mereka bersikeras agar Yumna ikut bersama mereka hingga akhirnya Yumna mengiakan saran mereka.
Malam semakin larut, Abas duduk di depan rumah ditemani oleh ibunya, sedangkan Yumna beristirahat di kamar. Ia kembali memikirkan kejadian yang baru saja Yumna alami, meski itu tidak bisa dicerna menggunakan logika, tetapi benar adanya.
“Jika kamu khawatir, kenapa kamu tidak menikahi Yumna saja, Nak. Jadi dia bisa tinggal di sini bersama kita,” ujar Ibu Abas yang seolah paham apa yang dipikirkan anaknya.
Abas menatap ke arah ibunya, meski dia menyimpan rasa untuk Yumna. Namun, ada rasa khawatir terselip di hatinya tentang rumor yang beredar bahwa Yumna adalah perempuan Bahu Laweyan.
“Tapi, Bu ...."
Ibu Abas menggenggam erat tangan putranya itu. Ia paham apa yang dikhawatirkan oleh Abas tentang Yumna, “Dengarkan ibu! Jodoh, maut dan rezeki itu rahasia Allah. Jangan pernah khawatir akan takdir yang sudah Allah tetapkan. Dua minggu lagi masa idah Yumna akan berakhir, jika kamu yakin, silakan nikahi dia. Ibu merestui kamu, Nak,” senyum manis terukir indah di wajah yang mulai keriput itu.
Abas tersenyum, hatinya menghangat setiap mendengar petuah yang disampaikan oleh perempuan yang sangat ia hargai itu. Abas menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba menetapkan dan meyakinkan hati bahwa jalan yang ia pilih ini adalah benar.
“Bismillah,” gumam Abas dalam hati untuk memulai niatnya.
“Aku akan menemui Yumna, Bu. Semoga dia menyetujui niat baikku." Ibu Abas mengangguk lalu Abas berlalu menuju ke kamar ibunya tempat Yumna berada.
Tok tok tok!
__ADS_1
Abas mengetuk pintu. Lalu terdengar suara dari dalam yang mempersilahkan dia untuk masuk.
“Kamu belum tidur, Yum?”
“Belum, Kang."
“Aku boleh berbicara sebentar?” Yumna mengangguk menjawab pertanyaan yang tertuju padanya.
Abas duduk di atas kursi kayu yang berada tidak jauh dari ranjang tempat Yumna duduk. Wajah Abas tertunduk seolah dia bingung harus memulai dari mana pembicaraan ini. Sedangkan Yumna hanya diam menunggu kata yang keluar dari mulut laki-laki yang ada di hadapannya.
“Yum, maaf jika aku lancang. Jika kau berkenan, aku ingin menikahimu,” tanpa basa- basi Abas langsung mengutarakan niatnya.
Mata Yumna membulat, keningnya berkerut mendengar ucapan Abas yang tidak ia sangka-sangka.
“Kamu yakin, Kang? Bukankah kamu tahu bahwa aku disebut perempuan Bahu Laweyan?” Yumna menatap jauh ke dalam mata Abas, air matanya menetes tanpa ia sadari.
Bagaikan angin segar yang bertiup kencang, kabar pernikahan Yumna dan Abas dengan cepat menyebar sampai ke pelosok Desa. Tak jarang banyak yang ikut mencibir Abas atas pilihannya menikahi Yumna, tapi ia tidak goyah dengan niatnya itu.
Kabar itu pula membuat sahabat Abas, Yayan dan Wandi ikut terkejut. Pasalnya, keputusan ini terkesan terburu-buru dan terdesak. Baru dua hari ini kabar itu menyebar luas, tanggal pernikahan sudah ditetapkan oleh mereka berdua.
“Kamu yakin dengan keputusan ini, Bas?” tanya Yayan saat mereka berada di pos ronda.
“Insyaallah, Kang. Semoga Allah Meridho."
“Tapi, Bas, kamu tahu betulkan bagaimana suami-suami Yumna terdahulu selalu mati dengan cara yang tidak wajar?” tanya Yayan lagi seolah tidak setuju dengan keputusan yang diambil sahabatnya itu.
“Jangan berburuk sangka dulu, lagi pula menikah itu ibadah. Tuhan yang menentukan apa yang terbaik untuk hambanya. Lanjutkan saja niat baikmu, Bas,” Pak Udin ikut membela Abas.
__ADS_1
Percakapan itu cukup menjadi perbincangan hangat di antara mereka bertiga, hingga tanpa terasa malam sudah makin larut tapi Wandi belum juga tiba di pos ronda.
“Kang, Pak Udin, saya ke musala dulu yah. Kebelet soalnya,” ucap Abas yang langsung berlari menuju toilet musala yang berada tidak jauh dari pos ronda dan meninggalkan Yayan dan Pak Udin yang berjaga.
Setelah selesai buang hajat dan hendak kembali ke pos ronda, sekelebat Abas melihat seseorang yang ia kenal berjalan mengendap-ngendap menerobos kegelapan malam.
“Wandi? Mau ke mana dia tengah malam begini?” Gelagat Wandi yang mencurigakan memancing rasa penasaran di hati Abas hingga menariknya untuk mengikuti langkah kaki Wandi.
Di tengah malam yang pekat, Abas berjalan menyusuri jalan masuk ke dalam hutan mengikuti langkah Wandi. Laki-laki berumur 30 tahun itu terlihat mencurigakan berjalan malam-malam seorang diri mengenakan jas hujan berwarna hitam dan sebuah obor di tangannya padahal hari sedang tidak hujan.
Jalanan yang dilalui Wandi semakin curam dan berbatu menyusuri lereng Gunung Lawu. Hingga akhirnya setelah berjalan hampir tiga jam dia berhenti di sebuah gubuk tua yang hampir reot dengan halaman yang luas dan banyak ditumbuhi oleh pohon jati.
Abas bersembunyi di balik semak-semak. Dia melihat Wandi masuk ke dalam gubuk tersebut yang disambut oleh seorang nenek tua yang sedikit bungkuk. Wandi menoleh ke kiri dan ke kanan seperti sedang memastikan sesuatu sebelum dia benar-benar menutup pintu itu.
Melihat gelagat Wandi yang sangat mencurigakan, menimbulkan rasa penasaran di hati Abas. Dia mendekat ke sisi barat gubuk dan berusaha mencari celah agar dapat melihat ke dalam dan mendengar pembicaraan di antara mereka berdua.
"Nyi Asih, saya ingin Nyai melakukan hal seperti biasa," ucap Wandi kepada perempuan tua itu sambil menyodorkan beberapa lembar uang.
"Nyi Asih? Bukankah itu nama dukun yang terkenal dengan ilmu hitam dan keahliannya dalam aborsi? Ada urusan apa Wandi sama dia?" gumam Abas sambil mengerutkan kening. Ia tidak pernah tahu sebelumnya bahwa Wandi pernah datang ke tempat seperti ini, tapi melihat dari caranya berbicara seolah dia dan Nyi Asih sudah sering bertemu.
Rasa penasaran di hati Abas semakin memuncak, apa sebenarnya urusan Wandi sehingga harus melibatkan dukun laknat tersebut.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ....