GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
49. SALAH PAHAM


__ADS_3

Akhirnya sudah hampir seminggu aku bisa melewati hari-hari pergi ke sekolah berstatus negeri yang terkenal sering tawuran, sekolah yang bukan favorit bagi siswa yang akademiknya diatas rata-rata. Cat tembok Gedung satu lantai leter U ini pun seolah mengisyaratkan kurangnya perawatan dari pihak sekolahnya terlihat jelas dari cat dinding berwana coklat muda yang hampir semua terkelupas. Bahkan parahnya lagi didalam kelas hampir banyak kaki kursi reyot dan nyaris patah ditambah lagi banyak meja yang penuh dengan coretan tinta pulpen, tinta spidol bahkan sampai coretan putih dari penghapus pulpen pun terlihat nyata menutupi hampir sebagian meja. Gak ada satupun punggung meja yang selamat di sekolah ini. Belum lagi plafon kelas yang bolong-bolong


Siang dicuaca panas matahari yang cukup menyengat ini seharusnya pelajaran sudah mulai aktif sejak hari kemarin tapi karena ini bukan sekolah yang diharapkan bagi bangsa ini, makanya guru yang seharusnya hadir dalam kelas selalu absen gak hadir. Mungkin karena masih penyesuaian guru-guru atau memang gurunya saja yang malas mengajar


Akhirnya dari hari kemarin satu guru pun belum ada yang menampilkan wujudnya bahkan dipagi hari tadi sampai siang ini suasana kelas masih sama riuhnya. Teman yang lain lebih memilih berisik dan saling tukar cerita dan cercanda tertawa satu sama lain tapi aku dan Rinai gak ikut seperti teman lainnya, aku dan Rinai justru duduk malas bersandarkan sandaran kursi tanpa saling berbicara satu sama lain


Rinai sibuk dengan ponselnya yang sejak tadi dia ketik-ketik.


Sementara sejak tadi aku hanya melamun sembari tanganku membolak-balikkan halaman demi halaman buku tulis dari halaman awal sampai halaman terakhir. Padahal gak ada yang aku baca hanya bingung saja apa yang harus aku lakukan


Meski begitu aku sangat menikmati persantaianku sambil juga menendang-nendang pelan potongan kayu kursi dibawah mejaku


Sudah jam dua siang rupanya tapi dikelasku masih saja ramai seperti dipasar dan bahkan sampai tiba dipenghujung jam pulang pun satupun guru pun gak ada yang hadir mengajar.


Teng..teng..teng..teng!


Suara bel pulang dari besi yang dipukul pun akhirnya terdengar nyaring ditelinga kami.


Riuh gemuruh bahagia siswa baru dikelasku kompak buru-buru merapikan perlengkapan sekolahnya ke dalam tas mereka masing-masing dan cepat-cepat nelangkah berebut pulang


Sementara hanya aku dan Rinai yang pergerakannya lebih santai


Rinai masih merapikan pakaian seragamnya, itu yang selalu dia lakukan sebelum pulang melangkah melewati pintu kelas


Tapi aku hanya memperhatikan dia belum berani untuk sekedar menyapa


Teman kelas ku yang lainnya satu per satu sudah berangsur pergi hanya tersisa tiga orang siswi yang aku belum tahu nama mereka satu per satu, mereka berkumpul di satu meja barisan kursi keempat paling pojok tembok kelas mereka tengah berdandan bersama. Memakai bedak, gincu dan alat makeup lainnya. Mereka terlihat bahagia melakukannya sembari juga mereka saling bercerita satu sama lain


Dalam bersamaan Rinai mulai bergegas pergi karena dia merasa pakaiannya sudah rapih, tanpa pamit atau mengucap kata lain seperti biasanya. Rinai pergi meninggalkanku begitu saja.


Tapi aku gak perduli dengan sikapnya yang dingin kepadaku karena bagiku itu hal yang sudah biasa terjadi kepadaku dan sepertinya Rinai memang tipikal perempuan yang intovert


Sebenarnya aku juga mau cepat sampai rumah tapi gak tahu kenapa aku malah terpaku pada mereka yang masih bersolek, mataku gak berhenti memandang mereka sampai satu anak dari antara mereka menolehku dengan tatapan mata yang tajam. Rambutnya hitam lurus tipis panjang sebahu berkulit kuning langsat dan sudah selesai bersolek dengan bedak bubuk yang terlalu putih dan gincu merah cabai yang membuat wajahnya semakin terkesan galak


Dia menatapku kemudian aku balas saja dengan senyuman ramah. Tapi rupanya dia gak tertarik dengan sikap baikku


Dia justru membuang wajahnya dariku kemudian kembali menambahkan bedak diwajahnya yang sudah semakin putih.

__ADS_1


Beberapa lamanya aku masih tetap memperhatikan mereka, sebenarnya aku gak ada keinginan untuk bersolek tapi entah kenapa aku senang melihat keakraban mereka. Itu yang aku harapkan. Keakraban bersama teman.


Karena aku juga sudah merasa terlalu lama belum juga beranjak pulang, akhirnya aku putuskan untuk bergegas kembali ke rumah Bibi Ros.


Pelan-pelan aku menggendong ranselku dan mulai melangkah keluar dari kursiku


Tapi


Aku malah dihadang oleh perempuan yang belum aku kenal namanya tapi rupanya dia sejak tadi merasa curiga kepadaku


Dia berdiri dihadapanku dan dibelakangnya ada dua orang temannya yang sudah selesai berdandan. Seorangpun dari mereka gak ada yang tersenyum ramah bahkan mereka lebih terlihat ingin memusuhiku


"Ngapain lu ngeliatin kita aja ?" tanyanya


Melihat raut wajahnya yang gak memungkinkan untuk menjadi teman, aku menjadi gugup dan gak tahu harus jawab apa


Tapi dia tetap memaksa meminta jawaban dariku


"Heh, kenapa ?" tanyanya lagi


Aku yang belum sanggup mengeluarkan suara, langsung saja menjawabnya dengan menggelengkan kepala


Teman yang dibelakangnya menyeletuk


Mendengar ucapan temannya aku langsung mengelak "Enggak, enggak. Bukan!" jawabku cepat


Tapi dia yang sepertinya ketua dari genk mereka gak puas dengan jawabanku


"Pasti aja lah kamu mau minta bedak, lipstik, maskara dan lain-lainnya kan!" tuduhnya


Aku masih menggelengkan kepala "Enggak" jawabku


Dari belakang temannya menyahut "Ngaku aja Lu. Belaga polos tapi nyatanya malu-maluin !"


Aku masih menggelengkan kepala karena apa yang mereka tuduhkan jelas salah tapi mereka sepertinya tahu betul kalau aku dalam kepanikan menghadapi mereka. Maka dari itu mereka semakin berani menekanku


Salah satu temannya pun kembali menyambar "Langsung kasih pelajaran aja, Nasya" ucapnya

__ADS_1


Dari situ aku baru tahu kalau nama dia, Nasya.


Nasya menatapku dalam-dalam, ekspresi wajahnya dia buat bagai peran antagonis dalam cerita sinetron.


Perlahan dia melangkah dan berhenti tepat dihadapan wajahku.


Wajahnya dengan wajahku akhirnya begitu dekat


Dari situ aku semakin gugup dan gak tahu harus melakukan apa selain hanya diam saja


Nasya masih saja geram kepadaku "Gak usah sok jagoan ya, apa lagi ngurusin gua pakai makeup bukan urusan lu. Lagi pula lu kalau gak punya makeup ya beli aja sana. Dan satu hal lagi gak usah ngelihatin genk gua kalau lu mau selamat belajar sekolah di sini !" ancamnya dengan tegas


Mendengar ucapannya aku malah bingung karena sedikitpun aku gak ada pikiran jahat kepada mereka.


Nasya masih mau bicara "Lagian kalau gua perhatikan ya, bagian diri lu yang bisa dimakeup apanya ? Badan lu aja kayak gini banyak bintik-bintik hitam kayak macan tutul. Gua heran jadinya, lu ini orang apa siluman ya ?" cetusnya


Mendengar Nasya berkata begitu dua temannya menertawainya


"Hahahahha"


Nasya masih melanjutkan ucapannya "Jangan-jangan lu adalah manusia yang dikutuk untuk ditertawakan semesta ya ?"


Dua temannya kembali tertawa menggila


"Hahahhaha!"


Jujur saja perkataan Nasya dan gelak tawa dua temannya membuat batinku kembali mengingatkan kehidpuanku dimasa lalu padahal baru saja nyaris aku lupakan tapi siang ini Nasya berhasil membuka kembali memori pahit yang ada dikepalaku


Nasya dan dua temannya akhirnya pergi meninggalkan aku setelah puas menertawakan kekuranganku dan sepertimya dia juga tahu kalau kedua mataku sudah menahan air mata.


Entah kenapa aku malah kembali duduk dan menangis sendirian saja.


Suasana kelas semakin sunyi hanya ada suara isak tangisku yang tersendat-sendat.


Hampir beberapa menit aku malas beranjak pulang, rasanya aku sudah gak sanggup untuk bertahan hidup. Aku mulai risau untuk melanjutkan hari besok.


Angin yang masuk melalui jendela kelas seolah menyapaku dengan lembut dan sejuk. Dia seakan mengatakan kalau masih ada Tuhan yang menemaniku dalam kesesakan.

__ADS_1


Tapi hati kecilku bergejolak, jika Tuhan memang ada bersamaku sejak dulu lalu mengapa aku selalu mendapatkan perlakuan buruk dari orang-orang yang seharusnya menjadi bagian hidupku. Dan mengapa semua orang yang menyayangiku hanya sementara menjadi bagian hidupku semua pergi bahkan sampai gak akan pernah kembali lagi.


Air mataku kembali berlinang hanya untuk memikirkan yang sebenarnya gak perlu aku renungkan.


__ADS_2