
Sudah sebulan aku mengikuti pelajaran di sekolah, beruntungnya gak ada satu guru pun yang mempermasalahkan jaketku yang selalu menutupi seragamku. Tepatnya menutupi kulitku tanganku. Mereka hanya memperhatikan aku kemudian gak berkomentar apa-apa.
Kelas hari ini kebetulan tatap muka kosong gak ada guru yang masuk dan gak ada guru lain yang menggantikannya. Tapi meski begitu semua siswa di kelas ini masih cukup tenang meskipun ada yang ngobrol atau sekedar lempar jokes tapi selebihnya lebih memilih diam membaca buku paket atau mengisi jawaban soal-soal di buku soal lembar kerja siswa.
Siang hari ini cukup terang dan panas, gak seperti hari-hari sebelumnya yang masih terasa angin semilir tapi sekarang uap panas dari langit seolah menembus kelas ini.
Kebetulan kelas aku ada di lantai tiga dan kursi duduk ku ada dekat jendela luar gedung tapi Septi yang duduk di kursi tepat dibawah jendela.
Dari jendela kami bisa melihat langit biru berawan membentang luas bisa juga melihat pemandangan segar ke lapangan belakang sekolah tempat para cowok pembasket sering bermain disitu. Tubuhnya yang tinggi atletis dan berkeringat menjadi daya tarik tersendiri bagi Septi saat melihatnya yang gak bisa dia tawar lagi.
Tapi bukan cuma Septi yang diam-diam mengidolakan para pembasket itu, karena biasanya juga kalau ada anak basket yang ganteng pasti banyak siswa di kelas ini yang memperhatikannya dari jendela.
Termasuk aku.
Tapi hari ini belum ada yang bermain basket dibawah.
Sepertinya tatap muka selanjutnya juga gak ada guru, sampai aku dan Septi bosan harus melakukan apa. Tapi rupanya Septi lebih jenuh karena sejak tadi dia uring-uringan berharap ada sesuatu yang dia kerjakan
"Dhira, kita ke perpustakaan yuk" ajak Septi sambil mencolek bahuku
Aku menolehnya "Mmm, gak deh. Aku lagi males ke bawah" tolakku
Dalam bersamaan suara pelan tapi nyaring terdengar dari balik punggungku, Gea nyeletuk kepada teman sebangkunya "Dia selalu pakai jaket norak itu setiap hari. Aku gak kebayang baunya kayak apa. Pastinya gak pernah dia cuci" ucapnya kepada teman Sebangkunya, Seli. Namanya
Septi yang rupanya tahu siapa yang Gea sindir akhirnya sedikit menoleh ke belakang lalu kemudian melirikku dan memperhatikan jaket yang aku pakai. Bisa jadi Septi juga baru tersadarkan oleh jaket yang hanya setiap seminggu sekali aku cuci tapi aku bisa menjamin kalau jaket ku gak bau
Tapi meski menyadari sindiran Gea rupanya Septi gak berani membahasnya kepadaku, dia hanya diam saja. Dan lebih memilih menjaga perasaanku
Besok adalah hari minggu aku ingat ajakan Pak Yanto kalau dia akan mengajak aku, Liana dan Ibu mancing ke sungai belakang rumah setelah sepulang dari Gereja. Pak Yanto Bilang sungainya gak begitu jauh dari rumah hanya berjarak seratus meter saja. Aku malah gak tahu sepanjang apa jarak seratus ratus meter itu tapi Pak Yanto menjanjikan padaku kalau pemandangan di sana sangat mempesona sepasang mata
Seperti biasanya aku dan Liana pulang sekolah bersama karena itu memang amanat dari Pak Yanto begitupun dengan berangkat kami selalu bersama
Seperti biasanya aku merapikan isi rumah sebelum makan siang sampai aku gak tahu kapan benar-benar bisa terbiasa menerima kenyataan ini
Apalagi Pak Yanto gak pernah tahu kalau Liana hanya cuek saja tanpa membantuku bahkan pakaiannya pun aku yang mencucinya. Liana gak pernah disuruh Ibu untuk membantuku. Dia hanya bertugas ke warung itu pun karena terpaksa karena Ibu malu kalau nanti aku yang keluar belanja nanti orang-orang melihat fisikku dan menjadi bahan gunjingan terus menerus.
Tapi hal itu gak membuat aku sakit hati aku menghargai maksud sikap Ibu yang seolah menyembunyikanku seperti ini.
Hari ini tiba-tiba saja langit redup ada awan tebal yang mulai mengepung desa ini. Semilir angin pun semakin terasa menyentuh kulit, seketika langit menjadi kelabu dan gelap padahal masih pukul empat sore tapi rasanya bagai sudah maghrib.
Titik-titik kecil hujan mulai terdengar diatap rumah lama kelamaan besar bagai rumpahan air raksasa.
Byurrrrr...ssshhhhhh...
Hujan turun begitu deras
Liana dan Ibu masih tidur siang hari ini. Sementara aku duduk termangu dimulut pintu belakang rumah bertopangkan dagu memandangi siraman hujan jatuh ke tanah, memandangi genangan air yang mencari tanah terendah.
__ADS_1
Angin hujan yang mulai kencang dan semakin dingin menusuk sampai ke tulangku seolah membawaku jauh ke peristiwa paling menyedihkan dibelakangku.
Air mataku turun seketika bersama dengan lirihnya suara hujan.
Aku menangis tanpa suara mengingatnya, sesekali aku menyeka air mataku dengan punggung telapak tanganku yang semakin kurus dan kering.
Aku terisak menahan pedihnya hidup ini sampai gak bisa terkontrol lagi.
Tubuhku memang hidup tapi jiwaku hilang.
Aku mengulurkan tanganku mengambil batu bata kusam ganjalan pintu dapur yang selalu ada disitu. Genggaman tanganku begitu kuat mengepalnya dan terus menatapnya.
Butiran air mataku jatuh berhamburan dibatu yang masih aku genggam.
Aku menyadarinya dengan sehat kalau aku akan melakukannya.
Aku melakukan percobaan bunuh diri dengan memukulkan batu ke dahiku berkali kali begitu kuat.
Tapi
Gak terjadi apa-apa
Kepalaku hanya kesakitan
Aku mengembalikan batunya ditempat semula.
Seseorang menepukku, dia membangunkanku.
Ibu
"Ngapain kamu tidur di sini ?" tanyanya datar
"Aku ketiduran Bu" ucapku sambil mengucak mataku yang perih karena kering terlalu banyak mengeluarkan air mata. Sementara hujan masih turun tapi kali ini hanya gerimis dan hari sudah malam
Tapi Ibu tetap cuek pada keadaanku
"Kamu itu selalu bikin ulah yang bikin Pak Yanto bakal salah paham pada Ibu. Harusnya kamu bisa menjaga sikap kamu. Kamu kan tau kalau tidur di sini bisa membuat Pak Yanto marah pada Ibu. Untungnya dia belum sampai rumah" ucapnya
Aku beranjak berdiri "Iya Bu, maaf" ucapku
"Buatkan saya teh manis, bikin dua. Liana mau, katanya" suruhnya lalu pergi meninggalkanku
Tanpa memikirkan hal lain langsung aja aku menuruti perintahnya, kemudian bergegas ke depan kompor dengan langkah sedikit sempoyongan.
Kepala aku sakit sekali, seperti remuk.
Aku meletakkan dua gelas teh manis panas buatanku di atas meja ruang tamu tepat dihadapan Liana dan Ibu yang sedang asik menonton acara televisi, mereka menonton acara lawak sembari tertawa bersama tanpa merespon kehadiranku
__ADS_1
"Ibu ini tehnya" ucapku
Ibu masih tertawa bersama Liana, dia bukan gak mendengarku tapi lebih gak penting untuk meladeniku
Melihat mereka begitu akrab, aku kembali ke dapur karena aku sadar diri kalau aku bukan bagian dari mereka.
Aku hanya duduk-duduk saja dimulut pintu dapur, memandang langit yang sudah gelap memandang tanah yang sudah banyak genangan air.
Seketika hujan kembali deras
Byurrrrr...ssshhhhh
Sederas tadi sore.
Dingin air hujan bercampur angin malam serasa berkali lipat menusuk kulitku
Deru hujan yang deras seolah membiaskan suara tawa Ibu dan Liana, seolah hujan tahu kalau aku cemburu.
Samar-samar terdengar suara Pak Yanto dari ruang tamu. Dia menyapa Ibu dan Liana
"Dhira mana Bu ?" tanyanya
"Ada di dapur kayaknya" jawabnya
Mendengar jawaban istrinya, Pak Yanto lantas mencariku ke dapur kemudian menemuiku yang sudah bersiap memasang raut wajah manis merekah
"Ngapain Dhira ?" tanyanya
"Aku lagi lihat hujan, Pak" jawabku menyeringai
"Hujan kok dilihatin, nih Bapak kehujanan. Haha" ucapnya sambil memperlihatkan bajunya yang udah basah kuyub
"Bapak gak pakai jas hujan ?" tanyaku
"Pakai, tapi rupanya jas hujannya bolong-bolong semua. Hahaha" ucapnya
"Hahaha, dijahit aja Pak" usulku
Tapi pak Yanto tertawa "Haha, mana bisa jas hujan dijahit"
"Ooh" jawabku bingung
"Bapak bawa wedang jahe dan jagung bakar, ayok kita makan bersama" ajaknya
Tanpa pikir panjang aku mengangguk sambil mengikuti langkahnya dari belakang
"Bapak ganti baju dulu, bapak sudah kedinginan nih" ucapnya
__ADS_1
"Iya, Pak" ucapku