
Dia juga selalu menyempatkan diri untuk menyapa kami dengan berdiri dihadapan kami
"Selamat siang" sapanya dengan suaranya khasnya yang ngebas
Kami jawab serempak "Selamat siang Pak Tukim"
"Baik lah, sekarang saya mau membagikan tugas fisika kalian" ucapnya sambil duduk di kursinya dan menata barang bawaannya diatas meja.
"Saya cukup bangga dengan kelas ini. Nilainya memuaskan sekalipun ada yang terendah nilainya tujuh puluh. Luar biasa membanggakan sekali" ucapnya sambil mengeluarkan satu persatu buku tugas kami dari dalam tas teng-tengnya
Semua siswa termasuk aku begitu tenang menunggu nama kami dipanggil satu per satu sampai akhirnya Pak Tukim memanggil namaku
"Andhira !" panggilnya
Karena namaku sudah disebut langsung saja aku bergegas berdiri melangkah ke depan untuk mengambil buku tugasku. Tapi belum juga sampai dihadapan Pak Tukim, aku malah muntah diantara lorong kursi kelas.
Uuwwweekkk
Makanan yang aku makan tadi pagi tumpah ruah dilantai yang bersih
Semua pasang mata memusatkan perhatiannya kepadaku, ada yang simpatik sampai jijik melihat makanan yang keluar dari mulutku.
Cepat-cepat aku mengambil buku tulis lalu merobek halaman kosongnya untuk menutupi muntahanku.
Pak Tukim menghampiriku seolah jadi merasa bertanggung jawab atas keadaanku
"Kamu sedang sakit kah ?" tanyanya sambil memperhatikan wajahku yang semakin pucat dan lesu
Septi yang menjawab dari kursinya "Iya Pak, dia sakit kepala" jawabnya
"Wah, seharusnya kamu sebagai teman sebangkunya mengajak dia ke UKS dong" ucapnya
"Sudah Pak tapi tadi dia belum mau" jawabnya
"Ya udah, ini buku tugasmu. Good job. Nilai kamu bagus sekali. Setelah ini kamu ke UKS" ucap Pak Tukim sambil menyodorkan buku tugasku
Aku menerimanya dengan tangan gemetar, semua orang menyaksikannya.
Pak Tukim juga menekan aku sekali lagi untuk sejenak istirahat di UKS, Septi yang disuruh mendampingiku
"Septi tolong dampingi Dhira sebentar dan tolong panggil tukang bersih sekolah untuk bersihkan muntahan Dhira" perintahnya
Septi berdiri dengan cepat "Baik pak" kemudian menopang tangangku "Ayok Dhir" ajaknya
Setelah sampai di ruang UKS ada wanita muda bernama Bu Naya. Dia bukan bagian dari guru tapi dia seorang staff di sekolah dan tugasnya menjaga UKS. Usaha Kesehatan Sekolah.
Bu Naya menyadari kedatanganku kemudian menyodorkan buku besar untuk aku isi Nama, kelas dan keterangan keluhan sakit ditabel daftar siswa yang dia buat dalam goresan pena merah
"Kamu sakit juga ?" tanya Bu Naya pada septi
Septi menggelengkan kepalanya "Enggak Bu" jawabnya
"Oh" ucap Bu Naya singkat
Langsung aja Bu Naya menyuruh Septi untuk pergi meninggalkan UKS
"Ya sudah sekarang kamu bisa pergi" ucapnya
Septi memahami itu "Iya Bu, permisi" ucapnya lalu pergi
"Kamu boleh langsung rebahan aja ya" ucapnya padaku
Kemudian aku merebahkan diri diatas tempat tidur yang sudah disediakan pihak sekolah.
Dengan cepat Bu Naya memberikan aku obat
"Ini minum" ucapnya sambil menyodorkan satu pil dan segelas air putih
Aku menerimanya "Ini pil apa Bu ?" tanyaku lebih dulu
"Itu paracetamol" jawabnya enteng
"Obat apa Bu ?" tanyaku yang belum juga meminumnya, masih aku pegang
"Menurut kamu, kamu ini sakit apa ?" tanyanya balik
"Oh, jadi ini obat sakit kepala ya Bu " ucapku
__ADS_1
Bu Naya masih berdiri dihadapanku
"Menurut kamu kalau orang sakit kepala enaknya dikasih obat apa ya ?"
Aku menyeringai
Bu Naya tersenyum "Saya paham kamu mungkin bingung. Sekarang minumlah kemudian tidur" ucapnya
Beberapa jam kemudian sakit kepalaku berangsur-angsur pulih. Setelah menghadapi rasa sakit yang amat parah sampai gak bisa tidur dengan tenang.
Aku bangkit duduk dari rebahku meski agak sedikit pusing tapi berangsur hilang begitu aja.
Dari mejanya Bu Naya memperhatikanku
"Kamu sudah sembuh, Dhir ?" tanyanya
Aku mengangguk "Iya Bu sudah"
"Bagus lah, pas sekali jam pulang sebentar lagi bunyi" ucapnya
"Iya Bu" anggukku.
Aku gak menyangka kalau aku bisa cukup lama istirahat di ruangan ini.
"Kalau kamu masih mau istirahat gak apa-apa, tapi kalau kamu mau ke kelas sekarang juga gak apa-apa. Karena waktunya sepuluh menit lagi bel pulang" ucapnya
Aku berpikir sebentar " Kalau begitu aku tunggu di sini aja" pintaku
Bu Naya mengangguk "Baik lah kalau begitu" setujunya
Kemudian Bu Naya membuka laci mejanya dan mengeluarkan dua roti dan dua gelas air mineral kemasan.
Dia menghampiriku yang masih duduk diranjang matras.
Dia menyodorkan dua roti dan dua air minum kemasan kepadaku
"Nih ambil" ucapnya
Lantas saja aku mengambilnya "Makasih ya Bu" ucapku
Ada benarnya juga, aku memang lapar tapi aku gak menjawabnya
"Makan lah supaya kamu ada tenaga ya" ucapnya
Aku mengangguk "Makasih Bu" ucapku. Hanya itu yang bisa aku lontarkan kemudian memakan satu roti.
Beberpa menit menunggu akhirnya bel pulang berbunyi.
Teeeetttt !
Bu Naya langsung mengingatkan aku kembali
"Bel sudah bunyi tuh" ucapnya
"Iya Bu" ucapku sambil turun
"Makasih ya Bu, aku pulang dulu" pamitku
"Oke, semoga kamu selalu sehat ya" ucapnya
Aku mengangguk lalu melangkah keluar membawa sebungkus roti yang sengaja aku sisakan.
Aku melangkah ke arah kelas untuk mengambil tas ku tapi rupanya dari jauh di hadapanku Septi menghampiriku, tangannya menenteng tas ku kemudian memberikannya kepadaku setelah kamu sudah saling berhadapan
"Ini tas kamu" ucapnya
"Makasih ya Sep" ucapku berterimakasih
Septi tersenyum "Iya sama-sama" ucapnya
Karena aku merasa Septi sudah berjasa kepadaku, aku memberikannya sebungkus roti padanya "Nih buat kamu" ucapku
Tapi Septi menerimanya dengan ragu "Roti dari mana ?" tanyanya
"Dari Bu Naya dia kasih aku dua, yang satu sudah aku makan" ucapku
"Oh, Iya. Makasih ya" ucapnya
__ADS_1
"Iya" ucapku sambil memulai melangkah untuk turun ke lantai dasar. Tanpa diajak pun Septi sudah otomatis mengikuti langkahku.
Kami sama-sama bergegas pulang
Di lorong sekolah rupanya Septi jadi penasaran dengan kisah hidupku meskipun agak sungkan dan agak takut kalau nanti aku tersinggung
"Memangnya setiap pagi kamu kasih makan bebek dulu ya ?" tanyanya
"Iya, nanti sore juga aku kasih makan lagi" ucapku
"Oh, memangnya setiap hari kamu ngapain aja di rumah ?" tanyanya
"Ya beresin rumah, kasih makan bebek, cuci pakaian" jawabku
"Oh, terus kapan kamu belajarnya ?" tanyanya
"Setelah semua rapih dan bersih" ucapku
"Ya kapan itu ?" tanyanya masih bingung dengan jawabanku
"Kalau sudah malam kira-kira jam delapan malam" ucapku
"Oh, iya sama kayak aku juga sih. Aku pikir kamu akan belajar tengah malam" ucapnya
Dalam bersamaan aku melihat dari jauh punggung Liana berjalan di halaman gedung sekolah menuju keluar gerbang
Lantas aja aku berteriak memanggilnya "Liana !" panggilku. Meski aku yakin belum tentu juga dia mendengarku.
Tapi kalau memang dia mau pulang lebih dulu tanpa aku gak masalah juga sebenarnya. Karena aku sudah mulai terbiasa gak dianggap saudara olehnya
"Dia siapa kamu sih ?" tanya Septi jadi penasaran
"Dia saudara tiriku" jawabku
"Maksudnya ?" tanyanya masih heran
"Ya, Ibu ku menikah dengan Ayahnya" jelasku
Septi mengangguk "Oh begitu. Tapi aku gak pernah melihat kamu makan bersama dengan dia. Apa jangan-jangan kalian gak akrab ya" tebaknya
"Iya aku gak akrab dengannya" jawabku
"Oh kenapa ?" tanyanya
"Mungkin karena dia pendiam" jawabku
Septi mengangguk percaya "Oh begitu" ucapnya "Oh ya, sekarang gimana keadaan kamu, apa kepala kamu masih sakit ?" tanyanya
"Sudah sembuh" jawabku
"Oh bagus lah kalau begitu, semoga selalu sehat" ucapnya
Aku tersenyum mendengarnya "Makasih ya" ucapku "Oh ya Sep, aku mau tanya"
"Tanya apa ?" Septi menoleh wajahku meski kami masih melangkah bersama
"Kenapa sih Gea benci banget sama aku ?" tanyaku
Septi menaikkan pundaknya "Gak tau, tapi aku punya kemungkinan" jawabnya
"Apa itu ?" tanyaku
"Mungkin dia gak mau kalah saing dari kamu" jawabnya
"Kalah saing ?"
"Iya"
"Kenapa kalah saing, bukankah dia lebih cantik dari aku ?" tanyaku heran
Septi tersenyum tipis "Bukan, bukan itu maksud aku. Menurut aku dia merasa kalau kamu adalah saingan dalam pelajaran. Sepertinya dia gak mau ada perempuan yang lebih pintar darinya" jelasnya
"Oh, apa mungkin itu alasannya ?" aku masih bingung dan belum yakin
"Aku juga cuma mengira aja, tapi coba aja kita buktikan. Ada baiknya prestasi kamu jangan sampai turun nanti dia senang dan merasa menang" usul Septi
Tapi aku masih tetap belum yakin dengan penjelasan Septi.
__ADS_1