GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
38. GEJOLAK JIWA


__ADS_3

Sudah satu tahun aku duduk di bangku kelas satu dan rupanya benar saja semua perkiraan Septi kalau selama ini Gea gak suka kepadaku karena memang dia takut kalah saing dari nilai akademikki. Tapi kalau dipikir-pikir seharusnya Gea gak perlu risau karena juara bertahan sudah jelas selalu itu itu saja, selalu Bowo.


Urutannya pun gak pernah berubah. Gea peringkat dua dan aku ada diperingkat tiga.


Apa yang perlu ditakutkan dariku


Jujur saja, aku juga gak pernah menyadari kalau aku bisa sepintar ini dalam ilmu akademik. Yang aku tahu selama ini aku cukup payah dalam pelajaran di sekolah. Tapi entah kekuatan darimana aku bisa mengerjakan soal-soal dengan cukup baik dan mudah


Hari ini adalah hari terkahir duduk di kelas satu. Penerimaan raport diwakilkan oleh orang tua siswa masing-masing.


Kebetulan yang mengambil raport aku dan Liana adalah Ibu. Tapi Ibu gak bangga dengan hasil buku nilaiku. Dia datar saja seperti gak ada prestasi apa-apa yang aku berikan.


Tapi gak dengan Pak Yanto


"Selamat ya Dhira dan Liana yang sekarang sudah kelas dua. Semoga kalian semakin bisa melewati berbagai macam rintangan di kehidupan ini" ucapnya begitu mendalam


Aku tersenyum tersipu "Iya Pak" jawabku


"Meskipun Liana gak dapat peringkat tapi Dhira sudah menwakilan prestasi di keluarga ini. Tapi terlepas dari semua itu saya bangga dengan kalian" ucapnya lagi


Aku pikir liburan kenaikan kelas akan sedikit lebih santai dari biasanya, ekspektasi aku akan gak banyak mengurai energi karena gak ada aktifitas ke sekolah. Tapi rupanya seharian penuh setiap hari ada saja kerjaan rumah yang diberikan oleh Ibu.


Siang seperti biasa Pak Yanto bekerja dan akan pulang nanti sore pukul enam sementara Ibu dan Liana terbiasa bermalas-malasan saja di ruang tamu bersantai diatas kursi sambil menonton acara televisi


Ibu memanggilku yang aku baru saja selesai menyapu segala ruang


"Dhira !"


"Iya Bu" jawabku


"Setiap hari kamu harus cuci pakaian, di kamar mandi gak boleh ada pakaian kotor yang tergantung ya" ucapnya


Aku mengangguk saja " Iya Bu" ucapku


Liana pun mulai berani memerintahku bagai nyonya besar dalam segala kemewahannya


"Dhira ambilin minum dong" suruhnya sambil masih saja rebahan santai dihadapan televisi.


Aku menolehnya rasanya mau menolak tapi aku takut jadi perkara.


Akhirnya dengan besar hati aku mengambilkannya segelas air putih


"Ini" sodorku padanya


"Jangan air putih kek, panas-panas begini enaknya minum air es teh manis loh. Bikinin sana !" perintahnya lagi


Ibu yang mendengar ungkapan Liana akhirnya setuju "Iya benar itu. Sana buatkan. Ibu juga jadi kepengen minum es teh manis" tambahnya


"Tapi kan es batunya harus beli dulu" ucapku


"Ya sudah kamu saja yang beli sana !" suruh Ibu


"Bukannya aku gak boleh ke warung ya Bu " koreksiku kepadanya


Ibu melotot lalu membentakku "Kamu sudah berani melawan saya ?"


"Enggak Bu, aku cuma bertanya aja" ucapku gugup


"Jadi, maksud kamu yang beli es batunya si Liana kah ?"


Aku terdiam sembari melirik Liana yang begitu santai namun gak menggubris perdebatan kami satu kata pun


"Bukan Bu, aku cuma nanya aja" jawabku pelan


Kemudian Ibu memberikan aku uang koin seribu rupiah. Dia letakkan diatas meja


"Ambil tuh, sana beli !" ucapnya


Aku mengambilnya "Hanya beli es batu aja Bu ?" tanyaku pelan

__ADS_1


Tapi malah seperti orang sensi an kepadaku


"Memangnya kamu pikir mau beli apa lagi. Gula dan teh kan masih banyak" ucapnya


Liana langsung menyahut "Aku beliin cemilan Bu, pengen keripik pedes" pintanya


Tanpa pikir panjang Ibu langsung mengeluarkan selembar uang lima ribuan kemudian meletakkannya diatas meja lagi


"Beliin itu semua tapi campur-campur ada keripik pedes dan keripik manisnya" ucapnya


Aku mengambilnya "Iya Bu" anggukku


Segera aku bergegas ke warung membeli apa yang menjadi tujuanku


"Beli apa dek ?" tanya si Ibu pemilik warungnya


"Beli es batunya satu, dan keripik pedas campur keripik manis beli lima ribu" jawabku


Langsung saja pemilik warung menyiapkan permintaanku.


Sambil membungkusnya pemilik warung memperhatikan tubuhku dari atas sampai bawah dengan pakaian tanpa jaket yang menutupi kulitku


"Kamu anak tirinya Pak Yanto ya ?" tanyanya


Aku mengangguk "Iya Bu"


Aku pikir dia gak tahu tentang aku


"Pak Yanto baik gak ?" tanyanya. Aku merasa itu hanya pertanyaan basa-basi saja


"Iya dia sangat baik" jawabku


Ibu itu tersenyum "Iya dia memang terkenal baik. Beruntung loh kamu jadi anak tirinya. Tapi yang lebih beruntung lagi Ibu mu" ucapnya sambil menyodorkan bungkusannya kepadaku


"Iya Bu" anggukku


Sesampainya di rumah aku kembali menghadap Liana dan Ibu lalu menyerahkan cemilan yang mereka pesan.


"Ini keripiknya" serahku berharap aku diberi satu


Tapi rupanya gak sama sekali


"Sana bikin es tehnya. Yang manis ya" suruh Ibu


"Iya Bu" ucapku


Tapi belum juga sampai ke dapur Ibu berpesan


"Es teh manisnya di isi dalam teko aja, supaya bisa nambah. Supaya kamu juga bisa minum" ucapnya


Aku mengangguk "Iya Bu"


"Oh, iya jangan lama ya" pinta Ibu


Aku mengangguk lagi "Iya Bu"


Langsung aja aku membuatkannya untuk mereka tanpa dendam atau sakit hati sedikitpun.


Setelah jadi, aku letakkan teko plastik ukuran sedang diatas meja dihadapan mereka dilengkapi dengan tiga gelas kosong diatas satu nampan


Liana yang menyadari keinginannya sudah jadi akhirnya mengubah posisinya menjadi duduk "Tuang dong !" ucapnya kepadaku


Tanpa berkomentar balik aku cepat menuangkan es teh di gelas Liana dan gelas Ibu gak lupa juga di gelasku.


Mereka mengambilnya lalu meminumnya terlihat mereka menikmatinya sambil makan keripik dan menonton acara televisi. Sementara satu keping saja mereka gak menawarkannya kepadaku.


Tapi hal itu sudah semakin terbiasa bagiku, semakin hari hati ku semakin kuat saja


Mereka duduk diatas kursi sementara aku duduk dilantai pun itu sudah biasa bagiku. Hidup diantara anggota keluarga yang gak menyukaiku seperti ini sudah bagai bumbu hidup yang harus aku terima matang-matang.

__ADS_1


Sebenarnya aku mau minta belikan seragam baru tapi rasanya itu gak mungkin terjadi bagiku. Ibu pasti menolaknya


Tapi batinku berkata apa salahnya kalau mencoba memintanya


"Bu" panggilku gugup


Ibu menolehku dengan raut wajah yang datar saja seperti biasanya


"Apa ?" tanyanya


Tapi aku malah kalah duluan dari pikiranku


Aku terdiam gak sanggup meminta


Melihat sikapku yang plinplan Ibu jadi kesal


"Kamu mau tanya apa sih ?" kesalnya


Aku menggelengkan kepala "Gak jadi Bu" ucapku


Ibu menghela napasnya "Kamu sudah beresin dapur belum ?" tanya Ibu


"Belum" jawabku


"Ya sudah tunggu apa lagi, sana rapikan !"


Dalam bersamaan juga rupanya Liana sepemikiran denganku


"Bu, nanti seragam aku beli baru ya Bu" pinta Liana


"Bukannya seragam kamu belum rusak ?" tanya Ibu heran


"Iya memang belum rusak tapi kan kalau naik kelas lebih enak dipandang kalau seragamnya baru" ucap Liana


Ibu mengangguk saja "Oh begitu, ya sudah nanti Ibu pinta ke Ayah kamu supaya nanti kita ke pasar beli perlengkapan kamu" ucapnya


Entah


kenapa disitu mulutku dengan beraninya mengeluarkan permintaan juga kepada Ibu "Aku juga Bu" pintaku dengan penuh harapan


Ibu merubah raut wajahnya menjadi kesal "Apa ? maksudnya gimana ?" tanyanya


Mendengar Ibu bicara begitu aku jadi sanksi. Batinku menyesal sudah keceplosan bicara begitu


Aku bingung mau menggelengkan kepala tapi aku butuh karena kemeja seragam sekolahku sudah semakin kusam


"Kamu mau minta dibelikan seragam baru ?" yakin Ibu kepadaku


Aku mengangguk ragu "Iya Bu"


Ibu tertawa sinis "Hahaha. Ngaca kamu. Kamu pikir uang darimana ?" ketusnya


Aku terdiam


"Owh, begini aja deh. Seragam Liana kan masih bersih tuh. Nanti kalau Liana beli baru, seragamnya yang lama kamu aja yang pakai" idenya


Mendengarnya aku gak terima tapi cuma bisa menolak dalam hati


"Sudah paham kan ?" tanya Ibu


Aku belum menjawab apa-apa


Ibu meyakinkan sekali lagi "Paham kan ?"


Akhirnya aku mengangguk saja


"Ya sudah sana bersihin dapur, pokoknya bersihkan semua yang kelihatan kotor" ucapnya


"Iya Bu"

__ADS_1


__ADS_2