GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
58. MENGUJI KESABARAN


__ADS_3

Seragam Nasya yang selalu terlihat rapih dan bersih kini bersimbah darah, begitupun wajahnya yang putih bersih kini hampir berwarna merah yang berasal dari keningnya. Tapi seragamanku hanya sedikit terkena cipratan darahnya Nasya dan menjadi lusuh akibat tersungkur ke lantai


Untung saja ada Ibu Epik yang gak sengaja melintas depan kelas, dia melihat kegaduhan yang terjadi, dia panik dan histeris ketika matanya terfokus kepada Nasya yang sudah terlihat sempoyongan


Bu Epik langsung aja menghampiri aku dan Nasya mencoba ikut melerai kami yang masih ingin menyambung perkelahian


"Ya ampuuun, kalian kenapa bertengkar !" teriaknya begitu panik


Sontak saja aku dan Nasya menyudahinya


Mendengar histeris Bu Epik semua jadi makin panik tapi aku gak merasakan itu sama sekali.


Ibu Epik gak membutuhkan waktu untuk menceramahi aku dan Nasya tetapi dia langsung menarik tangan Nasya untuk dia bawa ke ruang Guru untuk diselamatkan. Di sekolah ini gak ada ruang UKS.


Langkah kaki Bu Epik sangat cepat menuntun Nasya dilorong kelas, dia takut kondisi Nasya terjadi apa-apa


Keadaan Nasya sepertinya sangat darurat. Maka itu dia diperlakukan istimewa oleh semua Guru yang ada di ruang guru yang ikut panik kepadanya


Suasana kelas masih gaduh, bahkan kali ini saling membahas apa yang barusan terjadi. Seolah-olah mereka sehabis menonton filim laga yang menghibur adrenalin mereka.


Tapi aku gak peduli dengan pembahasan mereka tentang aku. Aku malah kembali duduk di kursiku meski satu pun gak ada yang mengajakku bicara atau sekedar menenangkanku. Sekalipun Rinai, dia hanya diam saja gak bergeming sedikitpun


Aku berusaha menenangkan hati dan pikiranku sendiri meski pada awalnya sama sekali aku gak gemetar atau merasa takut.


Tapi perasaan itu pelan-pelan mulai muncul diakhir penyesalan


Seiring bersamaan Pak Beno masuk ke dalam kelas namun dia hanya berdiri dihadapan mulut pintu yang terbuka lebar.


Sontak saja semua siswa diam atas kedatangannya


Tanpa marah sedikitpun Pak Beno memanggilku dengan pelan


"Dhira !" panggilnya kepadaku


Aku menolehnya, saat itu juga aku jadi semakin gugup


Tapi Pak Beno sama sekali gak menatapku dengan sinis, tatapan matanya, raut wajahnya masih sama seperti biasanya dia saat mengajar.


"Ikut saya ke kantor !" ajaknya


Tapi aku hanya menatapnya tapi enggan beranjak


Tapi karena aku gak menghiraukannya kali ini Pak Beno bernada keras


"Ayok !" tegasnya

__ADS_1


Meski begitu aku tetap saja gak sanggup beranjak pergi bersamanya karena aku sudah semakin panik mengingat kejadian yang aku lakukan. Sekarang yang ada dipikiranku adalah pertanggung jawabanku kepada Bibi Ros dan orang tua Nasya yang pasti akan marah besar kepadaku.


Karena Pak Beno merasa gak digubris olehku akhirnya Pak Beno menghampiriku.


Entah kenapa saat Pak Beno sudah benar-benar dihadapanku, airmataku pecah sangat pilu. Padahal sama sekali aku gak butuh simpatik darinya. Aku menangis karena kecewa kepada diriku sendiri


"Huhu..huhuhuhu !" aku malah menangis nyaring kemudian menutup wajahku dengan kedua tanganku


Tapi Pak Beno hanya diam menatapku meski aku masih saja menangis menyembunyikan wajahku diatas meja yang sudah mulai basah


"Huhuhuh..huhuhu..huhu" derai airmataku gak berhenti. Rasanya aku mau habiskan seharian saja.


Setelah beberapa menit berlalu saat Pak Beno membiarkan aku menangis sampai selesai akhirnya meski wajahku masih aku tutup dengan tanganku Pak Beno tetap saja mengajakku kembali namun kali ini dengan nada bicara yang pelan


"Ayok ikut saya ke kantor !" ajaknya


Tapi aku masih belum menggubrisnya


Pak Beno masih sabar dan terus bicara seolah dari hati ke hati


"Sudah lah, Dhira. Saya tahu bagaimana rasanya jadi kamu. Sebaiknya kamu ikut saya dulu. Kita bicarakan baik-baik" ucapnya


Tapi aku masih diam saja, meski Pak Beno masoh terus bicara


"Harusnya kamu gak perlu melakukan ini tapi saya juga gak tahu sebenarnya siapa yang salah. Tapi saya rasa kamu dan Nasya gak ada satupun yang benar. Tindakan kalian ini sudah jelas sangat salah" tambahnya lagi


Aku membuka wajahku kemudian menoleh wajah Pak Beno yang tanpa marah sedikitpun.


Pak Beno mengangguk "Ayok!" ajaknya lagi


Akhirnya dengan besar hati yang mau bertanggungjawab atas kegaduhan yang aku perbuat, aku berdiri dan beranjak mengikuti Pak Beno


Semua teman sekelasku diam, suasana kelas yang mendadak sunyi membuat aku semakin gugup. Apalagi pasang mata mereka terus menerus memandang liar kepadaku.


Aku dan Pak Beno sampai di ruang Guru yang sudah ada Bu Epik dan Nasya yang kini wajahnya sudah kembali bersih dan keningnya sudah diplester hanya kemeja seragamnya saja yang masih tampak mengerikan.


Nasya sudah duduk di kursi yang dihadapkan pada meja Pak Beno. Disamping kursi Nasya ada satu kursi kosong yang sudah aku pastikan itu untukku. Sementara Bu Epik duduk dikursinya tepat disamping kursi Pak Beno.


Bu Epik menyuruhku duduk disamping Nasya


"Kamu duduk !" ucapnya


Kemudian dengan cepat aku menurutinya


Dalam bersamaan Pak Beno duduk berhadapan dengan kami kemudian mulai introgarasi aku dan Nasya.

__ADS_1


Pak Beno menatap mata aku dan Nasya secara bergantian, dia gak bicara tapi sorot matanya seolah mengatakan rasa kecewanya yang amat berat.


Pak Beno menghela napasnya sekali kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya dan mulai bicara pelan kepada kami


"Apa kalian tahu apa yang kalian lakukan ini adalah perlakuan yang salah ?" tanyanya kepada kami


Aku dan Nasya masih diam saja menatap wajahnya


Ibu Epik menyambar "Kalian ini anak perempuan harusnya lebih bisa mengontrol diri, tapi bukan berarti jika kalian laki-laki pun maka kalian dianggap wajar" tambahnya


Nasya yang gak seharusnya merasa dibela akhirnya buka suara "Tapi Dhira yang duluan menantang aku Bu, bahkan dia yang lebih dulu memukul aku. Padahal dia yang mencuri hape aku" ucapnya


Meski dia bicara yang gak sesuai faktanya tapi aku tetap diam saja.


Ibu Epik yang baru tahu permasalahannya kemudian ikut menanyakannya kepadaku


"Apa benar yang dikatakan Nasya itu, Dhira ?" tanyanya


Aku gak bicara tapi hanya menggelengkan kepala


Pak Beno menyusul jawabanku kepada Bu Epik "Tadi sudah saya tanyakan sebelumnya di dalam kelas. Saat jam pelajaran saya. Tapi Dhira gak mengakuinya. Mungkin Nasya gak puas dan yakin betul kalau Dhira.yang mencurinya" jelas Pak Beno


Ibu Epik mengangguk paham asal muasal perkelahian aku dan Nasya. Tapi Bu Epik masih mencoba untuk memintaku menjawab jujur


"Kamu mencuri hape Nasya ?" tanyanya


"Enggak!" jawabku tegas


"Bagaimana caranya supaya Nasya percaya kalau kamu bukan pencurinya ?" tanyanya


"Aku gak tahu, Bu. Tapi Tuhan melihat siapa pencurinya. Kalau aku pencurinya aku siap dihukum" ucapku


Semua diam mendengar ucapanku yang berani


Pak Beno dan Bu Epik pun mulai ragu kalau aku pencurinya. Pak Beno pun kembali menanyakan Nasya. Barang kali Nasya lupa sesuatu sehingga menuduh aku.


"Apa mungkin kamu titipkan hape kamu ke teman kamu ?" tanyanya


Nasya menggelengkan kepala "Enggak, Karena kalau saya titip pasti teman saya akan kembalikan ke saya " jawab Nasya


Pak Beno masih penasaran "Coba kamu ingat-ingat lagi, bagaimana kamu bisa meninggalkan hape kamu" ucapnya


Bu Epik menyambar lagi "Coba teman-teman kamu ditanyakan satu per satu. Semua yang bersangkutan harus dicek juga" ucapnya


Pak Beno berdiri dari kursinya "Kalau begitu saya akan panggil orang-orang yang bersangkutan dengan kasus ini" ucapnya

__ADS_1


"Kemarin kamu pulang dengan siapa saja saat meninggalkan kelas ?" tanya Pak Beno lagi


__ADS_2