
Tanpa disadari rupanya aku tinggal bersama Nenek sudah sangat cukup lama, bahkan sekarang aku sudah kelas enam SD. Dan dalam hitungan bulan aku akan ikut ujian kelulusan sekolah.
Aku gak menyangka kalau aku bisa melewati hari-hari di sini. Rasanya, baru kemarin aku datang ke sini dengan membawa bungkusan pakaian dalam kantong plastik dengan keadaan fisik yang sangat kurus dan lusuh
Hubungan aku dan Ibu juga cukup baik, apa lagi kepada Pak Yanto. Dia sangat baik kepadaku. Meskipun Ibu gak begitu akrab padaku atau bahkan sekedar menanyakan diriku tapi Pak Yanto sudah cukup membuatku merasa dianggap sebagai seorang anaknya.
Adapun setiap bulannya juga Ibu dan Pak Yanto datang ke rumah Nenek meski mereka jarang bertemu sapa denganku tapi mereka selalu membawa buah dan uang untukku, meski uang yang diberikan gak lebih dari dua ratus ribu tapi Nenek selalu mengajarkan aku untuk berterimakasih kepada mereka dan uang dari Ibu selalu ditabung.
Meski mereka selalu datang tapi Pak Yanto gak pernah mengajak putrinya bertamu, dan sampai hari ini pun aku belum mengenal sosok Liana, saudara tiriku, bahkan aku pun gak bisa menggambarkan sosoknya seperti apa dan sikapnya kepadaku nanti seperti apa.
Selama aku di rumah Nenek aku merasa beruntung juga kalau rupanya Om Bayu gak pernah datang lagi. Setidaknya aku merasa nyaman karena dalam beberapa tahun ini hidupku jauh dari orang-orang yang menyudutkanku tanpa fakta
Jauh sebelumnya Nenek memang gak bekerja, selama ini Nenek hanya mengandalkan uang tabungan peninggalan Kakek saja, tapi karena uang tabungannya sudah mulai menipis akhirnya Nenek memutuskan untuk menjadi tukang cuci pakaian keliling di sekitaran desa
Banyak yang iba kepadanya, banyak juga yang meragukan Nenek karena takut kena sial, tentunya mereka terjangkit kesialan yang berasal dariku
Dengan usia yang beranjak renta dan semakin menua tapi Nenek tetap masih kuat mencuci disungai. Nenek pernah juga berkata kepadaku kalau bukan hanya dia yang masih bekerja keras tapi masih banyak yang seusia dia yang masih berjuang mencari nafkah, maka dari itu Nenek merasa ada teman sperjuangannya.
Jadi, itu salah satu pemicu semangat Nenek selama ini
Meski begitu, aku gak tinggal diam melihatnya yang membanting tulang untuk kebutuhan kami sehari-hari, aku juga sering membantu Nenek dengan ikut mencuci pakaian pelanggannya di sungai yang gak jauh dari rumah. Meski begitu, Nenek selalu menolak bantuanku.
Tapi, dasar aku.
Aku tetap memaksa untuk membantunya.
Seperti hari ini, aku dan Nenek berada di sungai membantunya mencuci pakaian.
Hari ini hanya dapat satu pelanggan saja jadi pakaian yang dicuci gak begitu banyak, hanya satu bak saja.
Seperti biasa kami membagi tugas, Nenek yang menggilas pakaiannya diatas batu besar sementara aku yang membilasnya.
Hingga dua jam kami lewati bersama, akhirnya karena pekerjaan sudah selesai, aku dan Nenek bergegas pulang dan tengah menjemurnya dihalaman belakang rumah Nenek yang cukup luas
Saat aku membantu Nenek menjemur pakaian tiba-tiba saja Nenek tersungkur sampai-sampai bajunya yang masih lembab menjadi kotor bercampur debu tanah
Sontak saja aku panik lalu berlari ke arahnya
"Nenek !"
Dengan cepat aku berusaha meraih tubuhnya lalu membantunya untuk bangkit berdiri. Tapi rupanya Nenek masih belum sanggup, dia masih dalam posisi tengkurap.
Meski begitu, Dia tetap berusaha untuk bangkit. Dengan kaki gemetar dia tangguhkan kekuatannya untuk berdiri sampai akhirnya dia bisa berdiri meskipun harus bertopangkan tubuhku.
"Nenek istirahat aja ya, biar aku yang jemur" ucapku sambil memapah Nenek ke dalam rumah
Tanpa menjawab sepatah kata pun kali ini Nenek menurut padaku meski langkahnya lambat dan masih gemetar tapi Nenek masih mau berjuang
__ADS_1
Sesampainya di dalam kamar Nenek langsung aja aku membantunya untuk mengganti pakaiannya yang sudah kotor, setelah berganti aku bantu Nenek untuk naik ke atas ranjangnya tapi pada saat kaki Nenek gak sengaja menekuk, Nenek langsung merintih kesakitan
"Haduhh, sakit sekali" rintihnya
Aku yang gak tahu harus berbuat apa hanya bisa mengusap-usap kaki Nenek. Meski aku gak tahu bagian sebelah mana yang dia rasa sakit
"Kaki Nenek kayak mau putus, remuk, nyeri. Dengkul Nenek nyeri sekali" ucapnya sambil pelan-pelan Nenek meluruskan kakinya
Sementara aku berusaha membantunya untuk meluruskan kaki Nenek
Tapi Nenek masih saja mengeluhkan rasa sakitnya
"Dengkul Nenek sakit sekali" keluhnya
Mendengarnya aku jadi makin bingung
"Aku harus apa Nek ?" tanyaku tapi harus berusaha gak panik dihadapannya
"Tolong panaskan air untuk kompres kaki Nenek" perintahnya
Tanpa pikir panjang lagi, langsung aja aku berlari ke dapur lalu memasak air.
Dalam bersamaan juga dari luar rumah tersengar ada yang mengetuk pintu
Tok..tok..tok..!
Langsung aja aku buka pintu.
Tapi rupanya,
Ibu yang datang.
Melihat kehadirannya aku merasa lega. Setidaknya aku gak akan sendirian mengurus Nenek. Dan pastinya Ibu akan membantu banyak sebagai porsi orang dewasa
Sementara Pak Yanto sedang memarkir motornya sebelum akhirnya dia menemuiku
Belum aja Ibu masuk dia langsung menanyakan keberadaan Nenek
"Mana Nenek ?" tanyanya
"Nenek sakit " jawabku cepat, berharap Ibu menjadi sosok Malaikat baik yang akan rela merawat Nenek
Tapi wajah Ibu gak terkejut atau khawatir, raut wajahnya datar saja
"Sakit apa ?" tanya Ibu sambil melangkah melihat-lihat seisi ruangan tanpa mencopot sendalnya
"Baru aja, kakinya sakit" jawabku sambil mengikutinya dari balik punggungnya
__ADS_1
Tanpa bertanya lagi, Ibu segera melangkah mendapati Nenek di kamarnya
"Ibu sakit apa ?" tanya Ibu pada Nenek yang sudah terlihat pucat dan lelah
Nenek menjawabnya dengan suara yang sangat santai "Cuma sakit kaki" jawabnya
Dalam bersamaan juga, Pak Yanto masuk ke dalam kamar Nenek, dia sangat iba melihat keadaan Nenek
Justru Pak Yanto lah yang panik seolah takut Nenek terjadi apa-apa
"Loh, Ibu sakit apa ?" tanya Pak Yanto.
Nenek tersenyum dan hanya menggelengkan kepala
Dengan tulus hati Pak Yanto menawarkan Nenek untuk berobat saja
" Kita berobat aja yuk, Bu" ajaknya
Tapi Nenek menolaknya dengan tenang
"Gak perlu, aku hanya sakit kaki. Mungkin hanya keseleo tapi aku gak sadar kapan keseleonya, nanti juga sembuh kalau dikompres" yakinnya
Tapi Pak Yanto tetap khawatir dan masih ngotot untuk membawa Nenek berobat
"Pokoknya Ibu harus berobat sekarang" ucapnya sampai-sampai dia hendak membopong Nenek
Tapi, lagi-lagi Nenek menolaknya dengan tenang "Gak usah, terimakasih" ucapnya
Melihat sikap suaminya yang sangat peduli, kemudian Ibu menyambar ucapan Nenek yang sebenarnya untuk Pak Yanto
"Tuh, Ibu gak perlu dibawa berobat. Lagi pula nanti kamu gimana bawa motornya. Siapa yang jagain Ibu saat kamu bonceng" ucap Ibu
Tapi Nenek justru fokus dengan kendaraan Ayah tiriku
"Loh, kalian ke sini membawa motor ya ?" tanyanya
Pak Yanto mengangguk
"Iya Bu, hanya motor bekas saya beli. Ya, lumayan lah untuk pergi kemana mana jadi gak susah lagi" jawabnya
Mendengarnya Nenek sumringah "Wah, bagus lah. Rejeki kamu semakin bertambah" ucap Nenek
Pak Yanto tersenyum
"Iya, Bu. Terimakasih banyak atas doa-doa Ibu, tanpa doa Ibu saya gak bisa mendapatkan rejeki sampai saat ini" ucap Pak Yanto "Kalau begitu izinkan saya untuk membawa Ibu berobat ya ?" pinta Pak Yanto sekali lagi
Tapi Ibu malah memotong belas kasih Pak Yanto "Ayah, tadi kan Ibu sudah bilang gak usah dibawa berobat. Ya udah gak usah" sambarnya
__ADS_1
Langsung aja Nenek mengiyakan ucapan Ibu "Iya, Nak Yanto. Gak usah. Aku baik-baik saja" ucapnya dengan tenang