
Kebetulan sekali Bu Nina ada di dalam warungnya. Dia kebingungan saat melihat aku menangis
"Kamu kenapa ?" paniknya sambil keluar dari dalam warungnya lalu menyentuh pundakku
Tapi aku masih belum sanggup bicara, aku masih saja menangis sangat pilu
Tapi Bu Nina langsung menarik tanganku untuk masuk ke dalam rumahnya, dalam bersamaan juga Mira datang menghampiri kami.
Mungkin suaraku cukup gaduh ditelinganya.
Bu Nina mencoba menenangkanku dengan mengusap-usap punggungku, begitupun dengan Mira
"Jangan nangis ya Dhira"
Tapi aku masih terus menangis saja. Sebenarnya aku mau bicara tapi aku gak sanggup. Karena berita yang akan aku sampaikan lebih pedih dari apa pun juga.
"Sebentar ya Ibu buatkan teh hangat dulu untuk kamu" ucapnya
Sementara Mira terus menenangkan ku "Jangan nangis Dhira" ucapnya sambil menunggu Bu Nina membuatkan segelas teh manis hangat untukku
Setelah teh hangat siap, Bu Nina langsung saja menyodorkan tehnya kepadaku.
Tapi aku menolaknya, karena hatiku sudah kacau balau
Segala cara yang membuatku berhenti menangis sudah dilakukan mereka. Tapi aku masih saja menangis pilu.
Tapi akhirnya setelah beberapa menit kemudian aku merasa lelah juga dan memutuskan untuk berhenti menangis, disitulah kesempatan Bu Nina menyodorkan kembali segelas teh yang sekarang sudah dingin.
"Minum dulu nih" sodornya lagi
Akhirnya aku mau bahkan aku minum sampai habis
"Kamu kenapa ?" tanyanya dengan pelan-pelan
"Nenek" jawabku
"Nenek kenapa ?" tanyanya
Saat menjawabnya air mata aku kembali pecah "Nenek meninggal" jawabku
"Innalillahi wa inna Ilaihi raji'un" ucap Bu Nina
Aku malah makin dirundung kesedihan, dan masih terus menangis
"Sekarang Nenek di mana ?" tanyanya
Aku masih gak sanggup berkata-kata, aku cuma bisa menunjuk ke arah rumah Nenek.
"Di rumah ?" tanyanya
__ADS_1
Aku mengangguk
"Disana ada Ibu kamu juga ?" tanyanya
Aku hanya menggelengkan kepala dan terus menangis
Mengetahui jawabanku tanpa pikir panjang, Bu Nina langsung berlari ke rumah Nenek sampai-sampai dia lupa pakai sendal
Sesampainya di rumah Nenek, pintu rumah dalam keadaan terbuka lebar dengan nuansa yang terasa sunyi dan mencekam. Padahal matahari masih tinggi menyinari.
Tiba-tiba saja jantung Bu Nina berdebar cukup cepat dan merinding saat akan masuk tapi dia berusaha meyakinkan dirinya supaya dia bisa membantu pemakaman Nenek.
Perlahan Bu Nina masuk dengan diawali mengucapkan salam
"assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh"
Lalu perlahan melangkah dengan tujuan mencari Jenazah Nenek.
Akhirnya Bu Nina menemui satu kamar yang pintunya terbuka, disitu dia sedikit mengintip ke dalam kamar.
Lalu melihat Nenek terbujur kaku dengan fisik yang sudah mengenaskan.
Kurus kering dengan kaki yang bengkak dan biru tua.
Sontak saja Bu Nina teriak histeris
"Aarrrghhh ! astagfirullahaladzim ! astagfirullahaladzim ! astagfirullahaladzim ! astagfirullahaladzim ! astagfirullahaladzim !" ucapnya berulang-ulang dari luar kamar.
Bu Nina keluar rumah, dia teriak berharap para tetangga mendengarnya meski dia sadar kalau siang hari kebanyakan penghuni rumah pergi ke sawah dan berkebun
"Tollloooonggg....! tollongggg !!! Astagfirullahaladzim...tolllongggg!!!" teriaknya berkali-kali tapi belum ada satupun warga yang datang kalau pun ada yang keluar rumah hanya ada anak-anak dan remaja tanggung.
Tapi lambat laun akhirnya beberapa warga yang mendengar akhirnya menghampiri Bu Nia
Seorang Bapak tua menghampiri Bu Nina "Ada apa Bu ?" tanyanya ikut panik
Ibu Nina gak sanggup berkata-kata, dia hanya bisa menunjuk ke arah rumah Nenek.
Bapak tua itu seolah tergiring untuk masuk ke dalam lalu dengan spontan dia masuk tapi dia belum menemukan apa-apa di dalam.
Bapak tua itu kembali menemui Bu Nina "Gak ada apa-apa Bu " ucapnya
Bu Nina masih panik, dia masih belum bisa mengatakan satu kata pun. Dia hanya bisa menunjuk tapi kali ini sambil melangkah diikuti warga lain dari belakangnya.
Sesampainya di dalam akhirnya aku menunjuk satu kamar.
Bapak tua itu memberanikan diri untuk masuk ke dalam dan menemui Nenek yang sudah gak bernyawa.
Bapak tua itu juga gak habis pikir kenapa Nenek bisa meninggal dalam kondisi seperti itu.
__ADS_1
Langsung aja para warga yang semakin banyak berdatangan saling menggunjing aku
"Nih gara-gara si sial itu sih. Makanya jangan pelihara anak setan jadi mati kan !" kesal seorang Ibu dari balik badan Bu Nina.
Tapi Bu Nina gak kalah marah mendengar ucapan Ibu itu.
Bu Nina langsung memarahinya mentah-mentah "Heh, kalau ngomong mulut dijaga ya !" bentak Bu Nina
Sontak saja suasana langsung hening
Bu Nina masih menghujani Ibu itu dengan kata-kata penuh amarah "Kamu ini orang tua, seorang Ibu, harusnya kamu lebih pintar dari binatang !" ketus Bu Nina
Tapi Ibu itu malah tersinggung "Heh, jangan sembarangan kalau ngomong ya. Memangnya situ siapa ? Situ cuma orang yang sok baik berpihak sama anak setan !" balasnya
Bu Nina sangat naik pitam, dia melayangkan tamparannya ke wajah Ibu itu.
Plak !
Sontak saja Ibu itu berusaha membalas perbuatan Bu Nina.
Tapi sayangnya Bapak tua dan beberapa warga yang pro dengan Bu Nina cepat melerai mereka.
langsung saja Bu Nina mengusir perempuan itu "Keluar !" ucapnya
Ibu itu masih belum keluar, ia malah menatap tajam seolah dekat dengan mata Bu Nina.
Tapi Bu Nina sudah muak dan dia gak takut dengan resiko pertengkaran yang terjadi "Keluar !"
"Saya bilang keluar ya keluar !" bentak Bu Nina
Dengan rasa penuh malu dan tanpa ada ucapan apa-apa lagi, Ibu itu akhirnya angkat kaki dari rumah Nenek.
Sambil mengiringi kepergian Ibu itu, Bu Nina langsung kasih imbauan kepada para warga
"Bagi siapa yang menganggap Dhira adalah anak terkutuk, silakan keluar dari sini !" ucapnya
Tapi semua gak ada yang keluar dari rumah. Tapi meski begitu belum tentu juga mereka ada dipihak Bu Nina, bisa jadi mereka hanya penasaran saja atau memang kontra dengan Bu Nina, cuma karena gengsi. Bisa jadi.
Bapak tua itu mengusulkan untuk ada yang mengumumkan kematian Nenek ke Gereja untuk dilakukan acara pemakamannya.
"Saya mohon bagi bapak-bapak, Ibu-ibu yang berkenan untuk memberi kabar ke Gereja supaya Jenazahnya bisa didoakan dengan sah" pinta bapak tua itu.
Tapi dengan cepat Bu Nina mengatakan "Saya yang akan pergi ke sana, saya hanya perlu bantuan untuk ada yang mengantarkan saya ke sana " ucap Bu Nina
Satu orang diantar mereka menunjuk tangan, seorang bapak-bapak berkumis bertubuh gempal menawarkan dirinya
"Saya bonceng sekarang, apa Ibu mau ?" tanyanya
Ibu Nina mengangguk "Iya Pak, sekarang aja kita langsung ke sana"
__ADS_1
"Iya, kebetulan saya tahu Ibu ini kebaktian di Gereja mana" ucapnya
Jadi, kebetulan sekali warga yang beragama Kristen hanya Nenek saja. Tapi selama Nenek hidup. Nenek gak pernah mendapat kekerasan fisik dan ferbal dari warga lain. Nenek selalu merasakan toleransi yang sangat manis dari tetangganya yang muslim.