GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
Bab 13.


__ADS_3

"Yayan!" Abas berlari ke luar rumah melihat sahabatnya berusaha menghindari Wandi dan jatuh tersungkur tepat di depan halamannya. Ki Waluyo mengikuti langkah kaki Abas, sedangkan Yumna dan Bu Tika diminta untuk tetap berada di dalam rumah. Mereka saling berpegangan tangan. Merasa cemas akan situasi yang sedang terjadi.


"Yayan, buruan bangun!" Abas memerintah sekaligus menyodorkan tangan untuk membantu Yayan berdiri. Sedangkan Wandi sudah berada tidak jauh dari tempat mereka dengan senyum sinis dan penuh dendam.


"Pusaka keris wulung soka?" Ki Waluyo terperenjat saat melihat keris yang dipegang Wandi. Keris yang memiki sejarah kelam pada masa Kerajaan Tumapel yang sudah merenggut nyawa Bayu Ajisena dan Dewi Sekar Agnimaya. Kini keris itu kembali lagi dipegang oleh orang yang memiliki dendam dan amarah.


"Pergilah ke neraka kalian berdua!" Wandi menghunuskan keris yang ia pegang ke arah Abas dan Yayan.


Tangan Ki Waluyo dengan sigap membantu. Ia menangkis serangan Wandi dengan sebuah tongkat berlapis baja yang selalu ia bawa.


Duarr!


Pohon kembali tumbang akibat serangan yang berhasil Ki Waluyo tangkis. Wandi menatap geram ke arah Ki Waluyo. 


"Menyingkarlah kalian berdua!" perintah Ki Waluyo agar Abas dan Yayan mencari tempat yang aman. Serangan demi serang dilakukan oleh Wandi, tetapi berkali-kali dapat ditangkis oleh Ki Waluyo.


Suara dentuman berkali-kali terdengar. Membuat para warga bersembunyi ketakutan tanpa ada yang berani melangkah ke luar rumah. Tubuh Ki Waluyo yang sudah tua membuatnya kewalahan menghadapi keris yang sudah melegenda itu. Hingga pada akhirnya Ki Waluyo tersungkur di tanah.


"Ki Waluyo!" teriak Abas saat melihat gurunya batuk-batuk dan mengeluarkan darah dari mulut. Abas dan Yayan ingin berlari menghampiri. Namun tangan Ki Waluyo lebih dulu memberi kode agar mereka berdua jangan mendekat dulu.


Dengan tersenyum lebar, Wandi berjalan mendekati Ki Waluyo yang masih tertatih mencoba bangkit. "Matilah kau!" teriak Wandi yang disusul dengan cahaya kilat yang cepat ke arah Ki Waluyo.


"Akhhhh!"


Duarrrr!

__ADS_1


Dentuman besar terjadi tepat mengenai sasaran. Ki Waluyo terpental beberapa meter dari posisinya berada.


"Abas!" Yayan berteriak kencang ketika melihat Abas berlari melindungi Ki Waluyo tepat sebelum tubuhnya disambar oleh cahaya keris wuluh soka.


Asap tebal mengepul dari dentuman yang baru saja terjadi. Yayan menangis sesegukan ketika tubuh Abas hilang di dalam asap yang dihasilkan oleh ledakan.


Ki Waluyo bangkit dari keterpurukannya saat menyadari Abas telah menyelamatkan hidupnya dari ledakan keris yang sakti mandraguna itu.


Yumna dan mengintip dari dalam rumah menangis sesegukan saat melihat suaminya hilang bersama ledakan itu. Ia terduduk lemas di lantai. Bu Tika pun merasa sesak sebab putra kesayangannya terbunuh di depan matanya sendiri.


Sepertinya kekhawatirannya selama ini benar-benar terjadi. Abas juga akan pergi secara tragis meninggalkannya seperti suami-suami Yumna sebelumnya.


"Ha-ha-ha-ha-ha.  Akhirnya kau mati juga Abas." Wandi tertawa terbahak-bahak melihat kekalahan Abas. Ia berkacak pinggang. Merasa sudah menang.


Asap yang mengepul perlahan mereda, hilang tertiup angin. Tiba-tiba dari dalam asap, Abas muncul dalam keadaan berdiri dan langsung berlari kearah Wandi.


Tubuh Wandi dipukul dengan keras oleh tangan kekar Abas. Wandi yang terkejut akan kehadiran Abas, tidak dapat menghindari pukulan tersebut.  Ia terpental jatuh, keris wulung soka yang dipegangnya terlepas dari genggaman dan dengan segera diambil alih oleh Abas.


"Bayu Ajisena akhirnya kembali." Ki Waluyo tersenyum melihat Abas yang kembali dari kematian.


"Bagaimana mungkin?" bisik Abas bertanya-tanya. Ia heran kenapa Abas tidak mati seperti Pak Udin.  Padahal keris itu memiliki kekuatan yang dahsyat.


Abas mendekati posisi Wandi, "Kamu tidak akan bisa membunuhku dengan keris ini,  karena sejatinya pusaka ini adalah milikku." kening Wandi berkerut mendengar Abas. "Keris ini hanya akan bisa digunakan dengan sempurna jika orang tersebut memiliki darah keturunan yang sama dari pemiliknya, seperti Senopati Bagaskara.  Dia dulu bisa membunuhku dengan pusaka ini karena dia adalah adikku, memiliki garis keturanan yang sama," Abas berbicara  dengan nada seperti orang pada zaman kerajaan.


Ki Waluyo mengenali itu, dia adalah Bayu Ajisena. Jiwa yang selama ini bereinkarnasi menjadi Abas.  Ki Waluyo sangat ingat kejadian ratusan tahun lalu, ketika adik Bayu Ajisena, yaitu Senopati Bagaskara. Ia mencuri pusaka itu dari kakaknya dan membunuh secara brutal, karena dia mencintai perempuan yang sama, Dewi Sekar Agnimaya.

__ADS_1


Namun, perempuan cantik itu dan kakaknya saling mencintai hingga meletuslah perang saudara yang menewaskan Bayu Ajisena dan Sekar Agnimaya.


"Kau tak pantas untuk hidup! Dirimu telah dipenuhi oleh dendam dan kebencian." Abas mengayunkan tangannya dengan terlatih menyerang Wandi.


Wajah Wandi memucat melihat perubahan drastis pada Abas. Ia menelan ludah saat keris itu menyerangnya. "Akhhh!" Darah segar muncrat dan bercucuran setelah keris itu dengan mulus menusuk perut Wandi hingga membuat laki-laki itu tergeletak tak berdaya seketika.


Setelah Wandi tewas, tiba-tiba kepala Abas merasa berat dan berkunang-kunang. Seketika penglihatannya memburam.


Brukk!


Dia jatuh pingsan tepat di sebelah tubuh Wandi yang terkapar.


"Abas!" Yumna berlari keluar dari rumah menghampiri Abas. Ki Waluyo, Yayan dan Bu Tika ikut menghampiri Abas yang tergeletak di tanah.


Isak tangis tidak bisa ditahan oleh Yumna. Ia harus kembali melihat suami yang ia cintai menderita karena dirinya. "Tenangkan dirimu, Nduk. Abas tidak apa-apa," ucap Ki Waluyo setelah memeriksa keadaan Abas.


Tidak lama kemudian, mata Abas terbuka.  Yumna langsung memeluk erat tubuh laki-laki yang ia cintai itu.


"Ki Waluyo?" mata Abas tertuju pada Ki Waluyo. "Ki Waluyo tidak apa-apa?  Wandi kenapa bisa begini?" Abas tampak heran dengan kejadian yang telah diperbuat.


Ki Waluyo hanya tersenyum, "Berbahagialah sekarang, Nak.  Tidak ada lagi yang akan menghalangi cinta kalian berdua." Mata Yumna membulat mendengar ucapan Ki Waluyo, dengan segera ia mengecek tanda hitam di tubuh Abas yang semula adalah pindahan dari tubuhnya. "Hilang, tandanya hilang," pekik Yumna kegirangan saat melihat tanda hitam di dada Abas hilang secara sempurna.


Abas tersenyum menatap Yumna dan langsung memeluknya erat. "Tidak ada manusia yang ditakdirkan pembawa sial. Hanya saja Tuhan telah menciptakan jodoh masing-masing kepada setiap hambanya." Ki Waluyo terenyuh menyaksikan kisah cinta Bayu Ajisena dan Dewi Sekar Agnimaya yang akhirnya bersatu dalam diri Abas dan Yumna meskipun mereka sudah terpisah ratusan tahun lamanya.


Cinta mempunyai cara tersendiri dalam mempertemukan dua insan sebagai pemiliknya.  Meski terkadang semesta kerap  bercanda hingga membuat terluka dan kecewa, tapi cinta selalu ada untuk menjadi penengahnya.

__ADS_1


...Tamat...


__ADS_2