
Dua minggu telah berlalu setelah bertemu kembali dengan Mira, hal itu membuatku semakin merasa percaya diri karena sekarang ini aku sudah punya tempat untuk mengadu keluh kesah yang selama ini hanya tersimpan. Beruntungnya juga Mira pun masih bersikap sama seperti jaman kami masih kecil, dia juga masih peduli kepadaku dan selalu mau mendengarkan curahan hatiku yang mungkin bisa saja membuat dia bosan dengan setiap keluhanku yang gak pernah ada putusnya
Tingg..tingg....tinggg !!!
Bel sekolah akhirnya bersuara nyaring seolah menghipnotis seluruh siswa untuk segera pulang
Ting...ting..ting...ting !
Suaranya kembali menggema
Langsung saja seluruh siswa berebut melangkah ke pintu kelas masing-masing, begitupun aku yang juga cepat-cepat bergegas keluar kelas karena punya urusan untuk bertemu Mira. Langkah kaki pun terus berjalan cepat sampai akhirnya aku berdiri di depan pintu kelasnya, satu per satu aku perhatikan siswa yang keluar dengan seksama namun rupanya Mira belum juga keluar.
Aku hanya melihat Siska yang juga tanpa sengaja dia berpapasan mata denganku.
Dia menyapaku "Hai, Dhira" sapanya sembari berjalan melewatiku
Aku tersenyum membalasnya "Hai, Siska" ucapku
Aku masih saja berdiri didepan pintu kelasnya tapi makin lama siswa yang keluar berangsur sepi sementara Mira belum juga terlihat batang hidungnya
Akkhirnya aku putuskan untuk masuk saja ke dalam kelasnya, pelan-pelan aku melangkah menghampiri Mira yang rupanya dia masih sibuk mengerjakan tugas sekolahnya
Sesampainya disampingnya aku duduk disamping kursinya, gak ada siapa-siapa lagi di kelas ini hanya ada aku dan Mira saja
"Mira?" panggilku sembari mengangkat kedua tanganku ke atas mejanya sembari kepalaku menolehnya yang masih saja menulis tanpa menolehku, tapi aku yakin dia sadar atas kehadiranku
Tapi meski begitu Mira belum menjawab dia masih saja sibuk mengerjakan tugas matematika yang belum dia selesaikan
Melihatnya begitu, aku jadi sanksi dan hanya duduk diam menunggunya sampai selesai
Hingga sampai akhirnya beberapa menit kemudian pekerjaaan sekolahnya telah rampung. Mira pun mengucap syukur sembari merentangkan kedua tangannya menandakan kemerdekaan yang dia rasakan "Alhamdulliah !" ucapnya
Melihatnya aku turut senang
Tapi Mira belum bisa meladeniku
"Sebentar ya Dhira, aku mau kumpulin tugas ini dulu ke kantor guru" ucapnya sambil memperlihatkan buku tulisnya kepadaku
Aku mengangguk "Iya" jawabku
"Kamu mau ikut aku ke kantor guru atau nunggu di sini ? tanyanya
Aku diam sejenak, kemudian aku berpikir
"Aku ikut aja deh" jawabku
"Oh, yaudah ayok" ajaknya
Setelah Mira memberikan buku tugas matematikanya kepada Bu Sumi. Akhirnya kami duduk di depan sekolah dibawah pohon rindang yang teduh, duduk diatas bangku panjang yang sengaja diletakkan untuk tempat bersantai bagi siapapun yang mau.
Depan gerbang pun sudah gak ada penjual makanan, sudah sepi hanya ada aku dan Mira.
Mira yang memulai obtrolannya "Kamu ada masalah apa Dhira ?" tanyanya
__ADS_1
"Aku mau ketemu Ayah kandungku, Mir" jawabku cepat
Mira bingung dengan ucapanku "Hah, tapi kamu sudah tahu rumahnya dimana" tanyanya
Aku menggelengkan kepala
Mira mengerutkan dahi "Lah, bagaimana caranya kamu bisa ketemu dia ?" tanyanya
Aku juga jadi bingung "Aku gak tahu gimana caranya tapi apa kamu ada usulan ?" tanyaku
Mendengarnya Mira makin bingung "Aku juga gak tahu. Sementara wujudnya aja kita gak pernah ketemu. Memangnya kamu punya fotonya ?" tanyanya
"Ada!" jawabku cepat
"Mana ?" pintanya
Langsung saja aku mengeluarkan foto Ayah dari dalam dompetku kemudian dengan cepat menyodorkannya kepada Mira
"Nih " sodorku
Mira menerimanya dan melihatnya secara seksama
Beberapa saat kemudian kami gak ada obrolan, Mira masih terus memperhatikan foto Ayah
sampai akhirnya Mira kembali berkomentar
"Foto Ayah kamu sebenarnya gak jelas, karena ini kecil sekali gambarnya" ucapnya Mira
Mendegarnya hatiku tiba-tiba saja pupus
Dengan cepat aku setuju "Iya sudah kalau begitu, ayok sekarang aja !" ajaku, antusias. Tepatnya gak sabar seakan-akan aku merasakan di sana ada Ayahku
"Ayok, aku tahu kantor polisi disekitar wilayah sini. Mumpung masih siang" ajaknya
Akhirnya sampailah kami di depan kantor polisi dekat jalan raya yang cukup jauh dari sekolah kami. Arah kantor polisinya ada diarah jalan pulang Mira.
Kami bisa sampai ke sini karena disepanjang jalan naik metro mini dan pertama kalinya juga aku naik angkot di sini dan pertama kalinya aku tahu wilayah di sini. Cukup ramai dipenuhi kendaraan, orang yang lewat dan beberapa rumah penduduk. Aku gak tahu menyebutnya kota atau desa yang pasti suasananya ramai seperti di kota.
Kami berdiri diatas trotoar jalan raya tepat di samping gedung kantor polisi yang cukup besar namung gak megah.
Padahal niat kami untuk melaporkan orang hilang, berangkat dengan tekad dan semangat yang kuat. Tapi mental kami tiba-tiba saja jatuh gak berani masuk ke dalam.
Akhirnya aku dan Mira saling mendorong untuk siapa yang lebih dulu jalan didepan
Aku berusaha menarik tangan Mira untuk dia lebih dulu masuk "Kamu jalan duluan, Mir" ucapku
Tapi Mira melepaskan genggaman tanganku, langkahnya juga gugup untuk sekedar memulai masuk melewati gerbang kantor polisi
"Kamu aja, Dhira. Bukannya kamu yang mau lapor ke Polisi" ucapnya dengan raut wajah yang semakin pucat
"Aku takut, nanti kalau salah ngomong dimarahin" ucapku
Mira justru memberikan aku semangat "Gak kok, gak bakal dimarahin. Ayok masuk aja, kamu duluan nanti aku dibelakang kamu. Nanti aku bantu ngomong" ucapnya
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala "Aku takut, Mir" ucapku
Mira menghela napasnya dalam-dalam, aku berharap sikapnya itu adalah isyarat kalau dia mau mengalah untuk maju lebih dulu
"Oke, Dhira. Kalau begitu kita pulang saja" usulnya
Aku jadi semakin pupus "Kenapa pulang, kita kan belum masuk ke dalam ?" protesku
Mira mendorongku pelan supaya aku melangkah lebih dekat dengan gerbang kantor Polisi "Kalau gitu ayok kita masuk" ucapnya
Meski dia mendorongku tapi aku justru menahan kakiku supaya gak melangkah masuk gerbang "Kalau begitu, kita pulang saja Mira" ucapku
Akhirnya tangan Mira yang sejak tadi mendorong punggungku berhenti seketika "Kamu yakin gak jadi lapor polisi ?" tanyanya
Aku mengangguk "Iya, Mira. Mungkin perasaan takut ini pertanda kalau aku gak akan pernah bisa bertemu dengan Ayah selamanya" ucapku pelan
Mira yang mendengarnya gak bisa berbuat apa-apa "Maaf ya Dhira, aku gak bisa membantu kamu" ucapnya
Aku mengangguk "Iya, Mira. Semoga saja Ayah aku masih dalam keadaan sehat-sehat saja" ucapku
"Amin" ucap Mira. "Kalau gitu kita pulang aja yuk" ajaknya
Akhirnya kami bergegas pulang kemudian berdiri dihalte untuk menyetop metro mini. Tapi sialnya angkutan umum kecil itu sangat lama datang. Sudah hampir dua jam kami menunggu
Aku dan Mira sudah semakin risau karena matahari sudah mulai redup apa lagi kami pergi tanpa izin orang tua.
Mira terus saja berdiri menatap arah datangnya metro mini yang sejak tadi belum juga datang "Kok, tumben banget ya. Angkutannya lama banget" gumamnya
Dalam bersamaan seorang bapak mengendarai motor berjaket kulit lengkap dengan helemnya menepi dihadapan kami
"Nunggu apa Neng ?" tanyanya
"Angkot pak !" jawab Mira
"Waduh, angkot kan lagi pada demo gara-gara bensin naik !" ucapnya
Mendengarnya aku dan Mira saling menoleh
Tapi Mira masih gak percaya "Masa sih pak ?"
"Yaah, Neng malah gak percaya. Emangnya dari tadi ada lihat angkot lewat gak ?" ucapnya
Aku dan Mira menggelengkan kepala
"Nah, itu semua lagi pada demo !" ucapnya "Lebih baik naik ojek aja, saya tukang ojek nih" tambahnya
Aku dan Mira saling menoleh dan belum menjawab apa-apa
Tapi Bapak ojeknya masih terus meminta kami untuk menggunakan jasanya "Udah, naik ojek aja. Angkotnya lagi pada demo, seriusan deh. Terserah deh bayar berapa aja. Penglaris" ucapnya
Mira mulai bicara "Kalau sepuluh ribu bonceng berdua bisa gak, Pak ?" tanyanya
Bapak ojeknya langsung siap-siap "Yaudah, buruan naik. Saya mah kasihan aja" ucapnya
__ADS_1
Tapi aku dan Mira masih belum naik malah saling menoleh sampai Bapak ojeknya tersinggung
"Buruan naik Neng, gak apa-apa dibayar sepuluh ribu. Saya tukang ojek asli bukan penculik" ucapnya