GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
Bab 3.


__ADS_3

“Kalian kenapa tidur di sini? Bukannya lagi jaga di pos ronda?” tanya orang tersebut yang tampak heran melihat mereka tergeletak di atas lantai. “Ya, sudah. Yuk salat Subuh berjamaah dulu!"


Mereka beranjak mengambil air wudu lalu menunaikan salat Subuh berjamah. Ada ketenangan batin yang mereka dapatkan saat bersujud. Bersimpuh lemah di hadapan Sang Pencipta. Seolah semua rasa takut dan kekhawatiran tentang semalam sirna dalam sekejap.


Saat mereka keluar dari musala, mata mereka kembali terbelalak saat melihat Yumna keluar dari musala yang sama dengan mereka. Dia mengenakan mukenah berwarna putih polos yang membuat wajahnya semakin terlihat anggun.


“Yumna ...,” ucap Abas dengan wajah yang tampak bingung.


...***...


"Kenapa bisa sampai kecolongan? Kan saya sudah bilang jaga hati-hati nanti kalau ada mayat yang dicuri akan berimbas pada warga kita juga," ujar Pak Turmudi, lurah desa sambil melinting tembakau di pipa gading berwarna cokelat muda.


"Kita sudah waspada, Pak, tapi malam itu justru yang dicuri mayatnya Ida yang meninggal sebulan lalu." Pak Udin membalas ucapan Pak lurah Turmudi.


"Ida?" Pak lurah mendekatkan wajahnya pada Pak Udin sambil menurunkan kaca mata.


"Ida yang tewas saat melahirkan itu?" lanjut Pak Lurah.


"Betul, Pak. Kalau gak salah meninggal malam Jumat Kliwon." Wandi yang sedari tadi diam kini ikut menimpali ucapan Pak Turmudi.


"Wah gawat ini, bisa dijadikan perantara untuk ilmu hitam. Oh, iya bagaimana dengan keadaan Yumna? Sepertinya gosip dari warga bahwa dia perempuan Bahu Laweyan membuat dia tertekan." Lurah Turmudi menggeser topik pembicaraan.


"Maaf, Pak Lurah. Kita juga perlu luruskan ke warga jika Bahu Laweyan itu belum tentu benar. Kasihan mbak Yumna dengan pemberitaan ini terlebih dia lah yang sebenarnya sedang berduka setelah kematian mas Joko tempo hari," ucap Abas serius, disusul anggukan kepala beberapa orang yang hadir di tempat itu.


Diskusi di rumah Pak Lurah Turmudi sore itu berlangsung seru terkait Yumna yang dianggap sebagai perempuan pembawa sial. Beberapa ibu-ibu di desa justru mengusulkan agar Yumna diusir saja dari desa karena mereka khawatir bahwa suami mereka akan mendapatkan kesialan serupa jika berinteraksi dengan Yumna.


Hal itu sangat sulit bagi Pak Lurah meski beberapa warga lain juga tak setuju tentang pengusiran itu. Pak Lurah Turmudi tetap berusaha bijak melindungi hak warganya termasuk Yumna.

__ADS_1


...***...


Sore itu beberapa menit sebelum azan Magrib, Abas tampak membawa tumpukan kayu bakar menuju rumah Yumna karena kebetulan rumah Yumna dan Abas juga berdekatan. Watak Abas yang memiliki jiwa sosial tinggi memang terbiasa berbuat baik kepada para tetangga hingga banyak warga yang suka kepada Abas. Dia adalah pemuda tampan, sopan dan ramah pada warga lainya tanpa memandang jenis kelamin dan usia.


"Mbak Yumna ini kayu bakarnya, jika butuh sesuatu ndak usah sungkan silakan sampaikan pada ibu biar saya kerjakan," ucap Abas.


Memang ibunya Abas sering berada di rumah Yumna untuk membantu beberapa kepentingan pasca kematian Joko. Rumah mereka pun berjarak lumayan dekat hingga terkadang Abas dan ibunya pulang larut malam menemani Yumna .


"Terima kasih, Mas. Oh, iya, kalau boleh Mas tunggu di sini dulu saya mau mandi. Siapa tau nanti ada tamu soalnya beberapa hari lagi acara empat puluh hari meninggalnya mas Joko," ucap Yumna sambil menyuguhkan teh serta pisang goreng yang dibuatkan ibunya Abas. Pria muda itu hanya mengangguk, kemudian bangkit dari duduknya untuk membersihkan ruang tamu dan menata tikar.


Yumna berjalan di sisinya menuju bilik di belakang rumah untuk mandi. Di desa yang masih asri itu untuk kebutuhan air memang masih mengandalkan sumur timba hingga airnya terasa jernih.


Sedang asyik Abas membersihkan ruangan tiba-tiba dari bilik kamar mandi terdengar jeritan perempuan yang dia sangka adalah suara Yumna.


"Akhhh!" pekik Yumna.


Abas segera meletakkan sapu lidi dan bergegas menuju bilik kamar mandi untuk memeriksa keadaan Yumna.


"Mbak, kenapa?" tanya Abas.


"Ada tikus di ujung sana melompat dari ciduk air, Mas," ucap Yumna ketakutan.


Abas mendekat dan menyingkirkan tikus kecil yang sedang terjebak di gayung yang terbuat dari tempurung kelapa itu. Wajah Abas memerah ketika tanpa sengaja melirik pada tubuh  Yumna yang basah tertutup kain.


"Astaga dia benar-benar cantik dan sintal bagai masih gadis," gumam Abas dalam hati sambil menelan air liurnya.


Setelah selesai menyingkirkan tikus Abas pun hendak berlalu menuju ruang semula menemani ibunya yang berada di ruang tamu. Hanya berselang beberapa langkah tiba-tiba dari arah Yumna terdengar bunyi gaduh seperti benda terjatuh. Abas menoleh hingga tanpa sengaja memandang tubuh putih Yumna yang ter sinari cahaya remang rembulan. Yumna tampak kesulitan memegang kain sementara dua tangannya berupaya menahan tali timba sumur yang terlepas.

__ADS_1


"Ta--tanda itu terlihat jelas," gumam Abas yang tanpa sengaja melihat dua tanda aneh pada dada Yumna. Abas mendekat sambil memalingkan wajah kuatir Yumna malu ketika ia memandang lekuk tubuhnya.


Akhirnya Yumna selesai mandi juga. Dia berganti pakaian di kamar lalu menuju ruang tamu menemui Abas dan ibunya.


"Bas, kamu tunggu di sini sebentar, ya. Ibu mau ke warung Bu Suli membeli teh dan gula," pinta sang ibu pada Abas ketika Yumna telah berada di ruang tamu. Abas hanya mengangguk. Kini di ruangan itu hanya Abas dan Yumna saja berdua. Abas tampak canggung dan menundukkan wajahnya setelah apa yang mereka alami di kamar mandi.


Lama saling diam akhirnya Abas memberanikan diri untuk bertanya pada Yumna untuk menepis rasa ragu.


"Maaf jika lancang, Mbak. Apakah tanda itu telah ada semenjak lahir?" tanya Abas perlahan.


Yumna kaget menoleh dan memandang Abas dengan tatap mata tajam. Bibirnya tampak rapat tergigit.


"Jadi Mas lihat tanda di dadaku?" ucap Yumna, dia menarik napas panjang lalu mengembuskan perlahan. Sesaat mereka diam.


"Aku tak begitu paham soal tanda pada tubuhku, Mas. Bahkan kata almarhum suamiku ada beberapa tanda lagi di bagian tubuh lainya. Aku bahkan masih perawan hingga saat ini ketiga suamiku tewas sebelum sempat menyentuhku. Ada saja hal terjadi ketika suamiku hendak menyentuh dan menunaikan haknya kepadaku." Yumna berucap perlahan, dia lalu duduk membelakangi Abas.


Abas menatap redup punggung Yumna yang sedang menurunkan bajunya hingga tampak punggung Yumna yang halus. Abas terbelalak kaget ketika di punggung halus Yumna terpampang tanda berwarna kecokelatan terletak di sisi kanan dan kiri bahu.


"Dan siapa pun yang telah melihat tanda pada tubuhku kelak aku harap dia menjadi suamiku. Namun aku tak ingin dirimu bernasib sama dengan almarhum suamiku, Mas," ucap Yumna tertunduk.


Abas merasa merinding mendengar ucapan Yumna. Dia tak bisa berkata-kata apa pun. Sesaat setelah ia dengar ucapan itu sekujur tubuhnya merasa dingin serta bulu kuduk yang berdiri meremang.


Tak lama kemudian ibunya Abas telah sampai ke teras ruang tamu, buru-buru Yumna merapikan bajunya karena takut di sangka sedang melakukan yang bukan-bukan.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ....


__ADS_2