
Beberapa menit didalam mikrolet akhirnya kami sampai dipinggir jalan dekat rumah. Kami hanya perlu berjalan sedikit melewati jalan aspal sempit untuk bisa sampai di rumah.
Tapi mirisnya Liana masih saja menggerutu sepanjang jalan. Kakinya ia hentak-hentakkan gak perduli dengan kerikil yang mengganggu jalannya
"Orang lagi sakit perut dia malah enak-enakan pengen cepet pulang" sindirnya sambil melangkah cepat-cepat di depanku
Tapi aku hanya diam saja memandangnya melangkah semakin jauh diujung jalan.
Hingga beberapa menit berjalan kaki sebentar, Liana sudah sampai lebih awal dariku bahkan dia sudah makan tanpa mengganti seragamnya, Liana makan begitu lahap tanpa menolehku sedikitpun
Aku meletakkan tasku di dalam kamar kemudian mengganti pakaianku dengan perlahan karena aku merasa sangat lelah hari ini
Kruuyyuuugggg
Perutku sudah berbunyi tapi aku tahu harus apa dulu sebelum makan
Terdengar suara Ibu berbicara keras kepadaku dari ruang tamu seolah mengingatkan apa yang menjadi tugasku
"Jangan lupa sebelum kamu makan cuci perbaot masak dulu, udah pada kotor tuh, jangan lupa juga dapur dibersihkan ya, banyak sisa-sisa potongan akar kangkung !" ucapnya
Sebenarnya aku sudah tahu tugasku tapi aku menyahut saja " Iya Bu" sambil keluar kamar diiringi oleh suara sendok makan Liana yang beradu dengan piringnya.
Kruuuyyyuuuuggg
Suara perutku semakin terdengar keras tapi aku berusaha menahannya saja.
Lantas aku cepat-cepat merapikan dan membersihkan dapur dengan sisa tenagaku, saat aku menutup lauk dengan tudung perut laparku semakin gak tertahankan karena melihat irisan tempe goreng tanpa sambal yang begitu menggodaku.
Karena perut saking terasa kosong akhirnya aku mengambil satu irisan tanpa sepengetahuan Ibu dan aku lahap bulat-bulat lalu mengunyahnya cepat-cepat jangan sampai Ibu tahu
Tapi sialnya dalam bersamaan Ibu masuk dan terang saja memergoki aku yang masih mengunyah.
Ibu mendekatiku, seketika itu juga kami saling bertatapan muka
"Makan apa kamu ?" tanyanya datar
Aku belum bisa menjawabnya
Tapi Ibu raut wajah Ibu mulai marah padaku
"Makan apa, hah !" tanyanya lagi
Setelah menghabiskan tempe didalam mulutku akhirnya aku menjawabnya dengan menunjukk tempe diatas meja.
Ibu menoleh arah yang aku tunjuk kemudian kembali menatapku kali ini dengan tatapan wajah yang siap membunuhku
"Kamu tahu kalau itu namanya apa ?" tanyanya
Melihatnya aku semakin ketakutan dan hanya bisa menggelengkan kepala
"Itu namanya kamu mencuri !" bentaknya
Tapi aku masih diam saja
Tapi Ibu masih tetap berbicara lantang, suaranya keras sekali
"Saya suruh kamu bersihkan dapur cuci apa aja yang kotor bukan makan tempe !" kesalnya
Ibu terus menatap mataku sampai akhirnya aku gak berani lagi menatapnya lalu membuang pandangan mataku kebawah.
Meski begitu Ibu tetap gak terima bahkan kali ini dia menjambak rambutku
"Kalau kamu melakukan lagi jangan sakit hati nanti kamu akan saya buang ke tengah hutan. Ingat ya, saya gak pernah mau punya anak macam kamu. Kamu ini anak sialan. Jangan sampai gara-gara ada kamu di rumah ini, kamu malah makin banyak mengundang kesusahan di rumah ini !" ucapnya masih sambil menjambak rambutku
Sebenarnya kepalaku gak sakit tapi hatiku.
__ADS_1
Akhirnya Ibu melepaskan genggamannya "Sekarang kamu lanjutkan bersih-bersih, semua ruang di rumah ini kamu rapikan. Jangan makan kalau belum bersih. Dan satu hal lagi karena kamu gak jujur, kamu hanya boleh makan nasi putih aja. Itu pantas jadi hukuman kamu. Paham !" ucapnya lalu pergi
Setelah merapikan semua ruangan akhirnya pukul empat sore aku bisa beristirahat sebentar kemudian makan dengan hanya nasi putih saja.
Tentunya mana mungkin aku bisa makan lahap dengan hanya makan nasi putih saja, justru aku hanya sanggup memakannya sedikit saja. Padahal sisa nasi dalam piringku rupanya masih banyak.
Aku pikir makan nasi putih saja itu gak masalah tapi rupanya hambar dan aku malah terlanjur mengambil banyak
Itu lah yang akhirnya menjadi permasalahan baru dibenakkku
Kalau saja Ibu sampai tahu dia akan memarahiku kembali berjilid jilid.
Tapi untungnya aku ada ide yang tiba-tiba saja muncul dikepalaku.
Cepat-cepat aku pergi ke belakang menemui kandang bebek dan menaruh sisa nasiku diwadah makannya.
Untungnya bebek langsung memakannya, setidaknya aku cukup lega
Langit luas membentang mulai jingga, matahari yang mulai turun perlahan , angin malam yang mulai terasa dingin seolah mengisahkan luka dihatiku. Tapi aku gak tahu kepada siapa aku harus membenci.
Yang aku tahu hanya harapan penuh untuk bisa keluar dari penderitaan ini. Meski aku juga gak tahu harus dimulai darimana.
Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan supaya aku cepat dewasa dan pergi merantau yang sangat jauh sekali berpisah dari Ibu, dari Liana, yang pasti berpisah jauh dari orang-orang yang mengusikku. Dan aku berjanji gak akan sama seperti mereka
Tapi sayangnya aku juga punya rasa takut kalau nanti aku benar-benar dewasa semua orang semakin menjauhiku dan hidupku benar-benar kesepian.
Menyedihkan.
"Dhiraaaaa !" panggil Ibu dari dalam rumah. Suaranya kencang sampai mengacaukan lamunanku
Tanpa pikir panjang lagi langsung saja aku berlari menghampirinya.
"Ya Bu" Jawabku setelah sampai di ruang tamu menghadapnya yang duduk di kursi diiringi suara televisi yang volume suaranya cukup keras
"Tadi duduk-duduk aja" jawabku gugup
"Ngapain kamu duduk-duduk ?"
"Aku cuma duduk-duduk" jawabku lagi
Ibu makin kesal "Iya ngapain ?"
Aku diam
Dalam bersamaan Liana menghampiri Ibu kemudian duduk disampingnya sembari mengganti siaran televisi "Ibu aku minta uang untuk besok bayar buku paket" pintanya tanpa menoleh wajah Ibu
Ibu menoleh Liana dengan raut wajah yang berubah manis "Berapa duit ?" tanyanya
Liana menoleh Ibu dengan manis "Lima puluh ribu" jawabnya
"Oh, ya udah besok aja sekalian sama uang jajan ya, Ibu lagi males gerak" ucapnya
"Iya Bu" angguk Liana kemudian melanjutkan menonyon televisi
"Kamu sudah makan Lian ?" tanya Ibu
"Aku gak napsu makan, Bu" ucapnya tanpa menoleh Ibu
"Kenapa ?"
"Lauknya itu itu terus" keluh Liana
"Ya udah kalau gitu kamu mau makan pakai lauk apa, biar Ibu masakin deh" ucapnya
"Aku mau nasi goreng Bu" pintanya cepat
__ADS_1
Ibu bergegas dari duduknya " Ya udah Ibu masakin ya" ucapnya sembari melangkah ke dapur melewati aku begitu saja, seakan-akan aku gak ada dihadapan mereka
"Iya Bu" angguk Liana sambil mengikuti Ibu ke dapur
Dari dapur Ibu memanggilku kembali " Dhira !"
Dengan cepat aku menghampirinya, aku rasa Ibu juga akan menawarkan nasi goreng kepadaku
"Iya Bu"
"Kamu mandi sana, kamu kucel sekali. Nanti Pak Yanto pulang dikiranya Ibu gak ngurusin kamu" perintahnya
"Iya Bu" anggukku lalu cepat mandi.
Dalam benakku, aku masih berharap Ibu juga memasakkan aku nasi goreng bahkan aku sudah membayangkan betapa nikmatnya makan nasi goreng setelah mandi
Setelah mandi dan mengganti pakaian aku sempatkan diri ke dapur, rupanya apa yang aku pikirkan terwujud
Sepiring nasi goreng menarikku untuk mengambilnya cepat.
Lantas aku ambil dan cepat aku makan bersama Liana di ruang tamu
Baru juga tiga lahapan Liana sinis kepadaku
"Kok kamu ambil nasi gorengnya Ayah ?" tanyanya
Mendengarnya aku terdiam langsung menghentikan lahapanku dan merapikan nasi gorengnya kembali yang sudah sempat aku aduk-aduk
Liana yang melihatku akhirnya mengadu pada Ibu, dia memanggil Ibu tanpa beranjak dari duduknya
"Ibuuuu !" panggilnya
Tapi Ibu belum datang
Liana coba panggil dengan suara paling keras "Ibuuuuu !" panggilnya
Seketika Ibu muncul dari pintu masuk, raut wajahnya panik karena suara Liana yang histeris
"Ada apa sih Lian ?" tanyanya sambil juga melihatku yang duduk tepat disamping Liana
"Dhira makan nasi goreng Ayah" adunya
Ibu yang sejak awal masuk sudah melihat akhirnya naik pitam. Dengan cepat dia merampas piring yang aku pegang
"Kenapa kamu makan nasi gorengnya !" kesalnya
Aku tetap saja diam, tubuhku terasa kaku dan malu
Bingung mau jawab apa
Yang pasti aku mengaku salah didalam batinku
Saking kesalnya Ibu meletakkan piringnya dimeja tepat dihadapanku dengan kencang sampai suara piring dan meja beralas kaca beradu.
"Ini nasi goreng Ayahnya Liana, saya aja gak makan. Kamu malah sembarangan ambil !" bentaknya
Dalam bersamaan suara motor pak Yanto berhenti di depan rumah.
Demi Tuhan disitu aku merasa lega.
Ibu sedikit menoleh sumber suara kemudian dia gak melanjutkan amarahnya
"Habiskan itu !" ketusnya dengan pelan sambil menunjuk piring yang hampir dia banting
Pak Yanto masuk ke dalam tapi gak melihat Ibu karena dia sudah berpindah ke dapur
__ADS_1