GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
45. EMOSI YANG SALAH


__ADS_3

Didalam sana Ibu sibuk mencari-cari sesuatu yang ia mau, sampai-sampai gak peduli dengan beberapa perabot yang jatuh tersenggol olehnya.


Prang..prang..prang. Suasana gaduh terdengar jelas didalam


Beberapa saat kemudian Ibu kembali menemuiku yang tergeletak dilantai yang sudah kehabisan tenaga


Kemudian dengan keras Ibu kembali menjambak rambutku "Bangun ! Bangun ! Bangun !!!" tegasnya sambil mengangkat rambutku untuk bangkit berdiri


dalam bersamaan aku turut mengikuti perintahnya.


Dia menginginkan aku untuk berdiri secara paksa meskipun dia tahu kalau aku sudah gak berdaya


Setelah aku berdiri sedikit sempoyongan, dengan cepat dia menyeret tanganku dengan paksa


"Ikut ini ! Sini ! Sini !" seretnya


Tapi entah kenapa kaki aku gak mau mengikutinya sampai aku sempat jatuh beberapa kali tapi meski begitu Ibu tetap menyeretku.


Tanpa ada rasa iba kepadaku dia terus menarik paksa tanganku, menggenggam pergelangan tanganku begitu kencang. Rupanya Ibu sudah mati rasa terhadapku.


Sampailah kami diperjalanan tanah setapak ditumbuhi banyak rumput liar yang menjulang tinggi, aku kenal jalan ini. Ya, jalan menuju tempat pemancingan rahasia Pak Yanto.


Jalan setapak menuju pesawahan yang terbengkalai dibelakang rumah memang selalu sepi setiap harinya gak ada seorang pun yang berniat ke sana karena meyakini pasti banyak ular dan kebetulan cukup jauh dari pemukiman. Tapi Pak Yanto justru menjadikan tempat itu adalah favoritnya bersantai.


Semakin jauh terseret olehnya aku hanya bisa menangis pilu dan menahan kesakitan sepanjang jalan, aku hanya bisa pasrah karena memang gak akan ada satu pun yang bisa membantuku, Sepi, sunyi. Hanya ada suara semilir angin sore melambaikan daun-daun rumput yang seolah mengabaikanku


Karena aku sudah gak tahan dengan perlakuan Ibu akhirnya aku putuskan untuk mengemis iba kepadanya, ditengah perjalanan aku mulai mengadu kesakitan dan memohon belas kasihan kepada Ibu


"Ampun Bu, sakit. Ampun!" pintaku pilu sambil berderai air mata berharap dia tahu isi hatiku


Tapi Ibu gak menggubrisku, dia lebih tertarik untuk terus menyeret tanganku, rupanya dia gak peduli dengan perasaanku yang diperlakukan seperti seorang penyamun yang sedang dihakimi


Dibawah langit senja yang semakin jingga, matahari terlukis bulat menyala, angin yang semakin dingin. Mengungkapkan perasaan ini bagai remuk lalu hancur berkeping-keping seolah dihakimi sebuah nasib yang entah datang dari mana. Aku terus merintih kesakitan menangis tersendat-sendat dibungkus oleh ketakutan pikiran tentang ajal yang sebentar lagi menjemputku.


Tetapi Ibu masih saja terus memaksakan kehendaknya, menyeret tanganku tanpa belas kasih


Akhirnya sampailah kami disatu tempat yang tiba-tiba saja seolah membawaku ke dimensi masa lalu


Tempat yang sertamerta memutar memori dikepalaku, seolah mengembalikan aku ke dalam kisah manis yang sebenarnya sudah mati.


Ibu menyeretku ke arah sungai kecil tempat persantaian Pak Yanto yang menjadi favoritnya menangkap ikan. Rasa haru dan sesak dalam dada semakin kuat saat aku melihat ada sosok Pak Yanto duduk sisi sungai memunggungiku.


Lantas saja air mataku makin jatuh berhamburan


Sementara Ibu terus memaksaku untuk sampai pada keinginannya. Tapi aku hanya diam, mulut terkunci dan membiarkan Ibu melakukan apa saja yang dia mau sampa akhirnya Ibu kembali menampar pipiku lalu mendorongku ke arah pohon yang masih ada ayunan buatan Pak Yanto untukku.


Ibu memaksaku untuk menyandarkan punggungku ke badan pohon kemudian meraih tanganku ke belakang, meski begitu aku pasrah saja.


Dalam bersamaan ayunan bergerak pelan oleh angin seolah menyiratkan kenangan manis saat bersamanya, bahkan aku bisa melihat diriku sendiri disitu.

__ADS_1


Tapi memori manisku akhirnya sirna


"Kamu harus mati sore ini !" ucap Ibu dari balik pohon sambil mengikat tanganku kuat-kuat


Aku membiarkan diriku berdiri dengan pasrah karena aku sudah tahu apa yang Ibu inginkan dariku


Setelah puas mengikatku dengan caranya, kemudian dia menghadapkan wajahnya kepadaku lalu tersenyum sambil menunjuk wajahku


Dia sangat marah padaku "Kamu layak di sini ! Andainya sejak dulu kamu saya perlakukan begini mungkin gak ada satupun keluargaku yang mati karenamu !"


Mendengarnya begitu tapi kali ini air mataku sudah gak mengalir lagi mungkin sudah kering


Aku juga gak menjawab apa pun karena percuma saja Ibu gak akan bisa merasakannya.


Kemudian Ibu menepuk-nepuk pelan kepalaku sebanyak tiga kali "Baik-baik di sini ya, sampai nanti ajal menjemputmu !" ucapnya kemudian pergi begitu aja.


Sekarang


Aku sendirian di sini berdiri dengan tangan terikat kebelakang bersama batang pohon yang sedang dihinggapi rangrang, hasilnya hampir seluruh tanganku digigit oleh mereka.


Beberapa menit berlalu akhirnya matahari jingga mulai turun perlahan, langit mulai gelap, angin semakin dingin.


Semut yang kini menggerogoti hampir seluruh tubuhku sudah cukup melengkapi penderitaan ampai dititik ini.


Aku hanya bisa menunduk lemas menahan rasa sakit dan haus


Dari hadapanku terdengar seseorang berhenti tepat didepanku.


Dia gak berbicara apa-apa tapi tatapannya tajam entah apa yang dia pikirkan kepadaku.


Perlahan dia mendekat, tangan kanannya kuat menggenggam senjatanya


Melihatnya begitu tubuhku mulai gemetar seolah yakin kalau jiwaku akan selesai sore ini.


Akhirnya tatapan mata Liana mendekat, tatapan yang mendalam penuh arti. Beberapa saat saling bertatapan kemudian dia tersenyum kepadaku dan memutus ikatan yang menyakitiku.


Sambil dia juga mengibaskan rangrang yang sudah hampir menguasai tubuhku


Aku masih diam belum sanggup berkata apa-apa.


Kemudian dia memelukku dengan erat.


Airmatanya jatuh dibahuku


Begitupun aku


Kami menangis bersama dibawah langit yang semakin redup


Liana masih memelukku, dia tersendat-sendat saat bicara "Maafkan aku ya Dhira" bisiknya sampai serak

__ADS_1


Aku hanya mengangguk gak sanggup bersuara


Liana melepaskan pelukannya kemudian mengajakku pergi "Ayuk kita pulang" ajaknya


Tapi aku menggelengkan kepala tanpa berbicara, tapi dia paham maksudku


"Kamu takut sama Ibu ya ?" tanyanya


Aku tersenyum meneteskan airmata


Liana paham betul isi hatiku lalu mengajakku duduk sebentar di dekat ayunan. Meski hari sudah gelap tapi kami seolah gak peduli dengannya.


Aku tahu Liana berusaha menenangkan rasa traumaku sebelum kembali pulang


Tapi kali ini aku mulai bicara padanya


"Kenapa kamu mau menolongku ?" tanyaku


Liana tersenyum namun wajahnya pilu dan butiran airmatanya kembali jatuh


"Karena aku kasihan melihatmu"


Hatiku terenyuk mendengarnya


"Terimakasih" jawabku


Liana menyeka air matanya dengan jemarinya sambil masih tersendat-sendat


"Sekarang kita sudah kehilangan orang yang kita sayang. Sekarang juga aku sudah gak punya satu pun orang tua sementara kamu juga sudah lama kehilangan jiwa seorang Ibu. Kita sama, Dhira. Sama-sama kehilangan kasih sayang orang tua" ucapnya


Mendengarnya airmataku kembali jatuh. Bahkan aku gak bisa berkata apa-apa lagi.


Beberapa menit berlalu Liana kembali mengajak pulang "Sudah makin gelap dan banyak nyamuk. Lebih baik kita pulang saja" ajaknya lagi


Tapi aku masih trauma pada Ibu, aku takut untuk kembali ke rumah meskipun niat hati ingin sekali pulang.


Tapi Liana tetap menguatkan mentalku yang sudah jatuh "Gak usah takut, bagaimanapun dia itu Ibu mu" bujuknya


"Iya memang benar dia itu Ibuku tapi kamu gak merasakan rasanya disakiti oleh Ibu kandung sendiri" ucapku


Liana diam menatapku


Tapi aku membuang pandanganku ke arah jalan pulang yang sudah sangat gelap


Meski begitu Liana gak tersinggung atas ucapanku "Ya aku memang gak merasakan tapi aku melihatnya. Karena Ibu aku gak pernah melakukan itu kepadaku, jadi aku tahu kalau itu perbuatan yang salah" ucapnya


Liana masih menambahkan lagi "Kalau nanti kita pulang dan kamu berjumpa dengan Ibu, sebaiknya kamu menghindari perbuatannya. Harusnya kamu bisa pergi ke rumah sebelah untuk minta pertolongan" ucapnya lagi


"Sebenarnya aku bisa saja tapi aku sayang kepada Ibu" ucapku

__ADS_1


"Sejahat itu kamu masih sayang pada Ibu ?" tanyanya


"Kalau saja Ibumu masih hidup lalu dia memukulimu karena kesalahpahaman apakah kamu akan membencinya ?" tanyaku


__ADS_2