GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
Bab 5.


__ADS_3

“Bukan saya yang melakukannya!” Yumna berteriak kencang dengan mata yang memerah dan menatap tajam ke semua warga. Bersamaan dengan itu pula angin berembus kencang menerbangkan dedaunan kering.


Dahan-dahan pohon bergerak kencang tertiup oleh angin yang datang secara tiba-tiba. Suasana mendadak berubah mencekam dan hawa terasa semakin dingin menusuk ke tulang. Hening seketika. Suara yang tadi berteriak berkoar-koar hanya mampu diam terbungkam melihat tatapan Yumna yang membuat bulu kuduk merinding.


“Sudah, sudah! Lebih baik hubungi pak Lurah agar jenazah ini dapat segera diurus,” ucap Pak Udin memecah kesunyian.


Angin perlahan mereda bersamaan itu pula Yumna juga perlahan mulai tenang. Mereka terpaksa menuruti saran yang diberikan pak Udin dan memilih untuk tidak membahas ini dahulu. Pak Udin membagi warga menjadi beberapa kelompok untuk pergi ke rumah Pak Lurah. Untuk memberi laporan ke kantor polisi dan membersihkan sisa darah yang masih menggenangi teras rumah Yumna.


Hampir pukul tiga dini hari. Akhirnya masalah mereka selesai juga dan beberapa warga mulai membubarkan diri dari halaman rumah Yumna setelah jenazah dikirimkan ke rumah duka yang berada di desa sebelah.


“Abas dan Yumna, nanti siang kalian di minta ke kantor polisi untuk memberikan keterangan atas kejadian ini. Saya harap kalian bisa bekerja sama,” ucap Pak Lurah ketika warga sudah mulai sepi dan hanya tinggal Abas, Yumna, Wandi, Yayan dan Pak Udin.


“Kalian berempat jangan lupa datang ke pemakaman. Kejadian ini menjadi tanggung jawab kalian juga karena kalian yang bertugas berjaga di pos ronda saat kejadian ini terjadi.” Mereka berempat mengangguk lalu Pak Lurah berlalu meninggalkan mereka yang masih berdiri di depan rumah Yumna.


Abas menatap lekat ke arah Yumna. Lidahnya kelu saat ia ingin menanyakan tentang kejadian tadi ke pada perempuan itu. Setelah ia berpikir kembali, Abas mengurungkan niatnya untuk membahas itu sekarang dan dia akan mencari waktu yang tepat untuk mendapat penjelasan dari Yumna. Mereka semua berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing, kejadian malam ini terasa sangat melelahkan dan mereka butuh waktu istirahat sebelum hari esok menanti.


...***...


Suasana tempat pemakaman begitu ramai dipadati oleh orang-orang yang terkejut dengan kematian pencuri itu. Perihal kematiannya pun masih menyimpan tanda tanya besar. Beberapa warga yang berasal dari desa yang sama dengan Abas juga ada di sana. Mereka ikut menyaksikan pemakaman salah satu orang yang meresahkan masyarakat beberapa pekan ini.


Mata Abas memandang sekeliling sudut area pemakaman. Ia mencari sosok Yumna di tengah kerumunan warga lainnya. Barangkali saja perempuan itu ikut datang melayat. Setelah cukup lama menyapu setiap wajah yang berada di sana, akhirnya mata Abas terhenti saat melihat seorang perempuan berdiri di bawah sebatang pohon beringin yang rindang dalam jarak sekitar sepuluh meter dari posisinya.


“Yumna!” teriak Abas saat melihat Yumna berdiri dengan mengenakan baju serba hitam, lengkap dengan selendang yang menutupi kepalanya.

__ADS_1


Yumna berlari saat menyadari Abas berjalan menghampirinya. Dalam sekejap mata, Yumna lepas dari pandangan Abas. Entah ke mana perginya, dia hilang begitu saja ketika Abas tengah mengejarnya.


“Ya sudahlah,” gumam Abas lalu kembali ke pemakaman.


Pukul sebelas siang prosesi pemakaman berjalan dengan baik. Pak Udin, Yayan dan Wandi pamit lebih dulu ke kantor lurah menemui Pak Lurah untuk memberikan penjelasan atas kejadian tadi malam. Sedangkan Abas pergi ke kantor polisi untuk memberikan keterangan perihal yang sama.


Saat Abas tiba di kantor polisi, sudah ada Yumna yang menunggu di sana. Perempuan itu duduk di sebuah kursi panjang di depan ruangan investigasi sambil meremas-remas tangannya.


“Yumna!” sapa Abas dan dibalas senyuman oleh Yumna.


Abas duduk tepat di sebelah perempuan itu. Matanya lekat memandangi Yumna dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Beribu pertanyaan melintas di otaknya dan tidak sabar untuk dikeluarkan. Tapi Abas menahan diri, ini masih belum waktu yang tepat untuk dia membahas kejadian itu.


“Yumna, pas di pemakaman tadi kamu kenapa lari saat aku samperi?” tanya Abas teringat akan kejadian tadi pagi ketika di pemakaman.


Kening Yumna berkerut mendengar pertanyaan Abas. “Pemakaman? Aku tidak datang ke sana tadi, Mas.” Lagi-lagi Yumna menunjukkan raut wajah polos dan lugu yang membuat Abas semakin bingung.


Abas menarik nafas panjang, ia harus menunda lagi pertanyaannya dan harus fokus ke permasalahan ini terlebih dahulu.


...***...


Hari sore menjelang malam Abas tiba di rumahnya. Penyelidikan berjalan alot sehingga memakan waktu yang cukup lama untuk Abas menjawab semua pertanyaan yang tertuju kepadanya dan Yumna. Beruntungnya tidak ada barang bukti yang mengarah ke Abas dan Yumna sebagai pelaku, sehingga mereka dapat terbebas dari tuduhan sebagai tersangka.


Abas membersihkan diri lalu menunaikan Shalat Magrib. Sebagai seorang muslim, dia harus menunaikan kewajibannya untuk beribadah kepada Sang Pencipta meski sepadat dan sesibuk apa pun kegiatannya, sebagai rasa syukur atas nikmat dan karunia yang telah Tuhan limpahkan di dalam hidupnya. 

__ADS_1


Seusai Shalat Magrib, Abas langsung teringat akan Yumna. Ia segera membereskan sajadah lalu melangkah keluar rumah menuju kediaman Yumna.


Rumah Yumna terlihat sepi dan gelap, hanya lampu ruang tamu yang menyala redup. Ia berjalan mendekati daun pintu dan mengetuknya perlahan.


Tok tok tok!


Berkali-kali Abas mengetuk pintu, tetapi tidak ada jawaban dari tuan rumah. Ia duduk di sebuah kursi yang terdapat di teras rumah. Memilih menunggu Yumna di sana karena berpikir barangkali saja Yumna sedang berada di luar.


Baru beberapa menit Abas menunggu, ia mendengar sayup-sayup suara yang berasal dari dalam rumah. Ia memasang kembali telinganya untuk mendengar lebih jelas.


“Ah ... ah ....” Mata Abas terbelalak saat memastikan suara yang ia dengar adalah suara desahan seorang perempuan.


Abas berjalan menuju sisi barat rumah yang mengarah ke pintu kamar Yumna. Semakin dia mendekat suara itu semakin terdengar jelas. Jantung Abas berdegup kencang, dia tidak tahu harus berbuat apa. Dengan ragu-ragu, Abas mengintip melalui sebuah celah untuk melihat apa yang terjadi di dalam kamar tersebut.


“Astagfirullah!” ucap Abas pelan sambil mengelus dada, dia terkejut dengan apa yang dia lihat.


Di bawah cahaya remang-remang dari lampu ruang tamu yang masuk ke dalam kamar, Abas melihat Yumna terbaring di atas ranjang tanpa sehelai baju yang membalut tubuhnya. Ia tampak pasrah dan menikmati saat tubuhnya dijamah dan ditindih oleh sosok makhluk yang sangat mengerikan. Makhluk itu berbadan setengah ular dan sekujur tubuhnya berwarna hijau.


Desahan Yumna terdengar semakin keras. Ia seolah larut dalam hasrat yang diciptakan oleh makhluk itu. Namun, tiba-tiba saja pandangan mata Abas dan Yumna beradu. Dari celah yang sempit itu, Abas dapat melihat Yumna tersenyum menatap ke bola matanya yang membuat Abas kaget dan langsung berlari tunggang langgang.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ....


__ADS_2