
Ini adalah hari pertama aku mengikuti ujian kelulusan sekolah. Maka dari itu aku benar-benar menyiapkan mental dan fisik yang kuat untuk melewati hari ini dan untuk beberapa hari kedepan.
Seperti biasanya juga setiap hari aku selalu bangun jam lima pagi, meski masih gelap buta ditambah lagi dengan angin yang dingin menyengat kulit. Aku tetap semangat memasak demi Nenek lekas sembuh
Sebelum berangkat ke sekolah, seperti biasanya aku selalu sempatkan diri untuk menggantikan pakaian Nenek setelah itu dilanjut menyuapinya makan
"Nek, hari ini harus makan yang banyak ya" pintaku sambil menyuapinya
Nenek gak menjawab, Nenek hanya terus mengunyah makananya dengan sangat lambat
"Doakan aku ya, supaya nanti aku lulus dapat nilai terbaik dan dapat beasiswa" ucapku
Nenek mengangguk
"Iya, Nenek doakan. Semoga dapat nilai yang terbaik dan bisa dapat beasiswa. Amin" ucapnya
"Amin. Sekarang Nenek makan yang banyak ya" pintaku sambil terus menyuapinya
Tapi Nenek langsung menolak "Udah, Nenek udah kenyang" ucapnya sambil menjauhkan wajahnya dari sendok
"Tapi Nenek kan baru makan tiga sendok, loh" ucapku
"Nenek gak napsu makan" jawabnya
"Supaya Nenek bisa napsu makan, aku harus bagaimana, Nek ?" tanyaku
"Nenek gak tahu, tapi kadang-kadang Nenek mau makan banyak tapi lebih sering gak napsu makan" ucapnya lagi
"Coba sekarang Nenek paksakan saja ya, biar Nenek cepat sembuh. Karena Nenek kan gak minum obat selama ini, jadi pengganti obat hanya makan saja" paksaku
"Gak apa-apa, Nenek sudah cukup Nenek sudah kenyang. Lebih baik sekarang kamu bersiap-siap berangakat. Hati-hati dijalan ya" ucap Nenek
"Nanti Nenek gak sembuh-sembub loh, aku kasihan lihat Nenek begini" ucapku
"Nenek gak apa-apa, ini cuma sakit keseleo biasa nanti beberapa hari lagi juga akan sembuh jadi gak perlu khawatir" ucapnya
Meskipun Nenek berkata seperti itu, tapi aku tetap saja merasa gak aman dan gak tenang. Karena yang aku perhatikan kondisi Nenek semakin memprihatinkan.
Tapi kalau memang sikap seperti itu yang Nenek mau, aku hanya anak kecil yang gak tahu apa-apa jadinya gak bisa berbuat banyak untuk Nenek.
"Ya sudah kalau begitu, aku berangkat dulu ya" pamitku segera bergegas berangkat
Setelah mengunci Nenek dari luar, aku lanjutkan ke rumah Mira. Karena rasanya terasa berbeda kalau pergi ke sekolah gak bersama-sama
Sesampainya di depan warung Bu Nina, rupanya beberapa Ibu-ibu sedang antri membeli
Mereka memandangku liar dari atas kepala sampai ujung sepatuku. Mereka memang gak berbicara sepatah kata pun tapi tatapan mata mereka seolah mengatakan sesuatu yang buruk padaku.
Ibu Nina yang mengetahui kedatanganku lalu dengan cepat memanggil anaknya dari dalam warung sambil melayani pelanggannya
"Miraaa !" teriaknya
Tapi Mira belum juga keluar, hanya suara sahutan yang terdengar dari dalam
__ADS_1
"Iya, Bu !"
"Kamu di mana sih ?" teriak Bu Nina lagi
"Lagi di dapur isi botol air minum" sahut Mira
Saat menunggu Mira yang sedang mengisi botol air minumnya seorang Ibu yang berdirinya lebih dekat dengan ku, malah mencari tahu Nenek
"Kok Nenekmu gak pernah kelihatan lagi sih. Kemana dia ?" tanyanya
"Pergi' jawabku singkat
"Pergi ke mana ?" tanyanya
Untungnya dalam bersamaan Mira datang "Ayok, Dhira kita berangkat" ajaknya
Langsung aja aku hanya pamit pada Bu Nina lalu pergi begitu saja dengan sengaja mengabaikan pertanyaa Ibu itu
Disepanjang perjalanan menuju sekolah, aku dan Mira berjalan sambil sesekali melompat-lompat seolah kaki kami masih sangat ringan
"Mira, hari ini kamu sudah siapa ikut ujian ?" tanyaku
"Sudah. Kamu sendiri gimana ?" ucapnya
"Aku sudah sangat siap, bahkan aku gak sabar untuk melewati hari ini dan untuk beberapa hari kedepan" ucapku sangat optimis
Mira menepuk tangannya "Hore, pasti semalaman kemari kamu sudah menguras tenaga dan fikiranmu ya" ucapnya
Aku jadi tersipu mendengarnya "Aku hanya belajar pada saat dibimbing Ibumu saja" ucapku
"Enggak kok, Ibumu sangat sabar"
"Oh begitu ya,:
Lembaran soal ujian matematika dibagikan kepada kami satu per satu.
Setelah aku menerimanya, aku merasa ini adalah buah dari kesungguhanku dalam belajar. Aku yakin sekali kalau aku bisa mengerjakannya.
"Baiklah anak-anak, silakan kalian kerjakan dengan tertib. Bagi yang sudah selesai boleh langsung dikumpulkan diatas meja saya. Lalu lekas meninggalkan ruangan" ucap Bu Yuni
"Iya, bu!" jawab kami serempak
Dengan mudah aku isi beberapa pertanyaan yang aku sangat yakin kalau jawaban aku pasti benar. Meskipun memang ada beberapa pertanyaan yang agak membingungkanku, seperti soal cerita.
Meskipun aku rasa soal ujian ini cukup mudah tapi rupanya aku cukup lama mengerjakannya dibanding beberapa temanku yang lainnya.
Beberapa sudah selesai lalu meninggalkan ruangan.
Tapi gak dengan Mira, dia juga masih belum selesai juga
Akhirnya batas waktu sudah mau habis dan untungnya aku sudah selesai mengerjakannya.
Satu per satu dari kami mengumpulkan kertas jawaban diatas meja Bu Yuni lalu segera meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Mira menghampiriku setelah dilorong kelas
"Tadi waktu kamu isi soalnya menurut kamu mudah atau gak ?" tanyanya
"Sebenarnya mudah, tapi waktu aku kerjakan kenapa rasanya sulit ya" ucapku
Mira tertawa "Hahaha. Iya, sama"
"Iya, padahal waktu belajar bersama, saat itu juga aku merasa menghitungnya mudah sekali. Tapi tadi aku merasa berat" jelasku lagi
Mendengarnya Mira semakin tertawa "Hahahah. iya aku juga sama"
"Kalau begini caranya, bisa-bisa aku gak akan dapat beasiswa" ucapku, pesimis
Mira bingung tapi dia jadi harus menebaknya
"Kamu mau sekolah di SMP yang dekat Puskesmas ya ?" ucapnya
"Iya" anggukku
Mira mengangguk "Oh, jadi kamu berusaha giat belajar karena mengejar beasiswanya ?"
"Iya,memangnya kamu gak mau sekolah di situ ?" tanyaku
"Sepertinya sih, enggak" jawabnya
"Kenapa, bukannya itu sekolah yang paling dekat ya ?" tanyaku
"Iya, tapi sepertinya Ayah aku punya rencana lain. Dia mau mengajak aku pindah ke Jakarta" jawabnya
"Jadi, kamu akan sekolah di Jakarta ?"
"Iya, karena teman ayah sudah mengajaknya kerja di sana. Katanya mau jadi buruh pabrik. Tapi kata Ayah tunggu sampai aku lulus SD dulu baru bisa pindah ke sana" jelasnya
"Buruh pabrik itu apa sih ?" tanyaku
"Aku gak tahu, karena aku hanya dengar begitu saja" jawabnya
"Mmm, berarti nanti kita gak akan pernah ketemu lagi dong ya" ucapku
"Iya sih, tapi mau bagaimana lagi" ucapnya
"Tenang saja, Dhira. Kalau nanti kita memang ditakdirkan untuk berpisah, aku akan tetap ingat saat-saat kita kecil sekarang" ucapnya
"Iya, apa kamu yakin kita akan bertemu lagi ?" tanyaku
"Kalau kamu ke Jakarta kemungkinan kita pasti akan bertemu" jawabnya
"Tapi kan kata teman yang lainnya yang sudah pernah ke Jakarta, dia bilang Jakarta itu luas" ucapku
"Iya juga sih" ucap Mira mengangguk pelan
"Semoga aja nanti kita bisa berteman lagi seperti ini" ucapku
__ADS_1
Mira tersenyum "Semoga aja"