GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
48. PENYESUAIAN


__ADS_3

Di dalam taksi online aku dan dia gak banyak bicara meski kami duduk berdampingan di bangku tengah, Bibi Ros hanya diam saja dan pandangannya terus ke depan jalan. Entah kenapa Itu yang membuat aku cukup gugup dan mulai gak nyaman berada disampingnya


Setelah hampir satu jam didalam perjalanan akhirnya supir menghentikan kemudinya tepat di depan rumah bercat hijau mint yang halamannya dipenuhi dengan banyak tumbuhan hias bahkan nyaris menutupi teras rumahnya


Rumah Bibi Ros tampak asri meski pun bukan rumah yang berlantai dua atau bukan rumah yang sangat megah tapi sudah cukup mengesankan kenyamanan ketika pertama kali melihatnya seolah-olah menyingkitkan rasa gugupku oleh pemandangan hijau yang menenangkan otakku


Setelah taksi online pergi dan menghilang diujung blok komplek perumahan, dengan ramah Bibi Ros mengajakku masuk bersamanya "Ayok masuk" ajaknya


Aku yang sejak tadi ingin beristirahat langsung saja mengikutinya dari balik punggungnya.


Bibi Ros langsung mengajakku ke kamar yang rupanya sudah dia persiapkan untukku


Sambil membukakan pintu kamar untukku dia tersenyum "Karena sudah mau malam lebih baik kamu mandi dulu sehabis itu kamu makan atau kamu mau makan dulu setelah itu makan, terserah kamu aja. Yang penting setelah itu kamu istirahat" ucapnya


Aku mengangguk paham sambil tersenyum "Iya Bi"


"Ya sudah kalau gitu Bibi mau ke depan dulu ya, mau duduk-duduk santai" ucapnya


"Iya Bi" jawabku


Aku menutup pintu kemudian duduk diranjang yang empuk yang baru kali ini aku rasakan.


Ruang kamar yang sebenarnya sempit hanya ada ranjang, meja belajar dan satu lemari kecil tapi ada kamar mandi di dalam.


Aku meletakkan tas yang aku bawa diatas ranjang kemudian merebahkan tubuhku sebentar sembari memandang jendela yang tertutup rapat sengaja gak dipasang gorden. Jendelanya tepat diatas meja belajar. Pandanganku terus menerus kearahnya gak sadar kelopak kedua mataku mulai berat dan tertidur lelap


Beberapa hari tinggal di rumah Bibi Ros belum ada permasalahan yang aku rasakan. Semuanya baik-baik saja begitu pun Om Dudu, beliau sangat baik sekali. Seorang pria dewasa yang sangat kebapak an.


Setelah semua administrasi pendaftaran Sekolah Menengah Atas lengkap di sekolahan negeri yang gedungnya bukan golongan elit akhirnya ini hari kedua aku datang ke sekolah tapi belum mengikuti pelajaran masih harus melewati tahap awal ospek selama tiga hari.


Pagi hari kira-kira jam sepuluh ketika cahaya matahari menyeringai mulai menyengat kulit kami. Semua siswa dan siswi baru berkumpul berbaris dengan sikap istirahat ditempat dengan rapih dilapangan luas halaman sekolah.


Dengan atribut lengkap yang sudah dicatat dihari pertama name tag besar yang dikalungkan dileher, memakai ikat rambut dari pita satin dan gelang tangan dari tali plastik. Bukan cuma aku yang memakainya tapi semua calon murid baru juga berdandan seaneh itu.


Aku berbaris dibangian tengah diantara ratusan calon siswa siswi baru lainnya mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan kepala sekolah yang memulai pidatonya di podium yang teduh


"Kalau mau jadi siswa siswi di sekolah ini harus pintar dalam semua pelajaran, jadi saya harapkan untuk kalian supaya mengedepankan pelajaran. Itu sangat penting !" ucapnya dengan lantang


Semua yang mendengarkannya diam gak bergeming.


Kepala sekolah yang bertubuh tinggi besar dan masih gagah itu terus saja berbicara padahal sudah hampir satu jam kami berdiri, padahal ceramahnya hanya itu saja yang dia ulang-ulang hanya saja kalimatnya yang dia ubah tapi intinya sama.


Aku sudah mulai risih, betis aku mulai pegal begitupun yang lainnya bahkan sampai ada yang terus menerus mengangkat kakinya bergantian, dari kiri lalu kanan. Ada juga yang terus mengelus kulit tangannya karena saking disengat terik matahari.


Tapi Meskipun banyak yang memberi kode seperti itu, Pak Kombo tetap saja bicara


Sampai akhirnya dia menutup ceramahnya


"Baiklah anak-anakku sekalian, ospek dimulai hari ini. kelompoknya akan diinformasikan oleh kakak senior. Terimakasih" tutupnya lalu melangkah mundur dari upacara penyambutan kami


Setelah upacara bubar kami sudah berada di dalam kelas masing-masing. Di dalam kelas ada empat puluh siswa aku duduk paling ujung tembok kelas dan temanku duduk dipinggir. Kami masih saling segan belum ada obrolan apa-apa


Sementara kakak kelas sudah sejak tadi ada dihadapan kami.


Mereka ada empat orang. Tiga orang laki-laki dan satu orang perempuan

__ADS_1


Dan mereka mulai memperkenalkan diri dimulai dari kakak senior yang sepertinya dituakan oleh mereka. Tubuhnya tinggi kurus ada kumis tipisnya


Suaranya serak ngebas dan jakunnya nampak terlihat menonjol


"Halo selamat siang adik-adikku!" sapanya


Tapi semuanya gak balas menjawab, malah diam saja begitupun aku


Rupanya dia tersinggung


"Selamat siang adik-adik !" ucapnya kembali


Tapi semua tetap diam malah yang kedua ini kami saling menoleh, aku juga gak paham kenapa begitu.


Tapi karena kedua kalinya masih gak ada yang menjawab akhirnya dia tetap memperkenalkan dirinya


"Nama saya kak Rido. Kalian bisa memanggil saya Rido, saya di sini ketua Osis. Selamat datang untuk kalian semoga betah belajar di sini" ucapnya sembari tersenyum


Tapi kami tetap diam saja.


Kemudian dilanjut perkenalan oleh kak Seno kak Ruslan dan terakhir kak Yanti.


Dia perempuan yang berparas oriental yang memperkenalkan dirinya tanpa senyum sedikitpun, Raut wajahnya datar dan suaranya pelan


"Siang semua !" sapanya


Tapi kali ini kami menyahut sapaan


"Siang kak !"


Mendengar kami serentak membalas sapaannya, kak Yanti justru tersenyum merekah


Kami pun serempak mengeluarkan buku tulis untuk mencatat tugas dari papan tulis putih yang sudah kak Yanti tulisakan


Tapi teman sebangku aku justru dipanggil oleh kak Ruslan yang sekarang raut wajahnya berubah gak seramah saat perkenalan, wajahnya garang seolah menegaskan kalau dia bisa menguasai yuniornya


Dia gadis yang berkulit putih halus, berambut hitam berkilau, tinggi dan langsing. Parasnya cantik dan terlihat pendiam.


"Hei, kamu yang duduk dipojok sekali yang paling pinggir !" ucapnya


Sontak saja semua mata tertuju pada wajahnya. Dia pun terlihat gugup hanya bisa diam gak bergeming sembari menoleh ke sekeliling kelas


"Coba kamu berdiri !" perintahnya


Tapi teman sebangku ku ini enggan berdiri karena dia gugup dan malu kepada banyaknya pasang mata yang gak berhenti menyorotnya


"Buruan berdiri !" tegasnya, kali ini dengan nada yang keras


Akhirnya setelah beberapa saat dia menahan badannya, dia berdiri juga ditempat. Karena dia sudah berdiri otomatis nama yang dia tulis di karton besar yang dikalungkannya terpampang dengan jelas


Kak Ruslan malah menahan tawa geli setelah membaca nama yang menutupi dadanya


"Oh, jadi nama kamu Rinai ya, kayak nama kompor ya ?" ucapnya sembari tersenyum menyindir


Mendengar kak Ruslan berkata begitu akhirnya gelak tawa teman-temannya mengisi ruang kelas yang hanya mereka yang merasa kalau itu hal yang lucu

__ADS_1


"Hahaha"


Kak Ruslan mulai mengajak Rinai "Sini kamu, sini !" panggilnya mengajak Rinai ke depan


Tapi karena Rinai sudah sakit hati karena sikap mereka makanya dia makin enggan menurutinya tetapi tetap berdiri kaku menatap para senior


Meskipun begitu kakak senior makin usil dan mulai bertingkah semaunya


Malahan Kak Seno membisikkan ke Kak Ruslan


"Paksa maju aja, suruh nyanyi dangdut joget-joget. Kalau gak menuruti perintah kasih nilai yang jelek-jelek aja" ucapnya, dia memang seperti hanya berbicara ditelinga kak Ruslan tapi suaranya masih terdengar oleh kami


Itu juga yang membuat Rinai semakin gak nyaman dan kembali duduk


Suasana kelas makin hening, semua mata masih tertuju pada Rinai.


Melihat Rinak kembali duduk, kak Ruslan komplain "Siapa suruh kamu duduk !" tegurnya


"Berdiri !" tegasnya


Tapi Rinai gak menggubrisnya


Rinai malah diam saja, terlihat jelas ada wajah kekesalan yang membuat matanya mulai merah berkaca-kaca


Tapi sialnya, kak Ruslan memanggilku juga


"Kamu temennya, berdiri !" tunjuknya padaku


Disinilah aku merasakan apa yang dirasakan Rinai. Pelan-pelan aku berdiri menghadap mereka.


Semua pasang mata kini menyorotiku dan ini membuat aku gak tahu harus apa.


"Coba perkenalkan nama kamu !" perintahnya


Jujur saja, aku gak berani berbicara didepan banyak orang sekalipun hanya perkenalan saja. Tapi akhirnya aku menurutinya juga


"Nama saya Andhira" ucapku singkat


"Ya saya tahu, saya kan bisa baca nama yang kamu kalungin. Memangnya kamu gak punya data pribadi yang bisa dibagikan ?" ucapnya


Aku menggelengkan kepala saja tanpa bersuara


Kak Ruslan justru merasa tertantang "Wuih, sombong sekali kamu. Maju sini !" paksanya


Karena aku gak mau maju akhirnya aku mengikuti cara Rinai, duduk kembali.


Tapi rupanya sikap aku membuat dirinya makin merasa ditantang. Akhirnya dengan langkahnya yang dia buat gagah menghampiri kami


Setelah sampai dihadapan kami, dia berbicara sangat keras "Maju kalian !" ucapnya


Tapi kami tetap gak mau meresponnya, menatap wajahnya pun kami enggan


"Coba Yanti, sini. Tarik nih anak ke depan !" ucapnya kepada temannya yang sejak tadi sudah selesai menulis


Kak Yanti menurutinya lantas cepat menghampiri aku dan Rina. Dia terlebih dulu menarik paksa tangan Rina. Tapi Rinai menahannya

__ADS_1


Dengan sikap Rinai yang begitu kak Yanti jadi ikut tersinggung "Kalian ini gak bisa diatur ya ! Baru mau mulai jadi siswi disini sudah susah dikasih tahu !" bentaknya


Tapi aku dan Rinai masabodo dengan ucapannya


__ADS_2