
Sebenarnya pagi ini berjalan seperti pagi-pagi sebelumya, sarapan bersama mereka disatu meja dengan hidangan yang dimasak oleh Bibi Ros. Tapi entah kenapa pagi ini terasa lain.
Seakan ada yang menggantung dibenakku
Pagi ini sangat terasa sekali Bibi Ros bersikap gak seperti biasanya yang sebelumnya selalu ceria dihadapanku terlebih kepada suaminya tapi kali ini dia bersikap begitu dingin dan diam seribu bahasa bahkan untuk menatapku saja dia seperti gak sudi. Seolah aku gak ada didepan matanya
Sampai pada akhirnya setelah selesai sarapan pun Bibi Ros seakan gak menggubris keberadaanku, dia hanya diam saja sampai menyelesaikan makannya
Kami masih duduk dimeja makan, nasi goreng yang Bibi Ros masak sudah kami habiskan. Biasanya piring sehabis sarapan memang Bibi Ros yang mencucinya namun jika makan sehabis malam aku yang gantian mencuci piring.
Dengan adanya sikap dingin Bibi Ros yang sangat terasa kaku bagiku, akhirnya dengan segan hati aku menawarkan diri untuk membenahi piring yang masih diatas meja
"Pagi ini aku aja yang cuci piring" ucapku
Kemudian aku mulai berdiri sembari mengumpulkan piring-piring kotor diatas meja.
Tapi Om Dudu melarangnya "Gak usah Dhira, kamu langsung berangkat sekolah saja" ucapnya
Aku menoleh wajah Om Dudu kemudian melirik sebentar wajah Bibi Ros yang terus menekuk wajahnya.
Tapi aku tetap bersikeras mau mencucinya
"Gak apa-apa Om, aku bisa cuci piringnya agak cepat jadi gak akan terlambat ke sekolah" ucapku
Tapi Om Dudu menggelengkan kepalanya "Jangan, kamu lanjut berangkat ke sekolah saja" ucapnya
Akhirnya aku menuruti perintah Om Dudu "Iya Om" ucapku
Om Dudu tersenyum kecil "Hati-hati di jalan ya, jangan melamun" pesannya
Aku mengangguk "Iya Om" ucapku
Akhirnya aku berpamitan kepada mereka tapi cuma Om Dudu yang mau menjawab.
Sesampainya di sekolah aku merasakan kemelut hati yang gak tau harus aku redakan dengan apa. Di dalam kelas yang terus saja ramai dengan obrolan teman-teman kelasku membuatku semakin kalut.
Bagaimana enggak, riuh suara mereka lebih nyaring daripada suara Bu Guru yang sedang menjelaskan materi pelajaran. Tapi mirisnya Bu Guru gak sampai berani menegur anak-anak brutal macam mereka.
Sampai-sampai suara yang diucapkan Bu Guru justru tenggelam dalam suara obrolan mereka yang bersatu padu dengan obrolan yang berbeda-beda.
__ADS_1
Kebetulan ini hari jumat, hari yang paling singkat dalam tatap muka. Kami pulang jam sebelas siang karena akan ada acara peribadahan masing-masing agama. Karena di sekolah ini cenderung lebih banyak Kristen maka acara ibadahnya ada Guru khusus. Tetapi bukan berarti gak ada yang beragama Budha, ada tapi cuma beberapa orang. Dan kebetulan juga di sekolah ini hanya ada tiga agama diantara siswa-siswi.
Setelah besi bel pulang sudah dipukul berkali-kali suasana kelas makin sepi tapi seperti biasanya genk Nasya masih ditempat sedang berdandan bersama. Begitulah prilaku mereka sebelum berangkat pulang dari gedung sekolah ini.
Tapi aku justru malah diam saja dikursi yang kali ini aku rasa sangat nyaman. Aku melamun dan agak ngantuk. Pikiranku kosong tapi batinku terasa sakit.
Dikepalaku hanya ada suara-suara obrolan mereka, sesekali juga mereka tertawa terbahak-bahak sampai menggelegar kencang.
Tapi rupanya mereka sedang membicarakanku
"Liat deh si tutul lagi ngelamun. Hahaha" ucap Nasya kepada dua temannya.
Sangat jelas terdengar ditelingaku
Tapi aku diam saja, mencoba menganggap kalau itu hal yang biasa aku terima
Tapi Nasya masih saja mengajak teman-temannya untuk membicarakanku
"Dia itu gak punya temen kan ya ?" ucapnya lagi
Seorang temannya menyahut "Kayaknya sih ada deh, temannya anak kelas lain tapi gak tahu deg dia beneran berteman atau cuma teman asik-asik aja. Haha" jelasnya
Nasya menepis ucapan kawannya "Ah, mana ada yang mau berteman sama dia. Palingan itu cuma teman yang gak sampai ngajak nongkrong bareng lah. Malu kali kalau ngajak dia jalan-jalan. Hahaha"
Sebenarnya aku sudah mencoba untuk bersabar mendengarkan sindiran mereka namun semakin aku biarkan ternyata rasa hati semakin sakit apa lagi ditambah dengan sikap Bibi Ros yang membuat aku semakin gak sanggup melawan emosi.
Aku bingung lebih memilih marah kepada mereka atau menangisi nasib tapi yang pasti saat ini aku masih diam saja sampai akhirnya mereka pergi meninggalkan aku di dalam kelas sendirian
Belum ada semenit akhirnya aku juga memutuskan untuk keluar kelas karena rasanya bosan juga kalau di kelas seorang diri saja.
Saat aku mulai melangkahkan kaki keluar pintu, aku berpapasan dengan serombongan anak laki-laki yang juga teman sekelasku yang juga bergegas masuk. Mereka yang berjumlah enam orang adalah biang rusuh di dalam kelas.
Tapi dari awal masuk sekolah sampai detik ini mereka gak pernah mengomentari fisik aku dengan komentar yang buruk.
Tapi karena aku gak akrab kepada mereka maka aku mengabaikan mereka dan aku terus melanjutkan urusanku.
Aku masih dilorong sekolah melangkah pelan-pelan dengan harapan semoga Bibi Ros sudah bersikap seperti semula.
Entah kenapa aku merasa kalau hari ini adalah hari yang membuatku sangat lemah dan gak berdaya.
__ADS_1
Langkah kakiku pun semakin lambat sampai mendekati gerbang sekolah.
Dalam bersamaan aku berpapasan dengan Nasya yang kali ini dia berlari sangat cepat masuk ke dalam gedung sekolah.
Derap kakinya yang berjalan cepat-cepat terdengar nyaring masuk ke dalam kelas
Tapi aku gak peduli dengan sikapnya yang seperti mengejar sesuatu yang penting.
Justru yang ada dibenakku malah gak berani untuk pulang, aku takut Bibi Ros semakin marah kepadaku.
Akhirnya aku putuskan untuk menenangkan diri sekali lagi dibawah pohon rindang dengan tiupan angin yang terus mengibas rambutku
Baru saja duduk, aku kembali melihat Nasya berlari cepat-cepat tapi kali ini raut wajahnya semakin panik dan marah.
Dia menghampiriku kemudian memarahiku dengan nada keras
"Mana Hape gua !" pintanya
Aku yang gak tahu apa-apa hanya menatapnya kebingungan. Tapi Nasya masih menuduhku
"Jangan sok polos deh lu ! Mana hape gua ! Baru aja ketinggalan beberapa detik doang udah langsung lu ambil !" tuduhnya lagi
Akhirnya aku bergeming "Hape yang mana ya ?" tanyaku
"Jangan berlagak gak tahu apa-apa deh lu !" bentaknya
Aku menggelengkan kepala karena saking bingungnya akhirnya aku berdiri "Aku gak ambil hape kamu. Aku gak tahu !" ucapku
Dalam bersamaan rupanya ada Mira yang dengan cepat menghampiri kami. Dia juga berusaha melerai kemarahan Nasya
"Berhenti !" ucapnya
Sejenak aku dan Nasya diam menoleh Mira. Tapi tetap saja Nasya gak mau terima kalau hapenya hilang dan dia tetap menuduhku kalau aku lah yang mencurinya
"Heh, dia ini nyuri hape gua. Paham !" ucapnya kepada Mira
Sontak saja Mira menatapku dengan tajam "Kamu nyuri hape dia, Dhira ?" tanyanya masih setengah gak yakin
Aku menggelengkan kepala "Enggak" ucapku
__ADS_1
Tapi semakin aku terus mengelak, Nasya semakin anarkis. Dia berusaha merebut tasku.
"Sini tas lu, sini !" bentaknya