
Pagi hari ini sinar matahari begitu cepat panas padahal jarum jam tanganku menunjukkan angka jam tujuh lebih lima menit, langit kali ini tampak cerah seolah menyambut musim panas yang akhir-akhir ini dikeluhkan beberapa orang. Baru saja aku sampai di depan gerbang sekolah yang sudah berkarat dan kerpos, gerbang yang gak pernah dikunci dan gak ada pengawas piket atau satpam yang menjaga pintu gerbang, semua bebas masuk.
Tepat dihadapan gerbang banyak pedagang jajanan dengan menggunakan gerobak dorong menunggu pembeli
Niatnya aku ingin cepat-cepat masuk ke dalam kelas karena kelelahan berjalan kaki dari rumah Bibi Ros. Jadi, rumah Bibi Ros berjarak seratus meter dari sekolah ini, gak begitu jauh sebenarnya hanya saja kaki aku yang agak malas kalau berjalan.
Tapi rupanya dipagi yang damai disorot oleh matahari yang tanpa malu membusungkan cahanya ke bumi, langkahku terhenti diantara gerobak-gerobak jajanan yang setiap hari mangkal didepan sekolah.
Setiap pagi aku selalu beli telur gulung sebanyak lima batang tapi kali ini aku berniat membeli martabak mini saja.
Sebenarnya aku sudah sarapan nasi goreng buatan Bibi Ros tapi aku hanya tergiur untuk membelinya yang sejak kemarin sudah aku rencanakan
Disekolah berleter U yang sudah ada dijaman pemerintahan Presiden soeharto ini masih berbentuk seperti itu gedungnya usut punya usut jauh sebelum aku sekolah di sini, gedung sekolah yang terbilang ketinggalan jaman ini rencananya akan direnovasi agar lebih megah lagi namun menurut para saksi sampai hari ini belum juga ada realisasinya.
Jam tujuh begini sekolah memang masih masih sepi, belum banyak siswa yang datang tapi pedagang jajanan gerobak selalu ramai. Di halaman luar sekolah ini ada lima gerobak yang selalu siap melayani pembeli. Gerobak siomay, gerobak es kelapa, gerobak telur gulung, gerobak martabak mini dan gerobak cilok.
Lantas aku mendekat ke penjual martabak mini yang sejak tadi sibuk mencetak martabak mini diatas wajan cetakan
"Bang beli martabaknya dua ya " pintaku kepada penjualnya yang sekarangbmerapikan hasil martabaknya yang sudah matang. Siap saji.
"Oke, oke" ucapnya sembari membuatkannya untukku
Kemudian dia ambil dua lalu dia bungkus dengan kertas nasi yang sengaja dia gunting kotak kecil hanya untuk membungkus marbatak bagian bawahnya saja.
Gak sampai menunggu lama akhirnya martabak yang dia bungkus diberikan krpadaku
"Nih, Neng!" sodornya kepadaku
Aku meraihnya dengan hati-hati "Makasih" ucapku sembari membayarnya dengan uang lima ribu dua lembar.
Penjualnya menerima "Makasih ya" ucapnya ramah
Aku tersenyum kemudian membalikkan badanku sembari masih memegang martabak yang hanya dibungkus setengah dengan kertas nasi yang digunting kotak kecil.
Aku memang melangkah pelan tapi tanpa memperhatikan apa yang ada dihadapanku, yang aku perhatikan hanya martabak ditanganku yang siap aku santap sambil berjalan ke dalam kelas
__ADS_1
Tapi,
Brukkkk !
Martabakku jatuh semua, bercampur dengan debu dan tanah
Aku hanya bisa diam dan pasrah melihatnya yang kini gak mungkin bisa aku pungut kembali
Nasya lah, penyebabnya
Entah dia sengaja atau memang gak memperhatikan jalannya sampai menabrak tanganku
Sebenarnya Nasya memang meminta maaf kepadaku atas keteledorannya saat berjalan sampai makananku terjatuh tapi nada bicaranya gak membuktikan kalau dia tulus mengakui kesalahan, malahan raut wajahnya seperti dia buat-buat gurauan
"Ups, maaf yeaa... Gua gak lihat tadi. Kirain gak ada yang lewat. Sorry banget. Sumpah" ucapnya sambil dia melangkah masuk melewati gerbang tanpa melihat wajahnya, ia hanya menoleh sebentar tapi gak tahu melihat siapa
Melihat sikapnya yang seperti itu aku yang sebelumnya respek kepadanya akhirnya kini semakin yakin kalau dia bakal jadi musuh yang akan menggangguku dikemudian hari berikutnya. Tapi entah kenapa aku merasa takut kepadanya sampai-sampai aku gak mau menambah masalah lagi. Biar makananku saja yang jatuh ini jadi terkahir kalinya aku berhadapan dengannya. Aku iklaskan saja.
Pelajaran pertama rupanya Guru masih saja gak masuk, pelajaran kedua pun begitu adanya, guru juga gak masuk kelas untuk mengajar. Sempat aku berpikir. Kini pelajaran ke tiga pendidikan Agama rupanya Gurunya hadir.
Seorang Ibu gemuk paruh baya berhijab syar'i masuk kedalam kelas sembari membawa buku pelajarannya. Raut wajahnya seolah penuh dengan keseriusan yang gak bisa diajak bercanda dengan candaan apa pun
Ibu gemuk berpipi tembem itu kemudian langsung memperkenalkan dirinya ditengah-tengah kami. Garis senyumannya gak terlihat karena sepertinya dia memang bukan golongan seorang Ibu yang ramah
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh !" ucapnya membuka perkenalan dengan lantang
Kelas yang sejak tadi mendadak sunyi akhirnya kembali bergemuruh
Semua serempak membalas salamnya
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh!"
Karena semua kompak menjawab salam Ibu Itu akhirnya garis senyum simpul mulai terlihat diwajahnya dan kembali dia mulai memperkenalkan namanya
"Nama saya Ibu Khodizah, panggil saja Bu Dizah. Saya di sini sebagai Guru agama Islam yang untuk mendidik kalian semua agar kalian menjadi manusia berakhlak dan lebih beradab" ucapnya dengan tegas
__ADS_1
Suasana kelas kembali senyap dan semua diam terpaku mendengarkan ucapan Bu Dizah
"Oh iya, bagi yang non muslim mohon untuk keluar kelas saja karena ini adalah pelajaran agama Islam jadi lebih baik keluar dari kelas saja" ucapnya dengan lantang sambil memperhatikan setiap bangku
Mendengarnya begitu akhirnya aku berdiri dan rupanya Rinai pun ikut berdiri.
Rupanya hanya ada dua orang yang non muslim di kelas ini.
"Oke kalian boleh keluar, nanti juga kalian akan ada guru agama sendiri biasanya dikumpul satu sekolah menjadi satu kelas dan biasanya dilaksanakan setiap hari jumat jam setengah dua belas siang" ucapnya sembari menginfokan kepada kami
Aku dan Rinai mengangguk paham kemudian mulai melangkah pergi meninggalkan kelas yang masih senyap
Diluar kelas yang cukup terik oleh matahari , aku dan Rinai bingung mau melakukan apa dan pada akhirnya kami duduk bersama di teras depan kelas kami sembari menikmati angin yang berhembus pelan dengan disuguhi pemandangan pintu-pintu kelas lain yang tertutup disebrang kelas kami
Rinai mendehem sekali
"Ehem !"
Tapi aku hanya meliriknya meskipun gak bicara apa-apa kepadanya
"Dhira" panggilnya pelan
Mendengarnya aku langsung menolehnya "Iya" jawabku cepat
"Emang agama kamu apa ?" tanyanya
"Oh, aku Kristen" jawabku cepat
Rinai mengangguk "Oh, iya iya" ucapnya
"Emang kamu agamanya apa ?" tanyaku jadi malah menanyakan hal yang sebenarnya gak perlu ditanyakan juga
Tapi di sini kami gak ada ketersinggungan satu sama lain sama sekali
"Budha" jawabnya
__ADS_1
"Ooh, gitu. Kalau Budha nanti pelajaran agamanya hari apa ?" tanyaku
Rinai menggelengkan kepalanya "Gak tahu" jawabnya