
Kabar kematian Joko gencar diperbincangkan oleh penduduk kampung. Mereka juga ikut mengait-ngaitkan dengan dugaan bahwa Yumna adalah perempuan Bahu Laweyan. Mengingat ini sudah ketiga kalinya Yumna menjadi janda akibat ditinggal mati oleh suaminya secara tragis. Begitu pula dengan Yayan. Cerita yang ia dengar dari Abas tentang Yumna cukup mengganggu pikirannya.
Sepanjang perjalanan menuju pos ronda, Abas dan Yayan hanya saling diam dan sibuk bergelut dengan pikiran mereka masing-masing. Jika ternyata benar bahwa Yumna adalah perempuan Bahu Laweyan artinya akan ada laki-laki lain yang akan menjadi korban Yumna selanjutnya.
“Kalian berdua kenapa diam begitu? Tumben,” ucap Pak Udin saat melihat Abas dan Yayan tiba di pos ronda dengan wajah tertekuk tanpa bersuara.
Abas dan Yayan saling pandang. Ada keraguan di hati mereka untuk bercerita kepada Pak Udin terkait yang mereka pikirkan karena hal tersebut belum tentu kebenarannya. Namun, mereka berdua tidak dapat menyembunyikan rasa penasaran di hati mereka semenjak keluar dari rumah janda cantik itu. Terlebih lagi Abas. Wujud Yumna yang memerah dan penuh darah serta leher bagian depan yang sobek sehingga menyebabkan luka yang menganga itu masih lekat di ingatannya.
“Anu, Pak. Apa Bapak pernah dengar istilah perempuan Bahu Laweyan?” tanya Abas dengan ragu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Pasti kalian mencurigai Yumna juga, ya? Memang rumor ini sudah menyebar dengan cepat sejak pemakaman Joko tadi siang,” sela Wandi yang ikut nimbrung ke dalam pembicaraan.
Abas dan Yayan mengangguk. Mereka membenarkan ucapan Wandi yang menduga mereka berdua ikut mencurigai Yumna sebagai perempuan Bahu Laweyan. Suasana hening sejenak. Semua mata tertuju ke arah Pak Udin seolah tidak sabar menunggu jawaban dari pertanyaan Abas.
“Bahu Laweyan sebenarnya sebuah mitos yang dipercaya oleh masyarakat Jawa. Ada yang mengatakan bahwa seorang Bahu Laweyan itu tubuhnya dipinjam oleh makhluk halus sebagai wadah. Makhluk itulah yang kerap membunuh pasangan dari pemilik Bahu Laweyan. Terkadang mereka juga tidak sadar kalau mereka adalah Bahu Laweyan. Konon, kutukan Bahu Laweyan akan berhenti setelah membunuh 7 orang yang menjadi pasangannya." Pak Udin diam sejenak untuk menarik napas dan kembali menyusun kata-kata yang akan dia ucapkan.
“Kenapa harus 7 orang, Pak?” tanya Yayan yang sudah tidak sabaran.
“Angka tujuh ini disinyalir merupakan simbol tali pengikat jenazah. Jika ingin selamat, pemilik Bahu Laweyan harus menikah sebanyak delapan kali. Yah, siapa juga yang mau menikahinya lagi jika harus mengorbankan nyawa,” tambah Pak Udin lagi.
Malam semakin larut dan terasa semakin mencekam. Angin tiba-tiba berembus kencang menambah gaduh suasana. Abas, Yayan, Pak Udin dan Wandi masih berjaga di pos ronda memantau kuburan Joko yang baru dimakamkan tadi siang. Kematian Joko yang bertepatan pada Selasa Kliwon membuat jasadnya menjadi sasaran empuk untuk dicuri. Sebab, tinggal di lingkungan yang masih kental dengan adat istiadat membuat masyarakat di kampung itu melakukan ritual tertentu dengan memberikan sebuah persembahan. Salah satunya mayat yang dikubur pada malam Selasa Kliwon.
Sett!
__ADS_1
Di tengah kegelapan malam, Yayan melihat sekelebat bayangan seperti seseorang yang masuk ke area pemakaman. Yayan berdiri dari tempat duduknya dan mengarahkan cahaya senter ke tempat dia melihat bayangan tadi.
“Kenapa, Kang?” tanya Abas yang heran melihat Yayan menyorotkan senter di tangannya ke segala penjuru.
“Aku melihat seseorang masuk ke area pemakaman,” ucap Yayan dengan tatapan tajam melihat ke area pemakaman.
Pak Udin, Abas dan Wandi sontak berdiri mendengar ucapan Yayan. Mereka segera pergi ke area pemakaman yang berada kurang lebih lima puluh meter dari posisi mereka sekarang untuk memastikan ucapan Yayan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 00.00 malam. Suasana benar-benar terasa hening. Hanya ada suara jangkrik dan hewan malam yang berbunyi riang. Mereka melangkah pelan melewati gundukan-gundukan tanah berbatu nisan yang tersusun rapi di sepanjang perjalanan. Dari kejauhan, mereka melihat seorang perempuan berbaju hitam dengan rambut panjang sepinggul tergerai tengah berjongkok di sebelah makan Joko.
Mereka berempat saling pandang, dari belakang ciri-ciri perempuan tersebut mirip sekali dengan Yumna. Kecurigaan mulai menyelimuti hati. Kenapa Yumna datang ke pemakaman tengah malam begini? Kini jarak mereka hanya sekitar empat meter dari perempuan itu. Namun, langkah mereka terhenti dan mendadak kaku ketika ingin menghampiri perempuan yang diduga Yumna tersebut.
“Yu--Yumna?” ucap Pak Udin terbata.
“Yumna?” ulang Pak Udin.
Tidak ada jawaban dari sosok perempuan yang berada di depan mata mereka itu. Mereka saling pandang dan menelan ludah ketika menyadari ada sesuatu yang tidak beres tengah terjadi kepada mereka.
“Yumna, kamu kenapa ada di sini?” Abas mengambil alih untuk berbicara.
“Tidak apa-apa, Mas.” Yumna menjawab pertanyaan dari Abas dengan suara yang lembut dan mendayu-dayu. Anehnya malah terdengar mengerikan di telinga mereka.
Yumna menggerakkan kepalanya. Perlahan ia menoleh ke sumber suara yang berbicara padanya.
__ADS_1
“Akhhhh!” Mereka berempat sontak berteriak ketika kepala Yumna berputar seratus delapan puluh derajat dan menunjukkan wajah hancur penuh darah. Bau anyir menyeruak dari tubuh Yumna.
Di dalam ketakutan mereka berusaha menggerakkan kaki yang kaku. Namun, kaki mereka seperti tertancap pada tanah dan sangat berat untuk diangkat. Keringat mulai bercucuran membasahi sekujur tubuh mereka dengan detak jantung yang berdegup kencang.
“Bagaimana ini, Pak?” tanya Yayan yang tampak ketakutan melihat sosok Yumna semakin mendekat ke arah mereka dengan tangan terangkat ke depan seolah ingin meraih mereka berempat.
Posisi Yumna semakin mendekat. Namun, kaki mereka masih tidak bisa digerakkan meski sudah berusaha sekuat tenaga.
“Jangan mendekat Yumna!” teriak Wandi ketika Yumna tinggal beberapa senti lagi meraih tangannya.
“Akhhhh!” Sepersekian detik sebelum Yumna berhasil memegang tangan Wandi, kaki mereka berhasil digerakkan dan mereka langsung berlari tunggang langgang menjauhi area pemakaman. Berlari menyusuri jalan tanpa tau arah dan tujuan hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah musala.
Napas semakin menderu. Abas menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa perempuan itu tidak mengikuti langkah mereka. Setelah memastikan beberapa saat, akhirnya mereka bisa bernapas lega.
...***...
Malam berlalu begitu cepat. Rasa capek sehabis berlari sebab menjauhi setan tadi, akhirnya membuat mereka tertidur di depan teras musala dan terbangun ketika ada seseorang yang datang untuk salat Subuh.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ....