GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
Bab 6.


__ADS_3

Brukkk!


Suasana yang gelap membuat Abas berlari tanpa melihat jalan sehingga dia menabrak sesuatu. Abas terjatuh ke tanah dengan deru napas yang tidak beraturan.


“Mas Abas?” ucap seseorang. Abas mendongak untuk melihat ke sumber suara.


“Yum--Yumna?” Abas terperanjat dan sontak membuat ia mundur ke belakang saat melihat Yumna lah orang yang ia tabrak di depan halaman.


“Iya, ini aku Mas, Yumna,” ucap Yumna dengan raut wajah yang bingung melihat kelakuan aneh Abas.


“Bu--bu--bukannya kamu ada di kamar?” tanya Abas terbata dan masih menatap sinis ke arah Yumna.


Yumna membantu Abas berdiri dan menuntunnya untuk duduk di kursi yang berada di depan teras. “Gak, Mas. Aku baru aja pulang dari musala sama Ratih.” Ratih yang berada di sebelah Yumna mengangguk membenarkan ucapan temannya itu.


Abas menelan ludah. Jika Yumna baru pulang dari musala, jadi siapa yang baru saja ia lihat tadi di kamar? Pikiran Abas semerawut menerjemahkan ini semua. Terlalu banyak yang janggal dan tidak bisa di cerna oleh akal sehat.


“Jadi siapa?” gumam Abas di dalam hati sambil menatap ke wajah Yumna.


...***...


Abas duduk di serambi rumah menatap hamparan sawah yang ada di depannya. Pikirannya risau. Jiwanya berkecamuk mengingat kejadian-kejadian janggal yang terjadi di kampungnya yang serba tidak masuk akal.


Berjarak dua rumah dari rumah Abas tampak Yumna sedang menyapu halaman. Buaian angin yang bertiup dari persawahan perlahan menyibak helaian rambut turun menghalangi wajah cantiknya. Sesekali Abas menatap redup pada Yumna, begitu juga sebaliknya hingga tanpa diduga mereka beradu pandang. Yumna tersenyum sambil terus membersihkan daun-daun kering yang berserakan.


"Dia perempuan yang cantik," gumam Abas sambil kembali memandang persawahan kala langit terselimut senja berwarna jingga.


Yumna adalah seorang janda yang masih perawan. Sebuah hal yang sangat mustahil mengingat dia telah menikah tiga kali namun sialnya ketiga suami Yumna tewas beberapa hari setelah pernikahan. Kedekatannya dengan Yumna belakangan ini perlahan menimbulkan perasaan cinta pada Yumna. Namun, di sisi lain isu terkait bahwa Yumna adalah perempuan Bahu Laweyan tentu tak kalah merisaukannya.


"Masuklah, Bas! Sebentar lagi Magrib,” titah sang ibu dari pintu rumah.


Tanpa menjawab Abas berjalan masuk ke rumah, sempat ia pandangi Yumna yang duduk di teras rumahnya setelah selesai membersihkan halaman. Sekali lagi mereka beradu pandang namun kali ini wajah Yumna segera menunduk hingga menyisakan candu rindu di hati Abas.


...***...

__ADS_1


Setelah selesai Shalat Magrib Abas masih duduk termenung di meja makan. Tangannya sibuk membolak-balik sendok tanpa sedikit pun menyentuh makanan.


"Jika kamu menyukainya, tunggulah dahulu hingga tiga kali empat puluh hari. Berilah waktu pada hatinya untuk lebih tenang," ucap sang ibu sambil memegangi tangan Abas.


"Tapi Bu, kata banyak orang Yumna adalah wanita terkutuk. Dia perempuan Bahu Laweyan," ucap Abas berhenti sesaat.


"Hidup dan mati di tangan Tuhan, Nak. Tak baik percaya begitu, toh, selama ini Yumna juga wanita yang salihah. Tak ada cela dalam hidupnya. Menjadi janda bukan pilihan wanita mana pun,” ucap ibu Abas lagi.


"Habiskan makananmu dahulu, ibu mau ke rumah Yumna menemaninya, kasihan jika dia sendiri pasti kesepian.” Wanita separuh baya itu beranjak meninggalkan putranya termenung sendirian.


...***...


Sebulan berlalu dari hari itu. Abas hampir melupakan peristiwa aneh di kampungnya hingga pada suatu malam dia berjaga di pos ronda bersama Yayan, Wandi dan Pak Udin, sebuah peristiwa aneh kembali terjadi.


"Tolong! Tolong!”


Dari ujung jalan suara terdengar berteriak. Beberapa saat kemudian muncul seorang perempuan bernama Yuni berlarian sesekali menengok ke belakang bagai dikejar sesuatu.


"Yuni, ada apa to?” seru pak Udin.


"Di--di sana."


Yuni segera mencengkeram bahu Pak Udin. Jemarinya menunjuk ke suatu arah di kegelapan malam.


"Saya tadi melihat pijaran api besar keluar dari rumah Yumna. Bola api itu terbang lalu turun di rumah pak Tejo. Beberapa saat kemudian dari dalam rumah terdengar jeritan kesakitan. Saya lalu masuk dan melihat pak Tejo tewas hangus terbakar setelah terkena bola api." Yuni berbicara dengan nafas ngos-ngosan.


Mereka yang berjaga di pos ronda mendekat dan segera berlari menuju rumah Pak Tejo yang dimaksud Yuni tadi. Setibanya di rumah Pak Tejo warga lainnya sudah ramai berkumpul.


"Tak salah lagi, wanita terkutuk itu telah membunuh suamiku. Aku ingat bahwa saat api itu menyambar suamiku, dia histeris menyebut nama Yumna berkali-kali. Ya perempuan sial itu telah menggoda suamiku,” ucap Bu Wati, istri dari Pak Tejo dengan menggebu-gebu.


Warga antusias mendengar ocehan Bu Wati. Beberapa orang lainnya justru sibuk mengurus jenazah Tejo yang hampir sepenuhnya melepuh bagai tercelup kawah Merapi.


"Bas, apa benar begitu?" bisik Yayan pada Abas.

__ADS_1


"Tapi, Kang. Yumna bilang kalau pak Tejo pernah mencoba menyentuhnya secara paksa dan mengancam Yumna,” balas Abas.


"Wah apa iya begitu, setahuku emang pak Tejo suka menggoda istri tetangga, lho. Bahkan dulu sempat kepergok Munir saat pulang kondangan pak Tejo sedang berduaan dengan Ratmi istrinya Munir,” timpal Wandi dengan nada berbisik.


"Pokoknya Yumna harus diusir!" ucap Bu Wati dengan nada penuh emosi kepada segenap warga yang ada.


"Tenang, Bu. Sebaiknya kita urus dulu jenazah pak Tejo ini. Ndak baik berburuk sangka begitu,” jawab seorang warga diikuti anggukan kepala warga lainnya.


Setelah kematian Pak Tejo, Abas memang belum sempat bertemu dengan Yumna meski jarak rumah mereka berdekatan. Malam itu Abas berniat mendatangi rumah Yumna dengan ditemani ibunya sekadar silaturahmi.


Di ruang tamu Yumna tengah sibuk melipat pakaian untuk dimasukkan ke dalam lemari. Setibanya Abas dan ibunya mereka pun mengobrol seperti biasanya. Abas tak sekalipun menyinggung tentang isu kematian Tejo tempo hari, setelah dirasa cukup akhirnya Abas dan ibunya berpamitan untuk kembali ke rumah.


"Apa ini?” ucap Abas heran. Di pintu masuk halaman terdapat wadah dari bambu berisi kembang dan menyan dibakar juga semacam potongan kain berwarna putih kecokelatan yang ditusuk jarum. Abas menghampiri benda tersebut dan melihat sekelilingnya.


"Ada apa, Mas?" Yumna yang berdiri di depan pintu berjalan menghampirinya.


"Yumna, siapa yang menaruh boneka santet ini?" tanya Abas heran.


"Yumna ndak tau, Mas," ucap Yumna memandang lekat ke arah Abas.


Meski begitu Abas dan ibunya tetap pulang ke rumahnya dan menyuruh Yumna segera beristirahat. Malam kian larut dan cuaca yang sedikit gerah membuat Abas duduk di depan halaman rumah. Sesekali pandangan Abas tertuju pada rumah Yumna berharap tak ada sesuatu yang buruk akan terjadi.


Setelah hampir dua jam berada di luar rumah Abas hendak masuk ke rumahnya, sekali lagi dia menengok ke arah rumah Yumna untuk memeriksa keadaan.


Tatapannya tajam ketika tanpa sengaja melihat kepulan asap hitam seolah berkumpul dan perlahan berubah menjadi sosok perempuan berbaju serba hijau.


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2