GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
51. KEMBALI BERTEMU


__ADS_3

Sudah lebih dari dua minggu aku tinggal bersama Bibi Ros.


Gak ada yang kurang tinggal bersama dengan mereka, padahal mereka bukan siapa-siapa dari pihak keluargaku. Mereka hanya keluarga dari Liana yang seharusnya lebih pantas mendapatkan semua yang aku terima di rumah yang teduh ini. Perlakuan mereka begitu manis dan membuatku rasa aman


Hari ini hari minggu yang sepertinya akan turun hujan, entah kenapa akhir-akhir ini langit menjadikan dirinya misterius. Kadang hujan kadang terik panas yang menyengat. Gak bisa diduga meski bulan ini terhitung musim panas. Tapi kali ini langit tampak hitam pekat


Setelah sehabis dari Gereja bersama Bibi Ros dan suaminya dengan menggunakan mobil tua keluaran tahun sembilan puluhan. Tepat jam dua belas siang Bibi Ros mengajakku ke dapur, ajakan ini bukan yang pertama kalinya tapi memang sudah dari hari-hari sebelumnya


Dalam bersamaan sesekali petir seakan menggulung dilangit meski belum hujan tapi kilat juga menyambut seolah menyenter dapur Bibi Ros


Kini aku dan Bibi Ros kini tengah di dapur menyiapkan bumbu yang akan kami masak.


"Dhira, kamu bantu potong-potong wortelnya ya. Bibi mau cuci piring sebentar" ucapnya


Aku mengangguk "Iya Bi" ucapku sembari mencari pisau


Bibi Ros mulai mencuci piring diatas washtafel "Jangan lupa kentangnya juga ya" ucapnya


"Iya Bi, sahutku"


"Sekalian semua yang ada disitu deh kamu potongin aja ya. Kamu tahu kan sayuran apa aja yang dimasak untuk sop ?" ucapnya


Aku mengangguk sembari mengupas wortel " Iya Bi" jawabku


"Oke, nanti masaknya bareng Bibi ya. Ini piring nya banyak yang kotor Bibi mau selesaikan dulu" ucapnya


"Iya Bi" jawabku lagi


Beberapa menit suasana dapur hening, diantara kami gak ada timpal ucapan satu sama lain lagi hanya ada suara perabot yang beradu saat dicuci Bibi dan suara petir yang terus saja menggulung meski sampai sekarang belum juga turun hujan.


Hening dan sungkan juga jika aku memulai obrolan tapi rupanya Bibi yang kembali mengawalinya


"Dhira" ucapnya


Aku cepat menyahut "Ya Bi"


"Bibi mau tanya tapi kamu jangan sakit hati ya" ucapnya


"Iya Bi" jawabku, meski aku tahu arah pertanyaan Bibi akan kemana


"Kamu anak keberapa ?" tanyanya


"Anak tunggal Bi" jawabku


Dalam bersamaan pekerjaan Bibi sudah selesai kemudian dia menghampiriku sembari menyiapkan panci diatas kompor


"Dhira bener-bener anak tunggal ya ?" tanyanya lagi seperti mau meyakinkan jawabanku


"Iya Bi" jawabku lagi


"Kamu ini anak sambungnya Pak Yanto ya ?" tanyanya lagi padahal seingat aku perihal ini sudah dibicaralan sebelumnya oleh Neneknya Liana. Ibu kandungnya sendiri

__ADS_1


Aku mengangguk "Iya Bi"


"Pak Yanto itu abang saya. Kami hanya dua bersaudara. Saya anak paling kecil" jelasnya


Aku tersenyum tipis mendengarnya dan hanya mengangguk pelan.


Kali ini aku sudah menyelesaikan pekerjaanku. Tanpa jawaban apa-apa aku berdiri saja menunggu perintahnya kembali


"Pak Yanto itu orang baik, dia gak pernah marah berlebihan kepada saya dan kepada siapa pun hanya saja ketika dia sudah muak dia hanya mengingatkan saja. Tapi bukan berarti dia gak punya dosa sama sekali tapi namanya manusia pasti ada niat untuk menjadi orang baik" ucapnya sambil mulai memasak sop


Aku hanya mengangguk pelan mendengar dia berbicara sembari disahuti oleh petir yang terus menggelegar


"Pak Yanto sempat cerita tentang kamu kepada saya. Dia bilang kalau dia sayang sekali sama kamu seperti dia menyayangi anak kandungnya" ucapnya


Mendengar begitu aku terharu, air mataku mulai membendung tapi masih bisa aku tahan


"Pak Yanto selalu berjanji untuk gak menyakiti kamu karena dia paham kisah sedih kamu selama ini. Dia juga gak pernah percaya kalau kamu anak yang dikutuk oleh Ayah kandungmu sendiri. Tapi Pak Yanto hanya kecewa dengan sikap Ayah kamu yang lepas tanggung jawab dan hilang begitu saja" ucapnya


Mendengarnya butiran air mataku akhirnya jatuh juga. Dadaku sesak jika mengingat kisah lama itu


"Itu sebabnya, Pak Yanto gak mau kalau kamu cari tahu tentang Ayah kamu" tambahnya


Kemudian Bibi Ros menghadapkan badannya kepadaku " Saya juga gak mau kalau kamu sampai ada niatan mencari Ayah kamu" ucapnya


Aku menoleh wajah Bibi Ros dengan heran, padahal sebenarnya aku masih penasaran dan ingin bertemu dengan Ayahku


Bibi Ros tersenyum "Untuk apa ?" ucapnya malah berbalik tanya kepadaku


Dia menatap mataku seolah tahu betul ada sisa luka hati yang masih tersimpan dari sorot mataku yang terus berkucuran air mata.


Kemudian dengab pelan dia melepaskan pelukannya "Jangan pernah berharap untuk bertemu dengannya, karena dia bukan bagian kamu lagi. Sekarang bagian hidup kamu adalah kami. Saya ini Bibi Ros pengganti dari Pak Yanto yang selama ini menjadi pelipur laramu" ucapnya


Aku menundukkan kepala seakan gak sanggup menerima kebaikan keluarga ini


"Terimakasih ya Bi" ucapku pelan


Bibi Ros mengusap kepalaku dengan lembut "Iya sama-sama. Ayok kita siapkan yang lainnya. kayaknya hujan sudah turun pasti sajian siang ini terasa nikmat" ucap Bibi Ros


Dan akhirnya kami makan bersama Om Dudu diiringin suara hujan yang jatuh diatas atap rumah Bibi Ros yang terdengar sangat deras


Senin dipagi hari ini sangat sejuk gak seperti pagi biasanya dan langit jug agak kelabu. Ada dua kemungkinan bisa saja akan turun hujan kembali atau justru akan panas menyengat


Aku melangkah pelan menelusuri jalan aspal menuju sekolah, melangkah hati-hati menghindari air hujan sisa semalam yang menggenangi cembungan aspal yang gak rata


Tapi, sesampainya di depan gerbang


Byurrrrrrr!


Tiba-tiba saja hujan turun begitu deras. Siswa lainnya yang juga baru saja sampai buru-buru masuk ke dalam lorong sekolah


Untung saja aku sudah sampai tepat digerbang.

__ADS_1


Kali ini pemandangan depan gerbang tampak sepi gak ada satupun pedagang gerobak yang berjaga seperti pagi biasanya, mungkin mereka akan datang setelah hujan benar-benar reda.


Dan benar saja, dijam istirahat tepat jam dua belas disaat hujan sudah reda namun masih mendung, pedagang jajanan di depan gerbang lengkap kembali dan pembelinya kembali selalu ramai seperti hari-hari sebelumnya. Ramai sampai desak-desakan, saling berebut mendapatkan jajanan yang mereka mau


Siang ini aku kepikiran mau makan siomay, wangi bumbunya itu yang membuat aku gak tahan lapar dicuaca mendung seperti ini. Tapi membelinya adalah bagai perjuangan yang harus menekatkan kesabaran karena banyak sekali yang berkumpul untuk membeli dihadapan gerobak siomay, begitupun gerobak yang lainnya. Semua saling berebut untuk bisa yang pertama dilayani


"Saya Bang"


"Saya Bang"


"Saya Bang"


Ucap mereka satu persatu saling gak sabaran.


Tapi aku juga turut serta ingin lebih dulu diladeni oleh Abang siomanya.


Akhirnya aku juga berdesak-desakan dengan siswa yang lain.


Karena aku sudah kelaparan sekali maka aku berusaha bicara lantang dan agak keras diantara kerumunan pejuang siomay


"Baaang... saya Bang...!" ucapku lantang sambil menyodorkan uang lima ribu seperti cara siswa yang lainnya.


Saat bersamaan seorang siswi malah gak sengaja mendorongku kesamping sampai aku nyaris jatuh tapi aku tahan dengan kaki kiriku


"Aduh!" keluhku sembari kembali berdiri dengan semula


Siswi yang gak sengaja mendorongku itu akhirnya meminta maaf tapi hanya menoleh wajahku sebentar karena dia lebih fokus merebut perhatian Abang siomay.


"Maaf ya " ucapnya begitu saja kemudian kembali mengarahkan wajahnya ke Abang siomay


Meski begitu aku masih sempat melihat wajahnya, dan aku merasa kalau aku pernah bertemu dengannnya tapi aku lupa di mana.


Aku jadi terpaku kepadanya meski dia gak melihatku tapi aku memperhatikan dia dari samping wajahnua dari atas rambutnya yang panjang sebahu sampai ujung sepatunya yang nyaris rusak dan kotor


Aku seolah mengingat-ingat kembali siapa sosok anak perempuan ini sampai aku lupa dengan tujuan utamaku.


Isi kepalaku seolah mencari ingatan dimasa lalu tapi tetap belum ketemu juga.


Setelah dia berhasil mendapatkan siomay akhirnya dia hendak pergi dari gerumulan tapi tanpa sengaja juga dia menoleh wajahku dan berhenti menatap wajahku beberapa saat


Dia juga sama sepertiku seolah mengingat-ingat siapa diriku.


Tapi dia lebih kuat ingatannya, dia tersenyum lebar dan loncat-loncat kecil dihadapanku


"Dhira!" panggilnya


Mendengar dia memanggil namaku langsung saja aku sumringah karena merasa kalau benar saja dia pun mengenalku tapi sayangnya aku lupa siapa dia.


Tapi aku memberikan respon seolah-olah tahu dan ingat dia


"Dhira, akhirnya kita bisa ketemu di sini. Aku gak nyangka kamu sekolah disini juga" ucapnya terlihat senang

__ADS_1


Tapi lama kelamaan akhirnya aku ingat dia siapa. Senyum simpulku akhirnya merekah


"Mira !" tebakku girang


__ADS_2