
Siang bolong dan sunyi ada seorang mengetuk pintu rumah Nenek
Tok..tok..tok !
Langsung aja Nenek membukanya.
Rupanya Nenek melihat anaknya sudah berdiri dihadapan pintu sambil tersenyum kepada Nenek
Nenek pun dengan cepat mengenalinya
"Lasmi ?" ucap Nenek yang gak menyangka kalau Ibu masih ingat padanya
Karena sebulan setelah Ibu meninggalkan kami rupanya Ibu datang kembali tapi dia gak datang sendirian, bahkan dia mengajak Pak Yanto dan anak perempuannya.
Lantas Nenek mengajak mereka untuk masuk ke dalam tanpa dendam sedikitpun
Nenek bahkan menyambut mereka dengan ramah "Silakan masuk" ucapnya
Satu per satu dari mereka masuk dan duduk di kursi ruang tamu
Dalam bersamaan juga Pak Yanto pun gak lupa menyuruh anaknya untuk bersalaman pada Nenek
"Ayok, salam Nenek" ucapnya
Nenek menyodorkan tangannya "Nama kamu siapa ?" tanya Nenek
"Aku Liana, Nek" jawabnya
"Oh, nama kamu bagus sekali" puji Nenek
"Iya, Nek"
Setelah mereka saling bersalaman, rupanya Pak Yanto juga mengingatku
"Dhira mana Bu ?" tanyanya
"Oh, Dhira ada di kamar lagi tidur siang" jawabnya
"Oh, Begitu" angguk Pak Yanto
"Maaf ya, aku gak bisa bangunkan dia, karena dia baru saja tidur. Takutnya nanti kepalanya pusing" ucap Nenek
"Oh, gak apa-apa Bu, saya hanya menanyakan kabarnya saja apakah dia sehat ?" tanya Pak Yanto lagi
"Puji Tuhan, Dhira sehat" jawab Nenek
Pak Yanto mengangguk "Syukurlah" ucapnya
Beberapa menit ruangan terasa hening tapi akhirnya Nenek menghidupkannya kembali
"Ada apa kalian ke sini ?" tanya Nenek
Ibu yang menjawab "Sebelumnya aku minta maaf, karena aku gak mengabari Ibu" ucapnya
"Maksud kamu apa ?" tanya Nenek menyerengitkan dahinya
Ibu dan Pak Yanto saling menoleh, seolah gak sanggup untuk berbicara apa adanya
Tapi Nenek masih menunggu jawaban dari mereka.
Sampai akhirnya Ibu bicara lagi "Kami sudah menikah, Bu" ucapnya
Mendengarnya Nenek tersenyum, seolah gak ada rasa sakit hati yang dia rasakan
"Bagus kalau begitu" ucapnya
__ADS_1
Ibu dan Pak Yanto saling menoleh lagi, walau Nenek tersenyum tapi rupanya mereka yakin itu adalah senyuman kekecewaan dari Nenek.
Nenek malah menawarkan mereka makan
"Kalian sudah makan ?" tanya Nenek
Ibu yang menjawab "Sudah, Bu" jawabnya
Saat itu juga Pak Yanto berinisiatif untuk meminta maaf kepada Nenek
"Saya minta maaf atas hal ini, saya yakin kalau Ibu pasti kecewa mendengar kabar ini" ucapnya
Tapi Nenek tetap tersenyum "Apa artinya kalian meminta maaf kalau semua sudah terjadi, bukankah apa yang kalian lakukan adalah pilihan terbaik kalian ?" ucap Nenek
Pak Yanto masih gak enak hati dengan jawaban Nenek yang terdengar ambigu
"Ya, saya mengaku salah kalau saya gak mengabari sebelumnya"
"Gak perlu merasa bersalah seperti itu, karena aku cukup tahu diri untuk bisa menikmati pesta kalian" ucap Nenek
Mendengar ucapan Nenek, Pak Yanto semakin merasa salah "Sekali lagi saya minta maaf" ucapnya
Sementara Ibu menambahkan ucapan suaminya "Aku juga minta maaf, Bu. Saat itu aku dalam hati dan pikiran yang salah jadinya aku gak ingat dengan Ibu" ucapnya
"Maksudnya kamu marah padaku ?" tanya Nenek
Mendengarnya, Ibu terdiam. Seolah menyatakan kalau apa yang dikatakan Nenek adalah benar
Tapi Nenek justru gak memperpanjang persoalan
"Sudah lah, aku sudah menerima semua itu. Mau aku marah sekalipun gak akan berguna dan bisa jadi menambah perkara baru. Yang penting kalian tahu salah dan dengan datang ke sini untuk meminta maaf pun, aku sudah cukup terobati" ucapnya berlapang dada
Mendengar Nenek berkata begitu, Pak Yanto akhirnya bisa bernafas lega
"Terimakasih, Bu atas pengertiannya" ucapnya
Tapi rupanya Pak Yanto masih menanyakan aku
"Dhira masih tidur siang ya, Bu ?" tanyanya
Nenek mengangguk "Iya, masih"
"Apa boleh Dhira hidup bersama kami ?" pinta Pak Yanto
Dengan cepat Nenek menolak "Sebaiknya jangan"
"Kenapa ?" tanya Pak Yanto
"Karena hanya Dhira temanku di sini" ucapnya
Pak Yanto mengangguk pelan dan memahaminya. Tapi Pak Yanto sebenarnya masih sangat menginginkan aku untuk tinggal bersamanya
"Kalau begitu, saya cukup paham" ucapnya
"Iya, karena siapa lagi yang menemani saya di sini kalau bukan Dhira" ucapnya
"Kalau begitu, nanti setiap bulannya saya akan kirim uang untuk Dhira. Dan kalau ada apa-apa, Ibu bisa temui saya" ucap Pak Yanto
Nenek tersenyum "Bagaimana mungkin aku bisa menemui kalian, sementara aku gak tahu dimana kalian tinggal" ucapnya
Mendengar Nenek berkata begitu, Pak Yanto merasa terjebak dalam perkataannya sendiri.
Akhirnya Ibu yang melanjutkan pembicaraan "Kalau begitu, setiap bulannya kami yang akan datang ke sini" ucap Ibu
Nenek mengangguk "Bagus lah kalau begitu" setuju Nenek.
__ADS_1
Setelah kurang dari satu jam bertamu bahkan Ibu juga belum menemuiku di dalam kamar, Ibu justru mewakili untuk pamit pulang
"Kalau begitu, kami pamit pulang ya, Bu" ucap Ibu
"Secepat inikah kalian bertamu ?" tanyanya
Ibu tersenyum sungkan "Iya, karena kami juga mau pergi ke rumah keluarga besarnya Yanto. Jadi kami terpaksa bagi-bagi waktu" ucapnya
"Oh, begitu ya" angguk Nenek, paham
Ibu dan Pak Yanto serta Liana beranjak dari duduknya lalu kembali bersalam perpisahan.
Ibu mengeluarkan amplop putih dari dalam tasnya, lalu menyodorkannya kepada Ibu
"Ini ada sedikit uang untuk Ibu dan Dhira. Semoga Ibu mau menerimanya" ucap Ibu
Tapi Nenek malah menolaknya "Gak perlu, aku masih ada tabungan dari Ayahmu" ucapnya
Tapi Ibu tetap memaksanya "Ambil saja Bu, ini bukti kami kalau kami gak akan melupakan Ibu. Lagi pula tabungan Ibu pasti akan habis juga, jadi sepenuh usaha kami akan memberikan Ibu uang" ucapnya
Akhirnya Nenek mau menerimanya "Baiklah, kalau begitu aku terima" ucapnya
Akhirnya Pak Yanto mengakhiri perjumpaan mereka
"Baiklah kami pamit pulang ya, Bu" ucap Pak Yanto sambil melangkah ke luar rumah diikuti oleh Ibu dan Liana.
Nenek mengangguk " Iya terimakasih uangnya dan kalian hati-hati dijalan" ucap Nenek sambil melambaikan tangannya setelah mereka sudah dihalaman rumah.
Nenek kembali menutup pintu dan kembali menonton televisi, dia gak mau membuka amplop dari Ibu. Amplopnya dia letakkan begitu saja diatas meja.
Sampai akhirnya jam empat sore aku bangun dari tidur siangku, aku mencari Nenek diruang tamu, kamar tidurnya, kamar mandi dan dapur tapi dia gak ada.
Rupanya dalam bersamaan saat aku mencarinya, dia baru saja kembali dari luar rumah dengan membawa bungkusan kantong plastik hitam
Langsung saja aku penasaran padanya
"Dari mana, Nek ?" tanyaku
"Dari warung sayuran. Nenek mau masak tumis kangkung kesukaan kamu" ucapnya
Mendengarnya aku gembira "Berarti hari ini makannya tumis kangkung dan ikan teri balado ya, Nek ?" tanyaku
"Iya, nanti kamu bantu Nenek masak ya. Supaya nanti kamu bisa masak" ucap Nenek sambil melangkah ke arah dapur
Aku mengangguk "Iya Nek" lalu mengikuti langkah Nenek yang sudah terlihat lambat
"Oh iya, Dhira. Itu diatas meja ada amplop. Tadi Ibu dan Ayah tirimu datang. Dia menitipkan uang untukmu" tunjuk Nenek ke arah meja
Langsung aja aku mengambilnya lalu membukanya cepat-cepat
Tapi rupanya Nenek memperhatikanku
"Pelan-pelan bukanya, nanti robek" ucap Nenek
"Iya, Nek" sahutku
"Ada berapa duit, Dhira ?" tanya Nenek
"Ada dua ratus ribu, Nek" jawabku.
"Oh, kalau begitu Dhira masukkan ke celengan saja ya" usul Nenek
Aku mengangguk lalu bergegas ke kamar dan memasukkan dua lembar uang seratus ribu rupiah ke dalam celengan ayam yang dibelikan Nenek beberapa hari yang lalu
Dari dapur Nenek mengingatkan aku kembali "Kalau sudah, segera ke dapur bantu Nenek ya" ucapnya
__ADS_1
"Iya" sahutku