GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
27. SENYUM SUMRINGAH


__ADS_3

Dari dapur Ibu memanggilku "Dhira !" panggilnya


Langsung saja aku menghampirinya.


Aku mendapatinya sedang memasak untuk makan Pagi.


"Iya Bu" sahutku setelah sudah disampingnya.


Dapurnya rapih dan bersih kompornya pun sudah memakai kompor gas. Suatu kehidupan yang semakin jauh berbeda dari apa yang aku lihat selama ini.


"Kamu cuci sayurnya, Ibu mau masak" ucapnya ambil menyodorkan baskom isi kangkung padaku


Aku menurut saja menerimanya, dalam bersamaan juga Liana keluar dari kamar mandi, bahkan dia tetap gak menyapaku justru membuang mukanya


Meski begitu aku tetap mencuci sayurannya


"Bu, Pak Yanto kenapa berangkat pagi sekali ?" tanyaku pada punggungnya


"Dia kerja, harusnya berangkat jam delapan tapi karena kamu pagi-pagi sudah bikin ulah jadinya dia marah padamu" ucapnya datar


Aku jadi sanksi mendengarnya


"Maaf Bu" ucapku


"Mmm..." Ibu menjawab dengan suara tenggorokannya.


Setelah mencuci sayuran, Ibu menambahkan pekerjaan lainnya


"Sekarang kamu cuci pakaian yang ada ditempat cucian baju. Kalau sudah selesai kamu bisa langsung makan" suruhnya


Aku mengangguk cepat karena aku merasa sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga.


Langsung aja aku bergegas pergi tapi Ibu memanggilku lagi


"Dhira"


Aku menolehnya "Iya Bu" jawabku


"Hati-hati cuci bajunya apa lagi cuci bajunya Liana" ucapnya


Aku mengangguk "Iya Bu"


Kemudian aku bergegas melangkah lagi tapi Ibu masih memanggilku


"Dhira" panggilnya lagi


Aku menoleh


"Sebelum cuci baju, kamu kasih makan bebek dulu deh. Kandangnya dibelakang. Disamping kandang bebek ada sekarung dedak dan sekarung ubi singkong. Jadi yang pertama kamu ambil wadah tempat makan bebeknya , lalu masukkan dedak satu kaleng yang ada di karung dedaknya, singkongnya kamu ambil sedikit saja lalu kamu cincang-cincang. Kemudian masukkan ke wadah bersama dedak. Kasih air. Sehabis itu kamu masuk ke kandang bebek lalu kamu kasih makan mereka. Mengerti ?" ucapnya


Aku mengangguk paham "Mengerti Bu"


"Ya sudah sana. Jangan lama-lama karena kamu harus cuci baju" ucapnya


"Iya Bu" jawabku


"Bagus lah kalau begitu. Ingat ya, kamu di sini menumpang di rumah mereka. Jadi kamu harus tahu diri kalau kamu bukan siapa-siapa. Paham ?" ucap Ibu


"Iya bu" jawabku kemudian pergi ke belakang rumah.


Dihalaman belakang aku mendapati kandang bebek yang hanya diberi pagar saja.


"Satu, dua, tiga, empat lima..." saat aku hitung semua ada dua puluh.


langsung aja aku melakukan apa yang Ibu terangkan tadi.


Lalu masuk ke dalam kandang bebek yang becek Penuh lumpur dan bau kotorannya yang menyengat. lalu aku menaruh makanannya di empat sudut


Langsung saja gerombolan bebek berlari berebut makan.


Mereka makan dengan sangat sangat lahap dan berisik.

__ADS_1


Setelah hampir satu jam berkutat pada bebek, tapi aku ingat karena masih ada tugas lagi.


Mencuci pakaian.


Langsung saja aku bergegas ke tempat cucian baju disamping kamar mandi.


Saat aku sudah kembali ke dapur, aku melihat Liana meletakkan piring kotor tempat pencucian. Rupanya dia habis makan dan menaruh piringnya begitu saja didalam baskom piring kotor.


Dia bahkan gak bergeming sedikitpun padaku bahkan dia malah merasa kalau tugas merapikan rumah adalah fungsiku


Padahal aku sudah sangat lapar sekali


Setelah Liana pergi dari dapur, kini Ibu yang datang dan juga menaruh piring kotornya.


Aku berharap Ibu menyuruhku makan lebih dulu daripada pekerjaan rumah


"Dhira" panggilnya


Aku langsung sigap mendengarnya, besar harapanku untuk diajak makan olehnya


"Kamu kapan nyuci bajunya ? keburu mataharinya gak panas lagi" ucapnya


Mendengar begitu aku hanya menjawab "Iya Bu, ini mau cuci" jawabku


"Kalau gak kamu rendam aja dulu, sambil nunggu rendaman bajunya. Kamu cuci piring dulu deh" ucapnya


Aku mengangguk menurut saja "Iya Bu" jawabku


"Oke" ucapnya lalu pergi meninggalkan aku sendiri.


Sementara terdengar jelas ditelingaku Ibu mengajak Liana untuk pergi belanja


"Lian, kita belanja yuk. Beli perlengkapan sekolah kamu dan baju sekolah kamu juga kan belum ada" ajak Ibu


Liana senang mendengarnya "Ayok Bu kita jalan-jalan" ucapnya


"Kamu ganti pakaian yang bagus dulu sana" ucap Ibu


Beberapa menit lamanya aku masih mencuci piring, dan saat itu juga gak ada lagi suara mereka terdengar.


Mereka sudah pergi ke pasar tanpa pamit atau menanyakan apa yang mau dibelikan untukku


Tapi meski begitu aku gak mau memikirkannya terlalu dalam meskipun sebenarnya didalam hati ini aku iri pada Liana. Yang hanya anak tirinya.


Tapi aku masih berharap mereka pulang membawa oleh-oleh untukku.


Tengah hari bolong barulah aku selesai mencuci pakaian, kaki ku gemetar dan lemas setelah menyelesaikan semuanya


Tapi saat itu juga Ibu dan Liana belum juga kembali


Karena pesan Ibu tadi aku boleh makan setelah mencuci pakaian, akhirnya aku makan saja.


Aku ambil piring untuk menyendok nasi tapi rupanya nasinya tinggal sekepal tangan, lauknya juga hanya disisakan tumis kangkung. Itu pun hanya satu sendok makan saja.


Tapi karena gak ada tambahan makanan lain maka aku makan saja seadanya begitu.


Tapi rupanya aku masih sangat lapar meskipun sudah memakan jatah makan pagiku


Gak ada pilihan lain selain minum air putih lebih banyak lagi. Supaya aku kenyang


Pukul lima sore aku masih menunggu Ibu dan Liana, tapi mereka juga belum datang.


Suara motor Pak Yanto terdengar menepi di depan rumah. Lantas Aku mengintipnya dari jendela. Malahan Pak Yanto datang lebih dulu pada saat jam sudah menunjukkan pukul enam sore.


Aku hanya berdiri dibalik jendela menunggunya mengetuk pintu dan aku lekas membukanya. Ada perasaan nyaman ketika dia sudah pulang, batinku seolah tahu dimana aku banyak berharap.


Tok..tok..tok


Pak Yanto mulai mengetuk pintu


Langsung saja aku membukakan pintu untuknya dihiasi senyuman sumringah untuknya

__ADS_1


Pak Yanto yang gak mengira kalau yang akan membuka pintu seolah terkejut lalu menyapaku


"Wah, yang buka pintu rupanya kamu ya" ucapnya sambil melangkah masuk dan mulai menyadari isi rumah hanya ada aku seorang


"Yang lain pada kemana ?" tanyanya


"Ibu dan Liana pergi ke Pasar, katanya mau belanja seragam dan perlengkapan sekolah" jawabku


"Oh begitu, untuk siapa ?" tanya Pak Yanto


"Untuk Liana" jawabku


Pak Yanto mengangguk pelan lalu ke dapur membuka tudung makan dimeja dapur


saat melihat isi tudung ia menyerengitkan dahinya "Kok gak ada apa-apa ya ?" tanyanya


Aku mendengarnya jadi panik


Pak Yanto menolehku "Kamu sudah makan ?" tanyanya tanpa marah sedikitpun


Aku mengangguk "Sudah" jawabku cepat


"Bapak belum makan. Tadi kamu makan jam berapa ?" tanyanya


"Tadi siang" jawabku


"Tadi pagi makan apa ?" tanyanya


Aku menggelengkan kepala


"Dari pagi kamu belum makan ?" tanyanya, raut wajahnya berubah panik


Aku mengangguk "Iya"


"Dari tadi pagi kamu ngapain aja ?" tanyanya


"Aku kasih makan bebek, cuci piring, cuci pakaian" ucapku


Mendengarnya Pak yanto terdiam tak bergeming seolah memikirkan sesuatu dikepalanya


"Kalau begitu, kita makan diluar aja yuk" ajaknya


Aku diam masih saja berdiri dihadapannya seraya gak percaya dan gak paham maksud dari ajakan Pak Yanto


Tapi sepertinya Pak Yanto sadar kalau aku gak memang belum paham


"Kita beli makan diluar aja nanti kita makan di sana sekalian kita jalan-jalan pakai motor" jelasnya


Mendengar penjelasannya aku langsung sumringah dan langsung mengangguk


"Sekarang kamu pakai jaket dulu, Bapak tunggu" ucapnya


Langsung saja aku bergegas ke kamar lalu memakai jaketku setelah itu cepat-cepat menghampiri Pak Yanto yang sekarang sudah ada di depan pintu rumah.


Setelah Pak Yanto mengunci pintu, akhirnya Pak Yanto membawaku pergi makan di tempat yang ramai pengunjung. Di sana banyak berjejer pedagang makanan dari makanan berat sampai makanan ringan. Aku sampai terpaku dengan suasana malam ini


Motor Pak Yanto berhenti di depan spanduk warung makan pecel ayam. Meski ramai dan sesak apalagi banyak motor yang terparkir di depannya gak membuat Niat Pak Yanto luntur, bahkan dia tetap mau makan ditempat bersamaku


"Ayok Dhira kita makan di sini saja. Kamu duduk aja " ajaknya sambil duduk dibangku panjang


Kemudian aku duduk disampingnya


"Dhira mau minum es lemon atau es teh manis, atau mau yang hangat ?" tanyanya


"Lemon hangat aja, Pak" Jawabku


Pak Yanto mengangguk Kemudian langsung dia pesan


"Mas, pesen dua piring pecel ayam dan dua gelas es lemon ya" ucapnya


Aku gak bisa menceritakan seperti apa yang aku rasakan malam ini, tapi yang pasti sekarang hatiku sangat bahagia karena ini pertama kalinya aku melihat keramain dan makan diluar seperti ini dengan seseorang yang sayang padaku.

__ADS_1


__ADS_2