GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
43. BELUM SANGGUP KEHILANGAN


__ADS_3

Meski sudah lama setelah Pak Yanto dinyatakan hilang didalam lautan, suasana dalam rumah justru semakin sunyi. Apalagi sekarang hanya tinggal aku dan Ibu


Dihadapan wajahku seolah masih sangat jelas telihat wajah Pak Yanto menolehkan senyumannya padaku, suara lembut Pak Yanto memanggil namaku, memanggil Liana dan Ibu hingga suara tawanya yang konyol masih terngiang ditelingaku.


Sudah lebih dari tiga puluh hari rasa rindu didalam hati ini seolah gak bisa aku bendung sendirian karena aku gak tahu kepada siapa aku harus merajuk kerinduan


Sekarang, disetiap harinya Ibu juga terlihat muram dan tak pernah lagi bersolek walau segaris gincu dibibirnya pun tak pernah terlihat lagi. Dia lebih banyak diam dan gak pernah lagi menyuruhku melakukan apa saja yang biasa dia perintahkan kepadaku tapi meski begitu aku selalu berinisiatif merapikan pekerjaan rumah, aku hanya takut Ibu semakin marah padaku


Siang ini matahari tak menentu sinarnya, kadang dia terang kadang juga tertutup awan bahkan bisa saja sangat terik dan panas. Sementara Ibu selalu saja duduk melantai diteras menatap arah jalan , aku gak tahu entah apa yang dia tatap dengan sorot mata yang kosong dari wajahnya yang semakin pucat. Pandangan matanya selalu kearah jalan yang biasanya Pak Yanto kembali ke rumah, sepertinya terbesit dari batinnya seandainya masih ada keajaiban yang mendatangkan suaminya untuk kembali bersamanya.


Sampai saat ini pun Ibu sudah jarang makan, minum pun jarang sampai-sampai tubuhnya mulai menyusut, wajahnya semakin kusam dan kedua matanya selalu terlihat basah. Aku tahu dia sering sekali menangis dipersembunyiannya tanpa sepengetahuanku tapi aku sebenarnya tahu tapi tetap berpura-pura tidak tahu


Aku paham betul Ibu sangatlah kehilangan sosok manusia baik hati yang dia harapkan sejak lama. Bagaimana tidak, kisah ini membuat batinnya tergores sangat dalam atas apa yang dia alami sekarang.


Sementara Liana sampai saat ini masih tinggal bersama nenek dan kakeknya di desa sebelah, Liana sengaja diajak tinggal bersama mereka karena dianggap butuh penyemangat dari keluarga kandungnya.


Itu lah yang membuat rumah ini semakin sunyi saja ditambah lagi Ibu semakin gak mau berbicara kepadaku walau sepatah kata pun, dia hanya sering duduk diam diteras lalu kemudian mengurung diri di dalam kamar tanpa cahaya. Begitu saja hari-harinya.


Pada akhirmya siang ini Ibu sudah kembali ke dalam persembunyiannya, kamar yang menyinggung kenangan masa lalunya seolah bukan apa-apa dari luka hatinya yang semakin hancur


Tapi aku selalu tetap berada di ruang tamu, meskipun merasakan pedihnya ditinggal sosok yang aku sayangi.


Aku merebahkan tubuhku dilantai tepat dihadapan televisi, mataku memang memandangnya tetapi nyawaku sedang tidak bersamaku. Suara televisi yang cukup keras kini menjadi temanku ditengah hari bolong yang sekarang cukup terik.


Tapi suara dari luar rumah mengacaukan waktu tenangku


"Syallom !" suara seorang Ibu dari balik pintu mengucap salam. Suaranya samar-samar terdengar seolah berebut dengan suara televisi yang aku setel keras.


Tapi aku hanya menoleh pintu yang masih tertutup rapat, mataku hanya terpaku pada pintu yang sejak tadi diketuk dari luar tetapi tubuhku enggan beranjak ke sana


"Syallom !' ucapnya lagi setelah sebelumnya sudah beberapa kali dia mengucap, diiringi suara pintu yang dia diketuk pelan berkali-kali


Tok..tok..tok!


Tapi aku tetap enggan beranjak, sampai akhirnya suara misterius itu memanggil nama Ibuku


"Lasmi !" panggilnya


Mendengarnya, aku mulai ada niat untuk beranjak akan tetapi gak sampai terlaksana juga. Karena aku masih malas untuk bangkit dari kemalasanku lagi pula aku gak tahu siapa yang ada diluar sana dan pikirku akan membuang waktuku untuk menghampirinya jika dia bukan orang yang penting.


Aku masih mengabaikan dia sampai akhirnya suara anak yang aku kenal memanggil namaku. Dia menyebut namaku dengan nada kesalnya

__ADS_1


"Andhira !" ucap Liana


Langsung saja aku cepat-cepat menghampirinya kemudian membuka pintu yang sejak tadi aku gak gubris.


Terlihatlah sosok Nenek Liana dan Liana, mereka berdiri dengan wajah yang cukup kesal, menatapku dengan raut wajah yang datar seolah mau murka tapi dia tahan


Lantas aku langsung saja menyambut mereka diawali dengan senyum tipis, kemudian mempersilakan mereka masuk


"Silakan masuk Nek, Lian" ucapku sembari membuka pintu lebar-lebar


Tetapi Nenek Liana gak membalas senyumanku malah masuk begitu saja


Sepasang mata Nenek melihat ke segala penjuru ruangan seolah mencari sesuatu yang penting baginya


"Ibumu mana ?" tanyanya cepat. Dia masih berdiri namun Liana sudah duduk di bangku tamu


Dengan cepat aku menunjuk pintu kamar Ibu yang tertutup


"Itu di dalam kamar Nek" jawabku


Nenek langsung menoleh lalu menghadap pintu kamar ibu


Tok..tok..tok


Lalu memanggil dengan lembut namanya


"Lasmi !" panggilnya pelan


Tapi dari dalam sana belum ada respon darinya.


Saking Nenek Lian gak sabar menunggu respon dari Ibu, dia langsung saja berinisiatif membuka pintu kamar. Rupanya pintu kamarnya gak dikunci


Nenek masuk saja ke dalam mendapati Ibu sedang tidur menyamping membelakangi Nenek


Nenek duduk disampingnya kemudian membelai rambut Ibu dengan lembut


"Lasmi" panggilnya lagi


Rupanya Ibu dengan cepat meresponnya kemudian beranjak duduk setelah menyadari kalau ada Nenek Lian disampingnya.


Ibu langsung menyalaminya dengan sangat santun

__ADS_1


Melihat kondisi fisik Ibu yang berubah drastis, Nenek Lian cukup prihatin kepada keadaan Ibu yang semakin depresi


"Kamu baik-baik saja, Lasmi ?" tanyanya


Ibu tersenyum kecil "Iya Bu saya baik-baik saja" jawabnya pelan


"Tapi kamu terlihat kurus sekali. Apa kamu sakit ?" tanyanya lagi


Ibu menggelengkan kepalanya "Tidak bu, saya baik-baik saja" jawabnya


Nenek Lian tersenyum tapi dia tahu jika Ibu sedang gak baik-baik saja maka dari itu Nenek mengajak Ibu untuk duduk bersama diluar kamar


"Kalau begitu kita ke ruang tamu saja. Kita minum teh bersama, saya juga ajak Liana" ucapnya


Tanpa ada jawaban Ibu langsung menurutinya.


Akhirnya mereka duduk bersama di bangku dengan suguhan teh manis hangat buatanku. Ibu masih saja diam, gak banyak suara seperti pada hari saat Pak Yanto masih ada.


Nenek Lian kemudian memulai obrolannya "Lasmi, kedatangan aku ke sini sebenarnya hanya mau mengantarkan Liana saja karena Liana harus tinggal bersama Ibunya dan Andhira. Aku hanya khawatir kalau Liana gak tinggal bersama kalian, dia akan lupa kalau masih punya keluarga" ucap Nenek Lian


Mendengarnya Ibu mengangguk saja "Iya Bu" ucapnya


"Semoga kamu bisa menjaga Liana sampai dia dewasa" Pinta Nenek Lian


Ibu mengangguk lagi tapi wajahnya terlihat pasrah saja dengan apa yang dia terima.


Nenek mulai menyeruput hidanganku "Wah, teh manis buatan mu enak sekali Dhira" pujinya padaku


Aku tersipu mendengarnya


Sampai akhirnya Nenek Lian pamit pulang


"Kalau begitu aku pamit pulang ya. Jaga dirimu baik-baik dan tolong jaga Liana baik-baik seperti kamu menjaga anakmu dengan baik" pesannya


Ibu tersenyum tipis dibarengi dengan anggukannya " Iya Bu, saya akan menjaga Liana seperti layaknya saya menjaga Dhira" janji Ibu pada Nenek Lian


Nenek Lian cukup senang mendengarnya


"Terimakasih ya Lasmi, kamu memang istri yang baik yang setia kepada suami dan sayang kepada anak-anak " ucap Nenek berterimakasih


Ibu tersenyum mendengarnya

__ADS_1


__ADS_2