
“Bantu pegang tangannya!” teriak Pak Udin yang berusaha menahan gerakan tubuh Abas yang semakin kuat memberontak.
Pak Lurah yang tengah memegang segelas air putih berusaha mengcengkoki ke mulut Abas. Berkali-kali ia mencoba air tersebut, tetapi selalu meleset dan tumpah ke lantai.
Keringat dingin bercucuran di tubuh mereka, hawa yang tadi dingin berubah panas tidak tertandingi.
“Astagfirullah! Nyebut Nak, nyebut,” teriak Bu Tika berkali-kali berharap Abas dapat mendengar ucapannya.
Sudah hampir setengah jam tubuh Abas meronta-ronta. Cahaya merah yang menyelimuti tubuhnya perlahan meredup. Begitu pula dengan gerakan tubuh Abas yang perlahan mula melemah. Hingga akhirnya Abas berhenti bergerak dan tergeletak lemah di atas lantai.
Semua yang menyaksikan menarik napas lega. Mereka membopong tubuh Abas dan memindahkannya ke atas dipan agar Abas dapat beristirahat.
Baru beberapa menit tubuhnya terbaring, Abas akhirnya siuman dari pingsannya. “Kamu ndak papa, Mas?” tanya Yumna saat melihat mata Abas terbuka.
Abas tampak bingung saat melihat semua orang duduk mengelilinginya dengan tatapan yang sayup, termasuk Yumna dan Bu Tika. “Aku gak papa, apa yang terjadi? Bukankah tadi kita ada acara?” Wajah Abas kebingungan seolah dia tidak ingat apa yang terjadi.
Abas bangkit dan beranjak dari dipan tempat ia terbaring. Dia merasakan sendi-sendi tubuhnya sedikit nyeri dan beberapa bagian tubuh terasa seperti habis menghantam sesuatu.
“Aww!” pekik Abas saat tubuhnya semakin terasa nyeri.
“Kamu benaran tidak apa-apa, Bas?” tanya Wandi meyakinkan kondisi sababatnya itu yang dibalas anggukan oleh Abas.
“Ya sudah, kamu istirahat saja. Kami pamit dulu yah Yum, Bu Tika. Kalau ada apa-apa segera kabari saya,” ucap Pak Lurah tidak ingin mempertanyakan hal itu sekarang kepada Abas dan memberikan waktu untuknya beristirahat.
Pak Lurah, Pak Udin, Yayan dan Wandi akhirnya pergi meninggalkan rumah Abas. Saat melangkah keluar pintu, Wandi tampak beberapa kali melirik ke Abas dengan tatapan heran. Keningnya mengernyit.
'Sial! Kenapa dia tidak mati bahkan tidak ada cidera sama sekali? Padahal biasanya, orang akan mati jika dirasuki oleh bola ruh itu. Benar-benar aneh,' Wandi menggerutu dalam hati, ia tidak terima dengan kegagalan ini.
__ADS_1
...***...
Beberapa hari setelah kejadian itu, berita tentang Yumna kembali menyeruak kepermukaan dan semakin memanas. Beberapa orang mulai menemui Abas, agar laki-laki itu mengurungkan niatnya untuk menikahi Yumna. Namun, saran dari warga langsung ditolak mentah-mentah oleh Abas. Ia tetap kekeh dengan niatnya untuk menjadikan Yumna sebagai istri.
...***...
Malam itu, kondisi Abas sudah pulih. Ia kembali beraktifitas seperti biasanya seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Abas kembali berjaga di pos ronda yang ditemani oleh Pak Udin dan Yayan. Kali ini Wandi tidak terlihat batang hidungnya. Cuaca malam yang sedikit dingin membuat Abas kebelet dan pamit untuk pergi ke musala. Namun, saat ia keluar dari musala Abas melihat Wandi dengan gelagat yang mencurigakan.
Abas mengikuti langkah Wandi tanpa sadar ia tiba di sebuah gubuk milik Nyi Asih. Abas bersembunyi dari luar gubuk untuk mendengar percakapan mereka.
“Kau tau, kan, aku tidak butuh uangmu, Wandi. Mana kesepakatan yang telah engkau setujui tempo hari?” Abas melihat Nyi Asih menolak lembaran uang yang diberikan oleh Wandi.
“Bukankah Nyi Asih telah gagal membunuh Abas?” Wandi tampak kesal dengan Nyi Asih karena tidak memenuhi permintaannya untuk menghabisi Abas. "Jadi tidak salah jika aku hanya memberikan uang berwarna merah, bukan janin merah seperti yang kaupinta." Nyi Asih menatap tajam ke arah Wandi, bola matanya membara seolah tidak terima atas perlakuan Wandi terhadap dirinya.
Abas yang masih mengintip terperanjat, ia tidak menduga bahwa kejadian yang ia alami beberapa hari yang lalu disebabkan oleh Wandi. Abas menelan ludah, ia berusaha mencerna semua ini dan menerima kenyataan bahwa Wandi-lah penyebab ia hampir kehilangan nyawa.
Prangg!
Suara keras itu mengagetkan Abas dari lamunannya. Pandangan mata Abas kembali beralih menatap Nyi Asih dan Wandi. Sebuah bejana dihempas oleh Nyi Asih di depan Wandi sebagai ungkapan kekesalan terhadap laki-laki itu.
“Kenapa Anda bisa gagal, Nyi?” teriak Wandi yang tidak terima dimarahi oleh Nyi Asih,“ jawab pertanyaanku, akan kuberikan jabang bayi merah seperti yang kauinginkan,” ucap Wandi yang masih penasaran dengan kegagalan yang dilakukan oleh Nyi Asih.
Nyi Asih terdiam seolah amarah yang tadi ia rasa meredam. Ia duduk di atas sebuah kursi yang terbuat dari bambu. Pandangan mata Nyi Asih mengambang seolah memikirkan sesuatu yang sempat terlupa.
“Abas bukan laki-laki biasa seperti yang kamu duga. Ia memiliki darah murni dari keturunan Bayu Ajisena. Laki-laki itu adalah jodoh masa lampau dari penunggu tubuh Yumna yaitu Dewi Sekar Agnimaya yang merupakan seorang putri dari selir ketujuh silsilah kerajaan Tumapel." Abas terkejut mendengar ucapan Nyi Asih. Hal ini semakin membuat tidak masuk akal.
Bagaimana bisa dirinya memiliki darah keturunan murni dari seseorang yang diceritakan Nyi Asih, benar-benar tidak dapat dipercaya.
__ADS_1
...***...
"Sudah aku bilang kita harus usir dia sebelumnya petaka lain muncul. Kamu ini, lho, Bas, kayak gak ada perempuan lainnya aja. Ada Tata, Eka atau Kiki gadis desa yang siap kamu pinang. Eh, ini malah milih janda, pembawa sial pula," ucap Bu Nur yang termasuk pemangku desa.
"Udah jangan bilang gitu, gak baik menuduh orang, toh, sekarang Abas baik-baik saja." Pak Lurah mencoba medakan suasana riuh di balai desa sore itu.
"Benar itu, Pak. Kita harus usir dia." Wandi memberanikan diri untuk angkat bicara. Ucapan Wandi sedikit membuat Abas merasa tak nyaman, bagaimana bisa sahabatnya itu berkata demikian.
Berangsur-angsur warga membubarkan diri. Hanya tinggal Pak Udin dan Abas saja yang tetap tinggal di balai desa itu.
Pak Udin menarik nafas panjang dan berdiam diri. Dia tak tahu harus bicara apa terhadap Abas yang ia anggap sudah seperti anak sendiri.
"Jika kamu yakin, lanjutkan," ucap Pak Udin sambil menepuk bahu Abas.
Pandangan pria paruh baya itu merasa iba akan yang terjadi pada Abas disusul anggukan kepala Abas sambil melepas kepulangan Pak Udin dari tempat itu.
...***...
Abas tiba di pintu rumah dan disambut Yumna dengan senyum manis. Secangkir teh hangat dengan wadah gelas tembikar ia suguhkan. Yumna paham harusnya Abas tak terlibat masalah dirinya yang telah terlanjur diberi predikat buruk oleh warga.
Abas berbaring di depan sambil menerawang langit-langit kamar. Pikirannya risau dan berat bagaimanapun Yumna telah jadi istrinya dan sepantasnya dia berada di sisinya hingga ajal memisahkan.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ....