GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
19. PERMINTAAN BU GURU


__ADS_3

Sudah seminggu lebih kaki Nenek masih sakit. Nenek hanya bisa mengurung diri di kamarnya. Tepatnya Nenek sudah gak bisa berbuat apa-apa lagi.


Dengan keadaan Nenek yang seperti itu, otomatis pelanggan Nenek jadi gak ada lagi karena mereka gak mempercayai aku untuk mencuci pakaian mereka. Alasannya beragam, gak mau menggangu sekolahku, gak mau membuat aku lelah bahkan ada yang terang-terangan mengatakan kalau mereka takut nanti pakaiannya membawa kesialan atau kutukan saat mereka pakai.


Tapi semua perkataan buruk mereka selalu aku saja yang tahu, Nenek gak boleh tahu alasannya yang itu.


Sepulang sekolah seperti biasa aku langsung ke kamar Nenek. Bukan hanya sekedar melihat keadaannya tapi juga mau merawatnya supaya Nenek lekas sembuh dan bisa menonton televisi lagi.


Nenek suka sekali menonton sinetron


"Nenek " sapaku saat sudah didalam kamarnya


Nenek menolehku, walau tubuhnya hanya mampu berbaring, walau tatapan matanya semakin kosong dan wajahnya semakin pucat. Belum lagi kondisi tubuhnya yang semakin kurus saja tapi senyum simpulnya selalu menghiasi wajahnya setiap bertemu denganku.


"Tadi sekolahnya gimana ?" tanya Nenek


"Tadi aku dapat nilai sepuluh dipelajaran mengarang cerpen, Nek" ucapku


Nenek tersenyum bangga "Wah, kamu hebat sekali" puji Nenek


Aku senang bisa membuat bangga Nenek, langsung aja aku berlari ke kamar ku lalu mengambil buku tugas ku


Lalu cepat kembali lagi ke kamar Nenek dan menyodorkan buku tugas yang sudah aku buka halamannya untuk Nenek lihat


"Ini Nek, lihat deh. Aku dapat nilai sepuluh dan cuma aku yang dapat nilai sepuluh" ucapku


Nenek meraih buku tugasku dengan lamban dan tangan yang gemetar lalu melihat coretan tinta merah dengan nilai sepuluh


"Kamu pintar sekali" pujinya lagi


Nenek juga sempat membaca sebagian cerita yang aku tulis. Tapi kedua mata Nenek malah basah tapi gak sampai menangis


Dengan suara serak, Nenek berubah iba "Kenapa kamu menulis cerita ini, Dhira ?" tanyanya


"Iya Nek, ini kisah aku. Bu Guru yang bilang kalau misalnya sulit mencari cerita fiktif, boleh kok tulis cerita dari diri sendiri jadinya aku ceritakan saja"


Nenek menutup halaman buku tugasku lalu mengembalikannya kepadaku.


Nenek tersenyum lalu menatapku


"Jangan pernah kamu menganggap diri kamu rendah dan salah hanya karena anggapan orang-orang itu. Semua orang jika hanya fokus mencari kesalahannya sendiri maka dia gak akan pernah sadar atas karunia Tuhan selama ini, kepadanya. Tapi, kalaupun ada kesalahan biarlah kesalahan itu menjadi pelajaran supaya jangan diulangi lagi. Satu hal lagi, kamu ini anak dari Tuhan, kamu lahir dari rahim Ibumu yang tercipta dari buah roh suci dari Tuhan. Bukan dari apa yang mereka lontarkan selama ini. Bukan kamu yang membuat mereka gagal dan menderita tapi mereka yang terlalu sombong menjalani hidupnya sampai-sampai ketika mereka mengalami keterpurukan, mereka gak pernah menyadari kesalahan dalam diri mereka sendiri"


Aku terdiam mendengar nasihat Nenek. Kali ini aku paham apa yang dimaksud oleh Nenek, rasanya aku mau menangis tapi aku gengsi karena gak mau membuat hati Nenek semakin hancur.


Aku hanya tersenyum menatap Nenek lalu memeluknya dengan erat.


"Nenek, makan yuk" ajakkku sambil melepaskan pelukanku


Nenek mengangguk "Iya"


"Sebentar ya, aku ambilkan makanannya dulu" ucapku sambil bergegas keluar dari kamar Nenek


Lalu segera ke dapur menyiapkan makanan untuknya.

__ADS_1


Sudah seminggu ini setiap pagi aku yang masak dan selalu aku pisahkan untuk makan siang dan setiap sebelum dan sesudah pulang sekolah aku selalu menyuapi Nenek terlebih dulu.


Aku selalu usahakan yang makan lebih dulu adalah Nenek setelah itu baru aku karena aku yakin Nenek pasti lebih lapar dari aku


Setelah makanan sudah terisi dipiring, akhirnya aku kembali ke kamar Nenek lalu menyuapinya pelan-pelan seperti biasa


"Makan yang banyak ya Nek, supaya cepat sembuh" ucapku sambil menyuapi Nenek


Nenek menerimanya lalu perlahan mengunyahnya.


Hari ini aku sangat bahagia karena Nenek menghabiskan makanannya. Padahal beberapa hari kemarin dia selalu makan sangat sedikit setengah piring pun gak ada.


"Dhira, kamu gak bilang ke semua orang kalau Nenek sedang sakit kan ?" tanya Nenek


Aku menggelengkan kepala


"Enggak, Nek. Karena Nenek yang bilang padaku supaya jangan kasih tahu kepada orang-orang" jawabku


"Bagus. Jadi, kalau nanti ada yang tanya Nenek kemana, kamu jawab apa ?" tanya Nenek


"Aku jawab kalau Nenek lagi pergi ke kota ke rumah saudara Nenek untuk beberapa minggu karena ada urusan penting" jawabku


Nenek tersenyum "Bagus, jangan sampai mereka tahu" ucapnya lagi


"Memangnya kenapa kalau mereka sampai tahu ?" tanyaku


"Ah, bukan apa-apa. Yang penting Nenek akan usahakan untuk lekas sembuh" ucapnya


Aku mengangguk-angguk saja


"Sekarang kamu makan ya, jangan lupa kalau ada yang ketuk pintu. Intip dulu dari jendela. kalau bukan Ibu atau Pak Yanto jangan dipersilakan masuk ke dalam rumah ya" pesannya


"Iya" anggukku lalu pergi untuk makan


Keesokan harinya seperti biasa setelah merawat Nenek sebentar, aku segera berangkat ke sekolah.


Karena arah sekolah melewati rumah Mira jadi setiap harinya juga aku singgah ke rumahnya dulu untuk sama-sama berangkat ke sekolah.


Tapi rupanya Bu Nina semakin sadar karena belum melihat sosok Nenek lagi


"Dhira, Nenek ke mana ya kok gak pernah kelihatan ?" tanyanya


"Nenek lagi pergi ke kota, lagi ke rumah saudaranya lagi ada urusan penting" jawabku


"Oh, begitu. Jadinya kamu sendirian di rumah ya ?" tanyanya lagi


"Iya, Nenek suruh aku jaga rumah dulu untuk beberapa hari" jawabku


"Wah, kamu anak pemberani ya. Bagus" puji Bu Nina sambil memberi dua jempol tangannya kepadaku.


Setelah aku dan Mira sampai disekolah, kami menerima pelajaran seperti biasanya. Sampai saat ini aku gak pernah merasa terasingkan oleh teman-temanku. Kalaupun ada yang menghina aku, biasanya Mira selalu membelaku, bahkan beberapa teman yang lainnya pun ikut membelaku.


Saat bel pulang sudah bersuara, seperti biasa semua siswa bersorak dan saling berebut berhamburan untuk pulang.

__ADS_1


Seperti biasanya juga aku dan Mira selalu pulang bersama. Ya, kami sudah menjadi sahabat yang saling menjaga dan selalu bersama


Dilorong sekolah saat aku dan Mira melewati beberapa kelas dan ruangan Guru. Dari balik badan kami suara Bu Guru memanggil namaku.


"Dhira !" panggilnya


Langsung saja aku menoleh sumber suara dan meski hanya aku yang dipanggil tapi Mira juga ikut berbalik badan.


Rupanya Bu Yuni sudah berdiri di mulut pintu ruangannya. Tangannya melambai ke arahku seolah memberi kode supaya aku menghampirinya


Langsung saja aku dan Mira menghampirinya.


"Dhira, Ibu mau bicara padamu" ucapnya


Aku mengangguk


Bu Yuni menoleh Mira "Tapi Mira jangan ikut dulu ya, Mira boleh tunggu sebentar diluar" ucapnya


Mira mengangguk paham "Baik, Bu" ucapnya


Akhirnya aku dan Bu Yuni masuk ke dalam ruangannya yang rupanya sudah sepi dan hanya ada kami saja.


Bu Yuni menyuruhku duduk dihadapannya "Silakan duduk, Dhira" ucapnya


Langsung saja aku menurutinya


"Dhira, atas cerpen yang pernah kamu tulis itu. Sampai sekarang Ibu masih mengingatnya. Karena tulisan kamu sangat rapih, kalimatnya sangat baik dan penempatan cerita kamu sangat sesuai"


Mendengarnya aku tersenyum "Terimakasih, Bu"


"Dhira, apa benar itu kisah nyata kamu ?" tanyanya


Aku mengangguk "Iya, Bu"


"Ibu merasa sikap kamu dalam menulis sangat dewasa sekali, Jujur saja, saat Ibu membacanya. Ibu menangis" ucapnya


Aku hanya tersenyum mendengarnya


"Apakah saya bisa meminta satu hal kepada kamu ?" tanyanya


"Apa, Bu ?" tanyaku


"Jangan pernah putus sekolah ya, kamu harus terus sekolah sampai kamu lulus sarjana. Dan kalau boleh saya berpesan. Jadilah Novelis terkenal, sampai kamu dikenal oleh semua orang. Setidaknya saya bangga melihatmu meski dari jarak jauh, atau bahkan kamu sudah melupakan saya. Kenapa saya berharap seperti itu karena saya melihat potensi besar kamu ada disitu" ucapnya


Aku tersenyum, saking merasa dipedulikan olehnya aku jadi salah tingkah sampai-sampai tanpa sadar aku menendang-nendang kaki meja


"Maaf ya Dhira, saya gak bisa membantumu berupa uang tapi saya hanya bisa berdoa supaya kamu sukses dan bertemu dengan Ayah kandungmu" ucapnya


Aku mengangguk "Iya, Bu"


"Maka dari itu, mulai sekarang kamu harus rajin belajar ya, jangan pernah hiraukan omongan orang-orang yang menfitnah kamu, yang mengejek kamu, mengolok kamu. Karena, mereka hanya orang-orang yang gak mau berkaca pada dirinya sendiri, makanya mereka hanya sanggup berkaca pada kaca milik orang lain. Kamu paham kan ?" ucap Bu Yuni


Aku mengangguk lagi "Iya, Bu"

__ADS_1


"Oke, Dhira. Semangat ya. Harus bisa. Kamu pasti bisa" tutupnya


__ADS_2