
Dua jam telah berlalu mengikuti Sekolah Minggu, suatu pembelajaran iman Kristen untuk anak-anak Kristen supaya lebih paham lagi tentang agamanya. Sekolahnya bukan di ruang gedung sekolah seperti pada umumnya dalam gedung sekolah. Tapi hanya di ruang serbaguna atau ruang tertentu yang biasanya selalu dekat dengan gedung Gereja. Dan dilakukan setiap seminggu sekali dijam yang ditentukan biasanya setiap hari minggu
Setelah doa penutup, dengan teratur kami segera keluar ruangan setelah saling berpamitan kepada Kakak pembina
Sampai pada akhirnya diluar ruangan pun Liana masih saja diam bahkan dia terus saja melangkahkan kakinya entah akan pergi ke mana tapi meski begitu aku yang gak tahu arah akhirnya memutuskan untuk tetap mengikutinya dari balik badannya
Tapi rupanya Liana sadar keberadaanku bahkan risih kepadaku.
Sampai akhirnya dia berbalik badan untuk memprotes langkahku yang tengah mengikutinya
"Ngapain sih kamu ngikut terus !" ketusnya sambil membalikkan badannya
Sontak aja tapak kaki berhenti begitu saja "Aku gak tahu mau kemana jadi aku ikutin kamu" jawabku setengah gugup
Liana gak mau terima alasanku dia terus memberikan kesan risih padaku, wajahnya semakin gak ramah dan memerah
"Lebih baik kamu tunggu aja disitu !" tunjuknya pada satu kursi kayu kosong disamping pos sappam dekat gerbang
Lantas saja aku menolehnya "Kenapa aku harus menunggu di situ ?" tanyaku
Raut wajah kesal Liana makin terlihat
"Ya karena nanti Ayah dan Ibu sebentar lagi selesai kebaktian umum !" jawabnya
"Tapi kenapa kamu gak ikut nunggu disana ?" tanyaku sambil menunjuk kursi
"Aku mau ke kamar mandi !" kesalnya kemudian mengusirku cepat "Sana !"
Tanpa ada sambungan kalimat lain Liana cepat-cepat melangkah menjauh dariku
Karena saking aku takut kepadanya akhirnya aku menuruti perintahnya untuk duduk saja dikursi disamping pos.
Aku duduk hanya diam saja karena kebetulan juga di pos gak ada sappam yang menjaga, entah kemana penghuninya aku juga kurang tahu. Tapi ada beberapa orang dewasa lewat-lewat dihadapanku. Tapi gak banyak hanya satu dua orang saja itu pun hanya sesekali dalam beberapa menit.
Matahari makin tinggi serasa ada diatas kepalaku. Siang yang bisu seolah menemaniku yang sekarang bagai hampa.
Kulit ku rasa terbakar dan kerongkongan yang kering serasa bukan masalah daripada isi kepala yang kebingungan harus apa.
Aku berharap Pak Yanto dan Ibu lekas keluar dari dalam Gereja. Tapi sepertinya kebaktiam masih lama berjalan.
Sampai akhirnya beberapa menit berlalu tapi Liana gak kunjung kembali. Padahal dia bilang hanya ke kamar mandi saja tapi dia belum juga datang menemaniku.
Akhirnya karena terik matahari semakin menyengat tubuhku dan membuat rambutku panas. Aku putuskan mencari Liana ke kamar mandi meskipun aku gak tahu dimana letaknya
Aku mengitari halaman Gereja yang cukup luas tapi gak luas banget. Aku masuk ke lorong panjang mengikuti arahan palang panah merah menunjukkan toilet.
Tapi ketika aku buka kamar mandi khusus perempuan rupanya Liana gak ada ditempat.
Sepi dan sunyi
Akhirnya aku berlari menjauh dari hadapan kamar mandi dan kembali mencari Liana ke segala sudut halaman dan akhirnya aku menemuinya di belakang Gereja sedang duduk bersama teman sebayanya sambil minum es susu dalam wadah plastik transparan. Sebenarnya aku bingung dari mana asal minumannya dia dapat tapi itu bukan perkara penting bagiku
Sambil mendengarkan temannya bercerita, Liana mendengarkan sambil menyedot es susu miliknya.
Tanpa rasa segan aku langsung menghampirinya
__ADS_1
"Liana " panggilku
Liana menolehku dengan masih sambil menyedot es susunya
Tapi temannya menyadariku karena dia juga mengenaliku saat tadi Sekolah Minggu, hanya saja aku lupa siapa namanya.
"Ada saudara kamu, Lian" ucapnya
Dengan raut wajah yang masih terlihat gak menyukai aku, Liana justru menyangkalnya
"Dia bukan saudara aku" ucapnya sambil berdiri lalu meninggalkan aku dan temannya.
Temannya hanya terdiam lalu menolehku, raut kebingungan tersirat diwajahnya.
"Dia itu saudara kamu kan ?" tanyanya kepadaku. Dia masih mau meyakinkan karena sikap Liana yang seolah menyalahkan pertanyaannya
Tapi aku malah jadi gak enak hati "Aku juga gak tahu" jawabku seadanya
"Kalau gak salah katanya kamu saudara tirinya ya ?" tanyanya lagi
Aku mengangguk saja
Dia juga mengangguk lega "Tapi kok Lian gak mengakui kamu ?"tanyanya
Aku hanya menaikkan dua pundakku.
Dalam bersamaan rupanya beberapa umat mulai keluar dari pintu-pintu Gereja, mereka saling mencari kendaraan yang mereka parkir atau sekedar saling berjabat tangan dan ada obrolan kecil dan saling menyapa.
Melihat keramaian mulai terasa, aku juga gak luput mencari Ibu dan Ayah diantara kerumunan umat yang berhamburan
"Dhira " panggil Liana
Spontan saja aku menolehnya
Liana berlari kecil menghampiriku dengan wajahnya yang masih bringas
"Ngapain masih di sini sih !" kesalnya
Melihatnya semakin terlihat jahat aku makin gugup dibuatnya
"Ayok pulang, Ayah dan Ibu sudah menunggu. Tadi kan aku udah bilang tunggu di pos !" ucapnya sambil melangkah mendahuluiku
Sementara aku hanya diam saja dan mengikuti langkahnya
Akhirnya aku dan Liana sampai juga dihadapan Pak Yanto dan Ibu yang sudah ada diparkiran rupanya mereka sudah lama menunggu dalam sengatan matahari
Ibu jadi marah padaku
"Dari mana aja sih ?" ucapnya
Tapi aku hanya diam saja karena merasa bersalah
Tapi berayukurnya Pak Yanto gak marah sekalipun padaku "Sudah lah, ayok pulang" ajaknya tanpa memperpanjang permasalahan
Ibu malah makin kesal "Bagaimana caranya ? Mana muat ? " kesalnya
__ADS_1
"Ibu tunggu di sini dulu ya, aku antar anak-anak dulu" jelas Pak Yanto
Tapi Ibu cepat menolaknya "Gak mau !"
Liana hanya diam saja, apa lagi aku
"Loh, kalau gak begitu mau gimana lagi caranya. Kalau mau ya kita langsung angkut semua. Gimana ?" usul Pak Yanto
Ibu masih saja menggerutu kesal "Bikin repot aja" kesalnya. Maksud ucapannya itu untuk aku meskipun dia gak melihat ke arahku
Tapi karena aku gak enak sama Ibu akhirnya aku kasih usul "Kalau begitu Ibu dan Liana saja yang lebih dulu pulang. Nanti aku nunggu di sini aja dulu" ucapku
Ibu cepat mengangguk "Nah, betul begitu" ucapnya
Pak Yanto menatapku pilu seolah ada pertanyaan yang gak bisa dia ucapkan kepadaku
Tapi aku kembali meyakinkan usulanku "Gak apa-apa Pak, nanti aku tunggu di sini dulu" ucapku
Mendengar ucapanku Ibu semakin gak sabar untuk pulang "Udah lah, ayok kita pulang lebih dulu. Aku kan harus masak karena pastinya kita semua sudah kelaparan kan" ucapnya
Aku mengangguk
Tapi Pak Yanto hanya diam saja, wajahnya lesu dan gak bisa membalas kata-kata
Liana dan Ibu naik ke atas jok motor butut Pak Yanto dengan santainya tanpa menoleh wajahku sekalipun tanpa pamit dan kata-kata lain
Tapi Pak Yanto pamit padaku "Dhira di sini aja dulu ya, nanti Bapak jemput. Kami pulang dulu" ucapnya
Aku mengangguk "Iya Pak" jawabku
Setelah pamit padaku Pak Yanto tancap gas lalu pergi meninggalkanku sampai punggung mereka gak terlihat lagi olehku.
Gereja sudah sepi dan aku hanya menunggu sambil duduk di kursi samping pos yang sekarang sappamnya sudah ada di dalam. Tapi sepertinya Pak Sappam masih gak sadar kalau masih ada satu umat yang masih belum pulang.
Sampai akhirnya beberapa menit kemudian Pak Sappam hendak keluar sebentar dari posnya dan baru menyadari ada aku
"Loh, nunggu siapa Dek ?" tanyanya
"Nunggu Bapak" jawabku
"Loh, Bapaknya dimana ?" tanyanya sambil menoleh ke setiap arah halaman Gereja. mungkin dia pikir Bapak aku masih ada disekitaran area Gereja
"Ada di rumah" jawabku
"Loh, kok bisa ada di rumah ?" tanyanya
"Iya, tadi dia antar Ibu dan saudara ku dulu nanti balik ke sini lagi" ucapku
Pak Sappam mengangguk "Ooo, Iya iya. Kalau begitu kamu tunggu di dalam pos saja. Kebetulan saya ada cemilan" ajaknya
Tapi aku menggelengkan kepala "Gak usah Pak, saya di sini saja. Sebentar lagi Bapak akan jemput aku" tolakku
Pak Sappam menatap mataku lalu melihat tubuhku dari kepala sampai kaki
"Ya sudah kalau kamu maunya begitu. Tungguin aja ya. Semoga Bapaknya segera sampai" ucapnya
__ADS_1
Aku mengangguk