GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
Bab 7.


__ADS_3

Abas tak mengalihkan pandangan saat perempuan misterius itu berjalan tenang mendekati pintu rumah Yumna. Cuaca yang tadinya tenang kini berubah terlihat dari angin kencang yang bertiup mengombang-ambingkan dahan pohon di sekitar halaman.


"Aakhh!" Terdengar teriakan kencang dari dalam rumah Yumna ketika perempuan misterius itu masuk menembus dinding rumah Yumna.


"Yumna!" Abas segera berlari kencang untuk memastikan Yumna baik-baik saja.


"Ssssshhhhhh ....” Suara mendesis terdengar mengusik langkah Abas. Kini di hadapan Abas muncul wanita berbadan ular menghadang langkahnya.


"Brakk!!!"


Sabetan ekor wanita ular itu membuat Abas terpental hebat sebelum kagetnya hilang. Beruntung wanita ular itu segera menghilang di keremangan malam.


"Mas, kamu gak apa-apa?"


Yumna yang keluar dari dalam rumah segera mendekati Abas yang tengah terkapar kesakitan. Abas mencoba bangkit namun terjatuh kembali dan pingsan.


...***...


"Dia memiliki ciri yang sempurna pada fisik, weton, dan unsur lainnya hingga disebut Bahu Laweyan. Sesosok makhluk dari masa silam bernaung dalam jasadnya, melindungi, dan mencintainya sebagai reinkarnasi Dewi Sekar Agnimaya yaitu seorang putri dari selir ketujuh silsilah kerajaan Tumapel. Yumna bahkan tak pernah tahu kenapa dirinya demikian. Kekesalan dan kekecewaannya terkadang menjadi petaka bagi yang menggores perasaannya. Tak ada yang benar-benar bisa menghentikan kutukan itu kecuali ia menikahi seseorang yang juga berasal dari trah leluhur yang sama,” ucap Ki Waluyo. Lelaki renta itu masih sibuk meramu obat-obatan dari daun kelor, rumput gajah serta serbuk kayu gaharu.


Beberapa saat Ki Waluyo mendekati Abas dan mengoleskan obat itu pada dada Abas yang memar menghitam.


"Lalu ular itu siapa, Ki?" tanya Abas.


"Ular siluman itu dikirim oleh seseorang untuk melukai Yumna. Mungkin orang yang sakit hati padanya," lanjut Ki Waluyo.


"Apakah perbuatan Bu Wati?" Abas bergumam sambil mengusap dadanya yang memar akibat sabetan ular siluman tempo hari.

__ADS_1


Ki Waluyo segera berpamitan pada Abas, muridnya yang tengah menghadapi situasi buruk itu. Ya, memang selama ini Abas berguru pada Ki Waluyo dari Gunung Lawu dalam ilmu kebatinan. Seperti pada umumnya pemuda desa kala itu. Sebenarnya Ki Waluyo pun bukan seorang dukun, tapi dia lebih dikenal sebagai petapa yang hidup menyendiri di gua atau gunung untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun, justru karena hal itu pula Ki Waluyo memiliki karomah dan kesaktian yang ia gunakan untuk menolong sesama dari gangguan makhluk jahat atau kalangan jin.


...***...


Kasus kematian Tejo beberapa hari yang lalu yang terkesan aneh dan misterius itu menyeret nama Yumna, akhirnya berujung damai. Meski banyak warga yang terbawa emosi dan menuntut agar Yumna diusir dari desa itu. Namun tidak bisa dikabulkan oleh Pak Lurah karena tidak ada bukti atau saksi mata yang tertuju kepada janda cantik itu sebagai pelaku pembunuhan Tejo.


Hari demi hari begitu cepat berlalu pasca kejadian itu. Namun tidak menyurutkan emosi warga kepada Yumna. Kabar tentang dirinya sebagai perempuan terkutuk Bahu Laweyan semakin menyebar luas tak terkendali hingga sampai ke desa-desa tetangga. Yumna dikucilkan dari masyarakat, tidak ada yang mau menerimanya lagi di desa itu kecuali Abas dan ibunya.


“Kamu yang sabar, ya, Nduk. Semua ujian itu berasal dari Gusti Allah. Ibu yakin kamu pasti bisa melewatinya,” ucap ibu Abas kepada Yumna kala mereka duduk di teras depan rumah perempuan cantik itu.


Yumna hanya mengangguk, ia tidak tahu mesti berbicara apalagi. Perlakuan warga desa terhadap dirinya membuat Yumna menjadi manusia anti sosial. Dia kerap kali mengurung diri seharian di kamar untuk menghindari kontak langsung dengan para warga yang membencinya.


“Yum, kami pulang dulu, yah. Bentar lagi mau Magrib. Kamu istirahat aja dulu, tenangkan pikiran. Jangan terlalu dimasukkan ke hati ucapan para warga.” Abas dan Ibunya meninggalkan Yumna sendirian di rumahnya karena malam akan segera menjelang. 


Yumna masuk ke dalam rumah dan menutup pintu selepas Abas dan ibunya pulang, ia bergegas membersihkan diri lalu mengambil air wudu untuk melaksanakan Shalat Magrib. Yumna biasanya tidak pernah absen untuk shalat berjamaah di musala desa. Namun, semenjak kematian Tejo dan rumor tentang dirinya menyebar, Yumna memilih untuk shalat di rumah.


“Berilah hamba-Mu ini kekuatan, aku yakin bahwa Engkau tidak akan menguji hamba-Mu di luar batas kemampuannya." Yumna menutup doanya dengan bersujud. Ia serahkan diri kepada Tuhan semesta alam yang memiliki kuasa atas dirinya. Sujudnya begitu khusyuk sehingga membuat sajadah basah oleh air mata.


Brakk!


Tiba-tiba saja pintu kamar Yumna terbanting kencang seperti ada yang menghempas. Bersamaan dengan itu pula lampu pelita yang tadi menyala mendadak mati tanpa sebab padahal tidak ada angin yang meniupnya.


Wushhh!


Telinga sebelah kiri Yumna seperti ditiup oleh seseorang yang sontak membuat bulu kuduknya bergidik ngeri. Yumna menoleh, terlihat kepulan asap tebal berwarna hitam bergulung-gulung di tengah kamarnya yang dapat dia lihat dari pancaran sinar rembulan melalui celah-celah dinding.


“Perempuan terkutuk! Sengsaralah kau hingga akhir hayat.” Yumna mendengar seseorang berbisik di telinganya namun dia tidak melihat siapa pun di kamar itu selain dirinya.

__ADS_1


Sementara itu, kepulan asap semakin mendekat ke arah Yumna yang masih duduk bersimpuh di atas sajadah dan masih mengenakan mukenah. Asap pekat itu mengelilingi tubuh Yumna, lalu mengangkatnya ke atas dan membuat Yumna ketakutan.


“Akhhh! Tolong!” teriak Yumna ketika asap tebal itu semakin mengangkat tubuhnya hingga kepalanya hampir menyentuh langit-langit kamar.


Tubuh Yumna memberontak, semakin kuat gerakan yang dihasilkan Yumna, asap itu seolah semakin kuat pula mengeratkan ikatan pada tubuh perempuan cantik itu.


“Yumna! Yumna! Kamu kenapa?” Dari pintu depan terdengar suara teriakan Abas sambil menggedor-ngedor daun pintu.


Suara Yumna semakin tercekat, ia tidak bisa bersuara menjawab panggilan Abas yang tengah berteriak di luar sana.


“Kang, tolong aku!” Dengan sekuat tenaga Yumna berusaha mengeluarkan suara agar Abas dapat mendengarkannya.


Brakkkk!


Pintu depan didobrak oleh Abas, ia segera berlari menuju kamar Yumna dan melihat tubuh Yumna terbang melayang di udara. Tangan Yumna menggapai-gapai seolah memberi isyarat agar Abas dapat meraihnya. Namun, tubuhnya sangat tinggi dan tidak dapat digapai oleh Abas.


“Ayo berdoa, Nak. Minta perlindungan kepada Gusti Allah,” ajak Ibu Abas yang mulai terlihat panik.


Abas berlari ke dapur dan mengambil segelas air putih, lalu mereka berdua menengadahkan tangan, berdoa dan membaca ayat suci Alquran agar apa pun gangguan yang terjadi pada Yumna dapat segera dilepaskan. 


“La ilaha ilallah.” Abas mengencangkan ucapan terakhirnya sambil melemparkan air di dalam gelas yang sudah ia doakan ke arah Yumna.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2