GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
40. CEMBURU


__ADS_3

Hari ini adalah hari kedua Pak Yanto jatuh sakit, tubuhnya yang semakin melemah dia paksa untuk pergi bekerja demi mendapatkan upah yang gak seberapa demi menafkahi keluarga yang dia sayangi.


Bibirnya yang pucat dan kantung matanya yang menghitam adalah suatu tanda kelelahannya yang gak bisa aku bayar dengan apa apun.


Apa lagi Pak Yanto seorang yang rendah hati dan sangat dikenal dengan senyuman ramahnya oleh para tetangga. Siapa yang gak mengenalnya. Semuanya tahu siapa sosok berhati lembut. Pak Yanto


Ya, Pagi ini dia memaksakan diri untuk berangkat meski sejak semalam Ibu sudah melerainya


"Yah, lebih baik Ayahh jangan kerja dulu. Nanti kambuh lagi" lerai Ibu


Bahkan Pak Yanto pun gak menghabiskan sarapannya


Tapi Ayah masih saja bersikeras "Aku sudah sehat Bu" ucapnya dengan suara yang gemetar tapi dia acuhkan begitu saja


Meski dia berusaha kuat tapi kami tahu wajah pucatnya yang gak bisa berbohong


Ibu tetap menggelengkan kepalanya "Jangan lah, besok saja kalau sudah sembuh" larangnya lagi


"Enggak Bu, kalau Ayah gak kerja nanti gaji harian Ayah dipotong. Nanti gajian Ayah berkurang" ucapnya


Ibu diam tapi akhirnya gak perduli dengan alasan Ayah


"Anggap aja gaji tiga hari kedepan ini sudah Ayah belanjakan, kesehatan Ayah lebih penting" pinta Ibu lagi


Ayah diam sejenak seperti memikirkan sesuatu, sesekali dia menahan dingin yang seolah memperingatkannya juga


Kali ini Ayah menuruti mau Ibu


"Iya sudah Ayah coba hari ini istirahat lagi, semoga saja besok Ayah sudah sembuh" ucapnya


Ibu tersenyum mendengarnya.


Saat bersamaan pula aku pamit


"Pak, aku berangkat dulu" pamitku


Dilanjut Liana "Berangkat dulu ya Ayah" ucapnya


"Iya kalian hati-hati ya" balasnya


Sesampainya di sekolah aku dan Liana berpisah karena memang kelas kami berbeda.


Suasana dalam lorong sekolah sudah cukup ramai, banyak yang lalu lalang menikmati waktu yang sedikit sebelum kelas dimulai.


Aku berjalan pelan melewati para siswa yang berada diluar kelasnya, mereka sekedar saling ngobrol atau bahkan saling bercanda satu sama lain.


Dari belakang Septi memanggilku, dia berlari kecil diiringi suara derap sepatunya yang membuat dirinya menjadi pusat perhatian sesaat.


Aku berhenti menunggunya mendekatiku setelah berbalik badan


Septi terengah-engah tapi dia sumringah pagi ini "Hai, Dhira !" sapanya


Aku tersenyum "Tumben jam mepet begini baru sampai" ucapku


"Sebenarnya sudah dari tadi" ucapnya sambil memulai langkah ke kelas dan aku mengiringi langkahnya


"Emang tadi ke mana dulu ?" tanyaku


"Tadi aku habis daftarin kita ?" jawabnya


"Kita ?" tanyaku bingung


"Iya, kita. Kamu dan aku" jawabnya

__ADS_1


"Maksudnya daftarin apa nih ?" tanyaku makin bingung


Septi tertawa geli "Aku ada tantangan buat diri aku sendiri dan kamu" ucapnya


Aku menyatukan dua alisku "Maksudnya apa sih ?"


"Aku daftarin kamu ikutan Paskibra untuk tugas upacara bendera. Hahaha" ucapnya diselingi tawa geli. Baginya itu lelucon tapi juga keren, tapi bagi aku itu sama sekali gak lucu


"Apa ?" aku panik.


Aku sudah membayangkan betapa bodohnya aku melakukan tugas berat itu.


Septi tertawa "Hahahaha !"


"Septi kamu serius gak sih ?" tanyaku makin panik


Septi mengangguk "Iya"


Langsung aja aku tepuk pundak Septi "Yang bener aja sih, aku kan gak pernah latihan begitu"


Tapi Septi berusaha menenangkan kepanikanku yang sudah diujung kuku


"Tenang aja, kita cuma jadi paduan suara aja kok. Hahahaha" ucapnya


Meski aku kesal tapi aku lega "Ah, bikin panik aja sih. kalau cuma paduan suara masih mendingan deh bisa nyolong suara" ucapku


"Nyolong suara siapa, mau paduan suara aja udah niat kriminal" ujar Septi


"Ckkh, bukan nyolong yang aneh-aneh"


Septi tertawa kecil "Hahaha" Tapi melanjutkan obrolan yang lainnya


"Eh, tahu Miguel kan ?" tanyanya tiba-tiba saja membicarakan seorang laki-laki.


"Miguel siapa ?" tanyaku polos


"Haduh, dia anak kelas tiga. Ganteng banget. Nanti deh aku kasih tunjukin orangnya" ucapnya


"Kakak kelas kah ?" tanyaku malah linglung


Septi mencubit kedua pipiku lalu menariknya sampai melar seperti karet


"Kamu pikir kalau kelas tiga itu adek kelas kita, lantas kelas satu itu siapanya kita ? Bapak kelas ?" ucapnya sambil cepat melangkah memasuki pintu kelas.


Septi berjalan lebih dulu tapi ada Gea yang seolah menghambat jalan antara Gea dan barisan kursi. Gea berdiri menatap Septi dengan tatapan sinis tapi Septi gak mau meladeninya


"Permisi ya, aku mau lewat" ucapnya


Sementara aku ada dibelakang Septi menekuk wajah yang sadar diri kalau aku gak mungkin bisa melawannya


Gea masih menghalangi jalan kami "Aku lihat di daftar tugas upacara kalau kalian termasuk bagian dari paduan suara" ucapnya sinis


Septi mengangguk saja "Iya, memangnya kenapa ?" tanyanya balik


Gea tersenyum kecil, senyuman yang bukan untuk menyenangkan hati orang lain


"Apa gak salah tuh" sindirnya


Septi menggelengkan kepala "Oh enggak salah kok, kita berdua memang bisa nyanyi kok" ucap Septi sambil menunjukku juga. Padahal seumur hidupku, aku belum pernah bernyanyi.


Gea makin geli mendengar ucapan septi "Kalian berdua ngomong aja gemeteran apa lagi nyanyi" ucapnya


Septi diam tapi gak mau melanjutkannya, dia hanya berusaha mau masuk ke arah kursi kami " Permisi" ucapnya sambil maju selangkah

__ADS_1


Tapi Gea masih menghalanginya " Aku mau temanmu si pecundang itu yang lewat duluan" ucapnya sambil menolehku


Septi gak mau menjawabnya tapi dia tetap maju meski dihalangi oleh Gea "Geser!" ucapnya dengan paksa sambil menabrak tubuh Gea.


Akhirnya tubuh Gea sedikit terpental oleh tubrukan tubuh Septi. Dan pada akhirnya disusul oleh aku melewatinya.


Gea menatapku "Aku heran sama kamu, padahal kamu itu jelek tapi kok bisa ada di kelas ini. Gak pantes banget !" ucapnya dengan suara tipis


Aku memang udah gak menatapnya tapi aku mendengar apa uang dia ucapkan. Seketika kalimat itu menempel dikepalaku sampai-sampai aku berjanji didalam hati, suatu saat nanti kalau aku siap maka aku akan melawannya.


Dalam bersamaan Guru masuk dan pelajaran pun dimulai.


Meski begitu aku mengerjakan tugas tanpa memikirkan omongan Gea, aku jadi teringat ucapan Pak Yanto yang gak perlu mendengarkan omongan buruk orang lain.


Tiap mata pelajaran kami sudah ikuti disetiap jamnya sampai akhirnya bel pulang pun berbunyi.


Langsung saja siswa berhamburan keluar kelas, masing-masing mencari jalan arah pulangnya gak ketinggalan juga dengan aku dan Liana.


Sesampainya kami di rumah aku dan Liana menemui Pak Yanto yang rupanya sedang tertidur pulas, Ibu bilang Pak Yanto habis diurut oleh tukang urut dan sudah minum obat juga makanya tidurnya pulas karena itu efeknya.


Aku juga gak pernah lalai karena disetiap siang sepulang sekolah sudah gak asing lagi, hal yang biasa aku lakukan cepat-cepat aku bereskan supaya aku bisa bersantai nantinya. Untungnya siang ini pakaian kotor gak begitu banyak.


Langsung aja tugas yang pertama aku kerjakan mencuci pakaian karena aku harus mengimbangi sinar matahari yang masih panas.


Satu per satu pakaian satu keluarga aku cuci, dimulai dari pakaian aku kemudian pakaian Ibu, Pak Yanto dan aku menemukan daster baru Liana.


Aku basahkan dasternya lalu memberikannya sabun diatas papan penggilasan.


Tapi ada yang lain dari hatiku.


Batinku mulai panas mencucinya


Kemudian aku mengambil gunting lalu menggunting gunting bagian roknya. Hasilnya menjadi robek-robek cukup banyak


Setelah puas aku kembali membilasnya lalu menjemur semua pakaian tanpa merasa bersalah.


Ya, aku marah.


Aku benci


Aku iri


Aku sudah mulai muak dengan semua yang aku terima dalam hidupku.


Aku tahu itu salah tapi ada yang lebih salah, yaitu hati kecilku yang hanya diam saja saat semua orang menyakitiku.


Karena siapa lagi yang akan membelaku kalau bukan aku sendiri.


Aku masih menjemur pakaian dibawah langit yang biru, disaat matahari masih bersinar terang dan angin yang bertiup cukup lembut


Dari dalam rumah Ibu memanggilku


"Dhira !" panggilnya


Mendengarnya lantas aku cepat mengahmpirinya


"Kamu ngapain di belakang ?" tanyanya


"Lagi jemur pakaian Bu" jawabku


"Oh, kamu masak air panas sana. Bikinin Ibu teh hangat. Ibu kepengen minum" ucapnya


Aku mengangguk "Iya Bu" ucapku kemudian pergi bergegas membuatnya

__ADS_1


__ADS_2