
Kelas dihari pertama belajar setelah melewati masa orientasi siswa baru, kelas yang cukup tenang meski gak ada Guru dimejanya semua siswa dengan tenang mengerjakan tugas yang diberikan oleh Guru matematika setelah sebelumnya sudah memperkenalkan diri dan kami pun memperkenalkan diri satu persatu kepadanya.
Ya, begitu cepat berlalu dan sekarang aku sudah masuk sekolah. Seragam ku sudah putih biru tapi kemeja putih yang sudah kusam ini aku balut dengan jaket kain abu-abu pemberian Pak Yanto. Bukan untuk menutupi seragam yang sudah berubah kuning ini tapi untuk menutupi kondisi fisikku yang belum siap aku perlihatkan kepada teman-teman baruku. Sebenarnya Pak Yanto gak mengindahkan kemauanku tapi aku memaksa untuk menyembunyikannya.
Aku ditempatkan dikelas yang dianggap para Guru adalah kelas favorit diseluruh kelas satu di sekolah ini, kelas yang isinya siswa pilihan dengan nilai yang bagus
Tapi Liana gak sekelas denganku dia ditempatkan dikelas lain.
Aku pun ikut fokus mengerjakan tugas yang diberikan tapi entah kenapa pensil terlepas dari genggaman jemari dan terjatuh disamping meja.
Aku pun cepat meraihnya
Tapi ada langkah kaki yang sengaja cepat menginjak tanganku saat tengah mengambilnya.
Sontak saja aku berusaha melepaskan injakannya
"Auwh !"
Lantas saja aku menoleh wajahnya, Gea namanya. Dari penampilannya sudah terlihat jelas kalau dia adalah gadis dari orang tua yang kaya.
"Upsh, I'm sorry. Aku pikir dilantai gak ada tangan kamu" umpat Gea sembari kembali melangkah ke arah kursinya yang tepat dibelakangku.
Tapi aku diam saja karena aku gak mau bertengkar hanya untuk meladeninya.
Sementara Septi teman sebangku aku hanya diam saja, bisa jadi dia pun takut gak mau bermasalah kepada Gea yang sosoknya terlihat mempunyai power di kelas
Dalam bersamaan Bu Rie, guru matematika datang lalu duduk dikursinya
"Apa tugasnya sudah selesai dikerjakan ?" tanyanya kepada kami
"Belum Bu !" serempak kami.
"Baiklah, kalau gitu masih ada waktu dua puluh menit lagi untuk mengumpulkannya. Kalau lebih dari dua puluh menit tidak mengumpulkan maka buku tugasanya tidak akan saya terima !" jelas Bu Rie
"Baik Bu !" serempak kami lagi
Untungnya dari dua puluh soal yang diberikan Bu Rie sudah tersisa dua soal lagi yang akan aku kerjakan.
Suasana kelas makin hening dan gak ada satupun yang berani berbicara dengan suara yang keras.
Dari mejanya, Bu Rie memanggilku dengan menunjukku karena dia belum hapal namaku
"Hei, kamu !" tunjuknya padaku
Lantas saja aku menolehnya begitupun dengan yang lainnya
"Saya Bu ?" tanyaku, meyakinkan tunjukkan Bu Rie
"Iya kamu !" jawabnya
"Iya Bu" jawabku
__ADS_1
"Coba kamu berdiri !" perintahnya
Dengan perlahan aku berdiri sembari menoleh ke kanan dan ke kiri melihat pasangan mata yang kini tertuju hanya padaku
"Kenapa kamu pakai Jaket ?" tanyanya
Tapi aku belum bisa menjawabnya, aku malu berkata jujur.
Tolehan wajahku semakin gugup karena sorotan mata para temanku semakin membuatku gak percaya diri
"Kenapa ?" tanyanya lagi
Aku masih diam saja
"Kamu sedang sakit ?" tanyanya lagi
Entah kenapa aku mengangguk mendengarnya
"Oh, kalau kamu sakit seharusnya jangan masuk dulu, tapi kalau nanti kamu gak kuat kamu bisa ke UKS saja ya" ucapnya
Aku mengangguk saja
"Ya sudah sekarang kamu lanjutkan pekerjaan kamu" ucapnya
"Iya Bu" jawabku
Dipenghujung dua puluh menit akhirnya semua sisa berhasil mengumpulkan buku tugasnya termasuk aku yang sudah mengumpulkannya dipertengahan waktu.
Dan sudah saatnya kami menunggu pelajaran kedua oleh Guru yang berbeda yang belum ada perkenalan pada kami
Septi, teman sebangku aku yang belum akrab juga padaku, aku gak tahu apakah dia akan berbaik hati padaku atau malah sama seperti Gea
Tapi rupanya Septi yang memulai obrolannya padaku
"Emangnya beneran ya kamu lagi sakit ?" tanyanya
Aku bingung mau jawab jujur atau tetap berbohong tapi anggukan kepalaku lebih cepat dari pikiranku
"Oh, sakit apa ?" tanyanya
"Kayaknya demam sih" jawabku
"Oh gitu, tapi kamu bawa obatnya ?" tanyanya
"Aku gak bawa, obatnya di rumah" jawabku
Septi mengangguk "Oh, Iya iya" ucapnya
Hari ini rupanya aku bisa berhasil melewatinya, aku pikir aku akan hanya diam saja dan gak ada seorang pun yang mau berteman kepadaku. Meskipun temanku hanya Septi tapi setidaknya yang terlihat jelas membenciku tanpa satu alasan yang jelas hanya Gea saja sementara teman sebangku Gea belum menunjukkan respon apa-apa kepadaku mungkin dia belum terkontaminasi oleh sikap toxic Gea. Tapi entahlah, sepertinya aku harus bisa semakin terbiasa dengan mereka.
Halaman luas sekolah sudah dibanjiri oleh para siswa yang hendak pulang ke rumah mereka masing-masing, dari kejauhan diantara siswa lainnya aku mencari Liana yang gak kunjung terlihat.
__ADS_1
Karena Pak Yanto berpesan kepada kami berangkat dan pulang sekolah harus selalu bersama.
Akhirnya aku menunggunya diluar gerbang sekolah.
Mataku gak berhenti mencari Liana dari arah jauh, seakan mendeteksi setiap siswa yang melewatiku satu persatu
Beberapa menit menunggu dibawah langit biru yang cukup panas, semakin lama siswa yang melintasi gerbang semakin berkurang saja tapi Liana masih belum terlihat juga.
Jujur saja aku jadi patah asa karena sekarang aku berpikir kalau Liana memang sudah pulang ke rumah tanpa aku.
Akhirnya aku putuskan melangkah ke pinggir jalan untuk menunggu mikrolet bersama beberapa siswa lainnya yang masih menunggu.
Terik matahari semakin panas membuat tenggorokan semakin kering saja, sementara mikrolet belum juga datang
Pandangan ku terus saja terpaku ke arah kedatangan mikrolet, gak berubah sejak tadi sampai leher terasa pegal dan kaku
Tapi seorang menarik pundakku dari balik badanku dengan kasar.
Sontak saja aku menolehnya dengan cepat, rupanya Liana yang raut wajahnya sudah muram
"Kenapa kamu ninggalin aku ?" tanyanya
"Aku pikir kamu sudah pulang" jawabku
Liana gak terima alasanku "Tahu dari mana. Hah !" kesalnya
Aku diam saja.
Jujur, aku bingung mau jawab apa
Posisiku bagai sangat bersalah baginya.
"Aku lagi di toilet harusnya kamu periksa satu per satu toiletnya !" jelasnya
Aku masih diam saja belum bisa menjawab
"Untung aja kamu belum naik angkot. Dasar gak punya pikiran kamu itu !" ketusnya
Mendengar Liana marah-marah begitu sampai-sampai beberapa siswa disebelahku menontonnya.
Tapi aku tetap diam saja sampai akhirnya mikrolet berhenti didepan kami.
Bahkan sampai didalam mikrolet pun Liana masih mengoceh kepadaku
"Makanya kalau jadi orang tuh yang cekatan dong, harusnya cari tahu jangan diam aja. Kamu sengaja kan mau ninggalin aku !" kesalnya
Tapi aku tetap diam saja, hanya suara dia saja yang terdengar bahkan penumpang lainnya pun gak ada yang berkomentar sampai-sampai supir mikrolet menoleh ke arah Liana dari spionnya.
Aku berharap mikrolet segera berhenti di jalan dekat rumah, aku sudah gak nyaman dengan sikap Liana yang terus saja menghakimi aku sepanjang jalan.
Aku juga berharap Liana gak mengadu kepada Ibu karena itu akan membuat aku semakin terpojokkan
__ADS_1