GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
56. MASIH TERTUDUH


__ADS_3

Jelas saja aku menolaknya karena untuk apa dia melihat isi dalam tasku "Gak mau !" tolakku sembari menepis tangan Nasya


Sampai pada akhirnya aku dan Nasya saling menarik tas. Sementara Mira sudah gak tahu harus melakukan apa sampai pada akhirnya Nasya berhasil merebut tasku.


Kemudian dengan cepat-cepat dia membuka resleting tasku lalu menghamburkan semua isi dalam tasku


Akhirnya Mira yang menjadi saksi kalau hape yang Nasya maksud sama sekali gak ada di dalam tas ku.


Tapi meski begitu Nasya tetap bersikeras kalau akulah yang mencuri hapenya


"Pasti lu simpan ya , lu simpan di mana ?" tuduhnya lagi.


"Aku gak tahu apa-apa dan aku gak ambil, aku juga gak pernah lihat hape kamu" ucapku


"Jangan bohong lu !" bentak Nasya lagi


"Kalau aku yang ambil aku mati sekarang juga !" sumpahku


Nasya malah semakin kesal mendengarnya


"Dengar baik-baik ya, gua akan perkarain ini besok. Gua akan lapor sama guru kalau lu yang ambil supaya lu dikeluarkan dari sekolah ini. Paham lu !" ancamnya sembari pergi meninggalkan aku dan Mira


Setelah Nasya pergi, Mira masih bertanya-tanya kepadaku "Memangnya benar ya kamu yang ambil hapenya ?" tanyanya


Tapi aku gak menjawabnya, aku malah sibuk memasukkan buku, pensil, pulpen, penghapus dan penggaris yang berserakan diatas tanah.


"Dhira, kamu gak mencuri kan ?" tanyanya lagi


Setelah isi dalam tasku sudah rapih kembali, akhirnya aku bicara pelan kepadanya


"Apa kamu gak percaya sama aku ?" tanyaku


Mira menatapku dalam-dalam "Aku percaya kalau kamu orang baik" ucapnya


"Kalau kamu percaya aku baik, seharusnya kamu gak perlu tanya kalau aku mencuri atau gak" jawabku sembari pergi meninggalkan Mira


Tapi Mira masih mengikutiku dari belakang "Dhira, maaf ya. Aku gak bermaksud menuduh kamu. Aku cuma bertanya aja" ucapnya dari balik punggungku


Aku hanya mengangguk dan melanjutkan melangkah pulang, tapi Mira masih saja ada dibelakangku


"Dhira, kamu gak ikut kelas ibadah ?" tanyanya


Mendengarnya langkahku terhenti "Untuk apa ?" tanyaku


Mira gak bisa menjawab


Tapi aku masih terus bicara "Untuk masuk surga atau mendapatkan nilai ?" ucapku


"Dua-duanya, Dhira" ucapnya


Aku membalikkan badan kemudian berhadapan dengan Mira

__ADS_1


"Apa Tuhan itu ada ?" tanyaku


Mira menatapku "Kenapa kamu bilang begitu ?"


"Apa Tuhan itu baik ?" tanyaku lagi


"Dhira, kamu gak boleh bilang begitu" ucapnya


"Apa Tuhan akan mengenali aku ?" tanyaku lagi "Kalau Tuhan itu maha Esa maha penyayang, maha melihat tapi kenapa aku hidup sesakit ini ?" ucapku


Kali ini airmataku kembali jatuh


"Dhira, kamu gak boleh bilang begitu" jawabnya


Karena saking kesalnya dengan diriku sendiri nada bicaraku akhirnya tinggi


"Kamu itu gak akan pernah tahu rasanya jadi aku, karena kamu diciptakan sempurna oleh Tuhan tapi aku hanya apa, hanya manusia yang lahir dikutuk oleh Ayah aku sendiri !" ucapku berderai airmata


"Dhira, kamu gak boleh bilang begitu !" ucap Mira


"Semua orang menghakimi aku, semua orang menghina aku, semua orang mencibirku. Kamu enak punya keluarga. Sementara aku. Siapa keluarga aku ?" ucapku


"Kamu bahkan bisa dengan enteng menyuruh aku untuk bersyukur lah, bersabar lah" tambahku


"Dhira, kamu gak perlu mencari Tuhan. Karena Tuhan selalu ada dihati kamu. Dengan kamu bicara seperti ini itu artinya kamu menyalahkan Tuhan. Kamu harus tahu Tuhan itu baik" ucapnya


"Iya, Tuhan itu baik. Kamu bisa bilang begitu karena selama ini kamu hidup enak karena jauh dari kemalangan. Coba kamu jadi aku berapa waktupun yang kamu mau. Apa kamu sanggup ?" ucapku


"Aku udah capek meminta kelayakan kepada Tuhan" ucapku sembari pergi meninggalkan Mira. Dan kali ini Mira gak mengikutiku lagi.


Ini adalah pagi kedua yang membuat aku semakin gak nyaman tinggal dirumah Bibi Ros. Bagaimana enggak, Bibi Ros masih saja membisu.


Aku ini hanya anak yang diasuh oleh keluarga besar Pak Yanto, bagaimana pun juga aku masih segan untuk terlalu akrab kepada mereka. Tapi dengan adanya sikap dingin Bibi Ros kepadaku, aku mulai berpikir untuk hidup seorang diri saja.


Aktifitas dipagi hari ini masih sama saja tapi bekunya hati Bibi Ros belum juga mencair.


Setelah pamit dari Om Dudu dan Bibi Ros, akhirnya aku berangkat ke sekolah. Ini adalah hari kedua aku gak semangat sama sekali. Jika aku mampu maka aku akan bolos.


Dilorong sekolah aku berpapasan dengan Mira. Mira menyapaku dengan manis "Hai, Dhira" ucapnya


Tapi aku lebih memilih membuang muka dan terus melangkah menuju kelas supaya gak terlalu lama melihat Mira.


Mira menatapku dengan penuh tanda tanya, apa lagi ketika aku melewati momen sapaannya yang seolah gak berguna bagiku


Jam pelajaran pertama adalah Geografi. Karena Guru Geografi terlalu galak maka semua siswa dalam kelasku bagai tersambar malaikat suci. Diam dan santun.


Namanya pak Beno, gak ada kumis tetapi rahangnya ditumbuhi banyak rambut tipis, tubuhnya tinggi besar berkulit hitam manis persis mirip orang Arab.


Dia tegas dan berwibawa menerangkan materi yang selalu aku mengerti. Tapi kali ini dia memberikan sesi pertanyaan beda dengan hari-hari sebelumnya.


"Ada yang mau bertanya ?" tanyanya kepada kami

__ADS_1


Sejenak semua diam tapi ada satu anak perempuan mengacungkan jari telunjuknya


"Saya Pak !" ucapnya


Semua menoleh ke arah Nasya


"Iya Nasya, silakan kamu mau bertanya apa ?" ucapnya


Kemudian Nasya menurunkan jari telunjuknya dan pandangannya tetap lurus ke Pak Beno


"Kalau ada teman kita mencuri hape kita apakah dia itu bisa disebut maling ?" ucapnya, sebuah kalimat pertanyaan yang satir untukku


Pak Beno mengernyitkan dahi. Dia bingung kenapa pertanyaannya jauh dari materi yang dia bahas.


"Memangnya kamu kehilangan hape ?" tanyanya


Nasya mengangguk "Iya Pak, hape saya hilang diatas meja. Kemarin saya lupa bawa pulang. sewaktu ditengah perjalanan saya baru ingat, saat saya kembali ke dalam kelas ternyata hape saya sudah lenyap" ucapnya


"Kamu yakin ada yang mencuri atau kamu yang lupa. Bisa jadi hape kamu jatuh dijalan tapi kamu berpikir ketinggalan ?" tanya Pak Beno


Nasya menggelengkan kepala dengan yakin "Gak Pak, aku ingat kalau hapenya ketinggalan di meja" tepisnya


"Oh, jadi menurut kamu siapa yang ambil ?" tanyanya


"Andhira, Pak !" jawabnya cepat.


Seketika saja semua menatapku sementara aku hanya menunduk saja. Mau mengelak tapi mulut terkunci karena rasanya lelah meyakinkan orang yang darah dagingnya saja sudah menjadi pembenci orang lain.


Pak Beno menghampiriku, dia berhadapan dengan jelas di depan mataku


"Apa benar kamu mencuri hape Nasya ?" tanyanya pelan


Tapi aku diam saja


Meski begitu Pak Beno tetap bertanya dengan pelan seakan gak berpihak kepada siapapun


"Dhira, saya bicara.kepada kamu" ucapnya


"Apa benar kamu yang mencuri hape Nasya ?" tanyanya lagi


Akhirnya aku menggelengkam kepala "Enggak Pak, aku memang gak punya hape dan sebenarnya aku juga ingin punya hape. Tapi bukan berarti aku harus mencurinya supaya aku punya " ucapku


Mendengar aku bicara seperti itu semua diam.


Hening


Hanya Pak Beno yang bicara "Kamu yakin ?" tanyanya lagi


"Iya Pak, saya bersumpah gak ambil. Karena saya pun gak tahu kalau ada hape diatas mejanya" ucapku


Pak Beno mengangguk "Menurut kamu, selain kamu siapa lagi yang masuk ke dalam kelas ?" tanyanya

__ADS_1


Aku berpikir sebentar, sejenak mengingat kembali peristiwa hari itu


__ADS_2