
Pagi harinya seperti biasa Almira menemani Livia di rumah sakit, tidak ada perubahan Livia masih berjuang melawan rasa sakit nya.
Almira sudah memasukkan adik Livia ke asrama, dia melakukan semua itu agar adik laki-laki Livia bisa mandiri dan mengenal agama.
Meski dia tau jika Livia bangun dia akan marah karena Livia selalu ingin berdekatan dengan adik laki-laki nya yang masih SMP itu.
"Livi, bangun yuk kita masih punya banyak hal yang belum kita lakukan" ucap Almira melihat Livia yang terbaring lemah di ranjang.
Wajah Livia memucat, Almira menguatkan hatinya agar tidak kembali menangis karena dia ingin Livia kuat.
"Aku akan menikah dengan Justine, aku benar-benar melakukan semua itu Livi" Almira menjeda ucapan nya.
Matanya melihat Livia lagi, lalu memegang tangan Livia.
"Kau tau Livi dia orang yang sangat menyebalkan sombong dan juga narsis, aku sangat ingin menghajar nya jika melihat tingkah nya yang narsis itu" lanjut Almira menceritakan sikap Justine.
Almira bercerita panjang kali lebar akan tujuan nya menikahi Justine, dan dia mengatakan nya dengan wajah penuh percaya dirinya.
Setelah selesai menjenguk Livia Almira keluar, dan di saat bersamaan juga ada seseorang yang memanggil nya.
"Nona Almira" panggil suster.
"Saya, sus" Almira berajalan mendekati suster.
__ADS_1
Suster menjelaskan jika Almira harus menyelesaikan pembayaran rumah sakit.
Ini sudah hari ke empat dan Almira belum kunjung menyelesaikan pembayaran nya, jika Almira telat pihak rumah sakit hanya bisa melepaskan selang yang Livia gunakan untuk bertahan hidup.
"Apa tidak ada keringanan sus?" tanya Almira.
"Maaf nona itu sudah kebijakan rumah sakit" jelas suster lagi.
Almira mendengar itu tidak bisa terlihat baik-baik saja, dia tau jika selama ini Livia mengandalkan selang oksigen dan jika selang itu di lepaskan Almira tak bisa membayangkan semua itu.
Dia tidak bisa kehilangan Livia, Almira ingin Livia menemani nya sampai dia sukses dan mencapai tujuan hidup yang mereka cita-citakan selama ini.
Dengan perasaan sedih Almira memilih pulang, dia tidak pulang ke rumah nya karena di rumah itu banyak sekali kenangan berdarah yang tidak bisa Almira lupakan.
Almira pulang ke rumah Livia, di sana dia hanya duduk diam sambil memikirkan cara untuk mendapatkan uang agar Livia bisa di rawat sampai sembuh.
Meski ada rumah bibi dan paman nya tapi tanah yang di bangun rumah bibi nya adalah milik Mama nya, Almira memiliki hak untuk tanah itu.
Almira terus berpikir tapi jawabannya tetap sama hanya surat tanah yang bisa dia gadaikan saat ini, dan uang nya bisa dia pakai untuk membayar sisa administrasi Livia di rumah sakit.
Sedangkan untuk sisa uangnya bisa dia tabung untuk kebutuhan adik Livia yang masuk ke asrama.
"Maaf Mam, aku janji setelah memiliki uang aku akan menebus tanah kita" gumam Almira.
__ADS_1
Lalu Almira pun pergi ke tempat pegadaian, dan sepulang nya dari sana Almira melihat seseorang yang sedang berdiri di teras depan rumah Livia.
Almira berjalan mendekat dan pria yang berdiri di teras itu ternyata adalah David, asisten dari Justine.
"Kamu, mau apa kamu kesini?" tanya Almira berpura-pura tak paham.
"Tuan muda meminta anda untuk menemui nya nona, dan anda harus ikut bersama saya" jelas David tanpa melihat Almira.
"Dia yang meminta? kenapa aku merasa tak percaya" Almira melihat ke arah David lagi.
David melihat jam yang ada di tangan nya.
"Sebaiknya anda segera bersiap-siap nona, tuan akan sangat marah jika menunggu terlalu lama" ucap David lagi.
"Tidak tuan nya tidak asisten nya kenapa mereka sama-sama menyebalkan." batin Almira menggerutu.
"Nona" panggil David.
"Ya tunggu sebentar aku akan mengganti baju dulu" Almira masuk dan langsung pergi ke kamar nya.
Meninggalkan David yang kesal karena menunggu Almira selama satu jam.
"Mereka memang cocok, sama-sama suka membuang waktu" gerutu David sambil melihat halaman rumah sederhana yang dia singgahi sekarang.
__ADS_1
🌹
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️🤗🙏