
Almira merasa terharu saat mendengar jika anak nya yang masih di dalam kandungan nya sehat, bahkan sedang berkembang.
Dia tidak menyangka jika pada akhirnya Tuhan memberikan dia kepercayaan dengan memiliki malaikat kecil yang akan mewarnai kehidupan nya.
"Nona ini tisue nya" Mila memberikan tisue karena melihat Almira yang menangis.
"Kamu selalu tau yang aku butuhkan Mila, tapi aku tidak butuh tisue karena ini air mata kebahagiaan yang tidak boleh di hapus" balas Almira.
"Oh" Mila menarik tangan nya dan memasukan tisue nya ke tas kecilnya.
Almira mengusap perutnya lalu keduanya pun pergi dari rumah sakit, Almira membawa hasil USG nya yang nantinya akan dia hadiahkan untuk jutsine.
"Mila aku mau beli rujak dulu, kamu beli bungkus kado ya" titah Almira.
"Nona duduk saja, biarkan aku saja yang melakukan nya" kata Mila membalas.
"Itu lebih bagus, terimakasih Mila aku akan duduk di sana" Almira menunjuk taman yang tak jauh dari rumah sakit.
Mila mengangguk dan bergegas pergi agar tidak membuat Bos nya menuggu terlalu lama.
Sambil menuggu Mila Almira melihat sekitar, ada beberapa anak kecil yang sedang main bersama orang tuanya.
Almira melihat itu dengan wajah yang sedih, dulu saat dia kecil mana ada Almira merasakan semua itu, bahkan untuk main pun tak bisa karena selalu di perlakukan tak pantas oleh bibi nya.
Mama nya bekerja untuk biaya hidup Almira, dan untuk Papa nya? Almira tak tau siapa Papa nya karena sejak kecil Almira tak pernah melihat sosok sang Papa.
"Tenang sayang, kamu memilki ayah meski dia agak aneh tapi ayah mu pasti akan sangat menyayangimu, percayalah dia akan melakukan segala nya untuk membahagiakan kita" gumam Almira sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Saat sedang melihat sekitar nya tiba-tiba Almira di dekati seorang wanita, wanita itu meminta untuk duduk di samping Almira.
"Silahkan" ucap Almira mempersilahkan.
"Terimakasih" balas wanita itu ramah.
__ADS_1
Almira hanya mengangguk lalu melihat sekeliling nya yang masih banyak anak-anak yang sedang main.
"Lagi nunggu seseorang ya?" tanya wanita itu.
"Iya nih Bu, lagi nunggu teman" jelas Almira melirik wanita di samping nya.
"Teman nya kemana emang?" tanya wanita itu lagi.
"Lagi beli rujak, kebetulan aku sedang ngidam" jelas Almira sambil mengusap perutnya yang rata.
"Hamil muda?"
Almira hanya mengangguk, dan tersenyum.
"Semoga bayi nya sehat dan lahiran nya nanti lancar ya" sahut wanita itu lagi.
"Amin, makasih Bu" balas Almira lagi, dan tak lama kemudian wanita itu bangkit dari tempat duduknya.
Almira melihat wanita yang usianya sama dengan sang Mama jika masih ada, wanita itu berpamitan lalu dan Almira melihat wanita itu pergi mengikuti seorang laki-laki.
"Aku juga sama, Justine tak bisa setia pada satu titik dan aku juga sangat menyedihkan seperti ibu itu" lanjut Almira berbicara sendiri.
Tak lama kemudian Mila datang dan membawa pesanan Bos nya, yaitu rujak dan B
Bungkus kado.
"Loh kok dua?" tanya Almira.
"Buat saya nona" balas Mila cepat.
"Buat kamu?" Almira menatap curiga pada Mila.
Almira ingat jika Mila satu bulan tinggal dalam satu atap dengan David, ya meski yang dia dengar keduanya beda kamar.
__ADS_1
Tapi bukan kah itu bukan alasan jika mereka tak sampai kikuk bukan?.
"Nona, saya masih bisa mempertahankan kehormatan" kata Mila tegas seolah paham dengan tatapan Bos nya.
"Benarkah? apakah David tidak tergoda?" tanya Almira kepo.
Dan Mila menggelengkan kepalanya, dia menegaskan jika dia dan David tak sedekat itu dan hanya mengobrol saat di tempa bekerja saja.
Almira mendengar itu menaikan sebelah alisnya ke atas, dia merasa kedua asisten nya itu terlalu kaku jika mereka sampai belum pernah bicara hal serius.
"Kamu pernah melihat tubuh telanjang nya?" tanya Almira dengan wajah penasaran nya.
"Tidak nona" bohong Mila.
Jelas Mila sering melihatnya karena setiap pulang bekerja David selalu duduk di meja makan, dan David akan membuka kemeja nya sambil menikmati minuman dingin.
"Kau bohong, wajah mu terlihat gugup" ucap Almira santai, tentunya sambil makan rujak.
"Nona" Mila mengelengkan kepalanya.
"Ya aku tau, jangan malu santai saja kita bisa bicara masalah pria di sini, anggap aku suhu mu mengingat aku pandai menjinakkan burung" Almira semakin membicarakan tentang hal-hal berbau intim.
Mila mendengar ucapan Bos nya itu hanya bisa menghembuskan nafas nya panjang, ternyata Bos nya sangat konek jika masalah seperti ini.
"Mila aku dulu sama seperti mu, aku menjinakkan burung nya dan aku bahkan melakukan segala cara untuk mendapatkannya, uang segalanya" kata Almira lagi.
"Tidak nona, saya tidak butuh uang" balas Mila.
"Ck, kau sombong sekali" sahut Almira ketus.
Mila tak perduli dia memakan rujak nya dengan wajah santainya, Mila memang tidak terlalu mementingkan uang karena terakhir dia bahkan di jodohkan orang tuanya hanya karena uang, dan Mila memilih kabur karena dia tidak mau menghabiskan waktu bersama pria yang tidak di cintai nya.
"Miskin lebih baik di bandingkan hidup tak nyaman, apalagi dengan aki-aki" batin Mila yang merinding membayangkan alasan dia kabur ke kota ini.
__ADS_1
🌹
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️🤗🙏