
Saat ini Almira dan Livia sedang berada di pemakaman, di depan nya terlihat batu nisan yang bertuliskan nama Livia.
Almira melihat itu meneteskan matanya, dia mengusap batu nisan teman nya itu dengan lembut.
"Maaf Livi aku jarang menemui mu" ucap Almira pelan.
Mila yang berdiri ikut duduk, entah kenapa dia merasa sedih meski sebenarnya Mila tak mengenal Livia.
Yang Mila tau Livia memiliki wajah yang sama dengan nya, tapi itu bukan karena mereka bersaudara, Mila sudah melakukan cek darah dan golongan darah mereka berbeda.
Pun dengan Andi, mereka juga pernah bertemu dan Andi tak bodoh jika kakaknya memang sudah tiada, dan untuk Mila yang mirip dengan Livia Andi yakini itu karena setiap manusia memiliki kembaran nya dan memiliki kembaran tak harus satu keluarga.
Setelah selesai ziarah Almira dan Mila menebar bunga, lalu yang terakhir air.
"Livi aku akan datang lagi, doakan aku ya semoga keponakan kamu bisa lahir dengan selamat" ucap Almira lagi.
"Aku tidak tau kemiripan kita seperti apa, tapi aku berdoa jika kamu mendapatkan tempat terbaik di sisi nya" batin Mila yang mengikuti langkah Almira.
Almira sebenarnya agak sedih, sampai saat ini dia belum meluluhkan Andi karena Andi sudah tau jika Livia mendonorkan ginjal nya untuk nya.
Keduanya masuk ke dalam mobil, Mila yang duduk di sebelah Bos nya dapat melihat jika Bos nya sangat sedih.
"Nona apa anda baik-baik saja?" tanya Mila khawatir.
"Hem, aku hanya merindukan nya" balas Almira.
"Em, jika nona merindukan Livia nona bisa memeluk saya. mungkin dengan begitu saya bisa menghilangkan sedikit kerinduan nona" ucap Mila pelan.
Almira melihat Mila, dan tanpa di duga Almira langsung memeluk Mila dengan erat.
Mila yang di peluk hanya diam, hingga dia kepikiran untuk membalas pelukan itu.
KRIUKK !
Tiba-tiba terdengar suara alarm perut Mila.
"Suara apa itu?" tanya Almira pura-pura tidak tau.
"Mungkin suara angin nona" balas Mila datar.
__ADS_1
Almira menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari Mila yang sangat aneh.
"Kamu lapar?" tanya Almira.
"Sedikit" balas Mila singkat.
Astaga..
Almira benar-benar gemas dengan sikap datar Mila, dia pun memutuskan untuk mengajak Mila makan di tempat bakso.
Dan Mila senang karena bakso memang makanan kesukaan nya, setelah selesai makan bakso Almira dan Mila pun lanjut belanja karena jadwal mereka setelah makan memang belanja bulanan.
Sedangkan di tempat lain Justine nampak sedang meeting, dia yang biasanya terlihat konyol dan narsis auranya sekarang terlihat menakutkan.
Brugkkk !
"Siapa yang menyimpan pembukuan ini di sini!" tanya Justine dengan wajah nya yang tidak bersahabat.
"Sa-saya tuan" ucap manager gugup.
Justine mengarahkan pandangan nya ke arah manager, lalu melirik David.
"Tuan Jordan apa anda bisa menjelaskan kenapa pembukuan di sini beda dengan pembukuan yang saya punya?" tanya David.
Manager yang bernama Jordan itu seketika ketakutan, jelas berbeda karena dia yang membuat pembukaan itu berbeda.
"Anu tuan" Jordan ketakutan.
"Kau di pecat!" tegas Justine.
"Tuan, tapi saya bisa jelas__" ucap Jordan terhenti karena suara David.
"Anda menggunakan uang proyek untuk kepentingan pribadi, dan ada beberapa saksi juga yang mengatakan jika anda bersikap tidak baik pada bawahan" David menjelaskan.
"Kau menyalahgunakan kekuasaan mu dengan tidak benar, kau pikir kau siapa bisa menghina bahkan memecat bawahan mu tanpa sepengetahuan ku, kau juga telah terang-terangan mengganggu karyawan wanita dan tak segan-segan melecehkan mereka, kau siapa berbuat seperti itu?" Justine berdiri karena marah.
Dia baru mendengar berita itu dari mantan sekertaris nya, dan Justine sangat marah karena setelah di cari tahu manager yang dia percaya ternyata berulah.
Bukti-bukti nya sudah dia dapatkan, tapi karena tidak mau berurusan dengan polisi beberapa karyawan tidak mau Vidio itu di jadikan bukti pelecehan.
__ADS_1
"Pergi kau! aku tidak sudi memperkerjakan pria seperti mu yang seenaknya menyalahgunakan kekuasaan demi keuntungan pribadi" tegas Justine mengusir.
Jordan mendengar itu mengepalkan tangan nya, dia berdiri tapi baru satu langkah tiba-tiba Jordan terjatuh karena tendangan Justine di pantat nya.
Brugkkk !
"Awas kau" gumam Jordan sambil berdiri.
Suasana di ruang semakin tidak terkendali, Justine terlihat begitu kesal sedangkan beberapa karyawan nya yang ikut serta di dalam meeting itu terlihat takut.
David memberikan instruksi kepada mereka untuk bubar, dan meeting pun di akhiri.
Justine belum keluar dari ruangan itu, dia melirik David.
"Tuan anda tidak apa?" tanya David melihat wajah Justine yang pucat.
"Hem, aku butuh minum" balas Justine.
David memberikan minum dan Justine meminum segelas air putih itu.
"Aku merindukan Almira, Vid kau merindukan Mila bukan?" tanya Justine.
"Tidak tuan" balas David.
"Halah, mengaku saja ayo kita pulang ini sudah hampir jam 12 siang, mereka pasti sedang memasak" lanjut Justine.
"Tuan pekerjaan saya masih banyak" kata David berusaha menolak.
"Ya pekerjaan tidak akan ada habisnya, tapi keluarga adalah yang utama. kau harus memikirkan keluarga karena saat kau tua bukan uang yang menemani mu, tapi istri yang cantik dan anak cucu" kata Justine sambil berdiri lalu keluar dari ruangan meeting.
Huh..
Terdengar helaan nafas kasar dari David.
"Bukan uang, tapi bagaimana saya bisa memikirkan keluarga jika saya hanya anak yatim" gerutu David sambil berjalan dengan langkah nya yang malas.
🌹
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️🤗🙏
__ADS_1