
Sepanjang perjalanan nya Justine nampak tidak mood, David yang melihat itu sudah bisa menebak jika Bos nya kembali mendapatkan masalah hal serupa.
"David menurut mu apa aku tua?" tanya Justine.
"Sudah ku duga si narsis akan menanyakan pertanyaan menggelikan itu" batin David menggerutu.
"Tidak tuan" balas David cepat.
"Ya kau benar aku memang masih muda, bahkan usia ku masih 30 tahun beda dengan mu yang sudah 33 tahun, kau yang tua iya kan" Justine memberikan tatapan tajam nya pada David.
"Iya tuan" David menjawab dengan nada pasrah nya.
Sudah bukan rahasia lagi jika dia harus mau menjawab pertanyaan menggelikan itu, salah nya yang memiliki Bos yang narsis.
Sabar? tentu saja dia sabar, bahkan jika di takar takaran kesabaran nya itu lebih besar dari takaran minyak seliter.
"Berhenti sebentar" kata Justine tiba-tiba.
David menuruti perintah si Bos, meski dia kesal karena jam sudah semakin siang dan mereka masih melakukan lelucon di mobil.
"Lap kaca spion tengah dengan tisue basah, lalu tisue kering" titah Justine.
David sekali lagi melakukan nya tanpa berniat bertanya untuk apa dia melakukan nya.
"Sudah tuan" ucap David.
"Kau pikir aku buta? cepat nyalakan lagi kita hampir terlambat" sewot Justine yang hanya bisa di jawab David dengan anggukan.
David kembali mengendarai mobilnya ke arah kantor, sedangkan Justine selama di perjalanan dia melihat penampilan wajah nya di kaca spion.
Seperti biasa tiada menit tanpa memuji ketampanan nya, Justine terlalu mendewakan wajah nya yang tampan.
__ADS_1
"Sial ada jerawat di dekat hidung ku" kesal Justine.
"Mungkin jerawat rindu tuan" celetuk David.
"Lelucon apa yang kau katakan! fokus saja berkendara" sewot Justine lagi.
Huh..
"Stok sabar ku benar-benar harus penuh setiap hari" batin David menggerutu.
Sedangkan Justine dia mengusap hidung mancung nya, dan mendengkus kesal karena jerawat kecil itu berani hinggap di dekat hidung mancungnya.
"Aku harus ke salon, seorang Justine tidak boleh memiliki jerawat, ya itu tak boleh" gumam Justine.
"Sekalian saja ganti kelamin tuan, saya tidak percaya jika anda terlahir laki-laki ya terlepas dari panggilan Casanova kakap itu" sekali lagi David hanya bisa menggerutu dalam hatinya.
Karena jika sampai dia mengatakan terang-terangan sudah pasti dia akan ditendang, dan tidak ada lagi pekerjaan yang akan menggaji nya besar seperti di perusahaan Crop Top Grup.
Sedangkan di tempat lain nampak Almira yang di antar oleh Livia mengambil Kamera record nya.
"Tidak, aku yakin di rumah ada orang" balas Almira yakin.
Keduanya terpaksa kembali ke rumah itu untuk mengambil kamera record Almira, Almira membutuhkan semua itu untuk melancarkan rencana nya.
Almira masuk ke dalam rumah di temani Livia, dan baru saja masuk tiba-tiba terdengar suara bibi Mona.
"Bagus! masih berani kau menginjakkan kaki mu ke rumah ku hah" teriak bibi Mona marah.
"Aku hanya ingin mengambil barang ku" balas Almira ketus.
"Tidak, kau sudah keluar dari rumah ku dan aku tak sudi rumah ku di singgahi anak haram seperti mu lagi!" tegas bibi Mona kekeh.
__ADS_1
Livia yang jengah dengan kelakuan nenek lampir itu melirik Almira.
"Ambil barang mu, masalah nenek lampir ini biar aku tangani" kata Livia sembari menatap tajam bibi Mona.
Almira mengangguk dan langsung masuk ke dalam kamar nya, dan hal itu membuat bibi Mona marah besar.
Bibi Mona berniat mengejar Almira tapi baju nya di tarik oleh Livia.
"Mau kemana nenek lampir?" tanya Livia dengan wajah santai nya.
"Cih, lepaskan baju ku dasar anak pelacur, kalian memang pantas berteman yang satu anak haram dan satu nya lagi anak pelacur" ucap bibi Mona tersenyum mengejek pada Livia.
Livia yang mendengar ucapan bibi Mona jelas tak terima, dia berniat menghajar bibi Mona tapi punggung nya tiba-tiba di tusuk seseorang dari belakang.
Awww !
Livia meraba punggung nya dan dia melotot saat melihat darah ditangan nya, dia melihat ke belakang dan melihat Paman Gerry yang tertawa melihat kondisi nya.
"Kalian memang jahat" Livia memejamkan matanya merasakan rasa sakit.
Paman Gerry yang memegang pisau hanya tersenyum miris, sayang sekali jika tidak ada istrinya dia pasti akan mendapatkan dua gadis cantik.
"Bagus sayang, sekarang tinggal satu lagi keponakan mu ada di kamar nya cepat bereskan dia" titah Bibi Mona.
"Jangan! Mira pergi!" teriak Livia menahan rasa sakit nya.
Livia mencoba mendorong bibi Mona, tapi dia yang kondisinya sedang lemah malah mendapatkan tusukan kedua di perut nya dari paman Gerry.
Almira di dalam kamar mendengarkan suara orang kesakitan, dia mengintip dan matanya membulat sempurna melihat Livia yang di tusuk-tusuk menggunakan pisau oleh paman nya.
"Tidak Livia!" gumam Almira membungkam bibir nya menggunakan tangan nya.
__ADS_1
🌹
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️🤗🙏