
"Aarghhh!" Aleta terperanjat sampai dia melompat ke pangkuan Bobby.
Aleta belum pernah melihat robot yang bisa bicara seperti ini. Tentu saja dia terkejut akan hal itu. Karena inilah kini kedua mata mereka saling bertemu dan memandang satu sama lain
****
****
Setelah beberapa saat mata mereka saling memandang satu sama lain. Aleta pun tersadar jika dia duduk di pangkuan atasannya. Seketika saat itu juga dia langsung membenarkan posisi duduknya.
"Maafkan saya, Pak. Saya telah lancang," ucap Aleta dengan menundukkan kepala.
"Kau ini kenapa Aleta? Apa kau takut pada Robbie-ku?" tanya Bobby dengan menahan tawanya.
"Saya bukan takut, saya hanya terkejut saja. Pertama kalinya saya melihat robot yang bisa bicara seperti ini," elak Aleta.
"Saya pikir takut, reaksinya sangat berlebihan sampai melompat ke pangkuanku. Untungnya saya bisa menopang tubuhmu, kalau tidak kita bisa jatuh."
"Mana saya tahu, namanya juga kaget," celetuk Aleta dengan cemberut.
"Ya sudah tidak apa-apa. Sekarang kau sudah tahu jika aku memiliki robot canggih di sini. Dan kau orang pertama yang mengetahui Robbie. Robbie, sapa gadis manis ini!" perintah Bobby pada robotnya.
"Hi, Sweet girl. I'm Robbie," robot itu mengulurkan tangannya pada Aleta.
"Pak, jika saya menyentuh tangan Robbie, apa aku tidak akan tersetrum?" tanya Aleta, konyol.
"Haha, tidak akan. Coba saja sentuh dan berkenalan dengannya. Robbie ini robot yang baik," ucap Bobby dengan tertawa kecil.
"Hi, Robbie. I'm Aleta." Aleta berjabat tangan dengan robot atasannya.
"Robbie ambilkan susu kedelai dan kopi untuk kami berdua!" perintah Bobby pada robotnya.
"Okay, okay."
Robbie pun berjalan ke pantry dan mengambil susu kedelai yang ada di lemari es serta menyeduh kopi dari mesin kopi yang ada di meja pantry. Sambil menunggu Robbie membawakan minumannya. Bobby pun membahas tawarannya pada Aleta.
"Aleta," panggil Bobby.
"Iya, Pak." Aleta menoleh ke atasannya.
__ADS_1
"Saya ingin memberikan tawaran untukmu menjadi sekretaris pribadiku. Apakah kau mau?" tawar Bobby.
"Apa? Sekretaris?" Aleta membelalakkan matanya.
"Iya, saya sedang mencari seorang sekretaris yang akan membantu pekerjaanku. Setelah aku pikir-pikir, karaktermu cocok untuk menjadi sekretarisku. Saya harap kau tidak akan menolak tawaran saya ini," jelas Bobby.
"Tapi, Pak ... saya hanya lulusan SMP, bagaimana bisa saya menjadi sekretaris Pak Bobby?"
"Itu tidak masalah, saya akan mengajarimu apa saja yang harus kau lakukan. Jika kau setuju menerima tawaran ini, saya akan memberikan rumah, mobil dan black card untuk kebutuhanmu. Saya juga akan memberikan gaji yang sesuai dengan kinerjamu. Bagaimana?" tanya Bobby dengan meyakinkan Aleta.
"Pak, apa itu tidak berlebihan untuk seorang sekretaris? Mendapatkan rumah, mobil serta black card rasanya itu terlalu berlebihan," timpal Aleta.
Memang benar, untuk seorang sekretaris mendapatkan semua itu terlalu berlebihan. Apalagi itu diberikan di awal. Entah apa yang ada di pikiran Bobby sampai menawarkan semua ini pada Aleta. Entah karena bingung cara menghabiskan hartanya atau Bobby mulai jatuh hati pada Aleta. Semua itu hanya Bobby sendiri yang tahu.
"Tidak, semua itu sepadan dengan apa yang akan menjadi tugasmu. Karena tugasmu, bukan hanya sekretaris biasa. Kau akan menjadi sekretaris pribadi saya. Itu artinya, kau haru mengurus segala keperluan saya dimulai dari hal yang kecil seperti memasang dasi, menyiapkan sarapan dan makan siang serta malam. Kau juga harus bersedia mengantar saya ke mana pun saya mau. Bukan hanya itu saja, saya juga memberikan 3 tantangan sebelum kau menjadi sekretaris saya."
"Tantangan apa?" tanya Aleta dengan mengerutkan keningnya.
"Aku akan memberikanmu 3 tantangan. Yang pertama kau harus belajar bahasa bahasa Inggris dan Mandarin selama 3 bulan. Kedua, kau harus belajar menyetir dalam waktu 1 bukan dan untuk yang ketiga, kau harus membiasakan berjalan dan berlari menggunakan heels. Sebab semua itu sangat diperlukan jika kau menjadi sekretaris saya. Kemungkinan kau akan selalu menemani saya dalam pertemuan-pertemuan dengan para pengusaha sukses. Kau akan dikontrak selama 5 tahun untuk menjadi sekretarisku. Jika kau sanggup dan betah menjadi sekretaris saya, saya akan memperpanjang kontraknya. Namun, apabila kau memutuskan kontrak sebelum masa kontrak habis, kau harus membayar denda 500 juta. Bagaimana, apa kau sanggup?"
Gleuk!
"Saya akan terima tawaran Pak Bobby. Saya akan berusaha lebih keras lagi untuk menyelesaikan tantangan itu. Saya tidak akan mengecewakan Pak Bobby."
"Bagus, sekarang juga saya akan melatihmu."
Pada saat Aleta hendak menjawab ucapan Pak Bobby, tiba-tiba Robbie membawa dua minuman dan menaruhnya di meja. "Thank you, Robbie," ucap Bobby pada robotnya.
"You're welcome." Robbie berjalan meninggalkan tuannya.
"Sebelum pergi, minumlah susu kedelainya!" perintah Bobby.
"Terima kasih minumannya, Pak." Aleta mengambil susu kedelai dan meneguknya.
Begitupun dengan Bobby, dia meneguk habis kopinya. Selesai itu, Bobby mengajak Aleta pergi. Bobby berniat ingin membelikan perlengkapan untuk Aleta kenakan sebagai sekretarisnya.
****
"Masuklah," Bobby menekan tombol di kunci mobilnya.
__ADS_1
Secara otomatis pintu mobilnya terbuka ke atas beserta dengan atap mobilnya. Lagi-lagi Aleta dibuat kagum dengan mobil Bobby. Bobby ini benar-benar duda yang sangat kaya raya.
"Tunggu!" ucap Bobby pas saat Aleta hendak duduk di kursi belakang.
Aleta menoleh ke Bobby. "Iya, Pak."
"Duduk di depan! Saya bukan supirmu!" perintah Bobby seraya berjalan memasuki mobilnya.
Mendengar itu, Aleta segera masuk dan duduk di kursi depan sebelah Bobby.
"Pakai sabukmu dan perhatikan aku saat menyetir!" perintah Bobby.
"Baik, Pak." Aleta memakai seat belt.
Bobby menyalakan mesinnya dan mulai melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat ini Aleta sedang fokus memperhatikan atasannya menyetir dimulai dari menyalakan mesin dan menginjak pedal gas dengan perlahan. Setelah itu barulah mengatur stir untuk belok dan menyeimbangkan posisi mobil.
Setelah beberapa menit kemudian, mereka sampai di salah satu pusat perbelanjaan. Tanpa berlama-lama mereka masuk ke salah satu toko khusus perlengkapan kerja. Begitu masuk, mereka disambut oleh karyawan toko dengan sangat ramah.
Bobby segera menelusuri pakaian wanita. Dia memiliki beberapa pakaian yang akan Aleta kenakan saya bekerja sebagai sekretarisnya. Tentunya sebelum membelinya, Aleta disuruh untuk mencobanya terlebih dahulu.
Setelah itu, mereka pergi ke salah satu toko yang menyediakan sepatu formal dan heels. Bobby sudah tahu, heels seperti apa yang akan dikenakan oleh Aleta. Dia memilih 6 heels untuk Aleta gunakan saat bekerja. Seperti biasa, Bobby menyuruh Aleta untuk mencoba heels terlebih dahulu sebelum membayarnya.
****
Tin! Tin!
Bobby membunyikan klakson sebelum mereka keluar dari mobil. Saat ini mereka sudah sampai di kontrakan Aleta. Bobby membuka pintu mobil belakang dan mengambil belanjaan Aleta dan memberikan padanya.
"Ingat, belajar berjalan cepat menggunakan heels ini! Besok pagi kau datang ke rumahku, dan lakukan pekerjaanmu. Ingat, jangan sampai telat! Aku tidak suka sekretaris yang lambat, mengerti!"
"Baik, Pak."
"Kalau begitu, saya pergi. Sampai bertemu besok pagi dengan pekerjaan barumu. Saya pulang," ujar Bobby.
"Iya, Pak. Hati-hati di jalan. Terima kasih," ucap Aleta.
"Jangan berterima kasih. Itu hakmu." Bobby masuk ke mobil.
Aleta menundukkan badannya tanda hormat begitu mobil Bobby meninggalkan kontrakannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG .....