
Aleta berjalan ke arah sumber suara. Begitu dia sampai, dia melihat dengan jelas jika saat ini bosnya tengah mengancingkan kemejanya di depan cermin besar. Sejenak Aleta berdiri mematung tepat di belakang bosnya. Dia menatap kagum tubuh bosnya ini.
'Wah, apa ini? Masih pagi aku sudah melihat roti sobek alami? Gila, si duren sawit ini tampan juga.' Beberapa kali Aleta tertegun melihat keindahan yang begitu segar.
"Ekhem!" Bobby berdehem seraya menatap Aleta dari pantulan cermin.
Seketika Aleta tersadar dari monolognya. Dia langsung berjalan menghampiri bosnya. Bobby langsung menyodorkan dasi pada Aleta.
Aleta mengambil dasi itu, kemudian dia berjinjit mencoba memakaikan dasi pada bosnya akan tetapi tubuhnya yang mungil membuatnya kesulitan untuk memakaikan dasi. Bobby yang melihat itu tentu saja terasa gemas. Dengan pekanya dia menarik kursi ke arah Aleta.
"Dasar pendek! Gunakan kursi ini!" ledek Bobby.
Aleta yang mendengar ledekan bosnya itu pun hanya mengerucutkan bibirnya. Dia ingin mengomel tapi dia mengurungkan niatnya. Dia pun segera naik kursi dan memakaikan dasi pada bosnya.
Pada saat Aleta memasangkan dasi, dia tidak berani mengangkat bahkan menatap mata bosnya. Matanya hanya fokus dengan dasi. Sementara itu, Bobby hanya mengalihkan pandangannya. Dia pun sama seperti Aleta yang merasa sedikit canggung. Namun, Bobby masih bisa menahan kecanggungannya.
Selesai itu, Aleta turun dari kursi. "Ambilkan jasku!" perintah Bobby seraya menunjuk ke arah ranjangnya.
__ADS_1
"Baik, Pak." Aleta berjalan ke arah ranjang untuk mengambil jas milik bosnya.
"Pakaikan!"
'Aku ini sebenarnya sekretaris atau istrinya sih? Ini 'kan tugas seorang istri. Kalau bukan karena benefitnya yang menggiurkan aku tidak akan menerima posisi ini,'
Tak!
Bobby menyentil dahi Aleta. "Malah bengong! Cepat pakaikan jasnya! Hari ini saya ada rapat jam 09.00 pagi ini. Jadi cepatlah, jangan membuang-buang waktu!" tegas Bobby.
Aleta dengan cepat memakaikan jas pada bosnya. Setelah itu, Bobby bercermin melihat penampilannya yang mempesona itu. "Katakan, apakah penampilan saya ada yang kurang?" tanya Bobby sembari menatap Aleta dari pantulan cermin.
"Tidak salah saya memperkerjakanmu sebagai sekretaris saya. Kau cukup teliti juga rupanya. Sekarang ambil Rolex di laci khusus arloji!" perintah Bobby seraya menunjuk ke arah laci besar sebelah laci dasinya tersimpan.
"Baik, Pak." Aleta berjalan ke arah laci.
Begitu sampai di laci, dia cukup kebingungan memilih arloji yang akan bosnya pakai. Sehingga dia menatap ke arah bosnya untuk memandukan arloji dengan pakaiannya. Setelah itu, barulah dia membawa arloji pilihannya kepada bosnya.
__ADS_1
****
"Ini, Pak Rolex-nya." Aleta memberikan arloji yang dia pilih.
Bobby mengambil arloji di tangan sekretarisnya. Dia melihat arloji itu. "Kenapa kau memilih arloji ini?" tanya Bobby dengan tatapannya yang tajam.
"Saya tidak begitu mengerti tentang fashion, Pak. Saya hanya mencocokkan dengan pakaian Pak Bobby saat ini. Jika Pak Bobby tidak menyukai arloji yang saya pilihkan, saya akan mengambil arloji yang lain," jelas Aleta.
"Tidak. Saya suka seleramu ini. Seleramu lumayan juga, saya akan pakai arloji ini. Sekarang tunggu saya di meja makan! Saya akan sarapan terlebih dahulu sebelum pergi." perintah Bobby.
"Baik, Pak. Saya akan menunggu di meja makan," ucap Aleta.
"Hei, tunggu!"
"Iya, Pak."
"Saya ingin kau membuatkanku waffle untuk sarapan saya!"
__ADS_1
"Tapi, Pak. Saya belum pernah membuat waffle."
BERSAMBUNG....