
Tak!
Bobby menjentikkan jarinya pada saat melihat Aleta bengong. "Apa yang sedang istri kecilku ini pikirkan sampai bengong kek gini?" tanya Bobby dengan mendekatkan wajahnya pada Aleta.
Aleta pun tersadar saat dia melihat wajah Bobby yang sudah berada tepat di depannya. "Mas, ngapain liatin Leta sampe kek gitunya?" alih-alih menjawab Aleta justru balik bertanya.
"Yee, ditanya bukannya jawab malah balik tanya. Leta kenapa bengong? Lagi mikirin apa?" Bobby mengulang pertanyaan yang sama.
"Engga, Leta enggak mikirin apa-apa kok. Leta hanya heran aja, kok ada pria yang kek Mas ini."
"Loh, kenapa denganku?" Bobby mengernyitkan alisnya. Dia tidak mengerti maksud ucapan calon istrinya.
"Ya ... aneh aja sih, disaat pria lain tidak ingin uang dan hartanya habis oleh istrinya lah, Mas berbeda. Mas justru malah senang jika uang dan seluruh harta Mas habis oleh istrinya sendiri. Menurutku itu hal yang aneh. Apa Mas enggak akan menyesal nantinya jika harta Mas habis?" Aleta menatap heran ke arah calon suaminya.
Bobby menggelengkan kepalanya. Dia gemas sekali mendengar perkataan Aleta yang begitu polos dan konyol. Tentu saja, pria yang bersungguh-sungguh menyayangi istrinya, maka dia akan rela memberikan apapun yang dia miliki. Sayangnya, Aleta belum memahami hal itu. Ya, maklum saja karena usianya yang masih terlalu muda. Lagi pula Aleta belum pernah menjalin hubungan dengan pria manapun.
"Sayang, boleh kukatakan sesuatu?" Bobby menatap lekat Aleta.
"Iya, Mas. Katakan saja," jawab Aleta sembari menunggu perkataan yang akan keluar dari bibir calon suaminya.
"Jangan pernah membandingkan aku dengan pria manapun, sebab aku tidak menyukainya. Asal Leta tahu saja, jika seseorang yang sudah benar-benar menyayangi pasangan maka dia akan rela memberikan apapun yang dia miliki untuk pasangannya. Begitupun dengan aku, aku akan memberikan apapun yang aku miliki untukmu, Leta. Sebab aku sangat menyayangimu. Kau perlu tahu sesuatu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyesali prinsipku ini. Jika hartaku benar-benar habis, maka aku akan mencarinya, aku akan berusaha lebih keras lagi agar kau tetap bahagia dan tidak pernah merasa kekurangan apapun lagi. Aku akan membiayai setiap kebutuhanmu beserta keluargamu, i promise." Bobby menggenggam kedua tangan Aleta disertai tatapan yang begitu dalam.
"Why? Kenapa Mas mau repot-repot membiayai kebutuhan keluargaku? Mereka keluargaku bukan keluargamu, Mas? Why?" tanya Aleta sembari membalas tatapan Bobby yang dalam itu.
"Sebab aku akan menikahimu. Itu artinya keluargamu adalah keluargaku juga. Menikah bukan hanya dua orang saja tapi bersatunya dua keluarganya. Keluargaku juga akan menjadi keluargamu juga. Aku pernah mendengar kalimat ini. JIKA KAU MENYAYANGI PASANGANMU, MAKA SAYANGI JUGA KELUARGANYA. DISITULAH, KAU AKAN SENANTIASA BAHAGIA. SEBAB PERNIKAHANNYA DIRESTUI DAN DIRIDHOI. Kau paham sampai sini, Aleta Quenby Elvina?" Bobby menangkup kedua pipi Aleta.
Mendengar semua tutur kata Bobby yang tulus dan lembut membuat hatinya terenyuh. Sehingga air mata Aleta pun meleleh membasahi pipinya yang mulus dan cantik itu. Bobby yang tidak tahu alasan Aleta menangis justru merasa cemas pada saat melihat calon istrinya meneteskan air mata.
__ADS_1
"Leta, kau menangis? Apa perkataanku melukaimu? Apa kedua pipimu sakit?" tanya Bobby.
Aleta menggelengkan kepalanya. "Ayo kita menikah cepat, Mas! Aku sudah sangat yakin denganmu, Mas." Aleta memeluk Bobby dengan erat.
Deg!
Bobby merasa jantunya tiba-tiba berhenti mendengar ajakan Aleta. Dia masih belum percaya dengan apa yang calon istrinya ucapkan. Sejenak pria bermata biru ini hanya terdiam sesaat.
"Apa aku tidak salah dengar, Sayang? Kau bilang apa barusan?" tanya Bobby dengan melepaskan pelukan Aleta dan menatapnya meminta jawaban dari pertanyaannya.
Aleta menggeleng cepat. "Tidak, Mas. Aku serius. Sekarang aku sudah sangat yakin akan pernikahan ini. Maka dari itu aku tidak keberatan jika Mas mau mempercepat pernikahan kita," jelas Aleta.
"Benarkah? Aku boleh mempercepat pernikahannya?" Mata Bobby berbinar menatap calon istrinya.
"Iya, Mas. Bukankah lebih cepat lebih baik?" Aleta Menaikan-turunkan alisnya.
"Iya, Mas. Sekarang ayo kita sarapan dulu. Mas jadi terbang ke London 'kan?" ajak Aleta.
"Iya, Sayang. Ayo." Aleta berjalan menuju meja makan.
Sementara itu, Bobby menyajikan masakannya ke dalam dua piring yang sudah dia sediakan sebelumnya. Kemudian Bobby membawa dua piring makanan ke meja makan. Pria bule ini duduk di sebelah Alea seraya menatapnya.
****
Selang beberapa menit kemudian, Bobby dan Aleta pun selesai sarapan. Mereka keluar dari rumah dan pergi untuk ke bandara. Namun, sebelum ke bandara, Bobby mengantarkan Aleta terlebih dahulu ke kontrakannya. Setelah beberapa saat kemudian, mereka sampai di depan kontrakan Aleta.
Di dalam mobil ....
__ADS_1
"Loh, Mas ... kenapa mengantarkanku ke kontrakan? Bukankah aku harus pergi bekerja?" tanya Aleta dengan wajah yang heran.
"Untuk beberapa hari ini, Leta beristirahatlah. Karena beberapa hari ke depan aku akan menemuimu bersama keluargaku. Aku akan melamarmu dan membicarakan tentang pernikahan kita yang dipercepat. Aku ingin, begitu aku dan keluargaku datang menemuimu, aku tidak ingin melihatmu terlihat cape sedikitpun," jelas Bobby.
"Loh, Mas. Nanti gajinya gimana? Leta enggak mau ya jika gaji Leta dipotong," keluh Aleta dengan ekspresi yang menggemaskan.
"Astaga, kau ini. Masih bisa-bisanya mikirin gaji." Bobby menepuk jidatnya sendiri.
"Ya jelas lah, Mas. Leta itu kebiasaan pegang uang. Leta punya tanggungjawab yang harus Leta penuhi. Leta harus memenuhi kebutuhan keluarga Leta. Makanya Leta enggak mau gaji Leta dipotong gitu aja," timpal Aleta.
"Iya, Sayang. Aku mengerti itu. Kau jangan cemaskan itu, karena mulai sekarang dan seterusnya biar aku saja yang menanggung kebutuhan keluargamu. Dan untuk gajimu, kau pakai untuk kebutuhanmu sendiri. Setiap bulan aku akan mentransfer uang bulanan untuk kebutuhan keluargamu, bagaiamana?" tawar Bobby disertai senyumannya.
"Wah ... seriusan Mas?" Aleta tercengang mendengar perkataan calon suaminya.
Bobby mengangguk mantap. "Yup, Sayang. Aku serius."
"Wah, terima kasih banyak, Mas. Aku menyayangimu, Mas. Muach!" Aleta mencium pipi kiri Bobby saking senangnya.
Bobby yang mendapat ciuman dari Aleta, merasa seperti mendapatkan jackpot. Jujur, dalam hatinya Bobby merasa sangat senang mendapat perlakuan hangat dari gadis cabainya ini. "Leta, boleh kau ulangi kiss-nya?" pinta Bobby.
Aleta hanya mengangguk sebagai jawaban dari permintaan Bobby. Tanpa membuang waktu lagi, dia mulai memajukan bibirnya dan hendaklah mencium pipi Bobby. Namun, sebelum ciumannya mendarat di bibir Bobby, dengan cerdasnya pria bule ini membalikkan wajahnya sehingga gadis cabai ini mendaratkan ciumannya tepat di bibir calon suaminya.
Seketika kedua bola Aleta membulat dengan sempurna. "Mas, curang!" pekik Aleta yang cukup terkejut.
Sementara itu, Bobby hanya tertawa gemas melihat reaksi Aleta yang begitu menggemaskan dan begitu lucu.
****
__ADS_1