
Setelah Aleta yakin dengan keputusan untuk menerima pertunangannya dengan Presdir Bobby, dia pun menyetujui pergi bersama bosnya ke acara konferensi pers yang sudah disiapkan. Saat ini Aleta benar-benar takut, dan gugup. Ini adalah hari pertamanya dia berdiri di hadapan para wartawan dan media sosial. Konferensi ini dimulai secara live.
Aleta sejenak terdiam pada saat dia hendak memasuki ruangan itu. Gadis ini menarik napas panjang pada saat Bobby menarik lembut tangannya dan membawanya memasuki ruangan yang dipenuhi dengan lampu flash. Yang di mana begitu mereka memasuki ruangan itu, semua para wartawan memotret Aleta serta bosnya.
Aleta tertunduk malu, dia tidak berani menatap ke arah para wartawan. Yang gadis ini rasakan saat ini adalah kekhawatiran, tentang apa dampak dari konferensi pers ini? Hidup yang seperti apa yang akan dia jalani ke depannya? Wajahnya terlihat pucat pasi serta berkeringat dingin sampai dia duduk di sebelah Bobby pun dia tetap terlihat gugup dn ketakutan.
Tentu saja dia ketakutan karena ini pertama kalinya dia dihadapkan dengan situasi yang seperti ini. Bobby yang menyadari akan ketakutan dan kecemasan di wajah Aleta pun, dia menggenggam tangan Aleta di bawah kursi, sehingga para wartawan tidak bisa menyadari ataupun melihatnya.
Kini pertanyaan demi pertanyaan mulai dilontarkan kepada Bobby dan Aleta. Pada saat para wartawan bertanya pada Aleta, yang menjawabnya adalah Bobby sendiri. Seakan-akan Bobby tidak ingin Aleta merasa terpojokkan dengan pertanyaan-pertanyaan itu
Sehingga ******* dari gosip ini pun mulai Bobby bahas dan dibantu oleh Aleta yang hanya manggut-manggut saja, tanda semua yang bosnya katakan saat ini adalah benar. Sementara itu, seluruh wartawan beserta netizen yang mendengar klarifikasi mengenai hubungannya dengan Aleta yang hendak melangsungkan pertunangan itu. Berita ini cukup menggemparkan publik.
Berita ini sampai viral ke negara kelahirannya Bobby. Tidak, bukan hanya itu. Berita ini pun sampai di telinga keluarga Aleta.
Singkat cerita, selesai mengadakan konferensi pers mereka pulang menuju Buana Home. Sesampainya di kediaman Bobby, mereka disambut dengan sesuatu yang tidak lain adalah sebuah box misterius yang tertuju untuk Aleta. Tampan membuang waktu, Aleta dan atasannya langsung membawa masuk box misterius ke dalam rumah.
Ruang tengah ....
Mereka duduk di sofa panjang dengan menatap ke arah box misterius itu. Sebelum membukanya, mereka saling bertatapan satu sama lain. "Pak, ini box apa ya?" tanya Aleta dengan melihat ke arah box misterius itu.
"Entahlah, sebaiknya kita buka saja apa isi box ini." Bobby langsung membuka isi box-nya.
Sementara itu, Aleta hanya menyaksikan bosnya yang tengah membuka box misterius itu. Begitu box itu dibuka, alangkah terkejutnya mereka begitu melihat ada sebuah surat bertuliskan KAU AKAN BERNASIB SAMA DENGAN HEWAN INI! Dengan tinta darah yang berasal dari tikus yang sudah mari. Yup, isi box itu tidak lain adalah sebuah ancaman untuk Aleta.
"Pp-pak ... apa ini? Siapa yang mengirim hal mengerikan seperti ini?" tanya Aleta dengan gelagapan karena takut.
"Tenanglah, mungkin ini ulah orang usil saja. Saya akan mencari tahu siapa yang telah mengirim ancaman ini. Sebaiknya kau pergi beristirahatlah. Ini sudah larut malam,"
Aleta hanya mengangguk dan menuruti ucapan bosnya. Setelah gadis ini pergi ke kamarnya, Bobby segera memotret isi box misterius ini dan memberikan foto yang telah dia potret ke salah satu detektif swasta yang sering dia gunakan jasanya. Sebelumnya Bobby sudah menduga jika hal seperti ini akan terjadi.
****
Di kamar ....
Begitu sampai di kamar, Aleta tidak langsung tidur. Melainkan menghubungi temannya, Nisa. Sambil menunggu telepon tersambung, dia pun berjalan menuju balkon untuk melihat keindahan kota di malam hati melalui balkon kamarnya. Setelah telepon tersambung, gadis ini segera menempelkan ponsel di telinganya.
Telepon terhubung!
__ADS_1
"Hallo, Nis," sapa Aleta begitu telepon telah tersambung.
"Iya, Leta. Ada apa? Semua baik-baik saja?" tanya Nisa dari seberang telepon.
"Semua baik-baik saja, gue hanya ingin curhat malam ini denganmu. Gue enggak ganggu lo 'kan?"
"Syukurlah kalau lo baik-baik aja. Ya, boleh aja. Kalau lo mau curhat, tinggal curhat saja. Kebetulan gue enggak Nisa tidur. Oh iya, BTW ... gimana konferensi pers-nya? Semuanya berjalan lancar 'kan?" tanya Nisa dengan sedikit khawatir.
"Konferensi pers berjalan lancar, hanya saja pada saat itu gue benar-benar takut. Gue makin parno setelah gue sama Pak Bobby mendapat kiriman box misterius. Gue makin parno tau, Nis. Gue takut diteror oleh orang enggak dikenal lagi," jelas Aleta dengan hatinya yang masih merasa keresahan.
"Box misterius? Seriusan lo? Dan apa isi box itu?" tanya Nisa dengan nada tinggi karena cukup terkejut dengan penjelasan sahabatnya.
"Isi box itu adalah sebuah surat ancaman dan seekor tikus yang kepalanya sudah terpenggal. Bahkan surat itu ditulis menggunakan tinta darah. Gue yakin jika itu darah tikus itu. Mengerikan bukan?"
"Gila, terniat banget tuh si peneror. Lalu, apa isi surat itu?" tanya Nisa.
"Surat itu berisi KAU AKAN BERNASIB SAMA DENGAN HEWAN INI! Nis, gue benar-benar makin parno sekarang. Gue mengkhawatirkan nyawa gue sendiri,"
"Tenanglah, jangan overthinking gitu. Gini aja deh, dari pada lo makin parno mending lo pergi tidur dan lupain kejadian malam ini tentang teror itu. Anggap itu hanya ancaman dari orang usil aja. Oh iya, menurut gue, bagaimana jika mulai besok lo tinggal bersama orang tua lo saja biar lo ngerasa aman dan dilindungi," saran Nisa.
"Gue enggak bisa pulang tanpa perintah dari Pak Bobby. Gue akan pulang setelah semuanya reda dulu. Tapi, gue mau minta tolong sama lo, Nis,"
"Gue minta tolong, besok sebelum lo berangkat kerja, lo temui keluarga gue dan bilang semua terjadi sama gue. Tapi, untuk yang diteror lo enggak usah diceritain sebab gue enggak mau mereka khawatir sama gue. Mereka berhak tahu masalah ini, karena mungkin besok pagi, berita konferensi pers ini akan tersebar, begitupun dengan artikel. Akan banyak artikel yang akan dipublish dan semua berita itu akan sampai di keluarga gue. Jadi, lo bantu jelasin apa yang terjadi ya sama mereka. Mereka tahunya gue sedang sibuk mempersiapkan proyek baru."
"Okay, urusan itu gampang. Lo enggak usah khawatir, besok gue akan temui keluarga lo dah menceritakan semua yang lo alami."
"Thanks ya, Nis. Sebenarnya gue enggak mau ceritain mengenai ini sama lo, akan tetapi gue enggak bisa pendam masalah ini sendiri. Gue ingin lo juga tahu apa yang gue alami sekarang, ternyata menjadi seorang sekretaris itu tidak mudah. Banyak serangan dan teror di mana-mana. Sekarang gue makin parno, gue takut bukan teror lagi yang akan gue terima selanjutnya, melainkan nyawa gue sendiri."
"Tenanglah, tidak usah mengkhawatirkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Nyawa lo akan aman, gue yakin jika Pak Bobby akan lindungi lo. Percayalah jika atasan lo itu tidak akan tinggal diam mengenai masalah ini."
"Iya, Nis. Thanks ya, lo udah mau dengerin keluh kesah gue malam-malam begini. Gue udah ngerasa sedikit lebih lega. Kalau begitu, gue tutup teleponnya ya. Good night, Bestie."
"Okay, good night too, Bestie."
"Tutt!" Aleta mengakhiri obrolannya dengan Nisa.
Telepon terputus!
__ADS_1
Setelah bicara di telepon beberapa menit dengan temannya, dia pun tidak masuk ke kamarnya. Dia berdiam sejenak untuk merasakan hembusan angin yang begitu dingin memasuki tubuhnya. Dia menegadahkan kepalanya disertai matanya yang terpejam. Gadis ini menghela napas panjang sebelum akhirnya dia memutuskan untuk masuk kembali ke kamarnya.
Pada saat Aleta hendak menaiki ranjangnya untuk pergi tidur, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamarnya. Mendengar itu dia langsung turun dan bergegas untuk membuka pintu kamarnya. Begitu pintu kamar terbuka, Aleta tidak melihat siapa-siapa. Hanya saja dia melihat ada secangkir susu hangat, cake almond cheese dan sebuah kertas mini di sampingnya.
Aleta celingukan mencari siapa orang yang telah mengetuk pintunya. Karena dia tidak menemukan seseorang, dia pun memutuskan untuk masuk ke kamarnya kembali dengan susu, cake almond cheese dan surat mini itu. Kemudian dia menaruhnya di meja.
Gadis ini duduk seraya membayar isi surat mini itu yang bertuliskan JIKA KAU TIDAK BISA TIDUR, MAKA MINUM DAN MAKAN INI, SETELAH ITU KAU AKAN TIDUR DENGAN NYENYAK. SWEET DREAM, LETA dengan emot love berwarna merah.
Setelah membaca isi surat mini itu, Aleta tersenyum. Wajahnya langsung merona hanya sekedar mendapatkan perhatian yang tak biasa ini dari seorang Pak Bobby. Tanpa berlama-lama, dia langsung memakan dan meminumnya. Selepas itu, sebelum dia tidur. Dia mengirim sebuah pesan pada bosnya.
{Terima kasih untuk cake almond cheese dan susunya, Pak. Sweet dream too, Pak Bobby. Tidak lupa dia memakai emot tersenyum dengan wajah yang merona}
Setelah mengetik ucapan terima kasih, dia pun mengirim pesan itu dengan menekan tanda panah kanan yang artinya kirim.
****
Di kamar Bobby ....
Bobby yang saat ini tengah membaca buku sambil menunggu pesan dari calon tunangannya. Tak lama kemudian sebuah pesan masuk dari Aleta, yaitu calon tunangannya sendiri. Bobby langsung menutup buku itu dan meraih ponsel yang berada di meja nakas.
Bobby melepaskan kacamata bacanya dan membuka pesan dari Aleta. Dia tersenyum gemas setelah membaca isi pesan yang dikirim oleh calon tunangan itu. "Ternyata gadis cabai ini tahu jika aku yang mengirimnya. Peka juga calon tunanganku ini,"
Bobby yang sudah menerima pesan dari gadis yang dia tunggu itu pun segera menyimpan kembali buku serta ponselnya. Setelah itu dia pergi tidur. Tentunya sebelum tidur, dia selalu mematikan lampunya terlebih dahulu.
****
Pagi hari ....
Aleta bangun dan langsung beres-beres di kamarnya. Setelah itu, barulah dia mandi sebelum dia turun ke dapur. Pagi ini gadis ini terlihat begitu ceria.
Setelah beberapa menit kemudian, Aleta selesai mandi dan berpenampilan. Dia pun keluar dari kamarnya. Dia memasuki lift agar cepat sampai di lantai dasar, tempat dapetnya berada.
Ting!
Pintu lift terbuka. Aleta segera keluar dari lift dan berjalan menuju dapur. Gadis ini berniat ingin membuat sarapan pagi untuk bosnya, akan tetapi begitu dia sampai di dapur ... dia dibuat terkesima oleh pemandangan yang sangat luar biasa. Selama ini dia belum pernah melihat pemandangan ini sebelumnya.
Dia tidak bisa berhenti memandanginya, matanya mulai terpesona akan ketampanan dan kesempurnaan pria yang sebentar lagi akan menjadi calon tunangannya. Yup, Aleta melihat Bobby sedang membuat sarapan pagi dengan pakaian yang begitu rapi. 'Inilah kesegaran yang sesungguhnya,' batin Aleta memuji ketampanan bosnya itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG....