
Baru saja Aleta mau menghafal, bosnya telah menyuruhnya lagi. Dalam hatinya dia menggerutu karena sikap bosnya ini yang semakin seenaknya. Dia memberi waktu 2 bulan tapi dia juga yang selalu menghalanginya untuk belajar.
"Baik, Pak." Aleta menutup bukunya dan memakai blezernya.
Dia beranjak dari duduknya dan berjalan mengikuti Presdir Bobby. "Kau yang akan menyetir, ambil ini!" Presdir Bobby melempar kunci ke arah Aleta.
Aleta yang sudah terbiasa dengan itu dengan sigap menangkap kunci mobilnya. Aleya keluar dan berjalan menuju basement. Sementara itu, Presdir Bobby menunggu di depan perusahaannya.
Tak lama kemudian, Aleta datang dengan mobil bosnya. Dengan cepat dia keluar dan membukakan pintu untuk bosnya. Setelah Presdir Bobby masuk, barulah Aleta masuk dan melajukan mobilnya.
"Aleta, apakah sekarang masih ada meeting yang harus saya hadiri?" tanya Bobby dengan menatap ke arah Aleta yang sedang fokus menyetir.
"Ada, Pak. Sekitar jam 15.00 meeting kedua," jawab Aleta tanpa menoleh.
"Beri tahu Hadwin untuk menghandle meeting kedua! Saya ingin pergi ke suatu tempat," perintah Bobby.
"Baik, Pak." Aleta tanpa banyak bertanya lagi, dia langsung menghubungi CEO Albern Food.
Tak lama kemudian, teleponnya diangkat oleh Hadwin. Aleta menekan speaker agar bosnya bisa mendengar suara Hadwin.
Telepon terhubung!
"Hallo," ucap Aleta setelah telepon tersambung.
"Iya, Aleta. Ada apa?" tanya Hadwin dari seberang telepon.
"Pak Hadwin diperintah oleh Presdir Bobby untuk memimpin serta menghandle semua pekerjanya sore ini. Presdir Bobby ada urusan penting," jelas Aleta.
"Baiklah, aku akan memimpin meeting sore ini dan menghandle pekerjaannya."
__ADS_1
"Kalau begitu, Aleta tutup teleponnya ya. Terima kasih. Tutt!" Aleta menutup teleponnya.
Telepon terputus!
****
Di dalam mobil ....
"Pak, mau makan di mana?" tanya Aleta sembari menatap bosnya dari pantulan kaca tengah.
"Restoran seafood saja. Saya sangat ingin makan seafood hari ini," jawab Presdir Bobby.
"Baik, Pak." Aleta menambah kecepatan mobilnya.
****
Mereka berjalan memasuki restoran itu secara bersama-sama. Mereka duduk paling pojok. Kemudian Bobby memanggil seorang waiters.
Tak lama kemudian, waiters itu datang menghampiri meja Bobby dan Aleta. "Mbak, bawakan saya seafood paket 1 dua dan minumannya lemon squash," ujar Bobby setelah waiters berada di hadapannya.
"Baik, mohon ditunggu." Waiters itu pergi setelah mencatat pesanan Bobby.
Setelah beberapa menit kemudian, pesanan Bobby pun datang. Waiters meletakkan makanan itu di meja. Kemudian dia pergi setelah mengantarkan makanannya.
Bobby memberikan 1 paket makanannya kepada sekretarisnya. "Makanlah," ujar Bobby.
"Terima kasih, Pak. Selamat makan," ucap Aleta.
"Ya, selamat makan."
__ADS_1
Keduanya mulai makan bersama. Sesekali Bobby memperhatikan sekretarisnya makan. Tanpa dia sadari, dia tersenyum melihat Aleta.
"Aleta ... saya ingin tahu kenapa kau langsung menerima tawaranku untuk menjadi sekretarisku?" tanya Bobby seraya menikmati makanannya.
"Karena saya harus menghasilkan banyak uang demi nencukupi kebutuhan keluargaku. Saya ingin membahagiakan keluarga," jawab Aleta dengan mulut yang asyik mengunyah lobster.
Bobby yang melihat ada saus di sudut bibir sekretarisnya, langsung mencabut tisue dan hendak mengelap noda saus itu. "Kalau makan itu pelan-pelan, jangan beletopan seperti itu." Bobby mengelap noda saus di bibir Aleta.
Seketika Aleta berhenti mengunyah dengan matanya yang membola dengan sempurna. Aleta langsung mengambil tisue dari tangan bosnya. "Biar saya saja yang membersihkannya, Pak."
"Makan dengan cantik dan elegant! Ingat, kau ini adalah sekretaris saya. Kau harus mempelajari hal-hal yang berkelas!" tegur Presdir Bobby.
"Baik, Pak. Saya akan mempelajarinya." Aleta tersenyum seramah mungkin walaupun dia tidak begitu suka diomelin oleh siapapun termasuk bosnya sendiri.
"Ya sudah, habiskan makananmu!" perintah Bobby seraya melanjutkan makannya lagi.
Aleta mengangguk serta lanjut makan. Setelah beberapa menit, mereka pun selesai makan. Kini mereka tengah menikmati lemon squash.
"Aleta, apa kau punya pacar?" tanya Bobby secara terang-terangan.
Uhuk! Uhuk!
Aleta langsung tersedak begitu mendengar pertanyaan bosnya. Matanya langsung menatap ke arah bosnya. "Pacar? Saya tidak tertarik untuk pacaran, Pak. Saya ingin fokus mengurus keluarga saya dulu," jawab Aleta dengan jujur.
"Kalau boleh saya tahu, bagaimana kriteria pria idamanmu?"
"Eum ... saya ingin suatu saat nanti ada pria yang akan menikahiku tanpa membeda-bedakan status. Saya ingin pria itu bisa menerima keluarga saya seperti dia menerima saya juga. Selain itu, saya juga ingin memiliki suami yang berhati lembut, penyayang, pengertian dan juga dewasa. Tapi, apakah ada pria seperti itu di jaman sekarang. Rasanya itu hanyalah ada novel saja," kekeh Aleta menertawakan dirinya sendiri.
BERSAMBUNG....
__ADS_1