Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)

Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)
Aleta Ketar Ketir


__ADS_3

Ruangan Presdir Bobby ....


Begitu Aleta dan Bobby masuk ke ruangan, Bobby dengan cepat menutup dan mengunci pintu serta menutup jendela dengan remot agar para karyawan tidak bisa melihat mereka. "Loh, Mas? Kenapa pintunya di kunci? Dan kenapa jendelanya juga Mas tutup? Ada apa? Apa ada perusahaan dalam masalah?" tanya Aleta dengan wajahnya yang kebingungan.


"Semua baik-baik saja, Sayang. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama sebelum aku menguji bahasa asingmu itu." Bobby mengedipkan sebelah matanya.


Glek!


Aleta tertegun mendengar ucapan calon tunangannya. 'Matilah, apa yang akan Mas Bobby lakukan padaku di ruangan ini? Jujur aku masih sangat takut jika berduaan seperti ini."Aleta meremas jemarinya.


Bobby yang melihat itu perlahan mendekatkan dirinya pada Aleta. Kemudian dia memeluk calon tunangannya dari belakang. "Jangan gugup! Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Aku hanya ingin memelukmu saja, jujur aku tidak bisa menahan rasa cintaku ini," bisik Bobby di telinga kanan Aleta.


Sementara itu, Aleta yang mendengar bisikan Bobby merasa merinding. Sebelumnya dia belum pernah sedekat ini dengan pria manapun. Baru kali ini juga dia dekat dengan seorang pria, dan pria ini adalah atasannya sendiri.


"Mas, jangan seperti ini. Aku takut ada orang yang melihat kita. Lagi pula kita ini belum menikah, jangan seperti ini, Mas." Aleta berusaha melepaskan kedua tangan Bobby yang tengah melingkar di perutnya.


"Biarkan aku memelukmu sebentar saja, Leta. Karena besok aku akan pergi ke London. Aku akan LDR-an denganmu," ujar Bobby.


"Mas mau ke London?" Aleta menoleh ke kanan tepat wajah Bobby berada.


Deg!


Jantung Aleta langsung berdegup kencang, begitupun dengan Bobby. Kedua mata mereka saling bertemu dan bertatapan satu sama lain. Tatapan itu cukup lama dan juga lekat.


"Iya, Sayang. Aku mau ke London," jawab Bobby dengn matanya yang masih memandang Aleta.


"Apa itu masalah pekerjaan?" tebak Aleta.


"No, Baby. Aku ke London untuk menjemput keluargaku. Bukankah tadi aku bilang di hadapan keluargami jika aku akan datang bersama keluargaku untuk. Melamarmu," jelas Bobby.


"Aku takut, Mas." Aleta menunjukkan matanya yang penuh dengan kekhawatiran.

__ADS_1


"Takut? Apalagi yang kau takutkan, Sayang?" Bobby membalikkan tubuh Aleta agar berhadapan dengannya.


"Aku takut, keluargamu tidak menyukaiku, Mas. Mas 'kan tahu sendiri jika aku bukan orang yang berpendidikan." Aleta menundukkan kepalanya karena merasa takut jika hubungannya tidak direstui.


"Hei, Sayang! Look at me!" Bobby menangkup kedua pipi Aleta.


Perlahan Aleta menatap manik calon tunangannya. "Semua ketakutan yang ada pada dirimu itu tidak akan terjadi. Seluruh keluargaku sangat menyukaimu. Soal pendidikan, keluargaku tidak begitu mempedulikannya sebab yang mereka inginkan adalah seorang menantu yang bisa mencintaiku, menemaniku disaat suka dan duka. Seorang menantu yang bisa menganggap keluargaku sebagai keluargamu juga. Intinya, mereka ingin memiliki seorang menantu yang penyayang. Aku ingin kau menjadi wanita manja, pengertian, penyayang dan selalu bergantung padaku. Sebab disitulah, aku merasa dihargai dan berguna sebagai seorang suami," jelas Bobby dengan tatapan yang serius.


Mendengar tutur kata Bobby yang begitu lembut memasuki kedua telinganya, Aleta juga merasa jika perkataan calon tunangannya ini terdengar begitu romantis. Dia belum pernah mendengar kata-kata yang mampu membuat hatinya berbunga-bunga. Tanpa Aleta sadari dia tersenyum kecil disertai wajahnya yang merona.


"Kau sudah tidak takut lagi 'kan, Sayang?" Bobby menarik pinggang rampung Aleta.


Aleta mengangguk dengan cepat. "Ii-iya, Mas. Aku sudah tidak takut lagi," jawab Aleta dengan gelagapan karena gugup.


"Ya udah, ayo kita duduk dan mengobrol," ajak Bobby dengan membawa Aleta ke sofa.


Aleta mengangguk dan mengikuti Bobby yang berjalan menuju sofa. Kemudian pria bermata biru itu duduk dan langsung menarik tubuh Aleta hingga duduk dipangkuannya. "Mas, jangan kek gini. Leta malu," keluh Aleta dengan wajahnya yang semakin merona.


"Kenapa mesti malu sih? Aku ini calon suamimu dan kau calon istriku. Kau harus terbiasa dengan keadaan seperti ini. Lagi pula, kau harus tahu jika aku ini adalah pria yang sangat bergairah. Aku selalu ingin berada di dekat istriku setiap saat. Jadi, kau harus memahami karakterku," jelas Bobby.


"Aku selalu bergairah jika sudah menjalani hubungan. Apalagi sebentar lagi kita akan menikah, kau harus kuat melayaniku setiap malam sebab aku mampu bermain sampai pagi," ucap Bobby. Dia sedikit mengerjai calon istrinya.


Glek!


Seketika Aleta yang mendengar itu langsung menggidikkan bajunya seraya menelan salivanya. "Mas, tolonglah jangan membahas itu sekarang. Mas membuat Leta takut," ujar Aleta tanpa berani menatap calon tunangannya.


"Kenapa tidak? Kita ini akan menikah, Leta. Aku tidak ingin menyembunyikan hal apapun darimu. Sebab, aku ingin menikah yang diawali dengan kejujuran. Makanya aku mengatakan semua itu pada calon istri cabaiku ini." Bobby menaik-turunkan alisnya.


"Mas tahu, mendengar semua ini aku merasa seperti tersengat listrik tau. Aku merinding mendengarnya. Baru mendengarnya saja sudah seperti ini bagaimana jika malam pertama itu terjadi, bisa pingsan aku, Mas." Wajah Aleta berubah menjadi pucat pasi.


"Haha, kau ini. Leta Leta." Bobby tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Loh, kenapa tertawa? Apakah ada yang lucu?" tanya Aleta dengan wajah yang kebingungan.


"Tentu saja, kau ini lucu sekali. Kau benar-benar gadis yang polos. Aku hanya sedang mengerjaimu saja, Leta." Bobby masih saja tertawa.


"Ish, Mas. Kenapa jahil banget sih." Aleta mengerucutkan bibirnya.


"Janganlah ngambek kek gitu, aku itu paling suka liat kamu yang bete kek gini. Bibirmu sangat menggodaku," bisik Bobby di telinga Aleta.


"Mas!" Aleta memekik.


Cup!


Bobby mengecup kening Aleta. "I love you, Chili girl." Bobby memegang wajah Aleta dengan kedua tangannya.


Aleta tidak menjawabnya. Dia hanya diam dan menatap calon suaminya. "Kenapa tidak dijawab? Apa kau tidak mencintaiku?"


"I love you my future husband," jawab Aleta malu-malu kucing.


"Thank you." Bobby menarik tengkuk Aleta dan hendak mencium bibir calon istri.


Namun, sebelum ciuman itu mendarat di bibir Aleta, Aleta beranjak dari duduknya. "Mas, aku akan mengambilkan kopi untukmu. Permisi." Aleta lari terbirit-birit.


Melihat tingkah calon istrinya, Bobby lagi-lagi tertawa. "Astaga, tingkahnya sangat menggemaskan seperti itu."


****


Pantry ....


Begitu sampai di Pantry, Aleta langsung mengambil sekaleng minuman dingin dan langsung meneguknya sampai habis. "Wah, gila! Hari ini rasanya panas sekali." Aleta mengipas-ngipasi wajahnya yang merasa gerah.


Bukan karena cuaca yang panas, akan tetapi dia merasa gerah karena ulah dari calon suaminya yang selalu membuatnya ketar-ketir seperti ini. Sejenak dia duduk di meja pantry. Dia sedang berusaha menetralkan debaran jantungnya.

__ADS_1


"Leta, ternyata kau di sini," sahut seseorang di belakang Aleta yang tiba-tiba datang.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2