Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)

Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)
Saling Bertatapan


__ADS_3

Begitu menerima paket dan ibunya pergi meninggalkan kamar, Aleta langsung masuk kembali ke kamarnya. Dia loncat-loncat di ranjang karena saking senangnya. Tingkahnya bak anak kecil yang diberikan hadiah.


Tanpa berlama-lama lagi, Aleta membuka paket itu dan melihat dress pemberian calon suaminya. "Woah ... dress ini sangat cantik dan elegant." Aleta terbelalak begitu melihat dress itu.


"Selera Mas Bobby enggak kaleng-kaleng. Dress ini indah sekali." Aleta melihat dress itu yang berada di tangannya.


Karena sudah merasa tidak sabar, Aleta langsung mencoba dress itu dan menatapnya di cermin. Senyuman lebar terlihat di bibirnya. Kemudian dia berputar-putar dengan menatap dirinya di pantulan cermin. Setelah itu, dia pun merias rambutnya agar cocok dengan dress yang dia kenakan.


Tak lama kemudian, Devica mengetuk pintu kamar putrinya. Mendengar itu, Aleta pun langsung berjalan menuju pintu. Kemudian dia membuka pintu.


"Ibu, ayo masuk dulu, Bu." ajak Aleta pada ibunya yang tengah berdiri di depan kamar putrinya dengan pakaian yang sudah rapi.


"Tidak, Nak. Itu orang tua Bobby sudah datang. Ibu datang ke mari untuk membawamu menemui calon mertua dan juga calon suamimu. Apa Leta sudah siap?" tanya Devica sembari memperhatikan dress yang Aleta kenakan.


"Iya, Bu. Leta sudah siap," jawab Aleta dengan senyuman di bibirnya.


"Ya sudah, kalau begitu ayo kita ke temui mereka," Devica mengajak putrinya untuk turun dengan menarik tangan Aleta dengan lembut.

__ADS_1


"Tunggu dulu, Bu." Aleta menahan lengan ibunya agar tidak pergi.


"Ada apa, Sayang?" tanya Devica sseraya membalikkan badannya.


"Bagaimana penampilan Leta? Apakah penampilanku terlihat menarik?" Aleta menatap gaunnya sendiri.


"Perfect." Devica mengacungkan dia jempolnya pada Aleta.


"Ibu yakin?" tanya Aleta.


"Ah, Ibu bisa saja. Jangan membuatku malu dong, Bu." Aleta menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu ini, baru juga Ibu berkata jujur udah merona gini. Oh iya, apa ini dress dari Nak Bobby?" tebak Devica.


Aleta mengangguk dan tersenyum malu. "Iya, Bu. Ini dress yang Mas Bobby kirim tadi," timpal Aleta.


"Gaun ini terlihat sangat cocok di tubuhmu. Sekarang ayo kita temui mereka. Jangan membuatnya menunggu lebih lama lagi. Ayo," Devica mengajak putrinya kembali.

__ADS_1


"Iya, Bu. Ayo." Aleta pun menggandeng tangan ibunya.


Sementara itu, di ruang tengah, semua orang sedang menunggu kehadiran Aleta dan ibunya. Bobby sudah celingukan mencari keberadaan calon istrinya. Begitupun dengan keluarganya.


"Sayang, tunggulah sebentar lagi. Calon istrimu akan segera datang," ujar Allard dengan sedikit menggoda putranya sendiri.


"Daddy, bisa saja." Bobby tersenyum bahagia dengan sedikit menundukkan kepalanya.


Semua yang mendengar ucapan Bobby ikut tersenyum. Begitupun dengan Elvaro, yaitu ayahnya Aleta. Tak lama kemudian, Devica datang dengan membawa putrinya, Aleta.


"Itu dia menantu kita, Sayang," ujar Ellena pada saat melihat calon menantunya.


Seketika Bobby yang awalnya sedang tertunduk langsung mengangkat wajahnya. Kini tatapan mata Bobby tertuju pada wanita cantik nan elegant yang berada di samping Ibu mertuanya. Begitupun dengan Aleta, dia membalas tatapan calon suaminya yang terlihat sangat tampan nan rapi.


Kedua mata mereka saling bertemu satu sama lain. Mereka saling bertatapan dan diam-diam melemparkan senyuman kebahagiaan. Mereka tidak tahu jika kedua orang tua mereka sedang memperhatikan tingkah Aleta dan juga Bobby.


****

__ADS_1


__ADS_2