Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)

Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)
Pertanyaal Aleta


__ADS_3

"Bego banget sih lo! Napa lo tolak? Cowok populer kek Pak Hadwin lo tolak semudah itu? Bener-bener lo ya," Aleta asal nyeletuk sembari menyorotkan tatapannya yang tajam.


"Lo kenapa, Leta? Napa jadi lo yang kesel sih? Asal lo tahu aja ya, mana ada cowok nembak sedingin itu. Dan lo tau? Gue cuma diberi waktu 15 menit buat jawab. Gila enggak tuh? Dia pikir presentasi kali ya, seenak jidat nyatain perasaan kek gitu," Nisa menjawab celetukan Aleta dengan raut wajah yang kesal.


"Hah? Seriusan lo?" Aleta tercengang mendengar jawaban Nisa sembari membenarkan posisi duduknya.


"Ya, gue serius. Mana ada gue bohong sama lo.''


"Tapi gue tanya sama lo, apa lo punya perasaan sama Pak Hadwin?"


Nisa terdiam sejenak tanpa mengatakan apa pun. Kini pandangannya menoleh ke sembarang arah guna menghindari tatapan sahabatnya. "Zainisa, gue lagi bertanya sama lo." Aleta menyenggol dikit lengan Nisa.


"Ayolah, gue lagi enggak mau bahas ini." Nisa merengek sembari mengerucutkan bibirnya.


"Ya udah, lain kali gue juga enggak bakalan cerita sama lo." Aleta sedikit mengancam sahabatnya agar mau cerita.

__ADS_1


Kemudian dia beranjak dari duduknya. Ketika gadis itu hendak melangkahkan kakinya menuju kamar, Nisa berdiri dan menahan tangan sahabatnya agar tidak pergi. Seketika Aleta terdiam mematung membelakangi temannya.


"Masa gitu aja, marah sih?"


"Gue enggak marah. Gue cuma cape aja mau istirahat," timpal Aleta tanpa menoleh ke belakang.


"Boleh enggak, gue nginep di kamar lo sehari aja?"


"Kalau lo mau nginep ya tinggal nginep aja." Aleta pergi menuju kamarnya.


****


Dia tidak langsung memakai sabun, Hadwin hanya berdiri dan diselimuti banyak pertanyaan mengenai penolakan yang dia alami beberapa jam yang lalu. Dalam benaknya dipenuhi banyaknya pertanyaan yang tidak tahu akan jawabannya. Entah apa yang membuat Nisa sampai menolaknya seperti itu. Rasa malu, kecewa dan marah menjadi satu karena baru kali ini dia menerima penolakan.


'Apa aku kurang menarik untuknya? Apa dugaanku selama ini salah, kalau gadis itu sebenarnya tidak menyukaiku? Inikah yang dinamakan cinta bertepuk sebelah tangan? Benarkah dia tidak memiliki perasaan apa pun padaku?' Hadwin bermonolog dalam lamunannya.

__ADS_1


Pada saat dia sedang asyik bermonolog, tiba-tiba terdengar suara bel apartemennya. Dengan cepat, Hadwin menyelesaikan mandinya dan menutupi sebagian tuhuhnya. Kemudian ia keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju pintu.


Pintu pun terbuka dan terlihat seorang pria tampan bermata biru tengah berdiri membelakangi apartemennya. "Pak Bobby," Hadwin memanggil pria yang berada di hadapannya.


Pria itu membalikkan badannya. Dan benar saja, pria yang saat ini berada di hadapan Hadwin tidak lain dan tidak bukan adalah bosnya, yaitu Presdir Bobby sangat pemilik Albern food.


"Win, kamu sedang mandi?" Bobby menatap ke arah Hadwin yang hanya mengenakan handuk saja.


"Iya, Pak. Saya baru selesai mandi, mari masuk," Hadwin mengajak bosnya untuk masuk.


"Kamu pakai dulu bajumu, setelah itu saya akan masuk."


"Baik, Pak. Saya ke dalam dulu." Hadwin masuk kembali ke apartemennya untuk memakai pakaian.


Sementara itu, Bobby hanya menunggu di luar dengan menyilangkan kedua tangan di dada. Tak lama kemudian, Hadwin membuka pintu dan kembali mempersilakan bosnya untuk masuk. Bobby masuk tanpa mengatakan sepatah kata apa pun.

__ADS_1


****


__ADS_2